#2 Where I’d Like to be in Ten Years

coppenhagen

Can you guess where is this? Hint : not Germany. (Cr : Google)

Let’s just start imagining things. Oh, you know how much I love that, right?

I will probably finish my bachelor degree when I’m 22, or if that is possible when the song from Taylor Swift hasn’t become my anthem yet, I wish. I would still be stuck in Jatinewyork, before graduating. Duh.

Let’s just move on, I’ll probably doing au pair in Germany after that. For a year. Then I’ll probably be 23. While doing the au pair, you know what I had to do, right. Yes, applying for the master scholarship. I hope I would get accepted, and would end up in Cologne, the city of my dream.

If plan A does work, at the age of 26 I would already have my master degree next to my name. Because this is only an imagination, let’s just say it does.

What would I do next? I honestly have no idea at all, right now. Marriage? That isn’t my priority. But looking for my significant other might be. And, that would have done nothing at all to my journey. No one can stop me. Unless I love that someone ‘that’ much, enough said.

I might go back to Indonesia, applying to be a lecturer if that is enough. A local radio announcer sounds good, too. I could also play under the name of the famous director, on a theatrical play s/he’s doing. Or be a journalist. Or a news anchor in a national tv station. Or I should have just stay in Germany and try my fortune there, find a job that will steal my heart and I would be totally passionate about.

Confusion might also hit me hard at this point.

So, I repeat the question. Where you’d like to be in ten years?

I’ll be 30 in ten years. Most likely I’d end up being in the country, which would steal my heart more in a decade. Beside of that, no matter what, I’d still have my family and friends with me, a good job, well dressed, with a slay make up on, books on my hand, and a 24/7 smile on my face. No regret.

Advertisements

#1 Basic Thing About Myself

Most of the people I know now, calls me Zhinta. I put the name everywhere, and that’s also how I introduce myself to others. If you never heard how I finally ended up with the nickname Zhinta, it’s such a simple story. I don’t fancy having the really same name with perhaps billion girls in the country, that’s it.

There was once in my secondary school, when I was still on the 8th grade, I was in the same class with the other two Sintas. So we were called like Sinta A, Sinta P, and Sinta N. The last one belonged to me.

It’s not that I do not like the name that has been given to me. I like that, really. It’s the name of the Goddess in the story of Ramayana, isn’t it? Beside it’s the same as the day I was born in, when we refer to the Balinese calendar. But, the struggle is real when you have two other classmates having the exact same nickname like you do.

I guess that was how it all started.

Not a lot of people still call me with the name Sinta. Most likely only my family or relatives. But, there is someone who still calls me that, he isn’t my family or relatives, and I don’t mind being called Sinta when it comes to him. He makes the name sound more special to me, though I have to share it with other girls.

And, since the first time I knew him, it’s never been, “Zhin”, “Zin”, or “Shin”.

It’s always, “Sin”. Short from Sinta.

But, he never realized that.

Ayo, Belajar Bahasa Jerman!

ruhig-bleiben-und-deutsch-lernen-6

Ada banyak alasan mengapa seseorang memulai untuk mempelajari suatu bahasa baru, ada alasan-alasan umum yang juga merupakan alasan bagi kebanyakan orang ketika mempelajari bahasa tersebut, dan alasan-alasan pribadi yang biasanya bersifat lebih tertutup dan unik.

Salah satunya saya, yang mulai mempelajari bahasa Jerman saat SMA. Alasan umumnya? Simpel saja karena bahasa Jerman merupakan mata pelajaran yang wajib diambil saat saya duduk di bangku kelas X dan XI. Alasan pribadi tentunya berbeda dengan alasan umum yang telah saya kemukakan, keinginan saya untuk menginjakkan kaki di benua biru alias benua Eropa membuat saya tertarik untuk mempelajari salah satu bahasa penting di Eropa, selain Inggris contohnya. Melihat sedikit cerita dari kisah pribadi saya, saya ingin memberitahukan mengapa seseorang sebaiknya mulai untuk mempelajari bahasa Jerman melalui beberapa alasan-alasan umum yang tentunya akan semakin menarik minat untuk segera belajar bahasa Jerman.

Selain bahasa Inggris, bahasa yang memiliki peran cukup penting dalam dunia komunikasi di Eropa adalah bahasa Jerman, bukan hanya di Eropa tetapi juga di kancah internasional. Bahasa Jerman di Eropa merupakan bahasa yang paling luas penggunaannya, karena selain menjadi bahasa utama di negara Jerman juga menjadi bahasa ibu bagi negara Swiss, Austria, Luxemburg, dan Liechtenstein dengan jumlah penutur asli lebih dari 100 juta orang. Orang-orang yang mempelajari bahasa Jerman pun berjumlah kurang lebih 1/5 dari penutur aslinya, dan hal ini membuat bahasa Jerman itu sendiri menjadi salah satu bahasa yang paling umum digunakan di seluruh dunia dengan total penutur sekitar 2,1% dari jumlah populasi dunia.

Negara Jerman merupakan negara pengekspor nomor satu di dunia. Dengan ekonomi dan industri yang kuat tersebut membuat bahasa Jerman ikut menjadi suatu pengaruh besar dalam dunia perdagangan baik di dunia maupun Eropa, sehingga membuatnya menjadi lingua franca atau bahasa pergaulan yang populer selama 10 tahun terakhir di negara-negara kawasan Eropa Timur dan Tengah khususnya. Hal ini sedikit tidaknya mempengaruhi jika ingin melamar pekerjaan ke suatu perusahaan Jerman atau berbisnis dengan perusahaan Jerman, dengan memiliki kecakapan dan keahlian dalam berbahasa Jerman dan wawasan yang cukup mengenai Jerman, tentunya akan memudahkan dan mensukseskan di kancah bisnis global serta mampu bersaing dalam pasar tenaga kerja yang berskala internasional.

Julukan Land der Ideen atau Negara Ide cukup populer dan melekat pada negara Jerman. Banyaknya filsuf, penemu, sastrawan yang lahir di negara yang memiliki bendera kebangsaan dengan warna merah, hitam, dan emas ini membuat bahasa Jerman menjadi bahasa yang paling penting dalam sejarah perkembangan pengetahuan dan sastra dunia. Siapa yang tidak mengenal Albert Einstein, Johahn Wolfgang von Goethe, Immanuel Kant, Nietzche, Sigmund Freud, Wolfgang Amadeus Mozart, dan berderet nama-nama besar lainnya? Ya. Mereka berkembangsaan Jerman, atau negara yang berbahasa ibu Jerman. Dengan belajar bahasa Jerman, memungkinkan untuk lebih mengenal jauh karya-karya dari nama-nama besar tersebut dari versi aslinya, yakni dengan bahasa Jerman. Mulai dari sastra, musik, ilmu pengetahuan serta penelitian, psikologi, dan berbagai ilmu lainnya.

Selain nama-nama besar tersebut, ada pula nama salah satu pemuda Indonesia yang pernah menimba ilmu di negeri elang hitam dan pernah menjabat sebagai presiden Indonesia yang harum namanya tak hanya di tanah air tetapi juga di Jerman. Tak lain adalah Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang biasa disingkat sebagai BJ Habibie. Sekarang banyak sekali pemuda-pemudi Indonesia yang ingin mengikuti jejak beliau dan berusaha untuk meraih cita-cita dengan melanjutkan studi di sana. Biaya pendidikan yang cukup murah dibandingkan dengan negara maju lainnya, tetap dengan kualitas pendidikan yang baik tentunya menjadi salah satu daya tarik untuk pelajar internasional. Tetapi sayangnya tidak di semua universitas di Jerman tersedia kelas internasional, sehingga penguasaan bahasa Jerman sejak awal dapat menjadi modal utama.

Dan yang terakhir, orang-orang Jerman sangat menyukai liburan, terlebih ke negara-negara beriklim tropis yang memiliki pemandangan eksotis. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi turis Jerman dan turis dari negara sekitarnya dengan bahasa ibu bahasa Jerman. Dengan mempelajari bahasa Jerman dan memiliki pengetahuan seputar kejermanan, amat menjadi suatu nilai tambah bagi pekerja di sektor pariwisata, dan dapat pula menjadi suatu investasi bagi para pemuda tanah air dikarenakan prediksi akan tingginya permintaan tour guide yang memiliki kemampuan bahasa Jerman di kemudian hari mengingat semakin populernya Indonesia dalam tujuan wisata orang Jerman.

Selain yang telah disebutkan di atas, sebenarnya masih terdapat banyak alasan mengapa seseorang sebaiknya mempelajari bahasa Jerman. Tetapi, menurut saya hal-hal di atas tersebut sudah cukup untuk mendorong minat untuk mulai belajar bahasa Jerman sesegera mungkin. Karena, seperti banyak kata pepatah-pepatah dan mengutip dari ucapan orang-orang besar, ketika kita mempelajari suatu bahasa baru, kita akan melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mulai menghidupi kehidupan yang baru juga. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, belajar bahasa Jerman!

Parafrase dari artikel yang diunggah di website DAAD Jakarta http://www.daadjkt.org/index.php?belajar-bahasa-jerman, diakses pada Kamis, 8 September 2016 pukul 21:34.

Tugas mata kuliah umum Pengantar Kajian Budaya.

27-10-2017

Selamat hari blogger nasional!

Sedari berada di bangku Sekolah Dasar dan mulai jatuh cinta dengan dunia tulis menulis, aku memimpikan diri untuk menjadi seorang penulis, yang menuliskan sebuah karya yang terpajang di bagian Best Seller. Masih kuingat betul draft buku pertamaku, yang hingga kini tidak pernah terselesaikan, mengenai empat orang sekawan yang namanya diambil dari petenis dunia. Masha, Fed, Rafa dan, ah, aku lupa siapa nama yang satunya lagi.

Memasuki masa Sekolah Menengah Pertama, aku mulai mengenal suatu hal adiktif yang dinamakan sebagai internet. Semenjak itu pula, tampaknya keinginan untuk memiliki domain tersendiri mulai muncul. Dan, saat itu pula aku mulai memiliki sebuah blog yang menggunakan username internetku saat itu, lahirlah darkangel-lavigne (dot) blogspot (dot) com, temukanlah dan sila jadi saksi bisu tulisan-tulisanku saat itu. Tak banyak, dan tidak lagi aktif, begitulah akhirnya.

Naik kelas XI di Sekolah Menengah Atas, ada perasaan menggebu untuk kembali main di blog, dan karena ingin mencoba hal baru, aku memulai blog dengan platform yang berbeda, WordPress. Juni 2013, postingan pertamaku di blog baru terbit, berjudul “Havin’ My Own Writer’s Name”. Seingatku, URL pertama blogku saat itu adalah silversparkonthedark. Dan aku, menggunakan pseudonym Alex, karena aku tidak ingin tulisanku diketahui dan dibaca oleh orang-orang yang kukenal. Aku banyak menggunggah tugas-tugas sekolahku saat itu, tanpa ada yang mengetahui siapa aku.

Komitmenku untuk setia pada dunia blog belum kuat saat itu, aku mulai hilang lagi Oktober 2013. Sampai pada bulan April 2015, menuju Ujian Nasional dan segala tetek bengeknya, aku kembali mengingat eksistensi blogku yang sempat terlupakan selama hampir 2 tahun.

Deineschatzi.wordpress.com, anakku. Walaupun belum menjadi domain tersendiri, dan hingga detik ini belum tembus 10.000 pembaca, tetapi aku bangga. Dan, yang paling penting adalah, aku bahagia.

Ayo, ngeblog!

Menulislah, agar ketika kau pergi, namamu masih ada dan tulisan akan membuatmu abadi. 💕

#haribloggernasional

Liebe Sarah, my dearest internet best friend,

this blog post I made is dedicated to you. To show the world how grateful I am to be friend with such an angel. It was exactly 160 weeks ago, that you commented on a photo that I posted in my instagram, it was the picture back when I was in Germany and I wrote 20 random facts about me on the caption, it was cool that time to post about so, everyone did that. I have never ever imagined (nor known that you followed me) there would be a stranger, who’s existence will somehow changed my life to a better one, and there were you. Saying, “Cool, ich wusste gar nicht, dass du Deutsch sprechen kannst :)”

There. A simple one sentence, that brought us to the friendship we have till right now. Out of thousand people I met and be friends with on the internet, I have no idea why could I be that close to you, I mean even since the very first time we talked, you’re one of the nicest friend ever.

2014 was the time I visited Germany, for three weeks, for a summercourse, somewhere near Hannover. Only 1 hour 45 minutes away from where you live. And there was also time that I visited Muenster, and guess what? The city itself was only less than hour away. We were that close, too bad we haven’t known each other yet. But it is such a huge motivation for me. To keep studying hard, so that I would get another scholarship and I’ll be able to visit Germany again, and we definitely will meet. That is a self promise, that I made even since the first time I knew you.

I couldn’t be more thankful for your existence in my life.

Isn’t it just a little coincidence? How we are such a fan of Avril Lavigne, that I learn German and you are a native speaker, and that we met on Instagram? This is just so funny, sometimes. How I managed to get so many new friends through Facebook and Twitter, yet only a few new ones on Instagram, and when I got one it was just like a coincidence. But I’m glad it happened!

Although we both grow up, are busier than ever with our life, only barely talk, please do know that I will always be there when you need someone to talk to about everything. Don’t hesitate to chat me or call me, whenever and wherever it is.

I’m no good at celebration, I only am fine with words. So, here, a cheers to our 3 years and beyond celebration of friendship from me. Special thanks to Facebook, for a kind reminder, without that no one would remember the exact date, but well we just talked about that like three days ago, ne?

So, dear Sarah, thank you for being my friend since then, you indeed are an amazing friend, and you will always have a special place in my heart! I love you to the moon and back. ❤

Sincerely, your thousand miles away Indonesian best friend.

Eines Tages in der Zukunft!Sarah

Menuju Tahun Ketiga

Selamat datang kembali di Sätze fǖr Schatz, sudah lama sekali sejak aku terakhir kali memperbaharui laman kesayangan ini. Ah, it always feels so good to be back here, since it’s a home to all of my writings.

Akhirnya aku memiliki sedikit waktu luang, setidaknya selama akhir pekan ini, sebelum memulai rutinitas dan kembali ke masa perkuliahan. Setelah hampir tumbang karena kelelahan yang melanda, aku melakukan ritual “hibernasi” seperti biasanya, tidur pulas selama 17 jam tanpa ampun. Menurutmu, cara apalagi yang paling ampuh untuk mengembalikan energi dan emosi yang telah habis karena bertemu dengan ratusan manusia dengan kondisi yang kurang layak “perang” selama kurang lebih satu minggu belakangan ini? Ya, tentu saja.

Sebelumnya, setelah prolog yang cukup panjang dan bertele-tele ini, aku ingin mengucapkan selamat. Selamat kepada para Pramuda alias Padjadjaran Muda 2017. Selamat kalian telah menjadi bagian dari Universitas Padjadjaran. Tidak, jangan merasa spesial. Tetapi silakan jika ingin merasa bangga, itu hak kalian. Akupun merasa seperti itu saat pertama kali diresmikan menjadi seorang mahasiswa, tetapi perasaan seperti itu hanya bertahan kurang lebih selama seminggu. Setelah itu? Biasa saja. Euforia yang temporer.

Kemarin merupakan hari terakhir Opera Budaya 2017. Tidak ada yang begitu spesial, yang bisa kupamerkan kepada kalian. Tetapi apa yang kubilang seperti itu, selalu menjadi yang spesial, selalu dapat membuatku rindu akan segala yang terjadi di Opbud. Satu dari sedikit kepanitiaan, yang membuatku seperti seakan memiliki rumah, yang mampu membuatku untuk selalu kembali. Jikalau diminta, aku sanggup membuat puluhan halaman mengenai segala kisah yang kulalui selama menjadi peserta dan panitia dari Opbud 3 tahun ini. Memorinya, begitu melekat erat. Aku ingat satu dari sekian banyak perkataan yang menempel mengenai Opbud, sebagai suatu kesan. “Maba (mahasiswa baru) mana lagi yang minta diospek lagi, selain di Opbud?” Ya, itu terjadi dari tahun ke tahun selama Opera Budaya. Sebegitunya.

Setelah melewati rangkaian Opbud, sebagai PMBF (Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas), akan muncul osjur (ospek jurusan) atau mabim (masa bimbingan) yang diadakan di tingkat jurusan. Mabim di Sastra Jerman Unpad sendiri akan hadir dalam waktu dekat ini, dan aku? Berusaha untuk mengambil bagian lagi, untuk menyambut para adik-adik. Oh, tunggu, iya kah? Tidak, belum sededikasi itu diriku, tujuan utamaku bergabung di kepanitiaan penyambutan mahasiswa baru adalah untuk mencari teman-teman baru. Iya, itu jawaban jujur. Oleh karena itu aku seakan peduli tidak peduli akan dikenal oleh para peserta kegiatan, yang lebih kupedulikan adalah aku kenal dan dikenal oleh para panitia lainnya.

Celotehan di atas, sebenarnya memiliki inti, bahwa aku cukup takut untuk menjadi mahasiswa tingkat ketiga. Di saat seperti ini, seringkali aku merasa puas tidak puas dengan diriku sendiri, dan segala pencapaian selama tiga tahun merangkai kisah di Jatinangor.

Aku, aku cukup puas dengan ambisiku di akademik, organisasi, kepanitiaan, dan kegiatan mahasiswa sejauh ini. Selalu mengambil 24SKS selama 4 (menuju 5) semester, IPK hanya turun 0,09 dari IP pertama (dengan angka masih di atas 3.50), diketahui keberadaannya oleh dosen-dosen di jurusan, memahami setidaknya lebih dari 50% mata kuliah jurusan yang pernah diambil, pernah mengambil bagian di himpunan, pernah mengambil bagian di salah satu organisasi nasional, sedang menjadi bagian dari badan eksekutif mahasiswa tingkat fakultas, sedang menjadi bagian dari radio kampus, sedang menjadi bagian dari teater jurusan, cukup aktif di kepanitiaan tingkat jurusan dan fakultas. Walaupun tidak seberapa, tetapi aku cukup bangga pada pencapaian tersebut selama dua tahun ini.

Tetapi, dari semua itu masih ada banyak hal yang mengganjal perasaanku.

Apakah aku memiliki teman, teman yang begitu pula menganggapku teman? Mengapa sampai detik ini aku tidak berkesempatan untuk memiliki kekasih, atau setidaknya lelaki yang menganggapku lebih dari seorang sahabat? Apakah kesehatan mentalku dapat dikatakan aman sejauh ini? Bagaimana hubunganku dengan keluargaku, apakah dapat dikatakan baik, jika terkadang aku seringkali sok sibuk dengan segala hal dalam duniaku?

Dan sejuta pertanyaan lainnya.

Terkadang aku merasa cukup bangsat. Aku seringkali terlalu sok sibuk dengan duniaku, sehingga kerapkali melupakan hal-hal lainnya. Hal-hal yang seharusnya aku prioritaskan, lebih daripada segala yang aku perjuangkan saat ini.

Seringkali aku berharap, atas segala sesuatu yang telah aku korbankan selama ini, akan membuahkan hasil yang manis, sesuai dengan apa yang telah aku harapkan. Atas segala perjuangan ini. Sebenarnya di awal aku ingin menulis lebih detail, tetapi entah mengapa mood menulisku hilang di tengah jalan seperti biasa.

Untuk menutupnya, aku ingin mengatakan bahwa memasuki semester 5 di minggu depan ini, aku akan berusaha, untuk memilah lagi apa yang seharusnya aku prioritaskan. Menomersatukan dengan tidak menomerduakan. Untuk itu, dengan segala kemungkinan yang ada, aku mungkin akan mulai melepas satu per satu kegiatanku di luar akademik, di saat yang tepat. Suatu kemungkinan yang besar bahwa, seusai demisioner di BEM, aku akan pensiun organisasi kampus dan kepanitiaan. Semua itu agar dan supaya aku lebih memiliki waktu dan fokus, untuk keluarga, sahabat dan akademik. Dengan tidak menutup kemungkinan, juga untuk seseorang di luar sana.

Usai sudah celotehanku untuk malam ini. Mungkin, mungkin aku akan masih tetap berkeluh kesah dan bercerita hal-hal nonsense dalam beberapa hari ke depan. Tschǖß!

Surat (Cinta) Terbuka?

Teruntukmu yang mungkin sudah kukagumi sepanjang setengah dekade,

hai. Sudah lama kita tidak bersua, bahkan mungkin untuk sekadar berbincang sejenak. Ah, sebelumnya maafkan salam pembuka surat ini yang biasa saja, karena sesungguhnya aku amat bingung bagaimana untuk memulainya, kuputuskan untuk memilih satu kata sederhana yang biasa diucapkan seseorang saat berjumpa dengan kawannya. Kawan, iya. Bukankah memang itu seharusnya kita?

Tanpa basa-basi lagi, aku merindukanmu. Sudah jelas, bukan begitu? Tunggu, biarkan aku menghitung dulu seberapa lama sudah kita tidak bertemu. Terakhir aku mengingatnya sudah puluhan purnama berlalu, sejak terakhir kali sudut mataku berpapasan dengan ujung senyummu itu, yang kau simpulkan entah kepada siapa.

Sekarang biarkan aku untuk menanyakan bagaimana kabarmu di sana? Baik saja? Aku harap begitu. Jangan lupa untuk bahagia, ya. Itu satu pesanku. Ah, tapi aku yakin kamu tidak akan pernah lupa untuk berbahagia. Dan, aku, entah bagaimana caranya, yakin dengan hal itu.

Dan agar kamu ketahui, sedikit canggung menuliskan surat padamu dengan bahasa ibu kita, mengingat sebegitu seringnya dirimu menggunakan bahasa asing pertamaku, dan yang membuatku (memaksaku) memberanikan diri untuk menuliskan rangkaian panjang kata dalam rangka mengungkapkan perasaanku padamu dalam sebuah surat. Maafkan bahasaku yang terdengar kaku ini, yang sebenarnya akupun begitu.

Sebelum jauh kita mereka-reka tentang masa depan yang tidak kita ketahui sama sekali, ingin rasanya aku menelusuri ke belakang, waktu yang telah lampau, hal-hal yang telah sedikit banyaknya dilewati. Bukan oleh kita, tapi oleh diri kita masing-masing.

Aku masih ingat jelas, bagaimana semesta mempertemukan kita dalam satu kelas di tahun pertama sekolah menengah atas. Samar-samar jauh sebelum kujumpai sosokmu, sudah kudengar sebuah berita yang ramai dibicarakan oleh seantero penjuru kelas, bahwa akan ada seorang anak yang amat pandai berbahasa asing, yang dulunya sempat menuntut ilmu di negeri para kangguru. Oh, betapa hebatnya, pikirku dalam hati saat itu. Aku tidak berbohong, itulah hal yang pertama kali aku pikirkan ketika aku mengetahui keberadaanmu dalam kehidupanku.

Hal itu tidak berubah sama sekali saat pertama kali kita berjumpa, aku tidak ingat bagaimana, karena asal kamu tahu saja bahwa ingatanku ini payah, kurang lebihnya seperti ikan mas. Ya, sepayah itu, aku bahkan sulit untuk mengingat santap malamku dua hari lalu. Dia keren sekali, pikirku, saat kudengar dirimu mulai berceloteh ria menggunakan bahasa yang secara otodidak aku pelajari dan aku masih payah hingga saat ini. Sejak saat itu, lelaki yang pandai berbahasa asing selalu terlihat menarik di mataku.

Di suatu kesempatan, kau diminta untuk mempresentasikan sesuatu, mengenai kepemimpinan kalau aku tidak salah. Dalam mata pelajaran Agama. Dengan penuh percaya diri, dan tanpa rasa tertekan (berbanding terbalik denganku saat itu, aku benci untuk berbicara di depan umum) kau melangkahkan kakimu dengan mantap ke depan kelas. Menatap seluruh pasang mata yang ada, termasuk milik Bapak Guru yang tersenyum mempersilakanmu untuk memulai aksi. Tidak ada yang mengucap sepatah katapun saat itu, mirip seperti sebuah tagline acara televisi, semua mata tertuju padamu. Kaupun berbicara, mengenai topik yang sedang dibahas. Kepemimpinan. Ah, iya, di saat itu juga kau kan seorang wakil ketua kelas, ya? Cocok sekali. Jika ada yang memperhatikan, mataku tidak berpaling darimu. Aku kaget, aku kagum, aku terpesona, aku… aku…

Sebegitu berapi-apinya kau saat itu, aku sendiri dapat merasakan semangat yang mengalir dari setiap patah kata yang kau lontarkan. Aku ingat, hampir saja aku impulsif menuliskan sesuatu tentangmu, yang berdiri di depan sana, berbicara dengan percaya diri dan semangat yang membara. Tapi sayang boleh sayang, puisi tersebut tidak pernah terselesaikan. Aku seakan lupa, bahwa beberapa waktu sebelum itu, sudah terdengar kabar bahwa kau begitu lihai dalam berpidato. Tak salah lagi, kuakui hal itu.

Cukup waktu mengenalmu, dan keberadaanmu yang seringkali menghilang dari presensi kelas, aku sadar aku mulai mengagumimu. Dan di saat yang bersamaan, aku mulai merasakan bahwa aku juga sedikitnya memiliki perasaan pada salah seorang teman terdekatmu. Perasaan yang amat membingungkan bagi seorang gadis yang belum pernah merasakan perasaan yang begitu kompleks sebelumnya. Tanpa sadar aku melakukan pergerakan, yang harus kuakui, kepada temanmu itulah. Bahkan pada saat aku mengakui perasaanku, kepada seorang sahabat karibku, namanya lah yang kusebutkan. Walau untuk kesekian kalinya ia menanyakan, apakah aku yakin dengan perkataanku itu, dengan membawa namamu di belakangnya. Sejujurnya aku ragu, yang aku tahu saat itu adalah aku setengah mati mengagumimu.

Ditambah lagi, dengan sosokmu yang seringkali mengingatkanku dengan Papaku. Saat itu, aku sedang kehilangan sosok beliau yang ditugaskan di luar kota, tetapi aku menemukannya dalam bentuk lain, di dalam sosokmu aku menemukannya. Sifatmu, sikapmu, pembawaanmu, kamu. Aku lemah. Di saat teman-temanku sengaja membuatku meneteskan air mata karena mengingatkanku dengan sosok beliau nan jauh di sana, melalui lagu milik Ada Band, di sisi lain ada dirimu di sekitarku. Mungkin, mungkin sejak saat itulah aku telah memiliki khayalan konyol nan menyeramkan ini, yaitu untuk menikahimu.

Lupakan kata terakhir di paragraf sebelumnya yang sempat aku bicarakan.

Penutup kilas balik yang amat buruk.

Payah.

Ayo, kita balik lagi saja ke masa sekarang kalau begitu.

Kagum. Satu kata itu yang mungkin akan menjadi favoritku untuk mendeskripsikan perasaan kompleks yang menggerogotiku selama setidaknya lima tahun belakangan ini. Aku tidak mengerti, sampai detik ini. Aku belum mengenalmu sebegitunya untuk jatuh cinta padamu, tapi apakah untuk jatuh cinta padamu aku harus mengenalmu sebegitunya?

Sebut saja aku jatuh kagum, yang mungkin terlalu dalam sampai imajinasiku terkadang menjadi sebegitu liarnya aku bahkan malu pada diriku sendiri. Ah, iya, 6 kata sebelum ini, mendeskripsikan aku dan cara pandangku padamu. Aku, mungkin aku terlalu rendah diri atau bagaimana, selalu menganggap diriku tidak pantas, bahkan untuk mengagumimu. Aku seringkali mengambil analogi bahwa kita ini bagaikan seorang pungguk (aku) yang merindukan rembulan (dirimu). Seringkali aku merasa malu dengan diriku, yang bukan siapa-siapa ini, yang menyedihkan ini.

Aku hanya berbekal rasa nekat, dan rasa kagumku yang membuncah, dan rasa rinduku padamu saat ini yang membuatku setengah mati (ini hiperbola, iya) untuk menyampaikan segala yang ada di dalam sini.

Ingat bagaimana aku mengungkapkan dan mengakui bahwa aku yang telah mengirimimu tiga helai surat pernyataan (perasaan) di tahun terakhir kita duduk di SMA? Sejujurnya aku begitu takut dengan balasanmu, dengan responmu, denganmu yang bisa saja memilih untuk memutuskan tali pertemanan kita karena malu dengan kebodohanku tersebut. Aku berguling-guling di kamar salah seorang teman dekat yang sedang aku singgahi, menanti balasanmu. Saat kuterima balasan dari curahan perasaanku dan pengakuanku tersebut, aku nyaris berteriak di peron, saat menunggu kereta yang akan membawaku pulang ke rumah datang. Aku tidak bisa menahan perasaan bahagia, hormon endorfin yang mendadak muncul di sekujur tubuh, saat mengetahui bahwa reaksimu atas aksi konyolku tersebut tidaklah buruk. Terima kasih. Sayang pada saat itu semesta belum mempertemukan kita lagi setelah sekian lama.

Ingat bagaimana aku melupakan hari kelahiranmu yang keduapuluh kalinya karena aku sok sibuk dengan segala aktivitasku di kampus yang menunjang perkembanganku agar mampu menjadi lebih baik lagi ke depannya? Aku baru sadar di subuh keesokan harinya, bodoh memang. Payah memang. Seorang pengagum macam apakah yang sebegini payahnya? Saat itu juga, aku menuliskan sepucuk surat digital, karena hanya itulah yang bisa dan sanggup aku berikan kepadamu. Aku hanya cukup pandai merangkai kata, itu saja. Aku mengabaikan kelas pagiku, demi mengurangi rasa bersalahku tersebut, aku rela tidak tidur dan terlihat menyedihkan di perkuliahan di pagi harinya. Dan, aku masih sebegitu takutnya dengan responmu atas ucapan selamat ulang tahun dariku yang menurutku sendiri sedikit berlebihan (dan menyedihkan).

Ingat beberapa waktu yang lalu, aku membuang segala gengsi tersisa yang masih aku miliki, untuk sedikitnya mengutarakan bahwa aku merindukanmu, sebegitunya, sehingga sebagai seorang kawan yang jauh (sekali) aku berani meminta waktu liburanmu, untuk setidaknya bersua sejenak denganku? Aku sudah tidak sanggup lagi saat itu, puluhan purnama terlalu lama bagiku, terlebih lagi sulitnya mendapatkan kabar darimu yang tidak begitu suka mengunggah kegiatan dan keseharianmu di media sosial, tidak sepertiku. Tidak sekali dua kali aku membiarkan air mata mengalir di pipi, suatu hal yang kerap kali kuanggap konyol, hanya karena aku merindukanmu entah bagaimana ceritanya. Konyol, sekonyol-konyolnya konyol.

Tadinya aku pikir setidaknya satu butir air mata akan menetes saat aku mencurahkan semua ini, di malam bersuhu mungkin tiga puluh derajat lebih panas daripada di tempatmu berada saat ini, tetapi ternyata aku masih kuat. Masih cukup kuat untuk menunggu kepulanganmu di tanah air, di tanah dewata, yang katamu mungkin akan bertanggal di awal bulan kelahiranku. Aku yang seringnya pesimis ini, berusaha sebisa mungkin untuk berpikiran positif, bahwa apa yang telah kau ucapkan itu bukan hanya sekadar basa-basi sopan santun atas permintaanku, tetapi murni karena pertemanan lama kita (yang sudah lama sekali, mungkin kau lupa haha). Iya, jika suatu saat kau bertanya-tanya. Aku berharap, harapan itu masih ada, atas segala kejadian yang membuatku berhenti percaya akan adanya harapan dan membuatku berhenti berharap.

Jika suatu saat nanti, setelah tulisan ini aku selesaikan, dan kenyataan membawa kita pada suatu pertemuan, entah yang disengaja ataupun tidak disengaja, ataupun tidak. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku (akan tetap) bahagia, akan hal itu, akan perasaan kagum selama setengah dekade ini yang membawaku untuk berada di titik dan sisi terbaik pada diriku, akan kehadiranmu yang seadanya dalam kehidupanku, akan dirimu.

Aku akan terus mengejarmu, agar aku tidak tertinggal jauh jauh jauh…

Tidak, jangan anggap aku seorang yang mengerikan atas pernyataanku di atas, mungkin kita butuh tanda petik dua atas di beberapa kata agar tidak menjadi rancu.

Tetapi, aku tetap serius dengan hal itu.

Sekali lagi, terima kasih.

Terima kasih sayangmu, dan aku merindukanmu.

Dari aku, yang setengah mati merindukanmu

dan menyerah untuk tidak merintikan air mata.

Kuta Utara

28 Juni 2017

23:24

25°C

Refleksi Diri 2 SKS

Hai.

Di umurku yang hampir kepala dua ini, ada satu hal yang paling sering kulakukan sepanjang hidupku ini. Mengeluh. Percaya atau tidak, dalam satu hari aku bisa lebih dari sepuluh kali mengeluh mengenai hidupku, dan apapun itu.

Terdengar seperti seseorang yang tidak bersyukur memang, tapi bukankah itu wajar sebagai seorang manusia yang pada dasarnya selalu merasa kurang? Ah, itu hanyalah pembelaanku saja.

Jadi, hari ini aku tidak ada UTS. Aku selalu suka hari Jumat, karena artinya besok dan lusa adalah akhir minggu, yang mana aku bisa setidaknya rehat sejenak dari kegiatanku. Selain itu, satu hal di semester ini yang menjadi bagian favoritku adalah, hanya ada satu kelas di hari ini. Walaupun memang kelasnya di pagi-pagi buta, yaitu pukul setengah 8. Tak apa, selama mata kuliahnya adalah salah satu favoritku, Sastra.

Rasanya aku sudah terlalu sering berkeluh kesah dalam tulisanku, dalam keluhan tersebut aku merasa tidak menularkan energi positif pada orang yang membacanya (jika ada). Maka, sepanjang perjalanan seusai latihan teater beberapa saat tadi, aku sedikit merenung sendiri, mengapa sih aku hobi sekali mengeluh?

Terkadang aku melakukan kilas balik terhadap kehidupanku yang sekarang. Tidak terlalu indah, memang. Tetapi aku cukup bahagia.

Aku sekarang tengah menempuh semester keempat. Aku seringkali mengeluh setiap membuka mata di pagi hari, “Kuliah lagi?”. Rasanya tidurku kurang, badanku sakit semua, pikiranku keruh, emosiku berantakan, dan aku masih harus ke kampus dan menimba ilmu lagi. Semesta memaksaku bangun pagi tiga hari dalam seminggu, dari Rabu sampai Jumat, untuk kelas 07:30. Patutkah aku mengeluh? Jika apa yang aku kerjakan sekarang adalah sesuatu hal yang sudah kudambakan sejak lama, dan demi mendapatkannya aku rela mengorbankan banyak hal. Sungguh keterlaluan jika sekarang aku masih lebih sering mengeluh daripada teman-temanku yang “terdampar” di sini. Ya, memang, ini pilihan keduaku. Aku sampai detik ini masih menginginkan menjadi bagian dari Sastra Jerman UI, tetapi tidak terlalu buruk juga terlempar jauh ke Jatinangor ini. Setidaknya, aku tetap belajar di Sastra Jerman, kan? Mempelajari bahasa yang telah membuatku jatuh cinta lagi, dan mempelajari sastra yang kusuka sejak satu dekade lalu.

Linguistik itu sulit, mengapa di Sastra aku harus tetap mempelajari Linguistik juga? Pernah aku berpikiran seperti itu, dan nyaris memberanikan diri untuk menghadap dosen waliku, ingin melepas mata kuliah Linguistik yang bobotnya 4 sks. Sebegitu lelah dan mudah menyerahnya aku, syukurlah itu tidak sampai hati kulakukan. Walau sulit dan terkadang aku ingin berteriak sekencang-kencangnya saat terpaksa menghadapinya, beberapa saat lalu ketika aku “benar-benar” belajar, aku menyadari bahwa sebenarnya Linguistik pun menyenangkan. Dan memiliki kaitan erat dengan Sastra, tentunya. Aku menjadi kurang setuju dengan pendapat orang-orang yang berkata bahwa Linguistik adalah pelarian dari Sastra yang sulit, well walaupun memang begitu kenyataannya jika ilmu Sastra sendiri lebih abstrak sehingga menjadikannya lebih sulit untuk diterka sedangkan Linguistik lebih eksakta. Dengan “terpaksa” mempelajari Linguistik, aku jadi tahu bagaimana suatu kata bisa tercetuskan, dan memilahnya menjadi bagian-bagian tertentu. Aku bisa semakin lihai merangkai kalimat dengan mempelajari bagaimana cara membangun struktur kalimat yang tepat. Aku bisa merasakan pusingnya menganalisa dan membangun kata, hingga menjadi kalimat, yang akhirnya terpadu menjadi paragraf dalam artikel yang sering kubuat demi menunaikan tugas baik dalam akademik maupun organisasi. Aku juga menjadi semakin paham, bagaimana bahasa dan kata-kata itu memiliki kekuatan yang sangat kuat. Lalu mengutip salah seorang dosen Linguistik yang mengajariku Linguistik Dasar di semester lalu, bahwa dengan mempelajari Sastra (dan Linguistik, pastinya) kami-kami ini para calon Sarjana Humaniora, akan menjadi manusia yang lebih humanis di kemudian hari. Dan, hal tersebutlah yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Ah, lihat kan. Aku terlalu sering mengeluh mengenai kehidupanku di kampus, padahal jika aku tuliskan lagi, hidupku saat ini merupakan hidup yang aku dambakan sejak beberapa tahun silam.

Sering setelah selesai kelas, aku mengeluh, lagi. “Kenapa harus tetap stay di kampus, sih?” atau ketika ada jeda waktu beberapa saat, dan aku sempat kembali ke kosan, maka aku akan kembali mengeluh “Kenapa aku harus balik lagi ke kampus, sih?”. Memang, ya. Payah.

Jika dipikir-pikir, memang waktu terlalu banyak aku habiskan di kampus belakangan ini. Hingga membuat keadaan kamarku bagaikan kapal pecah yang porak poranda, aku hanya sanggup segera beristirahat ketika menginjakkan kaki di kosan. Sudah terlalu lelah secara fisik dan mental setelah berkegiatan seharian penuh di kampus. Dan sedihnya lagi, aku belum menjadi apa-apa. H a h a.

Tetapi walaupun begitu, harusnya aku ingat, bahwa hal-hal yang aku lakukan tersebut adalah atas kemauanku sendiri. Dari dua kegiatan dan satu organisasi yang aku ikuti (iya, aku sedang jenuh dengan kepanitiaan sehingga memilih untuk tidak ikut), ketiganya adalah semua yang aku senangi.

Aku ingin menyebutkan di tempat pertama, UKM yang paling awal aku ikuti dan masih aku ikuti hingga detik ini. BLURadio. Iya, radio kampus yang punya nama cukup besar di Jatinangor ini. Aku dulu mengikutinya memang hanya sekadar coba-coba, dan ingin belajar tentunya. Hingga detik ini aku menuliskannya, aku tidak pernah menyesal bergabung (walau masih tetap sering mengeluh). Karena, terlalu banyak hal telah aku pelajari selama aku di sana. Aku kini berani berbicara di depan umum, hingga memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi saat ini. Bahkan bisa dibilang aku mulai jatuh cinta dengan dunia broadcasting. Teman-teman seantero kampus, lintas jurusan, darimana lagi awal aku mengenal mereka kalau bukan dari sini. Seharusnya aku tidak mengeluh, ketika ada jadwal rapat, atau siaran. Dapat dikatakan bahwa, BLUR telah mengubah hidupku ke arah yang lebih baik, dan semampunya aku harus membalas kebaikannya.

Dulu saat SMA aku pernah mengikuti Teater juga, tapi rasanya jauh berbeda. Karena sejujurnya aku belum bisa merasakan kepemilikan, hanya sekadar nama saja. Aku tidak pernah menyesal mendaftarkan diri di teater jurusanku yang kecil (namun jumawa) ini. Awalnya memang sebal, karena terlalu banyak ketidakjelasan. Benar adanya, jika perubahan tidak dimulai dari diri sendiri, dari siapa lagi? Dan, itu terjadi. Lambat laun Mata Mawar kembali menjadi apa yang seharusnya telah ia gapai sebelumnya. Di sini, aku bisa melepaskan penatku. Menjadi rileks. Memainkan tokoh, yang sebelumnya hanya bisa aku rasakan dengan menuliskannya. Aku bisa berteriak-teriak dengan puas setelah Kelas Linguistik. Aku bisa menjadi gila, tanpa harus menjadi benar-benar gila. Aku bisa menjadi apa saja. Dan, di luar itu, aku juga menemukan kembali keluarga. Tapi, aku masih terlalu sering mengeluh. Padahal aku sudah cukup banyak mendapatkan pengalaman berharga sejauh ini, mulai dari tampil dari satu museum ke museum lain, hingga menjadi penjaga kampus yang berteriak-teriak di tengah keheningan malam. Seharusnya aku sadar, untuk mendapatkan sesuatu tentunya aku harus berkorban. Mengorbankan waktu untuk latihan terus dan terus, demi menjadi seorang aktris. Karena tidak ada seorang aktor atau aktris yang terlatih, namun adanya seorang aktor dan aktris yang sering berlatih, mengutip kata salah seorang senior tersayangku. Seharusnya aku paham akan hal itu, bukannya malah tetap mengeluh walaupun aku melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya aku keluhkan.

Terakhir, bukan kegiatan, tetapi organisasi. Badan Eksekutif Mahasiswa. Organisasi tingkat fakultas yang anggotanya mencapai ratusan, terdiri dari 10 jurusan yang ada di FIB. Walaupun terkadang aku merasa sangat “kecil” di sini, tetapi aku sampai detik ini (lagi) tidak menyesal. Dan ketika aku sanggup mengatakan hal tersebut, sekali lagi seharusnya aku tidak mengeluh terlalu banyak mengenai banyak hal terkait. Maksudku, ketika aku tergabung dengan Departemen yang tidak pernah berhenti membuatku merasa bahagia, kenapa aku masih tega-teganya mengeluh kepada semesta? Di sini aku masuk di Departemen yang menjadi representasi dari lembaga itu sendiri, dan aku menjadi presenter dalam program yang memberikan informasi mengenai kegiatan dari BEM Gama FIB Unpad. Seperti yang telah aku katakan tadi bahwa aku mulai menyukai dunia broadcasting, dan entah mengapa aku menjadi suka berpose di depan kamera yang bahkan seringkali diperhatikan oleh orang banyak. Bukankah ini menjadi salah satu wadahku untuk belajar dan berkembang? Di sisi lain, keluarga baruku ini, mereka yang aku ajak kerjasama selama satu tahun kepengurusan, adalah orang-orang hebat yang tidak sombong, baik hati, mau berbagi ilmu, dan tidak menusuk dari belakang. Apalagi bosku (yang ada dua, di departemen dan divisi – dan kepala organisasinya juga sih, but yaudahlahya), adalah orang-orang yang ah… aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa, sebegitu baiknya mereka padaku, sebegitu pengertian. Sejauh ini aku merasa nyaman dan bahagia bersama mereka, bahkan sampai aku terlalu bacot di grup, dan tidak tahu malu untuk sekadar joget-joget di hadapan mereka dan memenuhi memori kamera dengan tampangku yang seadanya ini. Mereka mampu membuatku tidak tertekan dengan pekerjaan yang ada, apapun itu kami tanggung bersama. Dan, setahuku, mereka masih mau menerimaku apa adanya (walaupun tida ada apa-apanya), lalu mengapa aku masih mengeluh juga?

Sepantasnya aku tidak boleh mengeluh, aku telah melakukan segala yang aku sukai, dan aku telah memilih untuk melakukannya.

Aku suka sastra, aku masuk sastra. Aku suka Jerman, aku belajar bahasa dan tentang Jerman. Aku suka menulis, aku menulis. Aku suka berbicara, aku jadi announcer dan jadi presenter. Aku suka mendengar, aku mendengarkan curahan hati orang terdekatku. Aku suka berteater, aku berteater. Aku suka bersosialisasi, aku berkenalan dan berteman dengan banyak orang. Aku suka bermain sosial media, aku masuk Departemen Media dan Informasi. Aku suka jalan-jalan, aku menyiapkan rencana untuk jalan-jalan. Aku bahagia. Seharusnya aku menyadari itu.

Dengan menuliskan semua ini, aku berharap aku akan menjadi lebih positif lagi. Mengurangi mengeluh yang tidak berguna, dan melakukan hal-hal yang aku sukai dan membuatku bahagia. Meninggalkan orang-orang yang hanya membawa energi negatif ke dalam hidupku, dan berteman dengan orang-orang baik. Tentunya, menjadi manusia yang lebih memanusiakan manusia lainnya dengan cara berdamai terlebih dahulu dengan dirinya sendiri.

Hai.

Namaku Zhinta, dan di awal bulan Maret ini aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih positif. Di akhir bulan Maret ini, aku menuliskannya, agar kelak janji ini menjadi abadi, dan akan kutepati.

 

Jatinangor, 31 Maret 2017 11:55.

A Letter to My-12 Years Old-self

Dearest my-12 years old-self,
it has been circa 8 years since the past I barely wanted to talk about, the most depressive year we have ever experienced in our almost 20 years life. And that was you on the picture, the old me. The “little” — well couldn’t say so since you were taller than most of the girls your age — girl who had no idea about what life was gonna do to bring her down, changing her life since then.

When I looked back to the past — which I rarely do, I realized how much I have changed (in a better way, of course). How I used to hate my life, myself — including my body — the most. I used to be the most dedicated hater on my own world.

Have I stopped then?

No.

Not yet, yet right now I am also trying hard — really — to love my whole self.

But, congratulations that you did survive. Life was, is, and will always be shit to us, but you did a good job that we’re still alive till I’m 20 (in 6 months). And there is this one most important thing you should’ve known, I love you — with all my heart. Eventhough I know you were such a dumbass student, you were a potato face that no boy ever wanted, you had a resting bitch face who never really smiled, or whatever. No matter how talentless or useless you were back then, whatever, I love you.

I’m — really — sorry that I used to hate you, I’m ashamed of you and wanted you (somehow) to be forgotten.

Last but not least, let me say thank you. That you’ve made this so far. For being strong. For not letting the depression and suicidal thoughts win. For not giving up on our life. Thank you.

With tons of hugs and kisses,

your-8 years later-self. 💕

 

Untuk 30 Hari Bercerita #6

Sedikit Cerita di Hari Pertama Bulan Ketiga

Hari pertama di bulan ketiga tahun masehi ini jurusanku mengadakan sebuah kuliah umum yang memiliki tagline (atau apalah itu, aku kurang yakin dengan kata yang kupilih sebelumnya) cukup menarik bagiku yaitu Die Qualität deiner Kommunikation bestimmt die Qualität deines Leben. Masalah yang akan dibahas di sini oleh narasumber yang bergelar Sarjana Hukum, Bapak Muhd. Firman Hidayat, adalah “Krisis Kesantunan dalam Interaksi Akademis di Perguruan Tinggi”. Tapi, sejujurnya bukan hal tersebutlah yang menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

1 Maret, juga merupakan hari ulang tahun salah satu dosen prodi Sastra Jerman. Itulah mengapa di saat acara baru saja dipindah alihkan dari MC ke moderator, nyanyian Zum Geburtstag viel Glück memenuhi ruangan aula Pusat Studi Bahasa Jepang, tempat kuliah umum diadakan. Bahkan saat acara telah selesai dan plakat sudah berada di tangan narasumber dan moderator, sebuah selebrasi kecil-kecilan kembali diadakan. Kali ini oleh beberapa mahasiswa angkatan 2016 yang merupakan mahasiswa wali dari Dr. phil. N. Rinaju Purnomowulan. Dan, untuk yang kedua kalinya lagu Selamat Ulang Tahun versi bahasa Jerman kembali berkumandang. Dapat dirasakan bahwa Bu Wulan sangat bahagia karena hal tersebut terpancar dari air muka beliau dan juga ucapan terima kasih yang terucap cukup terbata, bahkan cenderung tidak mampu berkata-kata. Tapi (lagi), sejujurnya bukan hal tersebutlah yang sepenuhnya menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

Menginjak semester keempat aku menimba ilmu di sini, aku ingat betul bahwa pertama kali aku mengenal sosok Bu Wulan pada saat aku masih berstatus mahasiswa baru. Semester pertamaku di mata kuliah Interkulturelle Landeskunde lah aku bertemu dengan beliau. Aku ingat, tugas pertama yang diberikan beliau adalah mempresentasikan provinsi-provinsi di Indonesia dengan Bundesländer di Jerman. Hamburg, adalah Bundesland yang kebetulan menjadi bagian yang harus aku presentasikan (dan proud to say that I once have been there eventhough only for a day). Pada masa itu, aku masih sangat membenci kegiatan presentasi. Untuk berdiri di depan banyak orang dan berbicara atau membawakan materi merupakan suatu hal yang sangat aku hindari. Sebagai seorang yang penakut (dan tidak percaya diri), aku gugup. Sebegitu gugupnya aku hingga aku melakukan suatu kebodohan konyol yang hingga saat ini masih aku ingat dengan jelasn bagaimana aku mengatakan bahwa Hamburger berasal dari Hamburg (atau apa, aku lupa sejujurnya, tapi kurang lebih seperti itu). Sebuah fun fact asal ceplos yang kusebutkan, karena saking gugupnya aku. Di tengah presentasi, sebelum aku semakin ngaco dengan omonganku, beliau memberitahu kepada kelas fakta yang benarnya. Saat itu, aku hanya bisa berdiri setengah gemetar dan nyengir kuda karena “ngide”.

Hmh.

Suka ingin throwback sendiri kalau begini. Apalagi bahas jaman masih berstatus sebagai mahasiswa baru alias maba.

Lupakan.

Kembali lagi ke pembicaraan awal.

Setelah beberapa kali kuliah dengan Bu Wulan, beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa mengajar selama kurang lebih satu bulan ke depan dan akan digantikan oleh dosen lainnya. Alasannya adalah beliau diundang ke Frankfurt Book Fair 2015 atas buku cerita anak karya beliau yang baru saja diterbitkan. Melati im Land des Fußballweltmeisters, begitu judulnya. Aku, yang saat itu tengah tidak produktif menulis, seketika kembali terbakar lagi semangatnya. Apalagi setelah mengetahui bahwa salah seorang pendidikku sebegitu kerennya.

Semenjak itu aku tidak lagi merinding yang disebabkan oleh teringat akan mata kuliah yang diampu saat mendengarkan nama beliau, tetapi akan “kekerenan” beliau.

Tulisan ini sejujurnya stuck sampai di sini. Dikarenakan aku hanya sedikit mengenal beliau. Hanya satu mata kuliah yang kuambil sejauh 4 semester ini yang diampu oleh beliau, dan yang entah bagaimana bisa aku mendapatkan nilai sempurna di Ujian Akhir Semester. Tetapi, aku masih sebegitu kagumnya dengan beliau. Karena aku menyukai orang-orang yang pintar dan gemar menulis, secara general. Sebegitunya.

Dan, hari ini aku senang (walaupun banyak esai-esai untuk lamaran beasiswa yang menunggu untuk diselesaikan) dan butuh untuk “memuntahkan” segala perasaan dan pikiran. Mengingat-ingat kembali lembaran lalu, dan menyatukannya dengan lembaran baru. #ea

Jadi, begitulah. Aku kehabisan kata-kata. Akhir dari cerita ini aku ingin mengatakan bahwa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Bahwa sebelum aku menyandang gelar Sarjana Humaniora di belakang nama Nareswari, aku akan menyelesaikan sebuah buku karyaku dalam bahasa Jerman. Entah itu kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel, komik, atau kompilasi dari semua itu.

Untuk semua yang menyempatkan diri membaca kisahku hari ini, tolong ingatkan dan tagihlah janjiku yang tertulis hari ini. Terima kasih.

14883502308851488350228780

Sekali lagi, herzlichen Glückwunsch zum Geburtstag, liebe Frau Purnomowulan dosen panutanq”.

PS : ini bahagia parah bisa selfie bareng dengan beliau *inserts crying in happiness emoji here*

1488380235510