Refleksi Diri 2 SKS

Hai.

Di umurku yang hampir kepala dua ini, ada satu hal yang paling sering kulakukan sepanjang hidupku ini. Mengeluh. Percaya atau tidak, dalam satu hari aku bisa lebih dari sepuluh kali mengeluh mengenai hidupku, dan apapun itu.

Terdengar seperti seseorang yang tidak bersyukur memang, tapi bukankah itu wajar sebagai seorang manusia yang pada dasarnya selalu merasa kurang? Ah, itu hanyalah pembelaanku saja.

Jadi, hari ini aku tidak ada UTS. Aku selalu suka hari Jumat, karena artinya besok dan lusa adalah akhir minggu, yang mana aku bisa setidaknya rehat sejenak dari kegiatanku. Selain itu, satu hal di semester ini yang menjadi bagian favoritku adalah, hanya ada satu kelas di hari ini. Walaupun memang kelasnya di pagi-pagi buta, yaitu pukul setengah 8. Tak apa, selama mata kuliahnya adalah salah satu favoritku, Sastra.

Rasanya aku sudah terlalu sering berkeluh kesah dalam tulisanku, dalam keluhan tersebut aku merasa tidak menularkan energi positif pada orang yang membacanya (jika ada). Maka, sepanjang perjalanan seusai latihan teater beberapa saat tadi, aku sedikit merenung sendiri, mengapa sih aku hobi sekali mengeluh?

Terkadang aku melakukan kilas balik terhadap kehidupanku yang sekarang. Tidak terlalu indah, memang. Tetapi aku cukup bahagia.

Aku sekarang tengah menempuh semester keempat. Aku seringkali mengeluh setiap membuka mata di pagi hari, “Kuliah lagi?”. Rasanya tidurku kurang, badanku sakit semua, pikiranku keruh, emosiku berantakan, dan aku masih harus ke kampus dan menimba ilmu lagi. Semesta memaksaku bangun pagi tiga hari dalam seminggu, dari Rabu sampai Jumat, untuk kelas 07:30. Patutkah aku mengeluh? Jika apa yang aku kerjakan sekarang adalah sesuatu hal yang sudah kudambakan sejak lama, dan demi mendapatkannya aku rela mengorbankan banyak hal. Sungguh keterlaluan jika sekarang aku masih lebih sering mengeluh daripada teman-temanku yang “terdampar” di sini. Ya, memang, ini pilihan keduaku. Aku sampai detik ini masih menginginkan menjadi bagian dari Sastra Jerman UI, tetapi tidak terlalu buruk juga terlempar jauh ke Jatinangor ini. Setidaknya, aku tetap belajar di Sastra Jerman, kan? Mempelajari bahasa yang telah membuatku jatuh cinta lagi, dan mempelajari sastra yang kusuka sejak satu dekade lalu.

Linguistik itu sulit, mengapa di Sastra aku harus tetap mempelajari Linguistik juga? Pernah aku berpikiran seperti itu, dan nyaris memberanikan diri untuk menghadap dosen waliku, ingin melepas mata kuliah Linguistik yang bobotnya 4 sks. Sebegitu lelah dan mudah menyerahnya aku, syukurlah itu tidak sampai hati kulakukan. Walau sulit dan terkadang aku ingin berteriak sekencang-kencangnya saat terpaksa menghadapinya, beberapa saat lalu ketika aku “benar-benar” belajar, aku menyadari bahwa sebenarnya Linguistik pun menyenangkan. Dan memiliki kaitan erat dengan Sastra, tentunya. Aku menjadi kurang setuju dengan pendapat orang-orang yang berkata bahwa Linguistik adalah pelarian dari Sastra yang sulit, well walaupun memang begitu kenyataannya jika ilmu Sastra sendiri lebih abstrak sehingga menjadikannya lebih sulit untuk diterka sedangkan Linguistik lebih eksakta. Dengan “terpaksa” mempelajari Linguistik, aku jadi tahu bagaimana suatu kata bisa tercetuskan, dan memilahnya menjadi bagian-bagian tertentu. Aku bisa semakin lihai merangkai kalimat dengan mempelajari bagaimana cara membangun struktur kalimat yang tepat. Aku bisa merasakan pusingnya menganalisa dan membangun kata, hingga menjadi kalimat, yang akhirnya terpadu menjadi paragraf dalam artikel yang sering kubuat demi menunaikan tugas baik dalam akademik maupun organisasi. Aku juga menjadi semakin paham, bagaimana bahasa dan kata-kata itu memiliki kekuatan yang sangat kuat. Lalu mengutip salah seorang dosen Linguistik yang mengajariku Linguistik Dasar di semester lalu, bahwa dengan mempelajari Sastra (dan Linguistik, pastinya) kami-kami ini para calon Sarjana Humaniora, akan menjadi manusia yang lebih humanis di kemudian hari. Dan, hal tersebutlah yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Ah, lihat kan. Aku terlalu sering mengeluh mengenai kehidupanku di kampus, padahal jika aku tuliskan lagi, hidupku saat ini merupakan hidup yang aku dambakan sejak beberapa tahun silam.

Sering setelah selesai kelas, aku mengeluh, lagi. “Kenapa harus tetap stay di kampus, sih?” atau ketika ada jeda waktu beberapa saat, dan aku sempat kembali ke kosan, maka aku akan kembali mengeluh “Kenapa aku harus balik lagi ke kampus, sih?”. Memang, ya. Payah.

Jika dipikir-pikir, memang waktu terlalu banyak aku habiskan di kampus belakangan ini. Hingga membuat keadaan kamarku bagaikan kapal pecah yang porak poranda, aku hanya sanggup segera beristirahat ketika menginjakkan kaki di kosan. Sudah terlalu lelah secara fisik dan mental setelah berkegiatan seharian penuh di kampus. Dan sedihnya lagi, aku belum menjadi apa-apa. H a h a.

Tetapi walaupun begitu, harusnya aku ingat, bahwa hal-hal yang aku lakukan tersebut adalah atas kemauanku sendiri. Dari dua kegiatan dan satu organisasi yang aku ikuti (iya, aku sedang jenuh dengan kepanitiaan sehingga memilih untuk tidak ikut), ketiganya adalah semua yang aku senangi.

Aku ingin menyebutkan di tempat pertama, UKM yang paling awal aku ikuti dan masih aku ikuti hingga detik ini. BLURadio. Iya, radio kampus yang punya nama cukup besar di Jatinangor ini. Aku dulu mengikutinya memang hanya sekadar coba-coba, dan ingin belajar tentunya. Hingga detik ini aku menuliskannya, aku tidak pernah menyesal bergabung (walau masih tetap sering mengeluh). Karena, terlalu banyak hal telah aku pelajari selama aku di sana. Aku kini berani berbicara di depan umum, hingga memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi saat ini. Bahkan bisa dibilang aku mulai jatuh cinta dengan dunia broadcasting. Teman-teman seantero kampus, lintas jurusan, darimana lagi awal aku mengenal mereka kalau bukan dari sini. Seharusnya aku tidak mengeluh, ketika ada jadwal rapat, atau siaran. Dapat dikatakan bahwa, BLUR telah mengubah hidupku ke arah yang lebih baik, dan semampunya aku harus membalas kebaikannya.

Dulu saat SMA aku pernah mengikuti Teater juga, tapi rasanya jauh berbeda. Karena sejujurnya aku belum bisa merasakan kepemilikan, hanya sekadar nama saja. Aku tidak pernah menyesal mendaftarkan diri di teater jurusanku yang kecil (namun jumawa) ini. Awalnya memang sebal, karena terlalu banyak ketidakjelasan. Benar adanya, jika perubahan tidak dimulai dari diri sendiri, dari siapa lagi? Dan, itu terjadi. Lambat laun Mata Mawar kembali menjadi apa yang seharusnya telah ia gapai sebelumnya. Di sini, aku bisa melepaskan penatku. Menjadi rileks. Memainkan tokoh, yang sebelumnya hanya bisa aku rasakan dengan menuliskannya. Aku bisa berteriak-teriak dengan puas setelah Kelas Linguistik. Aku bisa menjadi gila, tanpa harus menjadi benar-benar gila. Aku bisa menjadi apa saja. Dan, di luar itu, aku juga menemukan kembali keluarga. Tapi, aku masih terlalu sering mengeluh. Padahal aku sudah cukup banyak mendapatkan pengalaman berharga sejauh ini, mulai dari tampil dari satu museum ke museum lain, hingga menjadi penjaga kampus yang berteriak-teriak di tengah keheningan malam. Seharusnya aku sadar, untuk mendapatkan sesuatu tentunya aku harus berkorban. Mengorbankan waktu untuk latihan terus dan terus, demi menjadi seorang aktris. Karena tidak ada seorang aktor atau aktris yang terlatih, namun adanya seorang aktor dan aktris yang sering berlatih, mengutip kata salah seorang senior tersayangku. Seharusnya aku paham akan hal itu, bukannya malah tetap mengeluh walaupun aku melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya aku keluhkan.

Terakhir, bukan kegiatan, tetapi organisasi. Badan Eksekutif Mahasiswa. Organisasi tingkat fakultas yang anggotanya mencapai ratusan, terdiri dari 10 jurusan yang ada di FIB. Walaupun terkadang aku merasa sangat “kecil” di sini, tetapi aku sampai detik ini (lagi) tidak menyesal. Dan ketika aku sanggup mengatakan hal tersebut, sekali lagi seharusnya aku tidak mengeluh terlalu banyak mengenai banyak hal terkait. Maksudku, ketika aku tergabung dengan Departemen yang tidak pernah berhenti membuatku merasa bahagia, kenapa aku masih tega-teganya mengeluh kepada semesta? Di sini aku masuk di Departemen yang menjadi representasi dari lembaga itu sendiri, dan aku menjadi presenter dalam program yang memberikan informasi mengenai kegiatan dari BEM Gama FIB Unpad. Seperti yang telah aku katakan tadi bahwa aku mulai menyukai dunia broadcasting, dan entah mengapa aku menjadi suka berpose di depan kamera yang bahkan seringkali diperhatikan oleh orang banyak. Bukankah ini menjadi salah satu wadahku untuk belajar dan berkembang? Di sisi lain, keluarga baruku ini, mereka yang aku ajak kerjasama selama satu tahun kepengurusan, adalah orang-orang hebat yang tidak sombong, baik hati, mau berbagi ilmu, dan tidak menusuk dari belakang. Apalagi bosku (yang ada dua, di departemen dan divisi – dan kepala organisasinya juga sih, but yaudahlahya), adalah orang-orang yang ah… aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa, sebegitu baiknya mereka padaku, sebegitu pengertian. Sejauh ini aku merasa nyaman dan bahagia bersama mereka, bahkan sampai aku terlalu bacot di grup, dan tidak tahu malu untuk sekadar joget-joget di hadapan mereka dan memenuhi memori kamera dengan tampangku yang seadanya ini. Mereka mampu membuatku tidak tertekan dengan pekerjaan yang ada, apapun itu kami tanggung bersama. Dan, setahuku, mereka masih mau menerimaku apa adanya (walaupun tida ada apa-apanya), lalu mengapa aku masih mengeluh juga?

Sepantasnya aku tidak boleh mengeluh, aku telah melakukan segala yang aku sukai, dan aku telah memilih untuk melakukannya.

Aku suka sastra, aku masuk sastra. Aku suka Jerman, aku belajar bahasa dan tentang Jerman. Aku suka menulis, aku menulis. Aku suka berbicara, aku jadi announcer dan jadi presenter. Aku suka mendengar, aku mendengarkan curahan hati orang terdekatku. Aku suka berteater, aku berteater. Aku suka bersosialisasi, aku berkenalan dan berteman dengan banyak orang. Aku suka bermain sosial media, aku masuk Departemen Media dan Informasi. Aku suka jalan-jalan, aku menyiapkan rencana untuk jalan-jalan. Aku bahagia. Seharusnya aku menyadari itu.

Dengan menuliskan semua ini, aku berharap aku akan menjadi lebih positif lagi. Mengurangi mengeluh yang tidak berguna, dan melakukan hal-hal yang aku sukai dan membuatku bahagia. Meninggalkan orang-orang yang hanya membawa energi negatif ke dalam hidupku, dan berteman dengan orang-orang baik. Tentunya, menjadi manusia yang lebih memanusiakan manusia lainnya dengan cara berdamai terlebih dahulu dengan dirinya sendiri.

Hai.

Namaku Zhinta, dan di awal bulan Maret ini aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih positif. Di akhir bulan Maret ini, aku menuliskannya, agar kelak janji ini menjadi abadi, dan akan kutepati.

 

Jatinangor, 31 Maret 2017 11:55.

A Letter to My-12 Years Old-self

Dearest my-12 years old-self,
it has been circa 8 years since the past I barely wanted to talk about, the most depressive year we have ever experienced in our almost 20 years life. And that was you on the picture, the old me. The “little” — well couldn’t say so since you were taller than most of the girls your age — girl who had no idea about what life was gonna do to bring her down, changing her life since then.

When I looked back to the past — which I rarely do, I realized how much I have changed (in a better way, of course). How I used to hate my life, myself — including my body — the most. I used to be the most dedicated hater on my own world.

Have I stopped then?

No.

Not yet, yet right now I am also trying hard — really — to love my whole self.

But, congratulations that you did survive. Life was, is, and will always be shit to us, but you did a good job that we’re still alive till I’m 20 (in 6 months). And there is this one most important thing you should’ve known, I love you — with all my heart. Eventhough I know you were such a dumbass student, you were a potato face that no boy ever wanted, you had a resting bitch face who never really smiled, or whatever. No matter how talentless or useless you were back then, whatever, I love you.

I’m — really — sorry that I used to hate you, I’m ashamed of you and wanted you (somehow) to be forgotten.

Last but not least, let me say thank you. That you’ve made this so far. For being strong. For not letting the depression and suicidal thoughts win. For not giving up on our life. Thank you.

With tons of hugs and kisses,

your-8 years later-self. 💕

 

Untuk 30 Hari Bercerita #6

Sedikit Cerita di Hari Pertama Bulan Ketiga

Hari pertama di bulan ketiga tahun masehi ini jurusanku mengadakan sebuah kuliah umum yang memiliki tagline (atau apalah itu, aku kurang yakin dengan kata yang kupilih sebelumnya) cukup menarik bagiku yaitu Die Qualität deiner Kommunikation bestimmt die Qualität deines Leben. Masalah yang akan dibahas di sini oleh narasumber yang bergelar Sarjana Hukum, Bapak Muhd. Firman Hidayat, adalah “Krisis Kesantunan dalam Interaksi Akademis di Perguruan Tinggi”. Tapi, sejujurnya bukan hal tersebutlah yang menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

1 Maret, juga merupakan hari ulang tahun salah satu dosen prodi Sastra Jerman. Itulah mengapa di saat acara baru saja dipindah alihkan dari MC ke moderator, nyanyian Zum Geburtstag viel Glück memenuhi ruangan aula Pusat Studi Bahasa Jepang, tempat kuliah umum diadakan. Bahkan saat acara telah selesai dan plakat sudah berada di tangan narasumber dan moderator, sebuah selebrasi kecil-kecilan kembali diadakan. Kali ini oleh beberapa mahasiswa angkatan 2016 yang merupakan mahasiswa wali dari Dr. phil. N. Rinaju Purnomowulan. Dan, untuk yang kedua kalinya lagu Selamat Ulang Tahun versi bahasa Jerman kembali berkumandang. Dapat dirasakan bahwa Bu Wulan sangat bahagia karena hal tersebut terpancar dari air muka beliau dan juga ucapan terima kasih yang terucap cukup terbata, bahkan cenderung tidak mampu berkata-kata. Tapi (lagi), sejujurnya bukan hal tersebutlah yang sepenuhnya menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

Menginjak semester keempat aku menimba ilmu di sini, aku ingat betul bahwa pertama kali aku mengenal sosok Bu Wulan pada saat aku masih berstatus mahasiswa baru. Semester pertamaku di mata kuliah Interkulturelle Landeskunde lah aku bertemu dengan beliau. Aku ingat, tugas pertama yang diberikan beliau adalah mempresentasikan provinsi-provinsi di Indonesia dengan Bundesländer di Jerman. Hamburg, adalah Bundesland yang kebetulan menjadi bagian yang harus aku presentasikan (dan proud to say that I once have been there eventhough only for a day). Pada masa itu, aku masih sangat membenci kegiatan presentasi. Untuk berdiri di depan banyak orang dan berbicara atau membawakan materi merupakan suatu hal yang sangat aku hindari. Sebagai seorang yang penakut (dan tidak percaya diri), aku gugup. Sebegitu gugupnya aku hingga aku melakukan suatu kebodohan konyol yang hingga saat ini masih aku ingat dengan jelasn bagaimana aku mengatakan bahwa Hamburger berasal dari Hamburg (atau apa, aku lupa sejujurnya, tapi kurang lebih seperti itu). Sebuah fun fact asal ceplos yang kusebutkan, karena saking gugupnya aku. Di tengah presentasi, sebelum aku semakin ngaco dengan omonganku, beliau memberitahu kepada kelas fakta yang benarnya. Saat itu, aku hanya bisa berdiri setengah gemetar dan nyengir kuda karena “ngide”.

Hmh.

Suka ingin throwback sendiri kalau begini. Apalagi bahas jaman masih berstatus sebagai mahasiswa baru alias maba.

Lupakan.

Kembali lagi ke pembicaraan awal.

Setelah beberapa kali kuliah dengan Bu Wulan, beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa mengajar selama kurang lebih satu bulan ke depan dan akan digantikan oleh dosen lainnya. Alasannya adalah beliau diundang ke Frankfurt Book Fair 2015 atas buku cerita anak karya beliau yang baru saja diterbitkan. Melati im Land des Fußballweltmeisters, begitu judulnya. Aku, yang saat itu tengah tidak produktif menulis, seketika kembali terbakar lagi semangatnya. Apalagi setelah mengetahui bahwa salah seorang pendidikku sebegitu kerennya.

Semenjak itu aku tidak lagi merinding yang disebabkan oleh teringat akan mata kuliah yang diampu saat mendengarkan nama beliau, tetapi akan “kekerenan” beliau.

Tulisan ini sejujurnya stuck sampai di sini. Dikarenakan aku hanya sedikit mengenal beliau. Hanya satu mata kuliah yang kuambil sejauh 4 semester ini yang diampu oleh beliau, dan yang entah bagaimana bisa aku mendapatkan nilai sempurna di Ujian Akhir Semester. Tetapi, aku masih sebegitu kagumnya dengan beliau. Karena aku menyukai orang-orang yang pintar dan gemar menulis, secara general. Sebegitunya.

Dan, hari ini aku senang (walaupun banyak esai-esai untuk lamaran beasiswa yang menunggu untuk diselesaikan) dan butuh untuk “memuntahkan” segala perasaan dan pikiran. Mengingat-ingat kembali lembaran lalu, dan menyatukannya dengan lembaran baru. #ea

Jadi, begitulah. Aku kehabisan kata-kata. Akhir dari cerita ini aku ingin mengatakan bahwa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Bahwa sebelum aku menyandang gelar Sarjana Humaniora di belakang nama Nareswari, aku akan menyelesaikan sebuah buku karyaku dalam bahasa Jerman. Entah itu kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel, komik, atau kompilasi dari semua itu.

Untuk semua yang menyempatkan diri membaca kisahku hari ini, tolong ingatkan dan tagihlah janjiku yang tertulis hari ini. Terima kasih.

14883502308851488350228780

Sekali lagi, herzlichen Glückwunsch zum Geburtstag, liebe Frau Purnomowulan dosen panutanq”.

PS : ini bahagia parah bisa selfie bareng dengan beliau *inserts crying in happiness emoji here*

1488380235510

Bisher Streng Geheim

geheimnis-2

Courtesy : google

Ich habe einen imaginären Freund, den auch mich selbst ist. Der ist die Stimme in meinem Kopf. Der ist immer wieder da, wenn ich im Abgrund in meinem Leben bin, oder wenn ich Stress habe, und auch wenn ich mich allein fühle. Es tötet mich in der Seele, es macht mir am schlechtesten fühlen.

Der Freund kam zuerst als ich 12 Jahre alt war, die schlechteste Vergangenheit meines Leben. Ich erzählte nie meiner Familie, denn ich weiβ, dass sie nie verstehen können. Darum denken sie bis heute, dass es mir alles OK geht.

Ich kann wie normalerweise lachen und lächeln, ich freue mich auf das Leben auch. Aber wenn er zu Besuch kommt, sind die Lachen und Lächeln weg. Die Sonne geht unter, die Nacht kommt ohne Zustimmung. Er ist zu stark, ich bin ängstlich. Ich bin ängstlich, dass ich eines Tages aufgeben werde. Ich habe auch Angst mit meiner Familie darüber zu sprechen.

Ich wunsche, dass ich stark genug bin, um mein Geheimnis zu bekämpfen, sodass dieses Geheimnis immer ein Geheimnis auf meiner Familie bleiben wird. Und sie weiβ gar nichts, dass ich massiven Problem mit mir selbst habe, in einigen vergangenen Jahren zu leben.

geheimnis-3

A note to self.

Little Things Happiness

bl

Courtesy : google.

Hi!

Been missing blogging since forever, damn it. No, I’m not kidding.

Though that last month I did the whole 30 days writing — or should I say mini blogging, on Instagram. It still does feel different.

Yes, I’m going to re-post every single thing that I’ve written for the 30 Hari Bercerita here as I have told ya on Instagram. But… I guess it’ll take time since I’ve been not feeling well. Started this Monday, I think I’ve been having “homesick”. Yes, that’s the sickness I’m currently having, the typical “I’m sick, and I’m missing home”.

Let’s just skip that part.

This whole day I’ve been feeling soooooo happy. Like there were tons of little happiness happened this day, and I have no idea why therefore I’m feeling grateful. Guess what? I couldn’t even remember when was the last time I felt grateful at all.

First of all, I had this Rapat Kerja BEM GAMA FIB Unpad Kabinet Arthasastra at 8am. But, since most of the people came late (typical Indonesians *sighs* though me too) it had to be postponed. And, it began on around 9-ish am. I usually don’t like this kind of thing, like for God’s sake I always had this feeling that I will only spend my precious time doing nothing while listening to something I don’t really understand. But today, somehow something has changed my perspective. I might say, that I did enjoy having such 7-8 hours meeting with tons of people that I haven’t known much.

The situation of Rapat Kerja BEM GAMA FIB Unpad Kabinet Arthasastra.

A little sneak peek for the first episode of Kabar Budaya this year.

wp-image-874815906jpg.jpg

I did an interview with the President of BEM GAMA FIB Unpad Kabinet Arthasastra.

Why so? I started to like the people in my department. Like, I enjoy being around them. They are fun. And they could make me feel like I belong there, and help me to find my comfort zone in the organization. Isn’t it just nice?

I was a little scared though, for the shit I’ve been through in these past three months. That I wouldn’t be able to find other “fine” circles, those I might call as home. Though for God’s sake, that’s like the most thing that I looked for since I touched down in Jatinangor, far far away from my real home. My family.

We took pictures then for the ID card after Raker, while there were only 7 of us. It took only approximately 15 minutes to get the pictures, but since we had a lot of fun it took longer, of course. But, the time is well spent, indeed. We laughed a lot, and it just feels like I have known them forever. Damn it, I’m not exaggerating.

7 out of 16, Media and Information Department BEM GAMA FIB Unpad Kabinet Arthasastra.

The crew from left to right : Radit, Saffira, me, Fira, Indah, Lumma, and Akbar.

wp-image-2009161826jpg.jpg

Oh. During the Salat Jumat + lunch break, I had like an hour conversation with a really really really lovely Senior. Her name’s Elsa. I once wrote a part in 30 Hari Bercerita inspired by the picture she tagged me on Instagram. She motivated me a lot, and she helps me somehow to believe in myself, and to start loving myself. Maybe, that’s what I need the most recently, since like I’m having such a mental breakdown for something I shouldn’t really be bothered. She’s just so inspiring. How could she not? When after having only an hour-ish  conversation with her, I kinda had a little promise to myself, that I will start to learn to love myself much more. I mean, how do I dare to ask the others to love me, when I haven’t even loved myself at all? That’s silly.

And because of that, when I got back home. I looked up to the mirror, and I learned how to tell the reflection that I saw on the mirror, that “you rock, girl”. Yes, I rock. “You’re the God of yourself, you don’t need validation from others. Do not ever let anyone control you and stop you from doing what you love. Fuck it.” Eventhough that wasn’t exactly what she told me, just pretend that it’s. *laughs*

When I started to enjoy looking at my-imperfectly-perfect-self reflection on the mirror, someone call me on LINE. It’s Bang Ridwan, a Senior fellow on my trio multiplechat with Irza. He asked me where I was, and he told me that he needed to talk to me about something serious, and also asked me where Irza was. Little did I know they came together, both of them, in front of my place. What? How? I have no idea. The thing that I knew was that Irza gave me a bag full of chocolate, nah, not really. It’s a plastic bag with a three chocolate bars, like three?!

The three freaking bars of chocolate the Infidels gave me as a “get well soon” snack.

And in the end they told me that they wanted to see me, because I’m being not so well since this Monday. Of course, we had like a two hours-ish conversation before. Though that they said they would only be here for minutes, when I told them I didn’t want to see anyone after Raker because it drains out my  energy and I needed to recharge. But, whatever. At least we had fun, talking about nothing.

Bang Ridwan (the senior) and Irza (the junior) of the Infidels group.

These words above were dedicated to those who just made my day, although I don’t know if any of them would bother to read this. Thank you. You guys might not notice how these little things you did make me this happy. ❤

xoxo,

deine Schatzi.

a12a89c6977728cb117a268d2d0d6881

Courtesy : pinterest.

What I Did, What I Got, What I Achieved on 2016

Hey, Schatz! Happy happy happy happy new year!

*draft ini aku tulis sebelum perjalanan panjangku menuju rumah, saat tulisan ini terunggah 99,9% kemungkinan bahwa aku sedang menikmati pergantian tahun di kota romantis, Yogyakarta, bersama seorang teman yang tidak romantis.*

2016 sudah berakhir nih, dan seperti tahun sebelumnya nih aku akan menuliskan tentang What to do, what to get and what to achieve on 2015 (https://deineschatzi.wordpress.com/2015/12/30/what-i-did-what-i-got-what-i-achieved-on-2015/). Kenapa baru aku tuliskan di penghujung tahun? Ah rasanya sudah pernah aku ceritakan sebelumnya. Untuk membaca tulisan mengenai tahun sebelumnya bisa cek link ini yaaa *wink* *wink*

List tahun ini akan sangat panjang, sangat. Pakai capslock dan bold, SANGAT.

Jadi, kalau tidak ada yang berkenan untuk membacanya, ya rapopo. Karena sejujurnya tulisan ini aku tulis dan unggah hanya sebagai refleksi diri saja ke depannya, aku berharap untuk menjadi lebih baik. Versi yang lebih baik dari diriku pada saat ini. Aku lelah dianggap remeh terus. Oke, bagian yang itu hanya pelampiasan kekecewaanku yang sangat mendalam di akhir tahun ini. :))

So, here it goes…

  1. IPK minimal 3.00

Ya, mungkin karena ‘harapan’ pertamaku di tahun 2016 ini ada seseorang di luar sana yang mengecapku sebagai seorang yang sangat ambisius akan nilai dan sangat menomorsatukan nilai. Oh wow, tentu saja aku menomorsatukan nilai, dan kuliahku tentu saja. Tapi jangan khawatir, aku sanggup kok mempertanggungjawabkan nilai-nilai yang tertera di PAUS ID sana. Ya, mungkin terkecuali beberapa nilai mata kuliah umum yang entah bagaimana caranya bisa berakhir dengan nilai A. Tapi satu yang ingin kupertegas di sini, aku jauh-jauh ‘dikirim’ ke Jatinangor ya untuk kuliah, menimba ilmu. Dan walaupun aku tipe yang kurang suka dengan sistem ‘nilai’, tetapi nilai tersebut sendiri memiliki pengaruh yang cukup besar bagi diriku menilai usahaku, dalam belajar tentunya. So, daripada kamu mengurusi aku (maaf ya, aku bisa mengurusi diriku sendiri) lebih baik urusi saja dirimu sendiri, dan akademikmu, mungkin?

Huft. Celotehan di atas itu, bridging yang sangat tidak penting. Tapi aku sebal, sungguh. Ada saja yang mengecapku seperti itu, h a h a. Bodo amat lah. Yang penting ‘nomor 1’ ini tercapai 😉 dengan angka > 3.50, dan yang lebih penting aku dapat mempertanggungjawabkan nilai tersebut.

  1. Try Monbukagakusho

Nah ini, tahun ini aku mencoba Monbu lagi untuk yang kedua kalinya. Seleksi berkas? Ya.. karena tahun lalu aku lulus, syukurnya tahun ini aku bisa lulus juga. Walaupun banyak sekali berkas-berkas tahun lalu yang aku ‘daur ulang’, e h e. Yang bagian itu jangan dibilang ke pihak Monbu-nya ya, psst. Setelah seleksi berkas, ada seleksi tulis. Sama seperti tahun lalu, aku niat tidak niat untuk menjalaninya. Tapi, parahnya tahun ini aku sangaaaaaaaaaaat tidak niat. Belajar sedikitpun tidak, bayangkan. Aku merasa cukup berdosa untuk sejahat ini mengambil kesempatan orang-orang yang memang sangat menginginkan beasiswa pemerintah Jepang ini. Maafkan aku.

Di tes tulis Monbu kemarin aku cukup menikmati waktu dengan beberapa teman baru, kurang dari sepuluh orang, dan itulah yang membuat kami semua cepat akrab. Sayang oh sayang, keakraban kami berhenti sampai di sana saja. Tidak seperti saat tes wawancara Monbu 2016, aku bahkan masih keep in touch dengan dua orang teman via sosial media.

Dan ya, untuk kali ini perjuanganku terhenti hanya sampai tes tulis. Aku tidak lolos untuk ke tes wawancara, aku memakluminya karena akupun tidak serius belajar h e h e.

  1. Tes B1 sebelum tengah tahun dan lulus

Bahkan ya, sampai detik ini aku masih belajar sampai tengah B1. Jadi… boro-boro, aku sejujurnya belum merasa sanggup dan siap. Tapi tunggu saja tahun depan, ya! I’ll be ready. *wink*

  1. Belajar bahasa Rusia

Kemarin itu aku sempat ikut suatu klub bahasa gitu, tapi berbayar karena pakai tutor walaupun tutornya masih seorang mahasiswa dan anak FIB juga. Tetapi karena ada suatu masalah pribadi dan ketidakcocokan jadwal, jadinya aku tidak melanjutkan belajar bahasa Rusia. Sampai saat ini aku masih tertarik untuk belajar bahasa unik ini, mungkin ke depannya aku akan minta diajari oleh seorang teman dari jurusan yang bersangkutan saja lah. Huft.

  1. Aktif di BLURadio

Selama satu tahun bergabung di tim On Air BLUR, aku sempat menjadi announcer Blur Belajar Budaya pada semester genap 2016, di Ladies Parking pada semester ganjil 2016, dan menjadi produser dari Diorama (Dua Jam Ngobrolin Asmara) selama dua semester.

Untuk di program kerja BLUR sendiri, aku bisa mengatakan bahwa aku cukup aktif. Tahun ini aku berkesempatan untuk membantu dengan menjadi sekretaris di Perjamuan Frekuensi 7, sekretaris Open Recruitment Frekuensi 8, contact person Bekal.fm 1 dan 2, dan bendahara seminar & talkshow Creativepreneur.

  1. Aktif dan tampil di Mata Mawar

Akhirnya aku tampil perdana teater, gengs. Akhirnya… walaupun hanya pementasan ala-ala, tetapi tetap saja. *inserts cries in happiness emoji here* Jadi, kemarin Mata Mawar diminta untuk tampil di penutupan Olimpiadi Geologi Indonesia di Museum Geologi pada akhir bulan November 2016. Dan aku diberi kesempatan oleh ketua Mata Mawar yang saat itu menjabat, dan juga sebagai asisten sutradara untuk menjadi pemeran utama di pementasan yang berjudul “Arah Mata Angin”. Di sana aku menjadi Timur alias Indonesia. Lucunya, saat di atas panggung ada peserta lomba aka penonton yang mengiraku sebagai seorang lelaki. Ah, sebegitu maskulinnya kah aku? Pfft.

Beberapa waktu lalu, aku juga sempat mewakili Mata Mawar yang diundang di acara Natal KBK FIB Unpad 2016. Membacakan puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul Kerendahan Hati.

Mata Mawar kemarin-kemarin sempat dibilang ‘vakum’, tidak juga sih hanya saja pamornya cukup menurun. Apalagi Theatron tahun ini tidak bisa dilaksanakan, padahal itu merupakan acara tahunan. Jadi, semenjak Triani terpilih menjadi Ketua Mata Mawar, aku dan Iqbal (sebagai anggota Mata Mawar 2015 aktif yang tersisa) memiliki tekad untuk bersatu dalam kekuatan penuh (?) #apasihzhin untuk menaikkan lagi pamor Mata Mawar, sebagai salah satu UKM Seni di jurusan. #MataMawarReborn

Jadi, tunggu saja ya di tahun 2017 ini. Tunggu saja. Kami punya banyak kejutan spektakuler. 😉

  1. Ikut kepanitiaan di tingkat Universitas

Aku daftar satu kepanitiaan tingkat universitas, dan ditolak. Setelah itu saat kegiatannya akan dimulai, mereka malah mencari volunteer. Kan kzl y.

  1. Kuis nggak ada di bawah 75, minimal nilai B

Ngg… yang ini, sepertinya sih nggak ada? Tapi, entahlah. Lihat hasil akhir saja lah di PAUS ID beberapa minggu lagi, h u h u.

  1. Write and speak Deutsch regularly

Untuk berbicara sejujurnya aku kurang sih, apalagi dalam kehidupan sehari-hari masih cukup banyak yang mengiraku congkak jika berusaha untuk belajar membiasakan diri berbicara dengan Bahasa Jerman. Tetapi, thanks to mata kuliah Kreatives Schreiben aku jadi cukup terbiasa untuk menulis fiksi berbahasa Jerman. Walaupun hanya tulisan-tulisan remeh nan sederhana, tapi aku senang?! Ya.. kesenangan pribadi sih. Dan, tulisanku yang Die Schwarze Rose (https://deineschatzi.wordpress.com/2016/09/17/die-schwarze-rose/) dimuat di Vokuhila (buletin Sastra Jerman Unpad) volume 2, lho!

  1. Baca buku di list buku Mario minimal 5

Hab noch nicht Lust zum Lesen. 😦

  1. Have such healthy hair

Di penghujung tahun sih, rambutku sudah mulai benar dan cukup sehat. Tetapi, sebelum-sebelumnya? Ah, walaupun di awal tahun aku sempat memotong rambut dengan rencana mendapatkan rambut indah nan sehat di kemudian hari, tetapi mewarnai rambut sangat adiktif, kawan-kawan. Waspadalah!

  1. Dye my hair turquoise

Jadi, tahun ini aku sudah mengecat rambut beberapa kali. Hijau, pink dan black blue, blonde, dan tosca ngak jelas gitu. Yang terakhir, aku ngecatnya beneran sendiri lho! Berantakan sih, tapi… biarin lah yang penting warnanya mendekati tosca dan banyak yang bilang bagus, he.

  1. Lose weight, till 55kg

Ng… bodo ah, yang penting happy. *cries*

  1. Do jogging sometimes

Ng…………………. nah.

  1. Write once in two weeks for the blog

Kayaknya ya, kayaknya. Tapi, asa masih sering bolong-bolong gitu deh tergantung mood ngeblognya. Janji deh janji tahun depan lebih produktif nulis dan rajin muncul di blog! Apalagi bagian beauty ya, review baru sebiji doang ih. Malu.

  1. Ikut training reporter di BLUR

Ini karena kemarinan suka sok sibuk, akhirnya lupa kalau jadwal training frekuensi baru udah mulai. Jadinya, nggak ikutan. Tapi gpp, gpp. Kenapa gpp? Bukan aku kehilangan minat untuk belajar jadi reporter tetapi aku diterima di BEM Gama FIB Unpad departemen Media dan Informasi dong. Trus hubungannya apa? Ya, aku ditempatkan di divisi Kabar Budaya jadi Reporter. So… nanti pasti akan ada pelatihannya dan akan ada kesempatan untuk learning by doing, yeay!

  1. Read books auf Deutsch minimum 3

Balik lagi ke nomor 10 coba.

  1. Save up daily 5k or 200k monthly
  2. Hemat!

Pa, Ma.. maafkan anakmu ini yang masih boros parah. Apalagi kalau liat diskon, suka kalap sendiri. H u h u.

  1. Had a proper plan for Singapore or Thailand trip on 2017

Aku sudah punya rencana kok. Bagaimana? Nanti saja ceritanya kalau sudah terlaksana. Thailand, tunggu aku, ya! 😉

  1. Aktif di SEMPAK aka SEPENA

What makes me sad is that… belakangan ini SEPENA sepi. Lupa sejak kapan, tapi sepertinya semenjak yang pada aktif menjadi semakin sibuk, keadaan di grup dan OA menjadi amat sepi. Sedih. Rindu sekali.

Tahun ini aku berkesempatan untuk bertemu beberapa anak SEPENA. Bulan Februari saat wisudaan Kak Indri, aku bertemu dengan Abang, Kak Sherly, dan Arby. Bulan April, aku bertemu Shelley, Killa dan Irza. Saat masih sering menginap di kosan Kak Indri di daerah RSHS, aku pertama kalinya bertemu Kak Fikri, Pam, lalu juga ada Billy, Ary dan beberapa anak NDI yang sekarang bergabung di SEPENA. Pada bulan Ramadhan, SEPENA BATAGOR sempat mengadakan buka puasa bersama. Saat itu aku bertemu dengan Mas Gulang, Galih, lalu siapa lagi yha h e h e lupa. Kemarin saat di Jogja aku bertemu Mbak Aam (yang sangat menggemaskan), Mas Tebo, Aldo dan Tejo (yang dulu sempat bergabung di SEPENA dan sekarang menjadi teman satu kontrakan Raffy). Yah, tahun ini aku bertemu dengan cukup banyak orang lah, hahaha. Dan aku senang mengenal dan bertemu mereka, amat sangat senang.

  1. Give surprises to family

Mama doang kayaknya yang paling sering dapat sesuatu dari aku hahaha ya gimana dong, karena belum pernah pacaran jadinya bingung mau kasih apa ke anggota keluarga yang cowok. #alasan

  1. Have more comfy room

Semenjak pindah kosan, keadaan kamarku menjadi 180 derajat lebih nyaman! Walaupun masih berantakan, hehe.

  1. Jelajah Bandung

Aku nggak bisa bilang aku sudah menjelajahi Bandung, sih. Soalnya gimana ya.. kesibukan di Jatinangor cukup padat. Dan yang aku sampai detik ini tidak mengerti adalah… ketika ada uang, waktu yang tidak ada. Vice versa.

  1. Meet Bibi, Dea, and Sasa

Akhirnya setelah dua tahun tidak berjumpa, kami bertemu lagi. Aku pergi ke BSD, karena di situlah Bibi, Dea dan Sasa sedang berada. Sebelum Sasa kuliah ke Jerman dan Bibi lanjut kuliah di London, akhirnya dengan bekal secukupnya aku pergi ke BSD seorang diri. Dan di situ aku merasa cukup bangga bisa pergi seorang diri dari Jatinangor menuju BSD, walaupun kerjaanku hanya duduk manis di travel saja. E h e.

  1. Be more confident

Aku bangga dengan diriku saat ini. Aku menjadi pribadi yang lebih percaya diri daripada aku di tahun sebelumnya. Coba bayangkan, sekarang aku presentasi di depan kelas dengan perasaan yang lebih tenang walaupun terkadang masih cukup sering juga deg-degan karena belum terlalu menguasai materinya. Aku sudah beberapa kali tampil di depan umum mewakili Mata Mawar, dengan perasaan deg-degan karena takut tidak maksimal, bukan takut dilihat oleh berpasang-pasang mata. Wah, aku senang menceritakan ini. Tumben bukan aku merasa bangga dengan diriku sendiri, he. Saat Literaturnachmittagfilm ketiga aku menjadi seorang MC untuk pertama kalinya! Setelah gagal menjadi MC di ospek jurusan yang tahun ini gagal dilaksanakan. Pengalaman selanjutnya bagiku menjadi MC adalah ketika Debat Terbuka Calon Ketua dan Wakil Ketua HIMASAD 2017. Ah.. walau menurutku masih berantakan, tapi aku berani. Akhirnya. Kawan-kawan aku berani berbicara di depan umum!! *lebay*

Ketika mewawancarai bintang tamu yang datang ke BLUR pun aku menjadi lebih percaya diri, begitu pula ketika aku yang diwawancarai untuk suatu kegiatan yang akan kuikuti. Bahkan di BEM, aku ditempatkan sebagai host dari video liputan Kabar Budaya.

Saat aku merasa kurang percaya diri lagi, beberapa orang malah menitipkan kepercayaan mereka padaku. Di situ aku menjadi lebih percaya diri lagi, dan akan kutunjukkan pada mereka bahwa aku tidak akan mengecewakan kepercayaan yang telah mereka titipkan tersebut.

  1. Be more active on classes

Aku akui di semester 2 dan 3 ini aku menjadi lebih aktif dalam proses belajar mengajar di kelas, aku cukup sering bertanya dan menjawab ketika ada dosen di kelas. Aku pun sering menjawab sebisaku tanpa takut salah, dan hal tersebut bagiku merupakan suatu peningkatan signifikan. Tetapi aku tidak akan berada pada posisi stagnan, I’ll be better.

  1. Join HIMASAD

Jadi selama setahun kemarin itu aku bergabung dengan HIMASAD sebagai salah seorang staff di Departemen Pendidikan. Kepala departemenku namanya Kak Wisnu, orangnya nyebelin parah HAHAHAHAHA canda deng, tapi engga juga deng bagian nyebelinnya beneran wk.

Pertengahan tahun lalu aku menjadi delegasi perwakilan HIMASAD untuk IMBSJI, dan sekaligus menjadi Koordinator Cabang Unpad untuk IMBSJI. Di sana aku berkenalan dengan delegasi-delegasi dari 10 Perguruan Tinggi yang tergabung dalam IMBSJI, ah. Rindu kongres, walaupun menyebalkan dan penuh tantangan serta perjuangan. *lebay*

Lalu, di akhir tahun ini aku menutup kontribusiku di HIMASAD demi sesuatu yang lebih baik, tapi…tapi…tapi…. HAHAHAHAAHAHAHAHA lupakan saja. :)) Kalau yang ingin tahu cerita lebih lengkapnya, mungkin aku bisa menceritakannya secara personal saja. Intinya, di tahun 2017 ini aku memutuskan untuk berkontribusi pada jurusan dengan jalur lain saja.

  1. Buat pembukuan kas

Boro-boro… aku mengatur jadwal tidur saja cukup berantakan, jadi… yha…

  1. Buat ATM BNI (khusus tabungan)

Sudah dong! Dan tabunganku saat ini sudah…. tit—tit—tit *sinyal menghilang*

  1. Don’t overthink

Aku mencoba untuk menjadi lebih kalem dalam menghadapi masalah, walau yha bagaimana overthinking ini datang begitu saja tanpa aku undang. Tapi, pegang kata-kataku, aku akan terus berusaha untuk menjadi versi diriku yang lebih baik dari saat ini.

  1. Donate blood (without fainting)

Ceritanya Blutspender bulan November kemarin aku ingin mendonor darah, tetapi semesta tampaknya belum mengizinkan.

  1. Visit Jogja or Malang by train

Kemungkinan besar saat tulisan ini mulai terpampang di blog, aku sedang menikmati kota Jogja setelah perjalanan selama 8 jam seorang diri dari Bandung dengan kereta api. Aku selalu suka bepergian dengan kereta, entah bagaimana caranya itu membuatku bahagia walaupun terkadang menyebalkan dan kurang nyaman. Karena tulisan ini merupakan draft yang aku tulis sebelum tanggal 31 Desember, jadi aku akan menceritakan sedikit tentang pengalamanku naik kereta dari Bandung ke Jogja dan sebaliknya, dalam rangka Kongres IMBSJI X.

Bandung – Jogja : ini perjuangan panjang. Aku dan Kak Ilmi harus ‘menginap’ selama beberapa jam di Masjid Raya terdekat dari Stasiun Bandung, sebelum akhirnya kami mengungsi ke rumah salah seorang teman di Cihampelas. Perjalanan dari Bandung ke Jogja sendiri baik-baik saja tanpa halangan, dan bayangkan seberapa bahagianya aku saat itu. Naik kereta. Ke Jogja.

Jogja – Bandung : kali ini aku tidak pulang naik kereta bisnis melainkan naik kereta ekonomi. Wow, perjalanan jarak jauh naik kereta ekonomi. Mantap djiwa, kan? Aku kembali ke Bandung tidak bersama Kak Ilmi, melainkan bersama Aldi, salah seorang delegasi dari UPI yang juga merupakan seorang ‘teman’ saat Nationale Deutsche Olympiad 2014. Kami tidak duduk bersebelahan, gaes. Jauh dari ekspektasi kami lah pokoknya perjalanan saat itu. Tapi kami berdua berhasil melewati 8 jam berjauhan dan tiba di Stasiun Kiaracondong subuh-subuh. Good times.

Mungkin cerita lengkapnya mengenai Kongres IMBSJI X, perjalananku naik kereta jarak jauh pertama kalinya, dan seminggu mengunjungi Jogja akan aku ceritakan pada tulisan lainnya. Mungkin, ya, mungkin.

  1. Write more letters to Germany

Tahun 2016 ini aku hanya mengirimkan satu surat ke Jerman, yaitu untuk Sarah pada saat ulang tahunnya. Hanya itu, itupun telat. Payah, kan? Pfft.

  1. Read more. Start to read again

Balik lagi ke nomor 17 coba.

  1. Jadi ‘anak’ seorang dosen e h e

Tampaknya aku kurang berbakat untuk menjadi ‘anak’ dari dosen-dosen, soalnya ya… bagaimana ya. Tau sendiri kan, aku anaknya masih suka tergantung mood gitu kalau belajar, dan begitu juga di kelas. Lagipula aku sering skip kelas juga kalau sedang malas, lelah, atau berjuta alasan lainnya. Ya…. begitu. Tapi…. nilai aman kok. *alasan just in case keluarga gue ada yang baca, hehehehehehe*

  1. Keep in touch with friends. Old friends

Masih, kok. Dan nomor 37 ini akan terus ada di list ‘resolusi’ Zhinta tiap tahunnya.

  1. Go to the club and try alcohol

Ini iseng aja sih, cuma ya namanya penasaran?! Masa nggak boleh? Namanya juga… mumpung masih muda. Huft.

  1. Be kind

Aku berusaha.

  1. Be brave

Aku lebih berani daripada aku di tahun sebelumnya.

  1. Be polite

Aku belajar untuk menjadi sopan ketika itu membawa nama suatu lembaga, merepresentasikan suatu lembaga, kepada orang yang aku hormati dan aku tuakan. Aku belajar, untuk menjadi lebih sopan dan lebih profesional.

  1. Makin rajin. Jangan mager!

Yang ini sejujurnya belum sih. Apalagi aku masih tipe yang super duper mager.

  1. Smile more!

Belakangan ini aku lebih banyak tersenyum, kok, walaupun palsu dan dipaksakan.

  1. Laugh more!

Sebagai yang dianggap ‘receh’ di kaumnya (?) #apasihzhin aku sangat amat mudah menertawakan sesuatu, dalam artian menurutku itu lucu. Bukan menertawakan dalam artian buruk lho ya. Sayangnya, aku sering merasa bahwa tawaku itu kosong dan hampa. Tidak ada makna dan arti bagi diriku, lewat begitu saja.

  1. Buy another fabulous boots

Lupa, ih. Tapi tahun depan mau beli boots hitam tinggi pokoknya mah.

  1. Jangan keseringan jajan

Teori Zhinta : semakin lama kamu di kampus, semakin banyak uang yang kamu habiskan.

  1. Biasakan bangun pagi, walau tidur telat

Bangun pagi masih belum menjadi kebiasaanku sayangnya. Tapi, tidur telatlah yang sekarang ini menjadi temanku.

  1. Pikirkan mau masuk Lite atau Lingu
  2. Pikirkan tema skripsi

Wahaha? Gimana coba gimana? Boro-boro ini mah, yha lord. Baru belajar Einführung in die Literaturwissenschaft dan Sprachwissenschaft saja sudah lieur tujuh keliling. Sejujurnya aku berusaha amat keras untuk jatuh cinta pada Linguistik, juga. Sayangnya masih sulit, tapi aku masih merasa bahwa Linguistik cukup menarik, kok. Walaupun ya… tidak semenarik Literatur, bagiku yang memang menginginkan jurusan ‘sastra’ sejak kelas XI SMA.

  1. Searching for scholarships

Hm… paling tahun 2017 ini aku akan kembali mencoba Monbu for Undergraduate untuk yang terakhir kalinya. Dan aku mengincar beasiswa Sommerkurs dari DAAD juga sih. Untuk beasiswa lain, aku belum terpikirkan. But then always remember… if there’s a will, there’ll be a way!

  1. Thinking about au pair

Sepertinya aku baru disetujui untuk melakukan au pair setelah lulus kuliah nanti, soalnya kata Papa… fokus ke kuliah dulu saja. Ya sudah, aku bisa berkata apa? Aku ingin au pair di Köln, kota impian keduaku setelah London sebelum Coppenhagen.

  1. Kalau ke kampus jangan kayak gembel

Hahahahahaha nyadar nggak sih, nomor 52 alias yang paling terakhir ini merupakan ‘resolusi’ yang paling ngawur? Saat baca setelah sekian lama saja aku masih sering menertawakan bagian ini. Habisnya… konyol aja gitu, sampai ditulis sebegitunya. Tapi benar adanya bahwa tahun 2015 lalu aku sering ke kampus terlihat seperti ‘gembel’, mana jarang mandi pula kalau kelas pagi *walau sekarang pun masih begitu h e h e* syukurnya nih ya, semenjak tahun 2016 kadar ‘kegembelanku’ berkurang. Sedikit. Tidak banyak. Yang penting ada perubahan, bukan? Walau tidak signifikan HAHA.

Btw semenjak tahun 2016 juga aku mulai tertarik dengan dunia make up dan akhirnya ‘agak’ kecanduan. Parah. Racun. Adiktif. Jangan sampai jatuh ke pelukannya! Aku ingatkan, haha. Nggak deng, bercanda. Tidak seperti itu. Walaupun racun begini, tapi setidaknya make up dapat membuatku bahagia entah bagaimana caranya. Dan aku menemukan teman-teman yang memang make up enthusiast. Lumayan, kan. Menambah relasi gitu, karena ada aja gitu yang menganggapku kurang luas lingkaran pertemanan dan relasinya. Dia nggak tau aja sih. *wink* *wink*

 

Yak… sekian. 52 nomor yang ada di list tahun 2016 ini, beserta sedikit cerita apakah aku berhasil dengan apa yang aku telah harapkan pada tahun sebelumnya. 10 halaman lho… lebih dari 3000 kata. Ngetiknya capeque, sumpah. Tapi bahagia, tapi senang. Soalnya aku sekalian bisa refleksi ulang mengenai satu tahun yang terlewati dengan penuh perjuangan dan tumpah darah. *lebay lagi*

Dan oh iya, selama beberapa waktu ke depan sampai aku kembali ke Jatinewyork, sepertinya aku tidak akan menggunggah sesuatu di blog. Dikarenakan aku tidak membawa laptop ke rumah, h e h e. Pulang perdana hanya bawa ransel sebiji doang nih, cyin. Tapi jangan khawatir akan merindukan tulisanku #apasihzhin karena aku akan mengikuti challenge #30haribercerita di instagram! So, stay tune di instagram aku yaaa @deine.schatzi (https://www.instagram.com/deine.schatzi/) 😉

Segitu saja deh, kututup untuk kali ini. Semoga ke depannya aku bisa menjadi jauh lebih baik lagi dari aku sebelumnya. Harus. Wajib. Kudu.

Semangat!

Sekali lagi, happy happy happy happiest new year you all!

Deine Schatzi.

PS : untuk foto-foto terkait akan aku update secepatnya, ya. 😉

“…puisi terindahku hanya untukmu…”

the-secret

Kapan lagi kutulis untukmu

Tulisan-tulisan indahku yang dulu

Pernah warnai dunia

Puisi terindahku hanya untukmu

Jikustik “Puisi” cover by Andien Tyas

Sepenggal rangkaian kata nan indah di atas merupakan potongan lirik lagu lawas milik Jikustik. Berjudul “Puisi”, lagu ini telah terngiang di kedua telingaku sejak beberapa saat yang lalu. Berhasil membuatku tergila-gila, walau baru saja kudengar dengan seksama dari waktu makan malam di kedai dekat kosan bersama empat orang teman.

Ah. Tidak, isi lirik lagu ini tidak seutuhnya pas dengan kisahku. Mungkin hanya di bagian yang tertuliskan di atas sana. Pun begitu, aku bahkan tidak menulis puisi lagi sejak… entah sejak kapan. Payah.

Tetapi, lagu ini indah. Yang kudengar saat makan malam tadi dinyanyikan oleh seorang wanita, suaranya melankolis. Begitu mendukung suasana.

Ketika lirik lagunya dinyanyikan ulang oleh seorang teman yang menyadarkanku akan lagu ini, yang semula hanya lewat begitu saja dalam kehidupanku #apasihzhin karena anaknya memang setidakpeka itu, aku sontak terbayang akan sosok seseorang. Siapa lagi? Dirimu, tentu. Yang sampai saat ini masih membuatku menjadi ‘gila’.

Bagaimana kabar puisimu? Segala rangkaian kata-kata yang telah kau perjuangkan, entah sejak kapan, dan masih menjadi sebuah novel yang belum terselesaikan? Ada cerita lain kah di balik segala tulisanmu dalam kolom caption di instagram? Dirimu, masih tetap setia menulis, kan?

Aku harap semua baik-baik saja. Kamu, dan tulisanmu.

Hari ini kita tanpa sengaja berpapasan, dan kuyakin kamu tidak mengetahuinya. Tidak menyadarinya. Tidak, lebih baik jangan. Hal tersebut tidak berarti apapun bagimu, karena aku sadar dan tahu siapa aku. Bukan siapa-siapa, lebih tepatnya. Maksudku.. kita bahkan tidak saling mengenal, bukan begitu?

Jika saja suatu saat dirimu menyadarinya, aku berharap ini bukan sesuatu yang menggelikan bagimu. Karena sejujurnya aku, bisa -entah bagaimana itu- menjadi seketika bahagia saat menemukan sosok dirimu di keramaian. Boom. Terjadi begitu saja. Aku mendadak bahagia.

Ah.

Lihat bukan, sekarang aku mendadak menjadi sangat melankolis dengan tulisanku ini. Semoga siapapun yang membacanya tidak akan menertawakanku.

00:19

pertengahan malam menuju kelas Einf. i. d. Sprachwissenschaft pukul 07:30

Dariku, yang hanya mampu mengagumimu dari kejauhan

PS : “Puisi” ini indah, tapi kamu lebih lagi.

PSPS : Lagu di atas sebenarnya hanya merupakan bridging, sejujurnya aku hanya ingin menulis mengenai dirimu, itu saja.

Setangkai Mawar Biru, Cokelat Hati dan Pesan yang Dibawanya

 

Teruntuk FN yang mengirimiku sekuntum bunga mawar biru dengan sebutir cokelat berbentuk hati dan sebuah pesan manis melalui acara Flowers Day, siapapun dan dimanapun dirimu..

Terima kasih.

Ini bunga pertama yang aku dapatkan dari seseorang yang hanya meninggalkan jejak inisialnya. Bukan, bukan hanya itu. Ini bunga pertama yang aku dapatkan selain dari teman-teman terdekatku. Aku menghitungnya begitu, dan masih menganggapnya spesial. Mungkin, mungkin kita berteman atau saling mengenal. Entahlah, aku tidak yakin. Tetapi kamu memilih untuk hanya memberitahuku inisialmu, dan membiarkanku menerka-nerka dengan tanda tanya yang begitu besar di kepala. Mengapa?

Terima kasih.

Telah mengatakan bahwa aku cantik. Tidak banyak yang pernah mengatakannya kepadaku. Kalimat pertama dalam pesanmu sejujurnya membuatku cukup tersipu dan malu. Apakah iya memang begitu?

Terima kasih.

Karena memperhatikan sebegitunya sampai tau kalau hal kecil bisa membuat hariku berantakan. Hal ini membuatku menebak-nebak, jika kita saling mengenal dan cukup dekat? Maaf, jika hal tersebut membuat dirimu terganggu, sampai bertanya begitu. Aku hanya sedikit moody, atau mungkin bukan sedikit lagi.

Di kalimat ketiga terakhir kamu menuliskan dua pertanyaan dan satu pernyataan.

Yang pertama, apakah aku salah? Tidak. Tulisanmu sebelumnya yang menyatakan sesuatu tentang diriku tidaklah salah. Aku cukup sadar jika memang adanya aku seperti itu. Terima kasih sudah mengingatkan kembali.

Selanjutnya, kamu bertanya siapakah dirimu. Aku mempunyai dua asumsi untuk pertanyaan ini, antara kamu menanyakan status dirimu di situ sebagai siapaku yang berhak berkata seperti itu atau kamu ingin membuatku menebak dan mencari tau siapakah orang yang mengirimkan bunga, cokelat, dan pesan ini.

Pesanmu ditutup dengan suatu pernyataan, yang juga tidak banyak orang pernah mengatakannya kepadaku. Tidak banyak. Bahkan bisa dihitung jari, bahkan.

Ich liebe dich.

Aku, tidak bisa berkata banyak mengenai pernyataan sekaligus penutup pesanmu melainkan hanya bisa berterima kasih. Atas setangkai mawar biru, atas sebutir cokelat berbentuk hati, atas rangkaian kata yang tertulis di selembar kertas mungil berwarna biru muda, dan atas pernyataan tersebut.

Terima kasih, lagi.

Sekitar pukul 11 pagi tadi, aku mendapat sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Dengan isi yang cukup membuatku mengernyitkan dahi dan memecah konsentrasi yang sedari tadi aku pusatkan untuk belajar UTS Einfuehrung fuer die Sprachwissenschaft. Intinya, ada seseorang yang mengirimkanku bunga melalui acara Flowers Day yang diadakan oleh Fakultas sebelah.

Sehari sebelumnya, Triani sempat menanyakan hal yang sama kepadaku. Jadilah sebelum membalas pesan tersebut aku bertanya dahulu padanya. Kurang lebih, aku menanyakan perihal apakah dia yang mengirimkanku bunga tersebut. Katanya, tidak.

Dan, aku menjadi bertanya-tanya. Siapa?

Tanda tanya di kepalaku menjadi semakin besar saat bunga tersebut sudah berada di genggamanku. Lengkap dengan sebutir cokelat berbentuk hati dan selembar kertas mungil berwarna biru muda yang terselip di plastik pembungkus mawar biru tersebut.

Inisial di pojok kanan bawah kertas menangkap perhatianku seketika, saat aku baru mulai membaca tulisan yang ada di kertas biru tersebut. FN. Aku berusaha mengingat-ingat semua nama teman dan kenalan yang memungkinkan dan memiliki kaitan dengan kedua huruf tersebut. Perempuan atau laki-laki? Teman sejurusan, kah? Teman seangkatan, kah? Siapa?

Isi pesan tersebut dituliskan dengan bahasa Jerman. Diawali dengan sapaan, dear zhinta nareswari. Ah! Aku sebenarnya gemas ingin mengomentari penulisan namaku yang tidak diawali dengan huruf kapital. Tapi, isi dari pesan tersebut setelahnya membuatku lebih dahulu terenyuh. Ini interpretasiku (yang dibantu translate juga oleh seorang teman dekat dari Jerman) akan pesan tersebut, pesan yang asli dalam bahasa Jerman biar aku saja yang tau, ehe.

Dear Zhinta Nareswari,

you’re naturally beautiful. You should be the most beautiful in your world. You don’t have to question that. I ask myself, how can a little problem ruins your beautiful day. You try so hard, you look for something’s gone from you until you forget to appreciate and develop what you already have. Am I not wrong? Who am I? Ich liebe dich.

FN

Dan aku sampai saat ini masih belum memiliki satupun clue.

#10OctInternationalMentalHealthDay

Lieber Schatz,

wie geht’s? Ich habe dich sehr vermisst! Du weiβt es schon, dass ich dich noch sehr liebe, oder?

Ich frage immer die Vögel, ,,Wann kommt mein Schatz zu mir? Eines Tages?” Die Vögel lachen nur, sie antworten mich nicht. Ist es ein Geheimnis nur zwischen euch?

Meine Mama hat mir gesagt, dass ich verrückt bin, weil ich mich mit der Vögel unterhalten. Die Vogelstimmen stört Mama, denn sie mag die nicht. Sie findet, die Vögel zu laut singen. Die Wahrheit ist es, dass die Vögel singen nicht, sie unterhalten sich mit mir. Wir reden über dich. Immer dich.

Jeden Morgen, Schatz, kommen die Vögel zu mir. Das ist die einzige Zeit singen sie, um mich aufzuwecken. Doch mag Mama das auch nicht, sie findet noch, dass die Vogelstimmen zu laut für ein ruhiger Tag ist. Sie versteht es nicht. Sie versteht mich nicht, Schatz.

Die Vogelstimmen höre ich am liebsten. Es macht mich traurig, wenn die Vögel mir verlassen. Es ist ruhig im Haus, Mama liebt es am liebsten, für mich ist es eine Katastrophe! Die Stimme in meinem Kopf kommt immer noch, wenn es zu ruhig ist. Du weiβt es schon, dass es mich geistig tötet.

Heute ist Mama überdrussig. Mit mir und auch mit meinem ,,mit der Vögel Gespräch”. Sie entscheidet sich, mich auf unsere Pschycologin zu nehmen. Das bedeutet, ich kann mich mit der Vögel nicht mehr treffen, Schatz. Um ihre Stimmen zu hören, und mit ihnen zu unterhalten. Nicht mehr!

Mama denkt, dass ich verrückt bin. Die Wahrheit ist es, ich bin nicht. Ich bin nur in dich total verliebt, Schatz. Glaubst du es noch?

Liebe Grüβe,

deine Schatzi.


This is fiction. I don’t have an imagination Schatz and I do not really talk to the birds. It’s true though that Mom once took me to a psychiatrist (how do we write that though?), but it didn’t work at all.

So, I have this confession to say, that I’ve been going to the Psychology Faculty for like 5 times in these two weeks. I had several times appointments with the psychologist’s assistant, and will have an appointment very soon with the psychologist (hopefully this week!).

My issue was that I do not have the lust to live at all for like some weeks ago. It feels empty and numb at the same time. I always am tired, physically and mentally. I live my life not the way I used to be, I forced myself to live.

It was just the beginning of my third semester, and I was already thinking about resigning. What the actual fuck? This is the major I’ve been craving since I was still on 11th grade. I don’t know.

I still don’t know what the hell is going on with me yet. I want to help myself but I just don’t know how to, that was simply why I decided to seek help from the professional. Before it’s too late that I’m already drown and it might lead to something worse..

It’s okay not to be okay. If you feel like you’re not okay and having issues, you could always tell me. I’m always there. I might be a little useless, but I can listen. You are NOT alone. And, I care. 💕

Tulisan Ini Tidak Membutuhkan Judul, Lebih Membutuhkan Dirimu

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” – Pramoedya Ananta Toer

Aku jatuh cinta sejak pertama kali aku membaca tulisan di atas. Sampai detik ini aku menuliskannya kembali sebagai kalimat pembuka pada tulisanku kali ini. Rasa yang sama seperti saat pertama kalinya aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis saat itu, entah kelas berapa saat aku duduk di bangku sekolah dasar.

Aku mudah jatuh cinta pada tulisan. Aku akui itu. Begitu pula pada tulisan-tulisanmu. Pilihan diksimu, serta rangkaian kata yang dengan elok kau torehkan begitu saja, dimanapun itu. Sesimpel dan sesederhana emosi yang terungkap dari tulisan yang kubaca dari profil salah satu akun media sosial dirimu. Dan begitu juga atas kisah yang kau ceritakan pada setiap caption momen abadi yang tertangkap oleh lensa kamera.

Dari tulisan-tulisan itulah tersebut aku mulai sedikit mengenalmu. Bahkan mengagumimu. Namun belum berani aku katakan jika aku sudah jatuh hati padamu, tetapi aku rasa aku telah terjatuh ke dalam alunan kata-katamu yang elok.

Alangkah indah pasti isi dari pikiran tersebut, yang telah tertuang manis dalam selembar kertas, maupun hanya terpampang dalam halaman di dunia maya. Aku tidak sanggup membayangkannya. Karena aku takut jika aku berani membayangkannya, aku akan semakin terjatuh dan terjatuh lagi. Aku belum sanggup akan itu. Tetapi aku tetap berharap untuk bisa masuk dan mengobrol cantik mengenainya. Bolehkah aku?

Pangeran Pena, diperkenankah jika kusebut dirimu dengan julukan baru? Yang mungkin hanya aku yang akan mengetahuinya, dan segelintir manusia yang menghabiskan waktunya untuk membaca sedikit curahan hati seorang pemuja rahasia. Aku yakin, interpretasimu akan julukan tersebut sedikit tidaknya tepat dengan maksudku.

Teruntuk dirimu. Terima kasih sudah menulis. Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta pada rangkaian diksimu. Terima kasih sudah berbagi emosi melalui aksara dan kata. Terima kasih pula sudah memberiku kesempatan untuk mengenalmu, sedikit.

Aku berharap kamu akan tetap menulis. Teruslah. Karena kamu takkan lalu, layaknya tulisanmu. Abadilah. Tulisanmu merupakan salah satu jatuh hatiku yang terindah.

Sekian dariku, yang dari kejauhan dan penuh harapan mengagumimu dengan (mungkin sudah tidak) rahasia.