Surat (Cinta) Terbuka?

Teruntukmu yang mungkin sudah kukagumi sepanjang setengah dekade,

hai. Sudah lama kita tidak bersua, bahkan mungkin untuk sekadar berbincang sejenak. Ah, sebelumnya maafkan salam pembuka surat ini yang biasa saja, karena sesungguhnya aku amat bingung bagaimana untuk memulainya, kuputuskan untuk memilih satu kata sederhana yang biasa diucapkan seseorang saat berjumpa dengan kawannya. Kawan, iya. Bukankah memang itu seharusnya kita?

Tanpa basa-basi lagi, aku merindukanmu. Sudah jelas, bukan begitu? Tunggu, biarkan aku menghitung dulu seberapa lama sudah kita tidak bertemu. Terakhir aku mengingatnya sudah puluhan purnama berlalu, sejak terakhir kali sudut mataku berpapasan dengan ujung senyummu itu, yang kau simpulkan entah kepada siapa.

Sekarang biarkan aku untuk menanyakan bagaimana kabarmu di sana? Baik saja? Aku harap begitu. Jangan lupa untuk bahagia, ya. Itu satu pesanku. Ah, tapi aku yakin kamu tidak akan pernah lupa untuk berbahagia. Dan, aku, entah bagaimana caranya, yakin dengan hal itu.

Dan agar kamu ketahui, sedikit canggung menuliskan surat padamu dengan bahasa ibu kita, mengingat sebegitu seringnya dirimu menggunakan bahasa asing pertamaku, dan yang membuatku (memaksaku) memberanikan diri untuk menuliskan rangkaian panjang kata dalam rangka mengungkapkan perasaanku padamu dalam sebuah surat. Maafkan bahasaku yang terdengar kaku ini, yang sebenarnya akupun begitu.

Sebelum jauh kita mereka-reka tentang masa depan yang tidak kita ketahui sama sekali, ingin rasanya aku menelusuri ke belakang, waktu yang telah lampau, hal-hal yang telah sedikit banyaknya dilewati. Bukan oleh kita, tapi oleh diri kita masing-masing.

Aku masih ingat jelas, bagaimana semesta mempertemukan kita dalam satu kelas di tahun pertama sekolah menengah atas. Samar-samar jauh sebelum kujumpai sosokmu, sudah kudengar sebuah berita yang ramai dibicarakan oleh seantero penjuru kelas, bahwa akan ada seorang anak yang amat pandai berbahasa asing, yang dulunya sempat menuntut ilmu di negeri para kangguru. Oh, betapa hebatnya, pikirku dalam hati saat itu. Aku tidak berbohong, itulah hal yang pertama kali aku pikirkan ketika aku mengetahui keberadaanmu dalam kehidupanku.

Hal itu tidak berubah sama sekali saat pertama kali kita berjumpa, aku tidak ingat bagaimana, karena asal kamu tahu saja bahwa ingatanku ini payah, kurang lebihnya seperti ikan mas. Ya, sepayah itu, aku bahkan sulit untuk mengingat santap malamku dua hari lalu. Dia keren sekali, pikirku, saat kudengar dirimu mulai berceloteh ria menggunakan bahasa yang secara otodidak aku pelajari dan aku masih payah hingga saat ini. Sejak saat itu, lelaki yang pandai berbahasa asing selalu terlihat menarik di mataku.

Di suatu kesempatan, kau diminta untuk mempresentasikan sesuatu, mengenai kepemimpinan kalau aku tidak salah. Dalam mata pelajaran Agama. Dengan penuh percaya diri, dan tanpa rasa tertekan (berbanding terbalik denganku saat itu, aku benci untuk berbicara di depan umum) kau melangkahkan kakimu dengan mantap ke depan kelas. Menatap seluruh pasang mata yang ada, termasuk milik Bapak Guru yang tersenyum mempersilakanmu untuk memulai aksi. Tidak ada yang mengucap sepatah katapun saat itu, mirip seperti sebuah tagline acara televisi, semua mata tertuju padamu. Kaupun berbicara, mengenai topik yang sedang dibahas. Kepemimpinan. Ah, iya, di saat itu juga kau kan seorang wakil ketua kelas, ya? Cocok sekali. Jika ada yang memperhatikan, mataku tidak berpaling darimu. Aku kaget, aku kagum, aku terpesona, aku… aku…

Sebegitu berapi-apinya kau saat itu, aku sendiri dapat merasakan semangat yang mengalir dari setiap patah kata yang kau lontarkan. Aku ingat, hampir saja aku impulsif menuliskan sesuatu tentangmu, yang berdiri di depan sana, berbicara dengan percaya diri dan semangat yang membara. Tapi sayang boleh sayang, puisi tersebut tidak pernah terselesaikan. Aku seakan lupa, bahwa beberapa waktu sebelum itu, sudah terdengar kabar bahwa kau begitu lihai dalam berpidato. Tak salah lagi, kuakui hal itu.

Cukup waktu mengenalmu, dan keberadaanmu yang seringkali menghilang dari presensi kelas, aku sadar aku mulai mengagumimu. Dan di saat yang bersamaan, aku mulai merasakan bahwa aku juga sedikitnya memiliki perasaan pada salah seorang teman terdekatmu. Perasaan yang amat membingungkan bagi seorang gadis yang belum pernah merasakan perasaan yang begitu kompleks sebelumnya. Tanpa sadar aku melakukan pergerakan, yang harus kuakui, kepada temanmu itulah. Bahkan pada saat aku mengakui perasaanku, kepada seorang sahabat karibku, namanya lah yang kusebutkan. Walau untuk kesekian kalinya ia menanyakan, apakah aku yakin dengan perkataanku itu, dengan membawa namamu di belakangnya. Sejujurnya aku ragu, yang aku tahu saat itu adalah aku setengah mati mengagumimu.

Ditambah lagi, dengan sosokmu yang seringkali mengingatkanku dengan Papaku. Saat itu, aku sedang kehilangan sosok beliau yang ditugaskan di luar kota, tetapi aku menemukannya dalam bentuk lain, di dalam sosokmu aku menemukannya. Sifatmu, sikapmu, pembawaanmu, kamu. Aku lemah. Di saat teman-temanku sengaja membuatku meneteskan air mata karena mengingatkanku dengan sosok beliau nan jauh di sana, melalui lagu milik Ada Band, di sisi lain ada dirimu di sekitarku. Mungkin, mungkin sejak saat itulah aku telah memiliki khayalan konyol nan menyeramkan ini, yaitu untuk menikahimu.

Lupakan kata terakhir di paragraf sebelumnya yang sempat aku bicarakan.

Penutup kilas balik yang amat buruk.

Payah.

Ayo, kita balik lagi saja ke masa sekarang kalau begitu.

Kagum. Satu kata itu yang mungkin akan menjadi favoritku untuk mendeskripsikan perasaan kompleks yang menggerogotiku selama setidaknya lima tahun belakangan ini. Aku tidak mengerti, sampai detik ini. Aku belum mengenalmu sebegitunya untuk jatuh cinta padamu, tapi apakah untuk jatuh cinta padamu aku harus mengenalmu sebegitunya?

Sebut saja aku jatuh kagum, yang mungkin terlalu dalam sampai imajinasiku terkadang menjadi sebegitu liarnya aku bahkan malu pada diriku sendiri. Ah, iya, 6 kata sebelum ini, mendeskripsikan aku dan cara pandangku padamu. Aku, mungkin aku terlalu rendah diri atau bagaimana, selalu menganggap diriku tidak pantas, bahkan untuk mengagumimu. Aku seringkali mengambil analogi bahwa kita ini bagaikan seorang pungguk (aku) yang merindukan rembulan (dirimu). Seringkali aku merasa malu dengan diriku, yang bukan siapa-siapa ini, yang menyedihkan ini.

Aku hanya berbekal rasa nekat, dan rasa kagumku yang membuncah, dan rasa rinduku padamu saat ini yang membuatku setengah mati (ini hiperbola, iya) untuk menyampaikan segala yang ada di dalam sini.

Ingat bagaimana aku mengungkapkan dan mengakui bahwa aku yang telah mengirimimu tiga helai surat pernyataan (perasaan) di tahun terakhir kita duduk di SMA? Sejujurnya aku begitu takut dengan balasanmu, dengan responmu, denganmu yang bisa saja memilih untuk memutuskan tali pertemanan kita karena malu dengan kebodohanku tersebut. Aku berguling-guling di kamar salah seorang teman dekat yang sedang aku singgahi, menanti balasanmu. Saat kuterima balasan dari curahan perasaanku dan pengakuanku tersebut, aku nyaris berteriak di peron, saat menunggu kereta yang akan membawaku pulang ke rumah datang. Aku tidak bisa menahan perasaan bahagia, hormon endorfin yang mendadak muncul di sekujur tubuh, saat mengetahui bahwa reaksimu atas aksi konyolku tersebut tidaklah buruk. Terima kasih. Sayang pada saat itu semesta belum mempertemukan kita lagi setelah sekian lama.

Ingat bagaimana aku melupakan hari kelahiranmu yang keduapuluh kalinya karena aku sok sibuk dengan segala aktivitasku di kampus yang menunjang perkembanganku agar mampu menjadi lebih baik lagi ke depannya? Aku baru sadar di subuh keesokan harinya, bodoh memang. Payah memang. Seorang pengagum macam apakah yang sebegini payahnya? Saat itu juga, aku menuliskan sepucuk surat digital, karena hanya itulah yang bisa dan sanggup aku berikan kepadamu. Aku hanya cukup pandai merangkai kata, itu saja. Aku mengabaikan kelas pagiku, demi mengurangi rasa bersalahku tersebut, aku rela tidak tidur dan terlihat menyedihkan di perkuliahan di pagi harinya. Dan, aku masih sebegitu takutnya dengan responmu atas ucapan selamat ulang tahun dariku yang menurutku sendiri sedikit berlebihan (dan menyedihkan).

Ingat beberapa waktu yang lalu, aku membuang segala gengsi tersisa yang masih aku miliki, untuk sedikitnya mengutarakan bahwa aku merindukanmu, sebegitunya, sehingga sebagai seorang kawan yang jauh (sekali) aku berani meminta waktu liburanmu, untuk setidaknya bersua sejenak denganku? Aku sudah tidak sanggup lagi saat itu, puluhan purnama terlalu lama bagiku, terlebih lagi sulitnya mendapatkan kabar darimu yang tidak begitu suka mengunggah kegiatan dan keseharianmu di media sosial, tidak sepertiku. Tidak sekali dua kali aku membiarkan air mata mengalir di pipi, suatu hal yang kerap kali kuanggap konyol, hanya karena aku merindukanmu entah bagaimana ceritanya. Konyol, sekonyol-konyolnya konyol.

Tadinya aku pikir setidaknya satu butir air mata akan menetes saat aku mencurahkan semua ini, di malam bersuhu mungkin tiga puluh derajat lebih panas daripada di tempatmu berada saat ini, tetapi ternyata aku masih kuat. Masih cukup kuat untuk menunggu kepulanganmu di tanah air, di tanah dewata, yang katamu mungkin akan bertanggal di awal bulan kelahiranku. Aku yang seringnya pesimis ini, berusaha sebisa mungkin untuk berpikiran positif, bahwa apa yang telah kau ucapkan itu bukan hanya sekadar basa-basi sopan santun atas permintaanku, tetapi murni karena pertemanan lama kita (yang sudah lama sekali, mungkin kau lupa haha). Iya, jika suatu saat kau bertanya-tanya. Aku berharap, harapan itu masih ada, atas segala kejadian yang membuatku berhenti percaya akan adanya harapan dan membuatku berhenti berharap.

Jika suatu saat nanti, setelah tulisan ini aku selesaikan, dan kenyataan membawa kita pada suatu pertemuan, entah yang disengaja ataupun tidak disengaja, ataupun tidak. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku (akan tetap) bahagia, akan hal itu, akan perasaan kagum selama setengah dekade ini yang membawaku untuk berada di titik dan sisi terbaik pada diriku, akan kehadiranmu yang seadanya dalam kehidupanku, akan dirimu.

Aku akan terus mengejarmu, agar aku tidak tertinggal jauh jauh jauh…

Tidak, jangan anggap aku seorang yang mengerikan atas pernyataanku di atas, mungkin kita butuh tanda petik dua atas di beberapa kata agar tidak menjadi rancu.

Tetapi, aku tetap serius dengan hal itu.

Sekali lagi, terima kasih.

Terima kasih sayangmu, dan aku merindukanmu.

Dari aku, yang setengah mati merindukanmu

dan menyerah untuk tidak merintikan air mata.

Kuta Utara

28 Juni 2017

23:24

25°C