“…puisi terindahku hanya untukmu…”

the-secret

Kapan lagi kutulis untukmu

Tulisan-tulisan indahku yang dulu

Pernah warnai dunia

Puisi terindahku hanya untukmu

Jikustik “Puisi” cover by Andien Tyas

Sepenggal rangkaian kata nan indah di atas merupakan potongan lirik lagu lawas milik Jikustik. Berjudul “Puisi”, lagu ini telah terngiang di kedua telingaku sejak beberapa saat yang lalu. Berhasil membuatku tergila-gila, walau baru saja kudengar dengan seksama dari waktu makan malam di kedai dekat kosan bersama empat orang teman.

Ah. Tidak, isi lirik lagu ini tidak seutuhnya pas dengan kisahku. Mungkin hanya di bagian yang tertuliskan di atas sana. Pun begitu, aku bahkan tidak menulis puisi lagi sejak… entah sejak kapan. Payah.

Tetapi, lagu ini indah. Yang kudengar saat makan malam tadi dinyanyikan oleh seorang wanita, suaranya melankolis. Begitu mendukung suasana.

Ketika lirik lagunya dinyanyikan ulang oleh seorang teman yang menyadarkanku akan lagu ini, yang semula hanya lewat begitu saja dalam kehidupanku #apasihzhin karena anaknya memang setidakpeka itu, aku sontak terbayang akan sosok seseorang. Siapa lagi? Dirimu, tentu. Yang sampai saat ini masih membuatku menjadi ‘gila’.

Bagaimana kabar puisimu? Segala rangkaian kata-kata yang telah kau perjuangkan, entah sejak kapan, dan masih menjadi sebuah novel yang belum terselesaikan? Ada cerita lain kah di balik segala tulisanmu dalam kolom caption di instagram? Dirimu, masih tetap setia menulis, kan?

Aku harap semua baik-baik saja. Kamu, dan tulisanmu.

Hari ini kita tanpa sengaja berpapasan, dan kuyakin kamu tidak mengetahuinya. Tidak menyadarinya. Tidak, lebih baik jangan. Hal tersebut tidak berarti apapun bagimu, karena aku sadar dan tahu siapa aku. Bukan siapa-siapa, lebih tepatnya. Maksudku.. kita bahkan tidak saling mengenal, bukan begitu?

Jika saja suatu saat dirimu menyadarinya, aku berharap ini bukan sesuatu yang menggelikan bagimu. Karena sejujurnya aku, bisa -entah bagaimana itu- menjadi seketika bahagia saat menemukan sosok dirimu di keramaian. Boom. Terjadi begitu saja. Aku mendadak bahagia.

Ah.

Lihat bukan, sekarang aku mendadak menjadi sangat melankolis dengan tulisanku ini. Semoga siapapun yang membacanya tidak akan menertawakanku.

00:19

pertengahan malam menuju kelas Einf. i. d. Sprachwissenschaft pukul 07:30

Dariku, yang hanya mampu mengagumimu dari kejauhan

PS : “Puisi” ini indah, tapi kamu lebih lagi.

PSPS : Lagu di atas sebenarnya hanya merupakan bridging, sejujurnya aku hanya ingin menulis mengenai dirimu, itu saja.

#10OctInternationalMentalHealthDay

Lieber Schatz,

wie geht’s? Ich habe dich sehr vermisst! Du weiβt es schon, dass ich dich noch sehr liebe, oder?

Ich frage immer die Vögel, ,,Wann kommt mein Schatz zu mir? Eines Tages?” Die Vögel lachen nur, sie antworten mich nicht. Ist es ein Geheimnis nur zwischen euch?

Meine Mama hat mir gesagt, dass ich verrückt bin, weil ich mich mit der Vögel unterhalten. Die Vogelstimmen stört Mama, denn sie mag die nicht. Sie findet, die Vögel zu laut singen. Die Wahrheit ist es, dass die Vögel singen nicht, sie unterhalten sich mit mir. Wir reden über dich. Immer dich.

Jeden Morgen, Schatz, kommen die Vögel zu mir. Das ist die einzige Zeit singen sie, um mich aufzuwecken. Doch mag Mama das auch nicht, sie findet noch, dass die Vogelstimmen zu laut für ein ruhiger Tag ist. Sie versteht es nicht. Sie versteht mich nicht, Schatz.

Die Vogelstimmen höre ich am liebsten. Es macht mich traurig, wenn die Vögel mir verlassen. Es ist ruhig im Haus, Mama liebt es am liebsten, für mich ist es eine Katastrophe! Die Stimme in meinem Kopf kommt immer noch, wenn es zu ruhig ist. Du weiβt es schon, dass es mich geistig tötet.

Heute ist Mama überdrussig. Mit mir und auch mit meinem ,,mit der Vögel Gespräch”. Sie entscheidet sich, mich auf unsere Pschycologin zu nehmen. Das bedeutet, ich kann mich mit der Vögel nicht mehr treffen, Schatz. Um ihre Stimmen zu hören, und mit ihnen zu unterhalten. Nicht mehr!

Mama denkt, dass ich verrückt bin. Die Wahrheit ist es, ich bin nicht. Ich bin nur in dich total verliebt, Schatz. Glaubst du es noch?

Liebe Grüβe,

deine Schatzi.


This is fiction. I don’t have an imagination Schatz and I do not really talk to the birds. It’s true though that Mom once took me to a psychiatrist (how do we write that though?), but it didn’t work at all.

So, I have this confession to say, that I’ve been going to the Psychology Faculty for like 5 times in these two weeks. I had several times appointments with the psychologist’s assistant, and will have an appointment very soon with the psychologist (hopefully this week!).

My issue was that I do not have the lust to live at all for like some weeks ago. It feels empty and numb at the same time. I always am tired, physically and mentally. I live my life not the way I used to be, I forced myself to live.

It was just the beginning of my third semester, and I was already thinking about resigning. What the actual fuck? This is the major I’ve been craving since I was still on 11th grade. I don’t know.

I still don’t know what the hell is going on with me yet. I want to help myself but I just don’t know how to, that was simply why I decided to seek help from the professional. Before it’s too late that I’m already drown and it might lead to something worse..

It’s okay not to be okay. If you feel like you’re not okay and having issues, you could always tell me. I’m always there. I might be a little useless, but I can listen. You are NOT alone. And, I care. 💕

Tulisan Ini Tidak Membutuhkan Judul, Lebih Membutuhkan Dirimu

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” – Pramoedya Ananta Toer

Aku jatuh cinta sejak pertama kali aku membaca tulisan di atas. Sampai detik ini aku menuliskannya kembali sebagai kalimat pembuka pada tulisanku kali ini. Rasa yang sama seperti saat pertama kalinya aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis saat itu, entah kelas berapa saat aku duduk di bangku sekolah dasar.

Aku mudah jatuh cinta pada tulisan. Aku akui itu. Begitu pula pada tulisan-tulisanmu. Pilihan diksimu, serta rangkaian kata yang dengan elok kau torehkan begitu saja, dimanapun itu. Sesimpel dan sesederhana emosi yang terungkap dari tulisan yang kubaca dari profil salah satu akun media sosial dirimu. Dan begitu juga atas kisah yang kau ceritakan pada setiap caption momen abadi yang tertangkap oleh lensa kamera.

Dari tulisan-tulisan itulah tersebut aku mulai sedikit mengenalmu. Bahkan mengagumimu. Namun belum berani aku katakan jika aku sudah jatuh hati padamu, tetapi aku rasa aku telah terjatuh ke dalam alunan kata-katamu yang elok.

Alangkah indah pasti isi dari pikiran tersebut, yang telah tertuang manis dalam selembar kertas, maupun hanya terpampang dalam halaman di dunia maya. Aku tidak sanggup membayangkannya. Karena aku takut jika aku berani membayangkannya, aku akan semakin terjatuh dan terjatuh lagi. Aku belum sanggup akan itu. Tetapi aku tetap berharap untuk bisa masuk dan mengobrol cantik mengenainya. Bolehkah aku?

Pangeran Pena, diperkenankah jika kusebut dirimu dengan julukan baru? Yang mungkin hanya aku yang akan mengetahuinya, dan segelintir manusia yang menghabiskan waktunya untuk membaca sedikit curahan hati seorang pemuja rahasia. Aku yakin, interpretasimu akan julukan tersebut sedikit tidaknya tepat dengan maksudku.

Teruntuk dirimu. Terima kasih sudah menulis. Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta pada rangkaian diksimu. Terima kasih sudah berbagi emosi melalui aksara dan kata. Terima kasih pula sudah memberiku kesempatan untuk mengenalmu, sedikit.

Aku berharap kamu akan tetap menulis. Teruslah. Karena kamu takkan lalu, layaknya tulisanmu. Abadilah. Tulisanmu merupakan salah satu jatuh hatiku yang terindah.

Sekian dariku, yang dari kejauhan dan penuh harapan mengagumimu dengan (mungkin sudah tidak) rahasia.

06.09.2016

Malam ini bertemanlah saja aku dengan secangkir matcha hangat. Berselisih dengan sang waktu yang terlalu pelit membagi apa yang ia miliki kepadaku, satu dari sekian manusia yang terkadang merasa tidak puas dengan dua lusin jam yang telah diberikannya dalam seputaran rotasi bumi. Tidak pernah cukup. Kepuasan hanyalah fiktif belaka dalam kehidupan fana ini. Perlahan rasa matcha-ku memudar, larut dalam hangatnya air yang setia memeluknya sesaat. Dan ketika rasa itu menghilang, terjebaklah aku kemudian dalam nostalgia. Pekat. Cukup menarik jiwa dan ragaku kuat.
– 23:45

A Letter To Schatz – 1

Click for the ‘spoken’ version of this post

Hi. How’s life going with you, Schatz? Been a long time, huh?

I’ve been really fucked up recently. These past couple weeks were so rough for me. I think I have just awaken the monster inside me, again. I really have no idea.

When I said I really have no idea, I mean it. I don’t fucking know what the heck is going on with me. I thought I was just fine, but now I know, no. I am not. Don’t ask me why, because I’ve said this like thousand times, that I. don’t. fucking. know.

I wish I knew, I wish I could explain. But, no.

I need to let things out from my mind. I can’t handle this anymore. I wish I had someone to tell all these shits to, but no. I didn’t. But, no. I don’t have any. I could tell you this, but I couldn’t just tell you that. I’m basically separating things to tell to almost everyone I’m telling things to. And for the rest of it? I keep it for myself.

And all the thoughts I have in here, it’s killing me slowly. Have you ever heard me saying, “These overthinking kills me.” and I mean it. I don’t know whether I’m still alive, inside. I wish I know.

Maybe you’ve seen me being so emotionally unstable. I’ve been yelling a lot, I’ve been mad easily these days, I’ve cried myself to sleep like it’s my lullaby, I’ve have the thoughts (yeah, it’s back) to kill myself. Which drives me crazy, because it has gone for years, and now it’s back.

They told me, “You need some rest.”

Oh, of course. I do need some rest.

But that’s only for my body. Iya, ragaku sehat. Tapi, apakah begitu juga dengan jiwaku? That was still an unanswered question, yeah.

So there are most of the time, that I wish I could just go menghempaskan badanku ke arah mobil-mobil dan truk-truk yang melaju di jalanan Jatinangor. I even have the imagination, of seeing myself being terhempas jauh, tergeletak berdarah-darah dan tak bernyawa. And what’s bad thing after that? I have daydream. I can’t stay focus while walking, or while crossing the street. What is worse than that? I could have just lost my life.

I’m scared. The thought, that thought, has been hunting me for a while. I’m scared. I am. I am scared if I ever have the thought of fearing the death that much again. That was nonsense, that I didn’t really want to close my eyes and sleep, because I’m scared I’ll be waking up dead. For every single night, that time. I’m scared, I’m still scared of the death. But, life seems not friendly at all, for me. Why?

Sometimes I just wanna give up, and let the monster wins. It’ll then take over my body, no, my whole self. I guess, that’s the time when I lost the control and just let the cars or the trucks hit me. I guess.

This writing is nonsense. This writing is trashy. You shouldn’t waste your time reading this. But if you do, would you be my ‘friend’?

I have this question to almost every single person I met these days, “Would you find me a ‘partner’?” and by asking so, I mean.. a partner. Not just a so-called-boyfriend. A friend. A bestfriend. Whatever you name it. I do need it right now. Because I can’t no longer handle myself, and be friend with myself. I’m tired dealing with it. I know. Coward. Such a chicken, you say. I don’t love myself, and that’s why I’m looking someone to love it. But no one ever really does so. If I called myself a loveless, don’t fucking disagree. Because you also fucking don’t, ne?

Whatever.

I’m tired.

So, dear Schatz. If someday I give up, … no. I’m too scared to finish the whole sentence.