Gedicht Analysieren : Kleine Stadt am Sonntagmorgen von Erich Kästner (1929)

IMG_0117
Das Wetter ist recht gut geraten.
Der Kirchturm träumt vom lieben Gott.
Die Stadt riecht ganz und gar nach Braten
und auch ein bisschen nach Kompott.
Am Sonntag darf man lange schlafen.
Die Gassen sind so gut wie leer.
Zwei alte Tanten, die sich trafen,
bestreiten rüstig den Verkehr.
Sie führen wieder mal die alten
Gespräche, denn das hält gesund.
Die Fenster gähnen sanft und halten
sich die Gardinen vor den Mund.
Der neue Herr Provisor lauert
auf sein gestärktes Oberhemd.
Er flucht, weil es so lange dauert.
Man merkt daran: Er ist hier fremd.
Er will den Gottesdienst besuchen,
denn das erheischt die Tradition.
Die Stadt ist klein. Man soll nicht fluchen,
Pauline bringt das Hemd ja schon.
Die Stunden machen kleine Schritte
und heben ihre Füße kaum.
Diee Langeweile macht Visite.
Die Tanten flüstern über Dritte.
Und drüben, auf des Marktes Mitte,
schnarcht leise der Kastanienbaum.

Wie ist der Text aufgebaut (Strophen, Versform, Rhythmus, Metrum, usw.)?

In dieser Lyrik gibt es 6 Strophen, die Verse sind 26 (5 Strophe mit jeweils 4 Verse, und die letzte Strophe mit 6 Verse). Es hat hauptsächlich Kreuzreim (a b a b), aber in der letzten Strophe ist es anders, sondern mit (a b a a a b) Reim. Im Metrum gibt es am meisten Jambus und Anapäst, aber gibt es auch alternierende Metren, Spondeus und Trochäus.

Gibt es Stellen, bei deinen Sie Verständnisprobleme haben? Wenn ja, woran liegt das?

Nein. Ich glaube, ich verstande schon alle Stellen. Es gab leider noch viele unbekannte Wörter für mich, deshalb musste ich zuerst die Wörter im Wörterbuch suchen um diese Lyrik zu voll verstehen.

Weckt der Text einen bestimmten Eindruck bei Ihnen?

Ja. Wenn ich diese Lyrik lese, imaginiere ich einen ruhigen Sonntagmorgen in einer kleiner Stadt. Das gute Wetter, das Riechen des Bratens, die leere Gasse, und auch die Langweile. Weil ich einmal in Deutschland war (und ich war in einer kleiner Stadt auch), errinere ich mich an die Situation des ruhigen Sonntagmorgens da.

Verwendet der Autor/Dichter sprachlich-stilistische Mittel wie Wiederholungen oder Wortverflechtungen?

Nein. Der Autor verwendet keine sprachlich-stilische Mittel in diesem Text.

Welche Absicht verfolgt der Autor/Dichter mit dem Text?

In meiner Meinung möchte der Autor über seine eigene Erfährung mit dieser Lyrik erzählen. Er erfuhr die ruhige Sonntagsmorgen in einer kleinen Stadt, die Atmosphäre war auch total langweilig, dass ein Kastanienbaum leise zum Schnarchen machen konnte. Also kann man auch die Situation und Atmosphäre des ruhigen und langweiligen Sonntagsmorgen in einer kleinen Stadt fühlen, wie dieser Lyrik hat mir schon gebracht.

Spricht der Autor/Dichter jemanden an?

Nein. Der Autor spricht hier als die dritte Person, auβer von diesem Text, als der Erzähler des Textes.

Was wissen Sie über die geschichtliche Situation der Zeit?

Erich Kästner ist ein bekannter Dichter. Er machte der Text im 1929, das gehört zu der Weimarer Republik Epoche, die nach dem ersten Weltkrieg ist (von Januar 1919 bis 1933). Es gab politischer Terror und Inflation in dieser Zeit.

Weimarer Republik wird in drei Phasen eingeteilt : drei Phasen eingeteilt: Krisenjahre 1919 bis 1923, die Goldenen Zwanziger von 1924 bis 1928 sowie die Weltwirtschaftskrise und der Untergang von 1929 bis 1933. Es gibt zwei Stromüngen, Dadaismus und neue Sachlichkeit.

Welcher Zusammenhang lässt sich zwischen Titel und Inhalt des Textes herstellen?

Für mich ist der Titel die ganze Zusammenfassung von dem Text. Wenn der Titel ein Hauptsatz ist, dann sind der ganze Text von 1. Vers bis 26. Vers die Nebensätze, die der Hauptsatz erklärt.

Erste Srophe erzählt der Autor über das Wetter und wie die Stadt riecht.

Zweite Strophe erzählt der Autor über die Tätigkeiten der Menschen am Sonntag (lange schlafen, trafen mit Freunde), und die Gassen sind wie leer.

Dritte Srophe erzählt der Autor über wie ruhig ist es am Sonntagmorgen, dass, obwohl die Fenster gähnen, es noch sanft war.

Vierte Srophe erzählt der Autor über wie die Zeit so langsam vergeht in einem langen langweiligen Sonntagmorgen, und ein neuer Mann flucht darüber.

Fünfte Srophe erzählt der Autor über den Mann, den der Gottesdienst besuchen wollte. Man besucht den Gottesdienst normalerweise am Sonntag. Die Stadt ist klein (19. Vers), da schrieb der Autor, dass die Stadt klein ist.

Letzte Strophe  erzählt der Autor noch einmal über wie die Zeit so langsam vergeht in einem langen langweiligen Sonntagmorgen, dass ein Kastanienbaum auf des Marktes Mitte leise zum Schnarchen machen konnte.

 

(Tugas sebagai pengganti Ujian Tengah Semester mata kuliah Literaturwissenschaft pada semester lalu. Aku sebenarny kurang begitu yakin dengan apa yang aku buat, tetapi nilai UTS yang tertera pada PAUS di atas 90, so… heheh)

Advertisements

Ayo, Belajar Bahasa Jerman!

ruhig-bleiben-und-deutsch-lernen-6

Ada banyak alasan mengapa seseorang memulai untuk mempelajari suatu bahasa baru, ada alasan-alasan umum yang juga merupakan alasan bagi kebanyakan orang ketika mempelajari bahasa tersebut, dan alasan-alasan pribadi yang biasanya bersifat lebih tertutup dan unik.

Salah satunya saya, yang mulai mempelajari bahasa Jerman saat SMA. Alasan umumnya? Simpel saja karena bahasa Jerman merupakan mata pelajaran yang wajib diambil saat saya duduk di bangku kelas X dan XI. Alasan pribadi tentunya berbeda dengan alasan umum yang telah saya kemukakan, keinginan saya untuk menginjakkan kaki di benua biru alias benua Eropa membuat saya tertarik untuk mempelajari salah satu bahasa penting di Eropa, selain Inggris contohnya. Melihat sedikit cerita dari kisah pribadi saya, saya ingin memberitahukan mengapa seseorang sebaiknya mulai untuk mempelajari bahasa Jerman melalui beberapa alasan-alasan umum yang tentunya akan semakin menarik minat untuk segera belajar bahasa Jerman.

Selain bahasa Inggris, bahasa yang memiliki peran cukup penting dalam dunia komunikasi di Eropa adalah bahasa Jerman, bukan hanya di Eropa tetapi juga di kancah internasional. Bahasa Jerman di Eropa merupakan bahasa yang paling luas penggunaannya, karena selain menjadi bahasa utama di negara Jerman juga menjadi bahasa ibu bagi negara Swiss, Austria, Luxemburg, dan Liechtenstein dengan jumlah penutur asli lebih dari 100 juta orang. Orang-orang yang mempelajari bahasa Jerman pun berjumlah kurang lebih 1/5 dari penutur aslinya, dan hal ini membuat bahasa Jerman itu sendiri menjadi salah satu bahasa yang paling umum digunakan di seluruh dunia dengan total penutur sekitar 2,1% dari jumlah populasi dunia.

Negara Jerman merupakan negara pengekspor nomor satu di dunia. Dengan ekonomi dan industri yang kuat tersebut membuat bahasa Jerman ikut menjadi suatu pengaruh besar dalam dunia perdagangan baik di dunia maupun Eropa, sehingga membuatnya menjadi lingua franca atau bahasa pergaulan yang populer selama 10 tahun terakhir di negara-negara kawasan Eropa Timur dan Tengah khususnya. Hal ini sedikit tidaknya mempengaruhi jika ingin melamar pekerjaan ke suatu perusahaan Jerman atau berbisnis dengan perusahaan Jerman, dengan memiliki kecakapan dan keahlian dalam berbahasa Jerman dan wawasan yang cukup mengenai Jerman, tentunya akan memudahkan dan mensukseskan di kancah bisnis global serta mampu bersaing dalam pasar tenaga kerja yang berskala internasional.

Julukan Land der Ideen atau Negara Ide cukup populer dan melekat pada negara Jerman. Banyaknya filsuf, penemu, sastrawan yang lahir di negara yang memiliki bendera kebangsaan dengan warna merah, hitam, dan emas ini membuat bahasa Jerman menjadi bahasa yang paling penting dalam sejarah perkembangan pengetahuan dan sastra dunia. Siapa yang tidak mengenal Albert Einstein, Johahn Wolfgang von Goethe, Immanuel Kant, Nietzche, Sigmund Freud, Wolfgang Amadeus Mozart, dan berderet nama-nama besar lainnya? Ya. Mereka berkembangsaan Jerman, atau negara yang berbahasa ibu Jerman. Dengan belajar bahasa Jerman, memungkinkan untuk lebih mengenal jauh karya-karya dari nama-nama besar tersebut dari versi aslinya, yakni dengan bahasa Jerman. Mulai dari sastra, musik, ilmu pengetahuan serta penelitian, psikologi, dan berbagai ilmu lainnya.

Selain nama-nama besar tersebut, ada pula nama salah satu pemuda Indonesia yang pernah menimba ilmu di negeri elang hitam dan pernah menjabat sebagai presiden Indonesia yang harum namanya tak hanya di tanah air tetapi juga di Jerman. Tak lain adalah Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang biasa disingkat sebagai BJ Habibie. Sekarang banyak sekali pemuda-pemudi Indonesia yang ingin mengikuti jejak beliau dan berusaha untuk meraih cita-cita dengan melanjutkan studi di sana. Biaya pendidikan yang cukup murah dibandingkan dengan negara maju lainnya, tetap dengan kualitas pendidikan yang baik tentunya menjadi salah satu daya tarik untuk pelajar internasional. Tetapi sayangnya tidak di semua universitas di Jerman tersedia kelas internasional, sehingga penguasaan bahasa Jerman sejak awal dapat menjadi modal utama.

Dan yang terakhir, orang-orang Jerman sangat menyukai liburan, terlebih ke negara-negara beriklim tropis yang memiliki pemandangan eksotis. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi turis Jerman dan turis dari negara sekitarnya dengan bahasa ibu bahasa Jerman. Dengan mempelajari bahasa Jerman dan memiliki pengetahuan seputar kejermanan, amat menjadi suatu nilai tambah bagi pekerja di sektor pariwisata, dan dapat pula menjadi suatu investasi bagi para pemuda tanah air dikarenakan prediksi akan tingginya permintaan tour guide yang memiliki kemampuan bahasa Jerman di kemudian hari mengingat semakin populernya Indonesia dalam tujuan wisata orang Jerman.

Selain yang telah disebutkan di atas, sebenarnya masih terdapat banyak alasan mengapa seseorang sebaiknya mempelajari bahasa Jerman. Tetapi, menurut saya hal-hal di atas tersebut sudah cukup untuk mendorong minat untuk mulai belajar bahasa Jerman sesegera mungkin. Karena, seperti banyak kata pepatah-pepatah dan mengutip dari ucapan orang-orang besar, ketika kita mempelajari suatu bahasa baru, kita akan melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mulai menghidupi kehidupan yang baru juga. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, belajar bahasa Jerman!

Parafrase dari artikel yang diunggah di website DAAD Jakarta http://www.daadjkt.org/index.php?belajar-bahasa-jerman, diakses pada Kamis, 8 September 2016 pukul 21:34.

Tugas mata kuliah umum Pengantar Kajian Budaya.

Heimweh, es tut weh.

Jede Sekunde habe ich Sehnsucht nach dem Heim.

 

Jede Minute denke ich nur an meiner liebevollen Familie.

 

Jede Stunde bete ich an den Gott,

dass ich mit meiner Familie bin,

dass ich zu Hause bin,

dass ich nicht hier zu sein.

 

Jeden Tag, am Morgen stehe ich wie Zombie auf,

in der Nacht weine ich wie ein Schlosshund

zum Schlafen

bis ich morgen erwache.

 

Jede Woche warte ich auf Wochenende,

die Zeit, Mama oder Papa wird mich mal anrufen.

Aber ich hasse das lange Wochenende,

alle meine Freunde gehen wieder nach Hause,

und ich muss noch hier bleiben.

 

Jeden Monat fühle ich mich mal nicht gut,

niemand kennt,

gleichfalls versteht niemand.

Leer,

das Gefühl habe ich am meisten.

Sofort komm’ die Einsamkeit,

zusammen mit dem Leiden.

Von nun an bin ich immer mutterseelenallein.

 

Das Ende des Semesters kann ich nicht mehr warten.

Keine Geduld mehr,

um wieder Heim zu sein,

Papa zu herzen,

um Speisen meiner Mama zu essen,

mich mit Brüdern etwas Sinnloses unterhalten,

und mit meinen Hunden nichts zu machen.

 

Ich kann nicht mehr drauf warten!

Ich kann nicht mehr diese Gefühle behalten!

 

Strenges Heimweh, tut allerdings weh.

 

 

 

 

Zhinta mau pulang saja, ke rumah. Lelah. Tapi, tidak ingin menyerah.

 

Goethe : Zwischen Die Leiden des jungen Werthers und The Werther Effect

Luh Manik Sinta Nareswari (Padjadjaran Universität)

Goethe_(Stieler_1828)Goethe_1774

“Ach, was ich weiß, kann jeder wissen – mein Herz habe ich allein.” – Die Leiden des jungen Werthers – Am 9. Mai 1772

Jika membahas tentang literatur Jerman, siapa yang tidak pernah mendengar nama Johann Wolfgang von Goethe? Sebegitu berpengaruhnya beliau di literatur Jerman, sehingga namanya bahkan diabadikan sebagai nama dari pusat kebudayaan Jerman dan nama salah satu universitas ternama di Frankfurt am Main.

Sastrawan yang lahir pada 28 Agustus 1749 ini telah menghasilkan banyak karya semasa hidupnya hingga tahun 1832, salah satu yang paling dikenal adalah novelnya yang berjudul Die Leiden des jungen Werthers. Novel ini dituliskannya terinspirasi dari kisahnya sendiri ketika cintanya tidak terbalaskan oleh Charlotte Buff, seorang tunangan dari temannya (Christian Kestner), yang mana nama Lotte sendiri juga dijadikan sebagai tokoh di dalam novel tersebut.

Dari judulnya sendiri dapat dibayangkan bagaimana plot kisah dari novel ini berakhir, ya, tragis. Kisah cinta segitiga antara Werther, Lotte, dan tunangan dari Lotte (Albert) ini berakhir dengan ketidaksanggupan Werther menjalani hidup akan cintanya yang tidak dibalas oleh Lotte, maka ia mengambil nyawanya sendiri dengan menembakkan pistol di kepalanya.

Selain membawa kesuksesan yang teramat besar bagi Goethe di umurnya yang ke-25 dan menjadi salah satu karya yang berpengaruh di masa Sturm und Drang, novel ini juga mempengaruhi para pembacanya yang kebanyakan merupakan para remaja dan dewasa muda di seluruh dunia. Di Tiongkok porselen dihias dengan siluet-siluet dari novel tersebut, parfum dibuat dengan nama tokoh utama di novel (eau de Werther), dan banyak pemuda mengikuti gaya berpakaian Werther sebagaimana dideskripsikan di dalam novel (memakai tailcoat biru, waistcoat kuning, celana panjang, dan boots tinggi).

Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada salah satu fenomena yang muncul akibat pengaruh dari novel Die Leiden des jungen Werthers, yaitu maraknya tingkat bunuh diri akibat keputusasaan dalam percintaan sebagaimana tokoh Werther di dalam novel. Salah satu yang diberitakan yaitu pada 16 Januari 1778, beberapa tahun setelah novel tersebut diterbitkan, seorang pemudi bernama Christel von Lassberg menenggelamkan dirinya di sungai Ilm, Weimar, dengan novel tersebut berada di dalam sakunya. Banyak kasus-kasus lainnya yang terjadi akibat pengaruh kuat dari tulisan autobiografi Goethe tersebut, sehingga di beberapa tempat seperti Koppenhagen, Leipzig, dan Italia novel tersebut dilarang keras.

Kasus bunuh diri yang muncul akibat pengaruh dari novel Goethe ini dinamakan The Werther Effect oleh David Phillips pada tahun 1974, dua abad setelah novel ini dipublikasikan.

Bagaimana sebuah tulisan bisa sebegitu mempengaruhi pembacanya, hingga melakukan sebuah tindakan yang berujung kematian?

Menurut salah satu artikel jurnal psikologis yang membahas tentang the Werther effect ini, bahwa novel Die Leiden des jungen Werthers dibuat berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di kisah cinta Goethe yang dua kali tak terbalaskan oleh dua orang yang berbeda juga. Yaitu antara Goethe, Charlotte, dan Kestner, yang mana pada akhirnya Charlotte menikah dengan Kestner dan namanya diabadikan sebagai tokoh di novel Goethe; dan antara Goethe, Brentano, Maximilianne dan Jerusalem. Jerusalem membunuh dirinya sendiri pada 1772 dengan menggunakan pistol, sama seperti tokoh Werther dalam novel.

Ditulis terinspirasi dari kisahnya yang dialaminya sendiri, membuat apa yang dituliskan oleh Goethe dalam novelnya tersebut menjadi seperti sebuah kisah yang nyata, sehingga menjadikan para pembaca yang memiliki kisah hidup yang mirip atau sama seperti tokoh di dalam novel menjadi terdorong untuk melakukan hal yang sama seperti Werther, yakni mengakhiri hidupnya. Hal tersebut juga diutarakan oleh Goethe sendiri, “My friends… thought that they must transfrom poetry into reality, imitate a novel like this in real life and, in any case, shoot themselves; and what occured at first among a few took place later among the general public.” (Goethe, quoted in Rose, 1929: XXIV).

Padahal, Goethe menuliskan novel tersebut untuk membebaskan dirinya dari perasaan yang membelenggu dirinya pasca kisah pahit dalam percintaannya, tidak disangka hal tersebut malah membawa pengaruh besar bagi para pembaca dari “pelariannya” tersebut.

 

Quelle:

Artikel Jurnal David P. Phillips American Sociological Review Vol. 39, No. 3 (Jun., 1974), The Influence of Suggestion on Suicide: Substantive and Theoretical Implications of the Werther Effect, halaman 340.

http://www.susannealbers.de/03philosophie-goethe-werther.html

http://www.ub.uni-bielefeld.de/diglib/seiler/werther/werther/tools/htmpool/komplett/wirkung.htm

http://middleeast.thelancet.com/journals/lanpsy/article/PIIS2215-0366(14)70229-9/fulltext

http://www.online-literature.com/goethe/

http://www.klassiker-der-weltliteratur.de/die_leiden_des_jungen_werther.htm

Gambar dari Wikipedia

Artikel ditulis untuk IMBSJI (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jerman Indonesia)

 

Anapher

Der Tod ist meine größte Angst,

der Tod wird zu meinem wahrsten Freund.

 

The death is my greatest fear,

the death will become my truest friend.

 

Kematian adalah ketakutan terbesarku,

kematian akan menjadi temanku yang paling sejati.

Epipher

Um dich zu lieben brauche ich keinen Grund,

um mich zu betrügen brauchst du doch einen Grund.

 

To love you I don’t need any reason,

to betray me you indeed need a reason.

 

Untuk mencintaimu aku tidak membutuhkan alasan,

untuk menghianatiku kamu jelas membutuhkan suatu alasan.

Sedikit Cerita di Hari Pertama Bulan Ketiga

Hari pertama di bulan ketiga tahun masehi ini jurusanku mengadakan sebuah kuliah umum yang memiliki tagline (atau apalah itu, aku kurang yakin dengan kata yang kupilih sebelumnya) cukup menarik bagiku yaitu Die Qualität deiner Kommunikation bestimmt die Qualität deines Leben. Masalah yang akan dibahas di sini oleh narasumber yang bergelar Sarjana Hukum, Bapak Muhd. Firman Hidayat, adalah “Krisis Kesantunan dalam Interaksi Akademis di Perguruan Tinggi”. Tapi, sejujurnya bukan hal tersebutlah yang menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

1 Maret, juga merupakan hari ulang tahun salah satu dosen prodi Sastra Jerman. Itulah mengapa di saat acara baru saja dipindah alihkan dari MC ke moderator, nyanyian Zum Geburtstag viel Glück memenuhi ruangan aula Pusat Studi Bahasa Jepang, tempat kuliah umum diadakan. Bahkan saat acara telah selesai dan plakat sudah berada di tangan narasumber dan moderator, sebuah selebrasi kecil-kecilan kembali diadakan. Kali ini oleh beberapa mahasiswa angkatan 2016 yang merupakan mahasiswa wali dari Dr. phil. N. Rinaju Purnomowulan. Dan, untuk yang kedua kalinya lagu Selamat Ulang Tahun versi bahasa Jerman kembali berkumandang. Dapat dirasakan bahwa Bu Wulan sangat bahagia karena hal tersebut terpancar dari air muka beliau dan juga ucapan terima kasih yang terucap cukup terbata, bahkan cenderung tidak mampu berkata-kata. Tapi (lagi), sejujurnya bukan hal tersebutlah yang sepenuhnya menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

Menginjak semester keempat aku menimba ilmu di sini, aku ingat betul bahwa pertama kali aku mengenal sosok Bu Wulan pada saat aku masih berstatus mahasiswa baru. Semester pertamaku di mata kuliah Interkulturelle Landeskunde lah aku bertemu dengan beliau. Aku ingat, tugas pertama yang diberikan beliau adalah mempresentasikan provinsi-provinsi di Indonesia dengan Bundesländer di Jerman. Hamburg, adalah Bundesland yang kebetulan menjadi bagian yang harus aku presentasikan (dan proud to say that I once have been there eventhough only for a day). Pada masa itu, aku masih sangat membenci kegiatan presentasi. Untuk berdiri di depan banyak orang dan berbicara atau membawakan materi merupakan suatu hal yang sangat aku hindari. Sebagai seorang yang penakut (dan tidak percaya diri), aku gugup. Sebegitu gugupnya aku hingga aku melakukan suatu kebodohan konyol yang hingga saat ini masih aku ingat dengan jelasn bagaimana aku mengatakan bahwa Hamburger berasal dari Hamburg (atau apa, aku lupa sejujurnya, tapi kurang lebih seperti itu). Sebuah fun fact asal ceplos yang kusebutkan, karena saking gugupnya aku. Di tengah presentasi, sebelum aku semakin ngaco dengan omonganku, beliau memberitahu kepada kelas fakta yang benarnya. Saat itu, aku hanya bisa berdiri setengah gemetar dan nyengir kuda karena “ngide”.

Hmh.

Suka ingin throwback sendiri kalau begini. Apalagi bahas jaman masih berstatus sebagai mahasiswa baru alias maba.

Lupakan.

Kembali lagi ke pembicaraan awal.

Setelah beberapa kali kuliah dengan Bu Wulan, beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa mengajar selama kurang lebih satu bulan ke depan dan akan digantikan oleh dosen lainnya. Alasannya adalah beliau diundang ke Frankfurt Book Fair 2015 atas buku cerita anak karya beliau yang baru saja diterbitkan. Melati im Land des Fußballweltmeisters, begitu judulnya. Aku, yang saat itu tengah tidak produktif menulis, seketika kembali terbakar lagi semangatnya. Apalagi setelah mengetahui bahwa salah seorang pendidikku sebegitu kerennya.

Semenjak itu aku tidak lagi merinding yang disebabkan oleh teringat akan mata kuliah yang diampu saat mendengarkan nama beliau, tetapi akan “kekerenan” beliau.

Tulisan ini sejujurnya stuck sampai di sini. Dikarenakan aku hanya sedikit mengenal beliau. Hanya satu mata kuliah yang kuambil sejauh 4 semester ini yang diampu oleh beliau, dan yang entah bagaimana bisa aku mendapatkan nilai sempurna di Ujian Akhir Semester. Tetapi, aku masih sebegitu kagumnya dengan beliau. Karena aku menyukai orang-orang yang pintar dan gemar menulis, secara general. Sebegitunya.

Dan, hari ini aku senang (walaupun banyak esai-esai untuk lamaran beasiswa yang menunggu untuk diselesaikan) dan butuh untuk “memuntahkan” segala perasaan dan pikiran. Mengingat-ingat kembali lembaran lalu, dan menyatukannya dengan lembaran baru. #ea

Jadi, begitulah. Aku kehabisan kata-kata. Akhir dari cerita ini aku ingin mengatakan bahwa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Bahwa sebelum aku menyandang gelar Sarjana Humaniora di belakang nama Nareswari, aku akan menyelesaikan sebuah buku karyaku dalam bahasa Jerman. Entah itu kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel, komik, atau kompilasi dari semua itu.

Untuk semua yang menyempatkan diri membaca kisahku hari ini, tolong ingatkan dan tagihlah janjiku yang tertulis hari ini. Terima kasih.

14883502308851488350228780

Sekali lagi, herzlichen Glückwunsch zum Geburtstag, liebe Frau Purnomowulan dosen panutanq”.

PS : ini bahagia parah bisa selfie bareng dengan beliau *inserts crying in happiness emoji here*

1488380235510

Der Geruch der Bücher

Am liebsten lese ich Bücher in meiner Freizeit. Ich liebe Bücher. Die Bücher hat einen speziellen Geruch, der mich an jemanden erinnert. Eine Person, die ich damals sehr liebte. Damals.

books

Courtesy : pinterest

Diese Person liebte Bücher wie ich. Sein Hobby war lesen, und er hatte viele Bücher in seiner eigenen Bibliothek im Haus. Es war das erste Mal, dass ich in dem Geruch von Büchern verliebt war. Vielleicht war es auch die gleiche Zeit, in der ich in ihm verliebt war.

Er rach nach den Büchern. Ich dachte, denn er las viele Bücher. Den Geruch mag ich sehr. Es macht mich wohl. Die Bücher, und auch diese Person.

Seitdem ist der Geruch der Bücher mein Lieblingsgeruch. Leider ist er nicht mehr meine Lieblingsperson.

Also, auf Wiedersehen, Du! ❤

UTS Kreatives Schreiben. Syukurnya nilainya 81, ehe.

Das ,,Lebensmittelabfälle” Monster

food-waste-3

Courtesy : google

Als ich ein Kind war, hat meine Mama mir immer gesagt, dass ich das Essen nicht  verschwenden soll. Sie sagte, dass es ein Monster gibt, das ,,Lebensmittelabfälle” Kinder nicht mag. Diese Geschichte erschrak mich, seitdem aβ ich immer auf. Keine Lebensmittelabfälle mehr. Also konnte das Monster mich nicht kidnappen.

Ich war 10 Jahre alt, als ich krank war. Ich musste den ganzen Tag im Bett in dem Krankenhaus liegen, und auch die Medizin nehmen.

Die Krankenschwester war freundlich, aber sie brachte mir nur schlechtes Essen. Das mochte ich nicht. Ich musste noch essen, deshalb konnte ich die Medizin essen um wieder gesund zu sein. Und ich hatte noch groβe Angst vor dem Monster.

,,Mama, ich werde kein ,,Lebensmittelabfälle” Kind sein!” sagte ich, als ich meine Mama umarmte.

Jetzt bin ich fast 20 Jahre alt. Ich habe gerade keine Angst mehr vor Monstern, aber eine andere neue Angst. Ich mach mir Sorgen um die Umwelt.. Die Umweltverschmutzung ist am schlimmsten. Davor habe ich Angst.

food-waste

Courtesy : google

Die heutige Kinder sind die ,,Lebensmittelabfälle” Kinder, die ihre Nahrung oft verschwenden, weil sie keine Monster-Geschichte von ihren Müttern hörten. Jetzt weiβ ich, warum meine Mama mir darüber erzählte.

food-waste-2

Courtesy : google

Hai! BAB 6 Studio D B1 sedang bahas Klima und Umwelt, lho. Tapi, tulisan ini sebenarnya aku tuliskan sebagai draft UAS Kreatives Schreiben semester kemarin. Idenya… aku dapat dari Raffy, yang seorang “anak alam”. Bhak. Aku benar-benar buntu saat itu, jadi ya sudah aku ganggu dia saja. Eh, malah dikasih ide. Kan jadi senang. Walau pada akhirnya, tulisan ini tetap nggak bisa kutuliskan untuk UAS, tapi ya… paling tidak ada faedahnya kalau muncul di blog, kan. Ehe.