Surat (Cinta) Terbuka?

Teruntukmu yang mungkin sudah kukagumi sepanjang setengah dekade,

hai. Sudah lama kita tidak bersua, bahkan mungkin untuk sekadar berbincang sejenak. Ah, sebelumnya maafkan salam pembuka surat ini yang biasa saja, karena sesungguhnya aku amat bingung bagaimana untuk memulainya, kuputuskan untuk memilih satu kata sederhana yang biasa diucapkan seseorang saat berjumpa dengan kawannya. Kawan, iya. Bukankah memang itu seharusnya kita?

Tanpa basa-basi lagi, aku merindukanmu. Sudah jelas, bukan begitu? Tunggu, biarkan aku menghitung dulu seberapa lama sudah kita tidak bertemu. Terakhir aku mengingatnya sudah puluhan purnama berlalu, sejak terakhir kali sudut mataku berpapasan dengan ujung senyummu itu, yang kau simpulkan entah kepada siapa.

Sekarang biarkan aku untuk menanyakan bagaimana kabarmu di sana? Baik saja? Aku harap begitu. Jangan lupa untuk bahagia, ya. Itu satu pesanku. Ah, tapi aku yakin kamu tidak akan pernah lupa untuk berbahagia. Dan, aku, entah bagaimana caranya, yakin dengan hal itu.

Dan agar kamu ketahui, sedikit canggung menuliskan surat padamu dengan bahasa ibu kita, mengingat sebegitu seringnya dirimu menggunakan bahasa asing pertamaku, dan yang membuatku (memaksaku) memberanikan diri untuk menuliskan rangkaian panjang kata dalam rangka mengungkapkan perasaanku padamu dalam sebuah surat. Maafkan bahasaku yang terdengar kaku ini, yang sebenarnya akupun begitu.

Sebelum jauh kita mereka-reka tentang masa depan yang tidak kita ketahui sama sekali, ingin rasanya aku menelusuri ke belakang, waktu yang telah lampau, hal-hal yang telah sedikit banyaknya dilewati. Bukan oleh kita, tapi oleh diri kita masing-masing.

Aku masih ingat jelas, bagaimana semesta mempertemukan kita dalam satu kelas di tahun pertama sekolah menengah atas. Samar-samar jauh sebelum kujumpai sosokmu, sudah kudengar sebuah berita yang ramai dibicarakan oleh seantero penjuru kelas, bahwa akan ada seorang anak yang amat pandai berbahasa asing, yang dulunya sempat menuntut ilmu di negeri para kangguru. Oh, betapa hebatnya, pikirku dalam hati saat itu. Aku tidak berbohong, itulah hal yang pertama kali aku pikirkan ketika aku mengetahui keberadaanmu dalam kehidupanku.

Hal itu tidak berubah sama sekali saat pertama kali kita berjumpa, aku tidak ingat bagaimana, karena asal kamu tahu saja bahwa ingatanku ini payah, kurang lebihnya seperti ikan mas. Ya, sepayah itu, aku bahkan sulit untuk mengingat santap malamku dua hari lalu. Dia keren sekali, pikirku, saat kudengar dirimu mulai berceloteh ria menggunakan bahasa yang secara otodidak aku pelajari dan aku masih payah hingga saat ini. Sejak saat itu, lelaki yang pandai berbahasa asing selalu terlihat menarik di mataku.

Di suatu kesempatan, kau diminta untuk mempresentasikan sesuatu, mengenai kepemimpinan kalau aku tidak salah. Dalam mata pelajaran Agama. Dengan penuh percaya diri, dan tanpa rasa tertekan (berbanding terbalik denganku saat itu, aku benci untuk berbicara di depan umum) kau melangkahkan kakimu dengan mantap ke depan kelas. Menatap seluruh pasang mata yang ada, termasuk milik Bapak Guru yang tersenyum mempersilakanmu untuk memulai aksi. Tidak ada yang mengucap sepatah katapun saat itu, mirip seperti sebuah tagline acara televisi, semua mata tertuju padamu. Kaupun berbicara, mengenai topik yang sedang dibahas. Kepemimpinan. Ah, iya, di saat itu juga kau kan seorang wakil ketua kelas, ya? Cocok sekali. Jika ada yang memperhatikan, mataku tidak berpaling darimu. Aku kaget, aku kagum, aku terpesona, aku… aku…

Sebegitu berapi-apinya kau saat itu, aku sendiri dapat merasakan semangat yang mengalir dari setiap patah kata yang kau lontarkan. Aku ingat, hampir saja aku impulsif menuliskan sesuatu tentangmu, yang berdiri di depan sana, berbicara dengan percaya diri dan semangat yang membara. Tapi sayang boleh sayang, puisi tersebut tidak pernah terselesaikan. Aku seakan lupa, bahwa beberapa waktu sebelum itu, sudah terdengar kabar bahwa kau begitu lihai dalam berpidato. Tak salah lagi, kuakui hal itu.

Cukup waktu mengenalmu, dan keberadaanmu yang seringkali menghilang dari presensi kelas, aku sadar aku mulai mengagumimu. Dan di saat yang bersamaan, aku mulai merasakan bahwa aku juga sedikitnya memiliki perasaan pada salah seorang teman terdekatmu. Perasaan yang amat membingungkan bagi seorang gadis yang belum pernah merasakan perasaan yang begitu kompleks sebelumnya. Tanpa sadar aku melakukan pergerakan, yang harus kuakui, kepada temanmu itulah. Bahkan pada saat aku mengakui perasaanku, kepada seorang sahabat karibku, namanya lah yang kusebutkan. Walau untuk kesekian kalinya ia menanyakan, apakah aku yakin dengan perkataanku itu, dengan membawa namamu di belakangnya. Sejujurnya aku ragu, yang aku tahu saat itu adalah aku setengah mati mengagumimu.

Ditambah lagi, dengan sosokmu yang seringkali mengingatkanku dengan Papaku. Saat itu, aku sedang kehilangan sosok beliau yang ditugaskan di luar kota, tetapi aku menemukannya dalam bentuk lain, di dalam sosokmu aku menemukannya. Sifatmu, sikapmu, pembawaanmu, kamu. Aku lemah. Di saat teman-temanku sengaja membuatku meneteskan air mata karena mengingatkanku dengan sosok beliau nan jauh di sana, melalui lagu milik Ada Band, di sisi lain ada dirimu di sekitarku. Mungkin, mungkin sejak saat itulah aku telah memiliki khayalan konyol nan menyeramkan ini, yaitu untuk menikahimu.

Lupakan kata terakhir di paragraf sebelumnya yang sempat aku bicarakan.

Penutup kilas balik yang amat buruk.

Payah.

Ayo, kita balik lagi saja ke masa sekarang kalau begitu.

Kagum. Satu kata itu yang mungkin akan menjadi favoritku untuk mendeskripsikan perasaan kompleks yang menggerogotiku selama setidaknya lima tahun belakangan ini. Aku tidak mengerti, sampai detik ini. Aku belum mengenalmu sebegitunya untuk jatuh cinta padamu, tapi apakah untuk jatuh cinta padamu aku harus mengenalmu sebegitunya?

Sebut saja aku jatuh kagum, yang mungkin terlalu dalam sampai imajinasiku terkadang menjadi sebegitu liarnya aku bahkan malu pada diriku sendiri. Ah, iya, 6 kata sebelum ini, mendeskripsikan aku dan cara pandangku padamu. Aku, mungkin aku terlalu rendah diri atau bagaimana, selalu menganggap diriku tidak pantas, bahkan untuk mengagumimu. Aku seringkali mengambil analogi bahwa kita ini bagaikan seorang pungguk (aku) yang merindukan rembulan (dirimu). Seringkali aku merasa malu dengan diriku, yang bukan siapa-siapa ini, yang menyedihkan ini.

Aku hanya berbekal rasa nekat, dan rasa kagumku yang membuncah, dan rasa rinduku padamu saat ini yang membuatku setengah mati (ini hiperbola, iya) untuk menyampaikan segala yang ada di dalam sini.

Ingat bagaimana aku mengungkapkan dan mengakui bahwa aku yang telah mengirimimu tiga helai surat pernyataan (perasaan) di tahun terakhir kita duduk di SMA? Sejujurnya aku begitu takut dengan balasanmu, dengan responmu, denganmu yang bisa saja memilih untuk memutuskan tali pertemanan kita karena malu dengan kebodohanku tersebut. Aku berguling-guling di kamar salah seorang teman dekat yang sedang aku singgahi, menanti balasanmu. Saat kuterima balasan dari curahan perasaanku dan pengakuanku tersebut, aku nyaris berteriak di peron, saat menunggu kereta yang akan membawaku pulang ke rumah datang. Aku tidak bisa menahan perasaan bahagia, hormon endorfin yang mendadak muncul di sekujur tubuh, saat mengetahui bahwa reaksimu atas aksi konyolku tersebut tidaklah buruk. Terima kasih. Sayang pada saat itu semesta belum mempertemukan kita lagi setelah sekian lama.

Ingat bagaimana aku melupakan hari kelahiranmu yang keduapuluh kalinya karena aku sok sibuk dengan segala aktivitasku di kampus yang menunjang perkembanganku agar mampu menjadi lebih baik lagi ke depannya? Aku baru sadar di subuh keesokan harinya, bodoh memang. Payah memang. Seorang pengagum macam apakah yang sebegini payahnya? Saat itu juga, aku menuliskan sepucuk surat digital, karena hanya itulah yang bisa dan sanggup aku berikan kepadamu. Aku hanya cukup pandai merangkai kata, itu saja. Aku mengabaikan kelas pagiku, demi mengurangi rasa bersalahku tersebut, aku rela tidak tidur dan terlihat menyedihkan di perkuliahan di pagi harinya. Dan, aku masih sebegitu takutnya dengan responmu atas ucapan selamat ulang tahun dariku yang menurutku sendiri sedikit berlebihan (dan menyedihkan).

Ingat beberapa waktu yang lalu, aku membuang segala gengsi tersisa yang masih aku miliki, untuk sedikitnya mengutarakan bahwa aku merindukanmu, sebegitunya, sehingga sebagai seorang kawan yang jauh (sekali) aku berani meminta waktu liburanmu, untuk setidaknya bersua sejenak denganku? Aku sudah tidak sanggup lagi saat itu, puluhan purnama terlalu lama bagiku, terlebih lagi sulitnya mendapatkan kabar darimu yang tidak begitu suka mengunggah kegiatan dan keseharianmu di media sosial, tidak sepertiku. Tidak sekali dua kali aku membiarkan air mata mengalir di pipi, suatu hal yang kerap kali kuanggap konyol, hanya karena aku merindukanmu entah bagaimana ceritanya. Konyol, sekonyol-konyolnya konyol.

Tadinya aku pikir setidaknya satu butir air mata akan menetes saat aku mencurahkan semua ini, di malam bersuhu mungkin tiga puluh derajat lebih panas daripada di tempatmu berada saat ini, tetapi ternyata aku masih kuat. Masih cukup kuat untuk menunggu kepulanganmu di tanah air, di tanah dewata, yang katamu mungkin akan bertanggal di awal bulan kelahiranku. Aku yang seringnya pesimis ini, berusaha sebisa mungkin untuk berpikiran positif, bahwa apa yang telah kau ucapkan itu bukan hanya sekadar basa-basi sopan santun atas permintaanku, tetapi murni karena pertemanan lama kita (yang sudah lama sekali, mungkin kau lupa haha). Iya, jika suatu saat kau bertanya-tanya. Aku berharap, harapan itu masih ada, atas segala kejadian yang membuatku berhenti percaya akan adanya harapan dan membuatku berhenti berharap.

Jika suatu saat nanti, setelah tulisan ini aku selesaikan, dan kenyataan membawa kita pada suatu pertemuan, entah yang disengaja ataupun tidak disengaja, ataupun tidak. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku (akan tetap) bahagia, akan hal itu, akan perasaan kagum selama setengah dekade ini yang membawaku untuk berada di titik dan sisi terbaik pada diriku, akan kehadiranmu yang seadanya dalam kehidupanku, akan dirimu.

Aku akan terus mengejarmu, agar aku tidak tertinggal jauh jauh jauh…

Tidak, jangan anggap aku seorang yang mengerikan atas pernyataanku di atas, mungkin kita butuh tanda petik dua atas di beberapa kata agar tidak menjadi rancu.

Tetapi, aku tetap serius dengan hal itu.

Sekali lagi, terima kasih.

Terima kasih sayangmu, dan aku merindukanmu.

Dari aku, yang setengah mati merindukanmu

dan menyerah untuk tidak merintikan air mata.

Kuta Utara

28 Juni 2017

23:24

25°C

“…puisi terindahku hanya untukmu…”

the-secret

Kapan lagi kutulis untukmu

Tulisan-tulisan indahku yang dulu

Pernah warnai dunia

Puisi terindahku hanya untukmu

Jikustik “Puisi” cover by Andien Tyas

Sepenggal rangkaian kata nan indah di atas merupakan potongan lirik lagu lawas milik Jikustik. Berjudul “Puisi”, lagu ini telah terngiang di kedua telingaku sejak beberapa saat yang lalu. Berhasil membuatku tergila-gila, walau baru saja kudengar dengan seksama dari waktu makan malam di kedai dekat kosan bersama empat orang teman.

Ah. Tidak, isi lirik lagu ini tidak seutuhnya pas dengan kisahku. Mungkin hanya di bagian yang tertuliskan di atas sana. Pun begitu, aku bahkan tidak menulis puisi lagi sejak… entah sejak kapan. Payah.

Tetapi, lagu ini indah. Yang kudengar saat makan malam tadi dinyanyikan oleh seorang wanita, suaranya melankolis. Begitu mendukung suasana.

Ketika lirik lagunya dinyanyikan ulang oleh seorang teman yang menyadarkanku akan lagu ini, yang semula hanya lewat begitu saja dalam kehidupanku #apasihzhin karena anaknya memang setidakpeka itu, aku sontak terbayang akan sosok seseorang. Siapa lagi? Dirimu, tentu. Yang sampai saat ini masih membuatku menjadi ‘gila’.

Bagaimana kabar puisimu? Segala rangkaian kata-kata yang telah kau perjuangkan, entah sejak kapan, dan masih menjadi sebuah novel yang belum terselesaikan? Ada cerita lain kah di balik segala tulisanmu dalam kolom caption di instagram? Dirimu, masih tetap setia menulis, kan?

Aku harap semua baik-baik saja. Kamu, dan tulisanmu.

Hari ini kita tanpa sengaja berpapasan, dan kuyakin kamu tidak mengetahuinya. Tidak menyadarinya. Tidak, lebih baik jangan. Hal tersebut tidak berarti apapun bagimu, karena aku sadar dan tahu siapa aku. Bukan siapa-siapa, lebih tepatnya. Maksudku.. kita bahkan tidak saling mengenal, bukan begitu?

Jika saja suatu saat dirimu menyadarinya, aku berharap ini bukan sesuatu yang menggelikan bagimu. Karena sejujurnya aku, bisa -entah bagaimana itu- menjadi seketika bahagia saat menemukan sosok dirimu di keramaian. Boom. Terjadi begitu saja. Aku mendadak bahagia.

Ah.

Lihat bukan, sekarang aku mendadak menjadi sangat melankolis dengan tulisanku ini. Semoga siapapun yang membacanya tidak akan menertawakanku.

00:19

pertengahan malam menuju kelas Einf. i. d. Sprachwissenschaft pukul 07:30

Dariku, yang hanya mampu mengagumimu dari kejauhan

PS : “Puisi” ini indah, tapi kamu lebih lagi.

PSPS : Lagu di atas sebenarnya hanya merupakan bridging, sejujurnya aku hanya ingin menulis mengenai dirimu, itu saja.

#10OctInternationalMentalHealthDay

Lieber Schatz,

wie geht’s? Ich habe dich sehr vermisst! Du weiβt es schon, dass ich dich noch sehr liebe, oder?

Ich frage immer die Vögel, ,,Wann kommt mein Schatz zu mir? Eines Tages?” Die Vögel lachen nur, sie antworten mich nicht. Ist es ein Geheimnis nur zwischen euch?

Meine Mama hat mir gesagt, dass ich verrückt bin, weil ich mich mit der Vögel unterhalten. Die Vogelstimmen stört Mama, denn sie mag die nicht. Sie findet, die Vögel zu laut singen. Die Wahrheit ist es, dass die Vögel singen nicht, sie unterhalten sich mit mir. Wir reden über dich. Immer dich.

Jeden Morgen, Schatz, kommen die Vögel zu mir. Das ist die einzige Zeit singen sie, um mich aufzuwecken. Doch mag Mama das auch nicht, sie findet noch, dass die Vogelstimmen zu laut für ein ruhiger Tag ist. Sie versteht es nicht. Sie versteht mich nicht, Schatz.

Die Vogelstimmen höre ich am liebsten. Es macht mich traurig, wenn die Vögel mir verlassen. Es ist ruhig im Haus, Mama liebt es am liebsten, für mich ist es eine Katastrophe! Die Stimme in meinem Kopf kommt immer noch, wenn es zu ruhig ist. Du weiβt es schon, dass es mich geistig tötet.

Heute ist Mama überdrussig. Mit mir und auch mit meinem ,,mit der Vögel Gespräch”. Sie entscheidet sich, mich auf unsere Pschycologin zu nehmen. Das bedeutet, ich kann mich mit der Vögel nicht mehr treffen, Schatz. Um ihre Stimmen zu hören, und mit ihnen zu unterhalten. Nicht mehr!

Mama denkt, dass ich verrückt bin. Die Wahrheit ist es, ich bin nicht. Ich bin nur in dich total verliebt, Schatz. Glaubst du es noch?

Liebe Grüβe,

deine Schatzi.


This is fiction. I don’t have an imagination Schatz and I do not really talk to the birds. It’s true though that Mom once took me to a psychiatrist (how do we write that though?), but it didn’t work at all.

So, I have this confession to say, that I’ve been going to the Psychology Faculty for like 5 times in these two weeks. I had several times appointments with the psychologist’s assistant, and will have an appointment very soon with the psychologist (hopefully this week!).

My issue was that I do not have the lust to live at all for like some weeks ago. It feels empty and numb at the same time. I always am tired, physically and mentally. I live my life not the way I used to be, I forced myself to live.

It was just the beginning of my third semester, and I was already thinking about resigning. What the actual fuck? This is the major I’ve been craving since I was still on 11th grade. I don’t know.

I still don’t know what the hell is going on with me yet. I want to help myself but I just don’t know how to, that was simply why I decided to seek help from the professional. Before it’s too late that I’m already drown and it might lead to something worse..

It’s okay not to be okay. If you feel like you’re not okay and having issues, you could always tell me. I’m always there. I might be a little useless, but I can listen. You are NOT alone. And, I care. 💕

Tulisan Ini Tidak Membutuhkan Judul, Lebih Membutuhkan Dirimu

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” – Pramoedya Ananta Toer

Aku jatuh cinta sejak pertama kali aku membaca tulisan di atas. Sampai detik ini aku menuliskannya kembali sebagai kalimat pembuka pada tulisanku kali ini. Rasa yang sama seperti saat pertama kalinya aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis saat itu, entah kelas berapa saat aku duduk di bangku sekolah dasar.

Aku mudah jatuh cinta pada tulisan. Aku akui itu. Begitu pula pada tulisan-tulisanmu. Pilihan diksimu, serta rangkaian kata yang dengan elok kau torehkan begitu saja, dimanapun itu. Sesimpel dan sesederhana emosi yang terungkap dari tulisan yang kubaca dari profil salah satu akun media sosial dirimu. Dan begitu juga atas kisah yang kau ceritakan pada setiap caption momen abadi yang tertangkap oleh lensa kamera.

Dari tulisan-tulisan itulah tersebut aku mulai sedikit mengenalmu. Bahkan mengagumimu. Namun belum berani aku katakan jika aku sudah jatuh hati padamu, tetapi aku rasa aku telah terjatuh ke dalam alunan kata-katamu yang elok.

Alangkah indah pasti isi dari pikiran tersebut, yang telah tertuang manis dalam selembar kertas, maupun hanya terpampang dalam halaman di dunia maya. Aku tidak sanggup membayangkannya. Karena aku takut jika aku berani membayangkannya, aku akan semakin terjatuh dan terjatuh lagi. Aku belum sanggup akan itu. Tetapi aku tetap berharap untuk bisa masuk dan mengobrol cantik mengenainya. Bolehkah aku?

Pangeran Pena, diperkenankah jika kusebut dirimu dengan julukan baru? Yang mungkin hanya aku yang akan mengetahuinya, dan segelintir manusia yang menghabiskan waktunya untuk membaca sedikit curahan hati seorang pemuja rahasia. Aku yakin, interpretasimu akan julukan tersebut sedikit tidaknya tepat dengan maksudku.

Teruntuk dirimu. Terima kasih sudah menulis. Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta pada rangkaian diksimu. Terima kasih sudah berbagi emosi melalui aksara dan kata. Terima kasih pula sudah memberiku kesempatan untuk mengenalmu, sedikit.

Aku berharap kamu akan tetap menulis. Teruslah. Karena kamu takkan lalu, layaknya tulisanmu. Abadilah. Tulisanmu merupakan salah satu jatuh hatiku yang terindah.

Sekian dariku, yang dari kejauhan dan penuh harapan mengagumimu dengan (mungkin sudah tidak) rahasia.

06.09.2016

Malam ini bertemanlah saja aku dengan secangkir matcha hangat. Berselisih dengan sang waktu yang terlalu pelit membagi apa yang ia miliki kepadaku, satu dari sekian manusia yang terkadang merasa tidak puas dengan dua lusin jam yang telah diberikannya dalam seputaran rotasi bumi. Tidak pernah cukup. Kepuasan hanyalah fiktif belaka dalam kehidupan fana ini. Perlahan rasa matcha-ku memudar, larut dalam hangatnya air yang setia memeluknya sesaat. Dan ketika rasa itu menghilang, terjebaklah aku kemudian dalam nostalgia. Pekat. Cukup menarik jiwa dan ragaku kuat.
– 23:45

A Letter To Schatz – 1

Click for the ‘spoken’ version of this post

Hi. How’s life going with you, Schatz? Been a long time, huh?

I’ve been really fucked up recently. These past couple weeks were so rough for me. I think I have just awaken the monster inside me, again. I really have no idea.

When I said I really have no idea, I mean it. I don’t fucking know what the heck is going on with me. I thought I was just fine, but now I know, no. I am not. Don’t ask me why, because I’ve said this like thousand times, that I. don’t. fucking. know.

I wish I knew, I wish I could explain. But, no.

I need to let things out from my mind. I can’t handle this anymore. I wish I had someone to tell all these shits to, but no. I didn’t. But, no. I don’t have any. I could tell you this, but I couldn’t just tell you that. I’m basically separating things to tell to almost everyone I’m telling things to. And for the rest of it? I keep it for myself.

And all the thoughts I have in here, it’s killing me slowly. Have you ever heard me saying, “These overthinking kills me.” and I mean it. I don’t know whether I’m still alive, inside. I wish I know.

Maybe you’ve seen me being so emotionally unstable. I’ve been yelling a lot, I’ve been mad easily these days, I’ve cried myself to sleep like it’s my lullaby, I’ve have the thoughts (yeah, it’s back) to kill myself. Which drives me crazy, because it has gone for years, and now it’s back.

They told me, “You need some rest.”

Oh, of course. I do need some rest.

But that’s only for my body. Iya, ragaku sehat. Tapi, apakah begitu juga dengan jiwaku? That was still an unanswered question, yeah.

So there are most of the time, that I wish I could just go menghempaskan badanku ke arah mobil-mobil dan truk-truk yang melaju di jalanan Jatinangor. I even have the imagination, of seeing myself being terhempas jauh, tergeletak berdarah-darah dan tak bernyawa. And what’s bad thing after that? I have daydream. I can’t stay focus while walking, or while crossing the street. What is worse than that? I could have just lost my life.

I’m scared. The thought, that thought, has been hunting me for a while. I’m scared. I am. I am scared if I ever have the thought of fearing the death that much again. That was nonsense, that I didn’t really want to close my eyes and sleep, because I’m scared I’ll be waking up dead. For every single night, that time. I’m scared, I’m still scared of the death. But, life seems not friendly at all, for me. Why?

Sometimes I just wanna give up, and let the monster wins. It’ll then take over my body, no, my whole self. I guess, that’s the time when I lost the control and just let the cars or the trucks hit me. I guess.

This writing is nonsense. This writing is trashy. You shouldn’t waste your time reading this. But if you do, would you be my ‘friend’?

I have this question to almost every single person I met these days, “Would you find me a ‘partner’?” and by asking so, I mean.. a partner. Not just a so-called-boyfriend. A friend. A bestfriend. Whatever you name it. I do need it right now. Because I can’t no longer handle myself, and be friend with myself. I’m tired dealing with it. I know. Coward. Such a chicken, you say. I don’t love myself, and that’s why I’m looking someone to love it. But no one ever really does so. If I called myself a loveless, don’t fucking disagree. Because you also fucking don’t, ne?

Whatever.

I’m tired.

So, dear Schatz. If someday I give up, … no. I’m too scared to finish the whole sentence.