Mimpi? Mimpi.

Mimpi.

Pergi ke luar negeri selalu menjadi impian saya sejak masih kecil. Saat mulai mengenal internet pada kelas 4 SD, Inggris menjadi negara yang amat saya kagumi. Negara dengan bendera berjuluk “The Union Jack” berhasil membuat saya jatuh hati, entah bagaimana caranya, terlebih kepada ibukota negara tersebut, London.

Beranjak dewasa, obsesi saya terhadap negara Inggris kian memudar, tetapi saya memiliki obsesi baru kepada seorang rocker cantik asal Kanada, Avril Lavigne. Hal ini menyebabkan saya memiliki keinginan untuk mempelajari Bahasa Inggris lebih lanjut secara mandiri, yang hasilnya cukup memuaskan hingga saat ini saya mampu berkomunikasi dan mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, kedua hal tersebut mendorong saya untuk mewujudkan sebuah mimpi masa kecil yang mungkin terdengar tidak masuk akal bagi seorang bocah yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, yaitu untuk dapat pergi ke luar negeri. Bagi sebagian orang, impian tersebut merupakan suatu hal yang mudah untuk diwujudkan, dengan sejumlah uang yang dimiliki.

Memasuki Sekolah Menengah Atas berbagai cara telah saya coba demi mewujudkan mimpi saya tersebut, entah itu seleksi beasiswa, tes untuk student exchange maupun summit, dan lain sebagainya. Seleksi beasiswa pertama yang saya ikuti adalah program AFS-YES 2013, saya hanya mampu sampai di seleksi provinsi dan tidak dapat melanjutkan lagi untuk ke seleksi nasional. Dan beasiswa tersebut hanya bisa diikuti sekali seumur hidup, pada saat duduk di bangku kelas 10. Tes-tes untuk student exchange dan summit tidak pernah berlanjut setelah saya menyelesaikan esai, ya, saya tidak mengumpulkannya. Karena saya tahu dan sadar, bahwa jikapun saya terpilih biaya ini dan itu tetap tidak bisa saya bayarkan, kecuali jika mendapatkan sponsor. Badai keputusasaan sempat melanda saya yang terus gagal dan gagal, tapi semangat dan motivasi yang datang dari keluarga dan teman-teman saya kembali membangkitkan kobaran api semangat yang sempat meredup.

Pada bulan Oktober 2013, saya bertekad untuk mengikuti sebuah lomba, yang pada saat itu saya pikir dapat menjadi jalan alternatif untuk mencapai mimpi tersebut. Saya yang tidak menonjol dalam bidang akademik ini nekat untuk mengikuti sebuah lomba bertaraf nasional, olimpiade Bahasa Jerman atau Nationale Deutsche Olympiade. Bermodalkan dua hal, nekat dan tekad, saya yang pada saat itu masih tidak menguasai Bahasa Jerman sama sekali memaksakan diri untuk belajar, dengan waktu yang terbatas. Waktu saya hanya tiga bulan, materi yang akan diujikan sampai A2-B1, kalau tidak salah B1 awal. Persiapan tiga bulan dan melahap habis 24++ bab dalam dua buku, saya yang saat itu sedang merasakan sedikit patah hati, jatuh cinta lagi. Benar adanya ketika orang berkata, cinta datang karena terbiasa.

Tidak, kembali menjadi jawaban atas usaha saya kali ini. Kecewa. Saya kecewa dengan diri saya sendiri. Seharusnya saya ingat untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi, dan sadar akan keadaan saya saat itu, bahwa saya hanyalah seorang nekat yang baru mempelajari Bahasa Jerman secara ‘gila-gilaan’ tanpa sebelumnya memiliki sertifikat A1. Tetapi yang seharusnya saya lebih ingat bahwa dengan persiapan dan segalanya yang mendadak ini, saya tetap berhasil, walaupun hanya berada di peringkat 12 dari sekian peserta. Tampaknya kekecewaan terlalu mendominasi sehingga saya melupakan hal tersebut. Beruntung guru Bahasa Jerman yang mendampingi saya saat itu, terus memberi saya semangat dan motivasi untuk tidak terpuruk pada kekalahan dan kekecewaan karena bisa saja saya melewatkan kesempatan lainnya di depan sana. Beliau mengingatkan bahwa nanti ke depannya masih ada seribu bahkan lebih jalan untuk menuju Köln, bukan Roma karena itu kota impian saya di Jerman. Masih ada beasiswa sommerkurs PASCH..

Tidak mau kecewa lagi, menuju Ujian A2 demi beasiswa kursus musim panas di Jerman tersebut saya kembali memacu semangat dan belajar. Dalam perjalanan tersebut saya kembali mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa, lagi. Partisipan yang gagal di seleksi provinsi menuju nasional AFS-YES 2013 mendapatkan free pass untuk mengikuti interview beasiswa student exchange selama sebulan di Amerika Serikat oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Januari 2014. Bodohnya saya yang terlalu berfokus dan sedikit ambisius mendapatkan beasiswa kursus musim panas ke Jerman tersebut, saya menyepelekan kesempatan ini. Bukan dengan cara melewatkannya, tapi hanya mengikutinya bagai angin lalu, yang berdampak pada penolakan. Lagi. Dan saya membuktikan bahwa benar katanya dengan belajar bahasa asing, sedikit tidaknya akan mempengaruhi kemampuan Bahasa Inggris yang dimiliki, ah atau mungkin hanya saya saja.

Hasil tidak akan menghianati prosesnya. Kali ini bukan penolakan yang saya dapatkan, sebuah ‘iya’ yang selama ini saya tunggu-tunggu, dan badai kekecewaan telah berlalu. Mimpi saya akan segera menjadi kenyataan, saya mendapatkan beasiswa untuk kursus musim panas selama tiga minggu di Jerman, di sebuah kota kecil nan indah bernama Varenholz. Berumur 17 tahun lewat beberapa hari, saya terbang ke negeri elang hitam, dan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui saya juga berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Istanbul, ibukota Turki dan di Singapura walau hanya untuk sekadar transit.

Tiga minggu dapat dikatakan singkat, sangat singkat malah, untuk jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Saya jatuh cinta dengan negara, suasana, alam, bahasa, aksen, seni, budaya, orang-orang, semuanya. Selama mengikuti program di sana, saya berkesempatan juga untuk mengenal orang-orang serta budaya dari sembilan negara lainnya. Dengan caranya sendiri, Jerman telah mencuri hati saya.

Selama sejauh ini mempelajari bahasa Jerman, dan jatuh cinta pada segala hal ke-Jerman-an, banyak sekali hal-hal positif yang saya terima. Sebagai contohnya, yang saya ingat, akan saya tuliskan secara singkat.

  1. Saya bisa mewujudkan mimpi masa kecil saya untuk pergi ke luar negeri melalui beasiswa yang ditawarkan oleh pusat kebudayaan Jerman, Goethe Institut, dalam program PASCH atau sekolah mitra masa depan.
  2. Saat saya mengikuti lomba nasional tersebut, saya berkesempatan untuk mengenal teman-teman dari Sabang sampai Merauke.
  3. Jumlah teman dari luar negeri yang saya miliki saat ini sekitar 75%-nya berasal dari Jerman, dan atau yang berbicara Bahasa Jerman.
  4. Berkat kalimat Ich spreche ein bisschen Deutsch… yang saya tulis di Instagram, saya berkenalan dengan seorang gadis Jerman yang sekarang menjadi salah seorang teman terbaik yang pernah saya miliki.
  5. Sekarang saya tengah menempuh studi di jenjang perguruan tinggi, dimana program studi yang saya pilih merupakan suatu bidang yang saya sangat sukai, yaitu Sastra Jerman. Tidak peduli pandangan dan stereotip negatif mengenai jurusan yang saya pilih, saya selalu memiliki pemikiran bahwa sesuatu yang dilakukan dengan penuh cinta hasilnya akan jauh lebih baik daripada yang dilakukan dengan penuh paksaan.

Dan list tersebut akan terus bertambah semakin saya memperdalam ilmu saya, dan belajar.

Sebenarnya jikalau bukan dikarenakan masalah finansial, ingin rasanya untuk menempuh jenjang sarjana di negara berbendera hitam, merah dan emas tersebut. Belum saatnya, tapi nanti saya akan mewujudkannya, untuk menimba ilmu di sana pada saat mengambil program master dan atau doktor.

Akan saya persiapkan lagi dengan matang demi menyongsong masa depan yang cemerlang, dan kembali mewujudkan mimpi-mimpi. Karena semuanya tidak pernah semudah membalikkan telapak tangan. Dan semoga saja asam garam jungkir balik penolakan serta kekecewaan yang pernah saya rasakan tersebut akan semakin membuat saya kuat dan tegar, jika memang suatu saat nanti bertemu dengannya lagi.

Deutschland, wo ich Liebe finde.

 

(Dengan sebegitu banyaknya penambahan, dan perombakan, dari sebuah esai yang merupakan tugas akhir SMA, “Mimpi dan Keterkaitannya dengan Negara Elang Hitam” pada 9 Maret 2015.)

 

PS : I’m turning 19. Happy birthday, hey you.

Summercourse Report (Varenholz 2014)

This slideshow requires JavaScript.

Hi! Remember that I once said I will post something related to those best moments in 2014 here? Yeah, one of them is of course going to Germany for a summercourse. But since I’ve been really really busy with school, yeah this week I’ve got my final exams and still two more days to go (Screw it, will be having PE Theory and Japanese on Monday and Art on Tuesday). And right now I supposed to be doing my art final project, but I got stuck and I don’t know what to paint what colour should I use so instead I come here and found out I have a draft of the report I should be giving to my German teacher after the summer course, and I’d love to share it with you all, but it’s in Indonesian. (I told you I have no free time at all to even translate the whole document so yeah and I’ll make sure I definitely will post in informal way and in English very very soon!)

Laporan kegiatan saya, Sinta Nareswari, dalam mengikuti Sommer Jugendkurs (Kursus Musim Panas) di Varenholz, Jerman pada tanggal 20 Juli – 09 Agustus 2014.

Kegiatan kursus musim panas ini merupakan salah satu kegiatan yang diadakan oleh PASCH di bawah Goethe Institut. PASCH ini adalah partner sekolah menuju masa depan, di mana di Indonesia telah terdapat banyak sekolah yang bergabung, termasuk salah satunya SMA Negeri 4 Denpasar. Goethe Institut memberikan beasiswa kepada siswa-siswi di sekolah PASCH untuk dapat mengikuti kegiatan kursus musim panas ini, dengan mengikuti ujian A1 atau A2 dan meraih nilai tertinggi. Dengan adanya beasiswa tersebut, tentunya memacu semangat siswa untuk semakin giat belajar bahasa Jerman dan meraih nilai tertinggi dalam ujian.

Ujian A1 dan A2 ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun di sekolah PASCH. Tahun ini, ujian berlangsung pada Februari 2014 di SMAN 4 Denpasar. Saya mengikuti ujian A2, di mana ini merupakan ujian bahasa Jerman pertama saya karena pada tahun sebelumnya saya tidak mengikuti ujian A1 dengan alasan belum siap. Tetapi setelah naik kelas XI saya bertekad untuk mengejar materi yang tertinggal sehingga saya siap untuk mengikuti ujian tersebut.

Rasa tidak percaya diri, tegang dan takut menghantui saya selama ujian dan sebelum pengumuman. Saya merasa tidak yakin dengan apa yang telah saya kerjakan selama ujian. Menjelang waktu pengumuman akan hasil ujian dan peraih beasiswa tersebut, saya tidak bisa tenang dan terus terbayang akan kegagalan saya dalam mendapatkan beasiswa AFS Intercultural Programs sebelumnya. Sampai akhirnya, Frau Novi memanggil nama Gita W. Pupus sudah harapan saya karena seperti yang diketahui, pada tahun 2013 beasiswa ditujukan kepada satu orang peraih nilai tertinggi ujian A1 dan satu orang peraih nilai tertinggi ujian A2. Hanya satu kata yang dapat menjelaskan perasaan saya waktu itu. Kecewa. Tetapi tidak berselang lama kemudian, Frau Novi kembali memanggil nama seseorang yang tidak lain adalah nama saya. Sambil memberikan sertifikat beliau menjelaskan bahwa untuk tahun ini beasiswa diberikan kepada dua orang peraih nilai tertinggi di ujian A2. Puji Tuhan atas segala berkah yang telah Ia berikan kepada saya.

Tidak pernah sesungguhnya terbayang oleh saya untuk bisa ke luar negeri secara gratis. Untuk jangka waktu yang cukup lama dan tanpa didampingi orang tua. Saya begitu tidak sabar menanti hari keberangkatan, karena ini juga merupakan pertama kalinya saya pergi ke luar negeri. Saya pergi bersama 6 orang siswa lainnya dan satu guru pendamping, yang semua berasal dari sekolah yang berbeda beda. Sasa dari SMA St. Ursula Jakarta, Dea dari SMA St. Ursula BSD, Bibi dari SMA St. John BSD, Nico dari SMA De Britto Jogja, Hristo dari SMAN 1 Ambon, dan Frau Anna Woro dari SMAN 3 Yogyakarta. Hari pertama di Jerman, begitu takjub saya melihat negeri yang berjarak ratusan ribu kilometer dari Tanah Air ini. Begitu modern, bersih dan tertata.

Di Varenholz, saya tinggal di Schloss Varenholz, yaitu sebuah kastil yang sekarang telah dijadikan asrama tempat tinggal bagi siswa dan siswi sekolah privat disana. Kastilnya sederhana dan tidak terlalu besar, tetapi sangat nyaman seperti rumah. Selama berada disana saya tinggal satu kamar dengan seorang dari Kamerun dan Prancis.

Hari Senin di minggu pertama, merupakan tes penempatan. Tes inilah yang akan menentukan kelas tempat kami belajar selama 3 minggu ke depan. Seluruh peserta kursus dari 10 negara berbeda yang berjumlah 63 orang akan dibagi menjadi 5 kelas, mulai dari kelas A1 sampai dengan B2. Tanpa saya duga sebelumnya saya masuk di kelas B1, yang merupakan kelas tingkat kedua tertinggi dalam kursus ini. Kelas saya bernama München, yang terdiri dari 12 siswa dari 6 negara (4 Indonesia, 3 Rusia, 2 Kamerun, 1 Malaysia, 1 Rumania dan 1 China). Guru saya bernama Veronika Gall, beliau merupakan guru yang menurut saya sangat gaul karena tidak pernah kehabisan cara untuk membuat kelas tidak membosankan. Selama di kelas kami tidak hanya belajar bahasa Jerman dan budaya Jerman saja, tetapi kami juga mengenal satu sama lain, saling bertukar bahasa dan budaya, bermain, bernyanyi, menari, berkreasi, berdiskusi, presentasi dan kunjungan ke Universitas Bielefeld.

Selain kegiatan belajar di sekolah yang berlangsung setiap hari Senin sampai Jumat dari pukul 09.00 – 12.30, juga ada kegiatan proyek pada hari Selasa dan Kamis pukul 14.00 – 16.00. Kegiatan proyek tersebut ada 4 cabang, di mana siswa dibebaskan untuk mengikuti proyek yang disukai, yaitu : majalah kursus, menelusuri alam, mengunjungi benteng dan kastil, dan yang terakhir adalah proyek yang saya pilih fotostory. Disamping itu, selalu ada kegiatan menarik yang dapat dilakukan selama mengisi waktu luang, seperti berenang, olahraga, melukis, dansa, teater, dsb. Dan juga selama 3 minggu berada disana, party diadakan sebanyak 5x, mulai dari Begrußung Party, Maskenball Party, Herzblatt Party, Tschüssprüfung Party hingga Abschluss Party, dimana semua party tersebut selalu diakhiri dengan disko. Agenda rutin tiap hari Sabtu yaitu jalan jalan, yang merupakan kegiatan paling ditunggu oleh seluruh peserta. Saya berkesempatan untuk mengunjungi kota Hamburg pada Minggu pertama dan kota Münster pada Minggu kedua. Tetapi pada hari Rabu minggu pertama, kami sempat mengunjungi sebuah kota kecil bernama Bückeburg dan pada hari Rabu minggu terakhir, kami mengunjungi Heide Park di Soltau yang merupakan salah satu amusement park di Jerman. Kunjungan ke Heide Park tersebut merupakan kejutan perpisahan.

Pada hari Rabu di minggu kedua, ada suatu acara yang bernama Multikulti Abend, yaitu acara yang memperkenalkan makanan, budaya, tradisi serta pakaian khas dari masing – masing negara. Jerman, Indonesia, Malaysia, China, Rusia, Rumania, Kazachstan, Perancis, Gabun, Kamerun, dan Malta. Dengan total 11 negara kami berkumpul saling mengenalkan budaya pada acara malam ini, sebegitu menariknya acara yang kami sajikan sehingga mengundang penasaran salah seorang wartawan dari koran lokal untuk meliput, dan saya sempat diwawancarai sedikit oleh beliau. Kami dari Indonesia menyanyikan lagu Tanah Airku dan melakukan flash mob Poco Poco dengan teman saya Nico, dari SMA De Britto Yogyakarta, sebagai leader.

Hari Senin di minggu terakhir, diadakan ujian. Kali ini saya kembali mengikuti ujian A2 dikarenakan menurut guru saya, saya belum siap untuk mengikuti ujian B1. Tetapi tidak hanya saya saja yang dianggap belum siap mengikuti ujian B1, tetapi 7 orang teman sekelas saya juga, sehingga 2 diantaranya memilih untuk tidak mengikuti ujian dan 5 orang sisanya kembali mengulang ujian A2, termasuk saya. Sedikit kecewa tetapi saya bertekad untuk memperbaiki nilai ujian A2 saya. Persiapan demi persiapan pun saya lakukan, demi menebus nilai Hören dan Lesen saya yang tidak terlalu bagus pada ujian sebelumnya.

Seminggu setelah ujian selesai, tiba saat di mana kami akan mengetahui hasil ujian tersebut dan tiba pula saat untuk mengatakan salam perpisahan kepada teman sekaligus keluarga saya selama 3 minggu berada di negeri orang. Sabtu malam, 08 Agustus 2014, kami menerima sertifikat ujian A1 – C1 di aula sekolah. Ketika guru saya memanggil nama saya untuk menyerahkan sertifikat hasil ujian, beliau berkata bahwa saya telah melakukannya dengan sangat baik, saya masih tidak percaya sampai saya melihat sendiri nilai yang tercantum disana. 75 dari 80. Bangga, adalah satu kata yang cukup menggambarkan perasaan saya saat itu. Terlebih lagi dengan nilai yang sempurna untuk menulis.

Tetapi rasa bahagia karena memperoleh sertifikat dengan nilai yang lebih baik dari ujian sebelumnya seakan sirna mengingat hari ini adalah hari terakhir untuk kami bersama, karena hari esok sudah harus terbang kembali ke negara masing masing. Pada hari ini kami dibebaskan untuk tidak tidur, sehingga kami bisa menghabiskan waktu bercanda, bermain, berjoget ria, tertawa, dan melakukan semuanya bersama untuk terakhir kalinya. Karena kesempatan kami untuk bertemu di kemudian hari begitu kecil. Apalagi untuk bisa reuni bersama berpuluh – puluh lebih orang.

Jadwal keberangkatan esok harinya dibagi menjadi tiga kloter, kloter pertama jam 5.00 menuju bandara Hannover, kloter kedua jam 10.00 menuju bandara Hannover dan kloter terakhir jam 10.30 menuju bandara Frankfurt. Rasa sedih memuncak ketika di pagi-pagi buta kloter pertama harus berangkat ke bandara. Terlebih ketika teman dekat saya dari Malta dan kedua teman sekamar saya yang harus pertama pergi. Air mata dan tangis mengiringi kepergian mereka, sehingga asma saya hampir kambuh karena tidak sanggup menahan sesak oleh sesuatu yang akan hilang.

Sungguh tidak terlupakan 3 minggu saya selama mengikuti kegiatan kursus tersebut. Sudah seperti keluarga besar kami bersama sama menghabiskan waktu tiap harinya. Rasa syukur dan terima kasih saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Goethe Institut dan Kepala Sekolah yang telah memberikan saya kesempatan ini. Serta kepada Frau Novi, guru – guru di SMAN 4 Denpasar, guru les privat bahasa jerman saya, dan juga teman – teman yang selalu mendukung saya sehingga saya bisa meraih kesempatan ini.

Dengan ini saya tutup laporan kegiatan saya selama mengikuti Sommer Jugendkurs (Kursus Musim Panas) di Varenholz, Jerman pada tanggal 20 Juli – 09 Agustus 2014.

How To Make a Fruity Pudding Cake

Image

What we need :

  • For Yellow Layer
    • 500ml of orange juice
    • A pack of jelly powder
    • 150ml of water
    • 3tablespoon of sugar
  • For White Layer
  • 350ml of whipped cream
  • a tablespoon of vanili essence
  • 400ml of milk
  • 100ml of water
    • Fruits (any kind of fruits, I suggest you, kiwi, strawberry and orange, slices them in small sizes)
    • Spoon
    • Mixer
    • Jelly molds
    • Pan or boiler (to cook the jelly)

 

How to Make it (it’s so simple!) :

  1. 1.      First, make the yellow layer. Mix orange juice and water, stir, put the jelly powder and sugar. When it’s boiled already, wait about 5 minuted until the dough is no longer very hot and put in into the jelly molds and place it in the fridge.
  2. 2.      Next, make the white layer. Mix milk and water, stir, pour sugar and jelly powder and also the vanili essence. When it’s boiled, cool it down for a while before pouring the whipped cream on to it. Stir again.
  3. 3.      Put the fruits on the yellow layer and cover them with the white layer. And place them on the fridge again.
  4. 4.      Wait until the pudding is ready.
  5. 5.      Finally, it’s done. So simple as I told you so! Now you can decorate it as pretty as you want with some fruits and the whipped cream.

ps : I found this before on somewhere, probs my mom’s cooking magz, and it was in Indonesian and I tried to translate it with a help from a friend of mine and we did this also for a group project, english task, we took a video of us making this pudding and show them to the teacher.

Naskah Drama Asal Mula Tangkuban Perahu (versi thedarkangelslullaby)

Tangkuban Perahu

Once upon a time in West Java lived a wise king who had a beautiful daughter. Her name is Dayang Sumbi. She likes listening to music very much. One night, she listened to music when she was feeling so blue or we usually called it galau, accidentally her headset fell. She was too tired to take it. Then she shouted out loud.

Dayang Sumbi                : “Anybody out there, bring me my headset. I will give you special present. If you are female, I will consider you as my sister. But.. If you are male, uhm.. I will … marry you.”

Suddenly a male dog,  named  Tumang, came, he brought her  headset  to Dayang Sumbi. Dayang Sumbi was very surprised. She regretted her words but she couldn’t deny it.

Tumang                            : “Here is your headset, Ma’am.”

Dayang Sumbi                : “Aww… thank you so much for bringing my headset back.” *sighs*

So she had to marry Tumang. She left the kingdom (because she is a princess) with her faithful dayang. Then they live in a mansion in a deep jungle. Tumang was actually a prince which he was spelled by a bad witch into a dog.

Dayang                              :  “Dayang Sumbi, do you take Tumang as your husband?”

Dayang Sumbi                   : “Yes I do”

Dayang                              : “Tumang, do you take Dayang Sumbi as your wife?”

Tumang                             : “Yeah… I do.”

Dayang                              : “If anyone doesnt agree with this two mirrage, please speak now”

*silence*

Dayang                              : “So it has been decided, I now pronounces you as husband and wife”

Several months later, they had a son. His name is Sangkuriang. He is handsome and healthy boy. He didnt know that his father is the dog. Sangkuriang likes hunting very much, he often went hunting to the woods using his gun. When he went hunting, Tumang always go with him.

One day, Dayang Sumbi wanted to eat a deer’s heart, so she asked her son to hunt for a deer.

Dayang Sumbi                : “Oh my dearest son, today, suddenly I feel like eating a deer’s heart. Will  you go hunt it for your mom?”

Sangkuriang                    : “Of course, mom. It’s my pleasure to do it. I will go hunt to the wood right now. Bye-bye, Mom. Let’s go, Tumang!”

Then Sangkuriang went to the wood holding his gun and with his faithful dog, Tumang. But, after several days in the wood, Sangkuriang couldn’t find any deer. They were all disappeared. Sangkuriang was exstremely tired and desperate. He sat below on the tree and talk to himself.

Sangkuriang                    : “What should I do right now? I couldn’t find any deer after several days  hunting. What should I do now?!”

He looked at Tumang. His faithful dog is laying beside him right now. Tired. Then Sangkuriang holds his gun  and shot Tumang right in its tummy.

Sangkuriang                    : “Sorry bro, its doesnt seem right, but I have to find an animal heart to replace the deer’s heart”

*Stab. Stab. Stab.*

Sangkuriang really didn’t want to disappointed his mother so he killed Tumang. Sangkuriang didn’t know that Tumang is actually his father. Sangkuriang went home and bring Tumang’s heart to give it to his mother.

Sangkuriang                       : “Mom, here it is. Deer’s heart. I have been looking for it for several days. All deers were all disappear suddenly. Then I found this only one deer this morning.”

Sangkuriang, Dayang Sumbi and her faitful dayang ate the Tumang’s heart, after they finished eating,

Dayang Sumbi                   : “Awww.. thank you so much, my dearest son. Anyways, where is Tumang? I don’t see him around with you.”

Sangkuriang                       : “Ermmm…”

Dayang                                 : “Where is Tumang, Sangkuriang?”

Sangkuriang                       : “Dude… please, don’t be mad at me if I’m being honest to you. I really couldn’t find any deer at the jungle. And… and I don’t want to disappoint you both. So I killed…. Tumang.”

Dayang Sumbi                   : “WHAT? WHAT DID YOU SAY, SANGKURIANG? YOU KILLED TUMANG? YOU KILLED HIM, HUH? YOU KILLED HIM?”

Dayang                                 : “Please stop Ma’am, just stop.”

Dayang Sumbi was very upset that she couldn’t handle her emotion so she hit Sangkuriang at his head. Sangkuriang was wounded. There was a big scar on his head. Dayang Sumbi also revelled him.

Dayang Sumbi                   : “YOU ARE SUCH AN USELESS SON. STUPID!! NOW, STAY AWAY FROM ME! LEAVE ME ALONE! GET OUT FROM THIS HOUSE! GO!!!!!!!”

*Dayang sumbi leaves the room*

Sangkuriang                       : “Please tell Mother that I love her so much, I really regret for what I have done to Tumang.”

Dayang                                 : “Oh, Sangkuriang, please don’t leave your mother alone. She is all alone right now. You are the only one she had for now.”

Sangkuriang                       : “But mother told me to go away. She is extremely mad at me right now. So I have to go.”

Dayang                                 : “Take this for your journey, Sangkuriang. Hope you will be okay.” *gives some foods and some money in a pouch*

Sangkuriang                       : “Thank you so much.”

Days by days, weeks by weeks, months by months, years by years. Many years passed and Sangkuriang has grown up to a very strong and attractive young man. But, he still has a scar on his head which was being hit by his mother. Sangkuriang wandered everywhere, one day he arrived at his own mansion but didn’t realize it. There, he met Dayang Sumbi.

Sangkuriang                       : “Wow.. How beautiful is that woman. I need to know her. But… her face looks so familiar, but ah nevermind.”

Sangkuriang                       : “Sorry, Mam. Do you know her? That beautiful woman over there?”

Dayang                                 : “Sure. She is Dayang Sumbi, Sir.”

Dayang Sumbi                   : “Ouch”

Sangkuriang                       : “Aw I’m really sorry”

Dayang Sumbi                   : “It’s okay”

At the time, Dayang Sumbi was given an eternal beauty by God, so she is forever young. Both of them, didn’t recognize each other. They fell in love at the first sight. They chat and share about stuffs until the sun goes down.

Accidentally, Dayang Sumbi hit Sangkuriang’s head and he screamed.

Sangkuriang                       : “Awwwww… Dude, that hurts.”

Dayang Sumbi                   : “Oh I am really sorry, man.”

He take off his cap and Dayang Sumbi almost fainted because of too upset that she is now realized that this man was her son.

Dayang Sumbi                   : “Oh my God! Hey dude, you’re my son!”

Sangkuriang                       : “What? Mom? You’re not my mom, she’s old now! Haha.. You must be kidding me.”

It was impossible for them to marry, Dayang Sumbi told him about that but he doesn’t believe it. He wished to marry her soon. So, Dayang Sumbi gave a very difficult condition. She wanted sangkuriang to build a yacth in a night, she said, she needed that for honeymoon.

Dayang Sumbi                   : “It is impposible for us to marry! You are my son, Sangkuriang. See that scar on your head? I hit you long time ago, remember? We can’t..”

Sangkuriang                       : “Me? Your son? Like seriously, if you were my mom, you would be way older than me.”

Dayang Sumbi                   : “No… you are my son, Sangkuriang. I am your mommy. Dayang Sumbi!”

Sangkuriang                       : “No way! You must be kidding me!”

Dayang Sumbi                   : “Okay if you don’t believe me, fine. I will marry you.. BUT.. build me a yacth, in a night. In a night!”

Sangkuriang                       : “Okay, if I finished it in a night, you must marry me !”

*Genie comes out from a door*

Sangkuriang                       : “Oh, Genie. I need your help, duh. My future wife wants me to build a yacht for her in a night.”

Genie                                    : “Ha.. So easy master. I could make it in less than a night.”

Then he started building the yacth. It was almost morning when he nearly finished it. Meanwhile, Dayang Sumbi keep watching on them. She was worried, the she made lights in the east by waving a orange sarong and she made the rooster wake up. The genie thought that it was already done. It was time for it to left Sangkuriang alone. Without its help he couldn’t finish the yacht.

Genie                                    : “Bah…… I gotta go, master. The sun is going up. Bye bye”

Sangkuriang                       : “Nooooo dont leave meee…”

Dayang Sumbi                   : “Oh man.. I’m really sorry to say but… you failed. I am sorry but I can’t marry you, Sangkuriang. It’s morning already and.. you haven’t finished the yacht I asked you.”

Sangkuriang was very angry and he kicked the yacht, and the yacht turned out to be Mount Tangkuban Perahu. It means, the upside-down yacht, because from a distant it looks like so.

-The end-

(I made this with a help from a friend of mine so please if you’re going to use this took a credit of my site, at least my name -Alex- okay?)

ps : this is for a group english project so we had to play the drama in front of the class and make a script of it, because I couldn’t find any good script over google we made it on our own and voila this is it and our group got 87 as our good mark and I got 86 for my personal play 🙂

sincerely Alex