Masih Tentang Si Pungguk yang Merindukan Sang Rembulan

Kali ini rindu itu membuncah sebegitunya, akibat tak jumpa lebih dari sekali revolusi bumi. Semesta belum merestui, memaksa air mata tuk mengucur menemui ibu pertiwi. Tidak, tidak semudah itu untuk mengucap rindu pada seseorang yang bukan “miliknya”. Kuharap para Rembulan dapat pahami itu.
Pungguk pernah mendengar bahwa jika kau tidak dapat terlelap ketika larut tanpa alasan yang jelas, bisa jadi itu karena seseorang memimpikanmu. Mitos atau fakta, Si Pungguk tak mengetahuinya.

Ingin rasa bertanya pada Rembulan, karena semesta rupanya berbaik hati sedikit pada Pungguk yang buruk rupa, malam kemarin Sang Rembulan bertandang walau hanya sekadar di bunga tidur. Kehadirannya begitu nyata terasa, bahkan saat diizinkannya Pungguk untuk masuk ke dekapannya dan hanyut di pelukannya, juga sejuta kecupan sisanya.

Mimpi apakah Pungguk malam sebelumnya? Tak ingat ia meminta semesta untuk dipertemukan pada Rembulan saat itu juga. Jutaan kupu-kupu berterbangan menggelitik jiwa, tak usah ditanya seberapa bahagianya ia. Dipertemukan dengan sang pujaan hatinya, walau dalam mimpi semata.

Pun di saat yang sama Pungguk (masih) memimpikan Sang Rembulan, Sang Rembulan sedang meraih mimpi-mimpinya. Menyedihkan, bukan.

Dan cerita masih berlanjut tentang Si Pungguk yang terus mengagumi keindahan Sang Rembulan.

Jauh. Jauh. Jauh.

Untuk 30 Hari Bercerita #28

Advertisements

About You and the Beach

There’s this picture of a girl wearing sunglasses at the beach,
daydreaming about the particular person she will never be able to reach.

Up above the sky isn’t as clear as the sunny day it supposed to be,
nonetheless hoping the future of us will not be.

Till the time when the wave finally kissed the seashore fearlessly,
thou feel my sorry for myself these feelings are still fiery.

Untuk 30 Hari Bercerita #25

Aku? Gpp.

Courtesy : google

“Lo kenapa?”
“Gue gpp.”

Dalam kurang dari 60 detik pesan balasan itu terkirim ke ujung benua tetangga, dan secepat itu pula tandanya berubah menjadi centang dua berwarna biru.

“Seriusan, lo kenapa? Cerita!”

Hela nafas yang cukup panjang memecah ruangan yang hening, sesaat setelah ia membaca pesan yang baru diterimanya lagi.

“Gue gpp kok. :)”

Tombol “kirim” ia ketuk, lalu kembali lanjut menyayatkan lukisan abstrak di pergelangan tangannya. Sreett… sreett… dengan sebuah cutter, dan darah yang mengalir alami untuk memperindahnya.

“Gue gpp.”

Ia menengadah menatap langit-langit, berharap kepada semesta bahwa apa yang ia lakukan dapat setidaknya mengurangi rasa sakit di dalam hatinya.

Hai! Ini cerita 100 kata pertamaku, mungkin.
Sebuah realita sederhana — seperti nama RM Padang yang terkenal itu — yang ditambahi bumbu-bumbu fiksi, tapi kisah ini amat sangat mungkin terjadi di sekitar kita. Hanya saja, kebanyakan dari kita mungkin tidak menyadarinya. Karena “gpp” x sejuta yang kita terima sebagai balasan ketika menanyakan keadaan seseorang (lebih ke secara mental). Mungkin, kita harus belajar menjadi lebih peka, sebelum terlambat menyadarinya.

Untuk kamu yang sedang struggling dan melakukan seperti apa yang kutuliskan di atas, aku hanya ingin mengingatkan perkataan dari vokalis Sleeping With Sirens, seperti yang tertera pada foto terlampir. Semangat, kamu kuat, kok! 💕💪

Untuk 30 Hari Bercerita #23

Hilang

Courtesy : google

Darah mengalir dari luka tusukan di perutnya. Satu, dua, tiga bekas tusukan di daerah vital. Mungkin… satu telah menghunus dan merobek bagian hatinya. Menyebabkan aroma darah yang mengalir seperti bau penghianatan.
Aku tertawa puas dalam hati.

Membayangkan hal tersebut saja dapat membuatku sebahagia ini, bagaimana jika aku benar-benar melakukannya coba.

Aku terkekeh, kali ini tidak dalam hati.

Mata yang sudah tidak lagi terpejam ini membawaku kembali kepada kenyataan, dengan sebilah pisau di tangan kanan dan tangan kiri yang berlumuran darah. Darah mayat di hadapanku, suamiku, orang yang pernah aku cintai itu, orang yang telah menduakanku dengan perempuan lain, orang yang menghianatiku, menghianati cintaku.

Tidak, aku belum kembali pada kenyataan. Aku masih di alam khayalku, ini delusi semata. Aku menutup kembali mata sembari menggelengkan kepala, masih berusaha sebisa mungkin untuk melenyapkan sosok mayat lelaki di hadapanku.

Satu, dua, tiga.
Aku menghitung dalam hati sebelum membuka mata, dan yang kudapat malah jumlah luka tusuk yang sama ada pada perut suamiku.

Perasaan marah, kecewa, benci, dan ingin membalas dendam seketika itu saja lenyap, saat kusadari bahwa ini bukanlah delusi semata.

Hilang.

Hilang begitu saja.

Seperti akal sehatku.

Dan, nyawamu.
Terinspirasi dari berita yang kubaca di koran lokal pada awal tahun ini.

Untuk 30 Hari Bercerita #21

They Said, I’m a Brainless

Courtesy : google

“Brainless.” I could hear their voices on my mind everytime I take a test.
There was a chaos outside the class, and I knew it, already. Though the paper still got all my attention, I hear voices behind my back.
“Brains…”
“Shh…”
Something appears, distracts me from the test. Red eyes, pale face, drooling. Creepy, in all of sudden.
The creature didn’t shock me at all, but one thing I just realized.
“Zombies know I do have brain, while they don’t.” I whispered right before ‘it’ took mine.

Untuk 30 Hari Bercerita #13

Mahkota Seorang Wanita

Manusia ini memotong setengah tubuhku tahun lalu, setelah berkali-kali menyakitiku. Saat itu, dia bilang akan merawatku sehingga bisa tumbuh dengan sehat. Persetan dengan janji yang hanyalah janji, sepanjang tahun yang sama saat janji itu terucap, ia tetap saja merusakku. Lagi dan lagi.
Awal tahun yang baru ini, ia mengulanginya lagi. Janji busuk itu kembali ia ucapkan. Bahkan sampai berani ia umbar-umbar ke manusia lainnya. Dan aku di sini hanya bisa mendengarkan dan mempersiapkan diri, jikalau barangkali ia khilaf (lagi) dan kembali menyiksaku.

Pertumbuhanku jelas menjadi lambat, anak-anakku yang lelah dan sudah tidak kuat kerap kali gugur. Bisa mencapai puluhan per harinya. Aku yang telah dicekoki zat-zat kimia selama dua tahun ini pun menjadi semakin rapuh, untungnya manusia ini sudah sedikit sadar dan berhenti. Walau sempat mengamputasiku beberapa kali, dengan alibi untuk menyembuhkanku.

Ia juga seringkali membandingkanku dengan milik kawan manusianya yang lain. Andai saja ia tahu perasaanku saat itu; hancur. Bukan salahku aku tak seindah dan secantik yang lain! Kau yang tidak merawatku! Bahkan cenderung terus merusakku! Apa coba salahku padamu, wahai manusia?

Hari ini aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, bayangkan saja… manusia ini meminjam milik seorang kawan manusianya yang indah dan katanya berbanding terbalik denganku, hanya untuk sekadar berpose dan berswafoto ria. Setelah sebelumnya mengeluh tentang aku. Bangsat.

Katanya, aku mahkotamu. Tapi kau bahkan tidak memperlakukanku selayaknya itu.

Dan asal kamu tahu, jika aku benar-benar ngambek padamu, habislah kamu.

Huh.

Untuk 30 Hari Bercerita #10

A Letter to My-12 Years Old-self

Dearest my-12 years old-self,
it has been circa 8 years since the past I barely wanted to talk about, the most depressive year we have ever experienced in our almost 20 years life. And that was you on the picture, the old me. The “little” — well couldn’t say so since you were taller than most of the girls your age — girl who had no idea about what life was gonna do to bring her down, changing her life since then.

When I looked back to the past — which I rarely do, I realized how much I have changed (in a better way, of course). How I used to hate my life, myself — including my body — the most. I used to be the most dedicated hater on my own world.

Have I stopped then?

No.

Not yet, yet right now I am also trying hard — really — to love my whole self.

But, congratulations that you did survive. Life was, is, and will always be shit to us, but you did a good job that we’re still alive till I’m 20 (in 6 months). And there is this one most important thing you should’ve known, I love you — with all my heart. Eventhough I know you were such a dumbass student, you were a potato face that no boy ever wanted, you had a resting bitch face who never really smiled, or whatever. No matter how talentless or useless you were back then, whatever, I love you.

I’m — really — sorry that I used to hate you, I’m ashamed of you and wanted you (somehow) to be forgotten.

Last but not least, let me say thank you. That you’ve made this so far. For being strong. For not letting the depression and suicidal thoughts win. For not giving up on our life. Thank you.

With tons of hugs and kisses,

your-8 years later-self. 💕

 

Untuk 30 Hari Bercerita #6

The Thirty Days Life of a Pup

I was punished by the Lord to be a dog for thirty days, as for the mission in the past I have failed. I might be forgotten or forgiven, and He chose both. As punishment.
As I was thrown out from Heaven, I fell through the cloud nine as a small dog. With its eyes always tearing on the edge, ears down looking so scared, and a tail that never wagged happily. Such a sad dog, I am.

I’m bleeding, as I reached the ground and fell on a sharp rock. I might end up laying here all day long till my punishment is over, since I can’t even move this furry body.

Barking, or crying as it sounds so, is the only thing I could think of to ask for help. God and the others won’t help though, since it’s on our agreement. Shit, I cursed on myself again and again. There will be no chance I could survive, the humans are just the meanest creatures the Lord has ever made, there is no way they would help and save me. I might only be beaten, thrown, or the worst case probably would be eaten?

This inner talking coversation drains my baby doggy energy so bad, beside I’m also badly injured. I’m tired, and I can’t help these small eyes not to be closed. I’m falling on deep sleep, I can no longer hear anything.

I hear a human shouts out loud, but I’m sure it’s not at me. And I can feel myself flying, but can a dog even fly?! Is it a normal dog dream I’m dreaming of?”You, stupid. Why on the earth do you even have to bring that stupid creature to this house?””But, he’s bleeding!”Oh my God, humans. The ones I’m trying to avoid on this thirty days punishment life. One shouts at each other, the black haired human who’s holding me.

That mad human is still trying to get rid of me from this house, she’s now throwing a bottle to my saviour. A beer bottle, a glass one. OMG, it’s going to hurt this rare type of human being. Yet I can do nothing to stop it.My human is now bending bandages on both of our bleeding wounds. She says nothing, just a smile on her face hiding tons of secrets. As she finished what she was doing, she pats my head with a smile from ear to ear.”You’ll be okay, you’re safe now. Don’t worry!”

Courtesy : google

Since then, I might say that we’re best friends. Now I know the secrets behind her smile. She told me about her abusive mother, alcoholic stepfather, her bestfriends who died in car accidents, her boyfriend who took suicide last month, and everything about her desperate life. Most of all, about her suicidal thoughts.”Why is life so unfair to me?” she asked.”Why is life so unfair to us?” I repeat after her. But since a dog can’t speak humans language, therefore I bark.4 weeks I’ve been here, under the same roof with my new “home”. 4 weeks I’ve been listening to all her problems (being helpless here) and her thoughts. Her cries over the nights are my current lullabies, I can do nothing but cuddle her. To let her know that I am here for her, and always will be.

Tonight she comes back late, I greet her with my most cheerful smile, but she reacts nothing. Her current face is the most depressive face I’ve seen my entire life. She opens up the box, where she hides the thing she always comes up to when I can no longer comfort her. She calls it The Blade.She cuts her wrist, it’s usually the thighs — this is so unusual. I sense something goes wrong, and I bet it’s worse. The blood runs all over her school uniform. She never did that, she never let anything ruins her white uniform.It’s my 29th day of my punishment life, where tomorrow I might be reborn and return back. But the Lord really made it as a total punishment for me. My best friend took her life over in front of me.

“It’s okay, you’ll be fine. You’re safe now.” I repeat her first sentences to me as we met.

Tomorrow we will meet again for the second time. In Heaven. If only the Lord still lets me to enter that, as I failed the mission, again.

Untuk 30 Hari Bercerita #2, #3, dan #4

Sedikit Cerita di Hari Pertama Bulan Ketiga

Hari pertama di bulan ketiga tahun masehi ini jurusanku mengadakan sebuah kuliah umum yang memiliki tagline (atau apalah itu, aku kurang yakin dengan kata yang kupilih sebelumnya) cukup menarik bagiku yaitu Die Qualität deiner Kommunikation bestimmt die Qualität deines Leben. Masalah yang akan dibahas di sini oleh narasumber yang bergelar Sarjana Hukum, Bapak Muhd. Firman Hidayat, adalah “Krisis Kesantunan dalam Interaksi Akademis di Perguruan Tinggi”. Tapi, sejujurnya bukan hal tersebutlah yang menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

1 Maret, juga merupakan hari ulang tahun salah satu dosen prodi Sastra Jerman. Itulah mengapa di saat acara baru saja dipindah alihkan dari MC ke moderator, nyanyian Zum Geburtstag viel Glück memenuhi ruangan aula Pusat Studi Bahasa Jepang, tempat kuliah umum diadakan. Bahkan saat acara telah selesai dan plakat sudah berada di tangan narasumber dan moderator, sebuah selebrasi kecil-kecilan kembali diadakan. Kali ini oleh beberapa mahasiswa angkatan 2016 yang merupakan mahasiswa wali dari Dr. phil. N. Rinaju Purnomowulan. Dan, untuk yang kedua kalinya lagu Selamat Ulang Tahun versi bahasa Jerman kembali berkumandang. Dapat dirasakan bahwa Bu Wulan sangat bahagia karena hal tersebut terpancar dari air muka beliau dan juga ucapan terima kasih yang terucap cukup terbata, bahkan cenderung tidak mampu berkata-kata. Tapi (lagi), sejujurnya bukan hal tersebutlah yang sepenuhnya menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

Menginjak semester keempat aku menimba ilmu di sini, aku ingat betul bahwa pertama kali aku mengenal sosok Bu Wulan pada saat aku masih berstatus mahasiswa baru. Semester pertamaku di mata kuliah Interkulturelle Landeskunde lah aku bertemu dengan beliau. Aku ingat, tugas pertama yang diberikan beliau adalah mempresentasikan provinsi-provinsi di Indonesia dengan Bundesländer di Jerman. Hamburg, adalah Bundesland yang kebetulan menjadi bagian yang harus aku presentasikan (dan proud to say that I once have been there eventhough only for a day). Pada masa itu, aku masih sangat membenci kegiatan presentasi. Untuk berdiri di depan banyak orang dan berbicara atau membawakan materi merupakan suatu hal yang sangat aku hindari. Sebagai seorang yang penakut (dan tidak percaya diri), aku gugup. Sebegitu gugupnya aku hingga aku melakukan suatu kebodohan konyol yang hingga saat ini masih aku ingat dengan jelasn bagaimana aku mengatakan bahwa Hamburger berasal dari Hamburg (atau apa, aku lupa sejujurnya, tapi kurang lebih seperti itu). Sebuah fun fact asal ceplos yang kusebutkan, karena saking gugupnya aku. Di tengah presentasi, sebelum aku semakin ngaco dengan omonganku, beliau memberitahu kepada kelas fakta yang benarnya. Saat itu, aku hanya bisa berdiri setengah gemetar dan nyengir kuda karena “ngide”.

Hmh.

Suka ingin throwback sendiri kalau begini. Apalagi bahas jaman masih berstatus sebagai mahasiswa baru alias maba.

Lupakan.

Kembali lagi ke pembicaraan awal.

Setelah beberapa kali kuliah dengan Bu Wulan, beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa mengajar selama kurang lebih satu bulan ke depan dan akan digantikan oleh dosen lainnya. Alasannya adalah beliau diundang ke Frankfurt Book Fair 2015 atas buku cerita anak karya beliau yang baru saja diterbitkan. Melati im Land des Fußballweltmeisters, begitu judulnya. Aku, yang saat itu tengah tidak produktif menulis, seketika kembali terbakar lagi semangatnya. Apalagi setelah mengetahui bahwa salah seorang pendidikku sebegitu kerennya.

Semenjak itu aku tidak lagi merinding yang disebabkan oleh teringat akan mata kuliah yang diampu saat mendengarkan nama beliau, tetapi akan “kekerenan” beliau.

Tulisan ini sejujurnya stuck sampai di sini. Dikarenakan aku hanya sedikit mengenal beliau. Hanya satu mata kuliah yang kuambil sejauh 4 semester ini yang diampu oleh beliau, dan yang entah bagaimana bisa aku mendapatkan nilai sempurna di Ujian Akhir Semester. Tetapi, aku masih sebegitu kagumnya dengan beliau. Karena aku menyukai orang-orang yang pintar dan gemar menulis, secara general. Sebegitunya.

Dan, hari ini aku senang (walaupun banyak esai-esai untuk lamaran beasiswa yang menunggu untuk diselesaikan) dan butuh untuk “memuntahkan” segala perasaan dan pikiran. Mengingat-ingat kembali lembaran lalu, dan menyatukannya dengan lembaran baru. #ea

Jadi, begitulah. Aku kehabisan kata-kata. Akhir dari cerita ini aku ingin mengatakan bahwa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Bahwa sebelum aku menyandang gelar Sarjana Humaniora di belakang nama Nareswari, aku akan menyelesaikan sebuah buku karyaku dalam bahasa Jerman. Entah itu kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel, komik, atau kompilasi dari semua itu.

Untuk semua yang menyempatkan diri membaca kisahku hari ini, tolong ingatkan dan tagihlah janjiku yang tertulis hari ini. Terima kasih.

14883502308851488350228780

Sekali lagi, herzlichen Glückwunsch zum Geburtstag, liebe Frau Purnomowulan dosen panutanq”.

PS : ini bahagia parah bisa selfie bareng dengan beliau *inserts crying in happiness emoji here*

1488380235510