Surat (Cinta) Terbuka?

Teruntukmu yang mungkin sudah kukagumi sepanjang setengah dekade, hai. Sudah lama kita tidak bersua, bahkan mungkin untuk sekadar berbincang sejenak. Ah, sebelumnya maafkan salam pembuka surat ini yang biasa saja, karena sesungguhnya aku amat bingung bagaimana untuk memulainya, kuputuskan untuk memilih satu kata sederhana yang biasa diucapkan seseorang saat berjumpa dengan kawannya. Kawan, iya. Bukankah … Continue reading Surat (Cinta) Terbuka?

Advertisements

“…puisi terindahku hanya untukmu…”

Kapan lagi kutulis untukmu Tulisan-tulisan indahku yang dulu Pernah warnai dunia Puisi terindahku hanya untukmu Jikustik "Puisi" cover by Andien Tyas Sepenggal rangkaian kata nan indah di atas merupakan potongan lirik lagu lawas milik Jikustik. Berjudul "Puisi", lagu ini telah terngiang di kedua telingaku sejak beberapa saat yang lalu. Berhasil membuatku tergila-gila, walau baru saja … Continue reading “…puisi terindahku hanya untukmu…”

Tulisan Ini Tidak Membutuhkan Judul, Lebih Membutuhkan Dirimu

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” – Pramoedya Ananta Toer Aku jatuh cinta sejak pertama kali aku membaca tulisan di atas. Sampai detik ini aku menuliskannya kembali sebagai kalimat pembuka pada tulisanku kali ini. Rasa … Continue reading Tulisan Ini Tidak Membutuhkan Judul, Lebih Membutuhkan Dirimu

06.09.2016

Malam ini bertemanlah saja aku dengan secangkir matcha hangat. Berselisih dengan sang waktu yang terlalu pelit membagi apa yang ia miliki kepadaku, satu dari sekian manusia yang terkadang merasa tidak puas dengan dua lusin jam yang telah diberikannya dalam seputaran rotasi bumi. Tidak pernah cukup. Kepuasan hanyalah fiktif belaka dalam kehidupan fana ini. Perlahan rasa … Continue reading 06.09.2016