Goethe : Zwischen Die Leiden des jungen Werthers und The Werther Effect

Luh Manik Sinta Nareswari (Padjadjaran Universität)

Goethe_(Stieler_1828)Goethe_1774

“Ach, was ich weiß, kann jeder wissen – mein Herz habe ich allein.” – Die Leiden des jungen Werthers – Am 9. Mai 1772

Jika membahas tentang literatur Jerman, siapa yang tidak pernah mendengar nama Johann Wolfgang von Goethe? Sebegitu berpengaruhnya beliau di literatur Jerman, sehingga namanya bahkan diabadikan sebagai nama dari pusat kebudayaan Jerman dan nama salah satu universitas ternama di Frankfurt am Main.

Sastrawan yang lahir pada 28 Agustus 1749 ini telah menghasilkan banyak karya semasa hidupnya hingga tahun 1832, salah satu yang paling dikenal adalah novelnya yang berjudul Die Leiden des jungen Werthers. Novel ini dituliskannya terinspirasi dari kisahnya sendiri ketika cintanya tidak terbalaskan oleh Charlotte Buff, seorang tunangan dari temannya (Christian Kestner), yang mana nama Lotte sendiri juga dijadikan sebagai tokoh di dalam novel tersebut.

Dari judulnya sendiri dapat dibayangkan bagaimana plot kisah dari novel ini berakhir, ya, tragis. Kisah cinta segitiga antara Werther, Lotte, dan tunangan dari Lotte (Albert) ini berakhir dengan ketidaksanggupan Werther menjalani hidup akan cintanya yang tidak dibalas oleh Lotte, maka ia mengambil nyawanya sendiri dengan menembakkan pistol di kepalanya.

Selain membawa kesuksesan yang teramat besar bagi Goethe di umurnya yang ke-25 dan menjadi salah satu karya yang berpengaruh di masa Sturm und Drang, novel ini juga mempengaruhi para pembacanya yang kebanyakan merupakan para remaja dan dewasa muda di seluruh dunia. Di Tiongkok porselen dihias dengan siluet-siluet dari novel tersebut, parfum dibuat dengan nama tokoh utama di novel (eau de Werther), dan banyak pemuda mengikuti gaya berpakaian Werther sebagaimana dideskripsikan di dalam novel (memakai tailcoat biru, waistcoat kuning, celana panjang, dan boots tinggi).

Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada salah satu fenomena yang muncul akibat pengaruh dari novel Die Leiden des jungen Werthers, yaitu maraknya tingkat bunuh diri akibat keputusasaan dalam percintaan sebagaimana tokoh Werther di dalam novel. Salah satu yang diberitakan yaitu pada 16 Januari 1778, beberapa tahun setelah novel tersebut diterbitkan, seorang pemudi bernama Christel von Lassberg menenggelamkan dirinya di sungai Ilm, Weimar, dengan novel tersebut berada di dalam sakunya. Banyak kasus-kasus lainnya yang terjadi akibat pengaruh kuat dari tulisan autobiografi Goethe tersebut, sehingga di beberapa tempat seperti Koppenhagen, Leipzig, dan Italia novel tersebut dilarang keras.

Kasus bunuh diri yang muncul akibat pengaruh dari novel Goethe ini dinamakan The Werther Effect oleh David Phillips pada tahun 1974, dua abad setelah novel ini dipublikasikan.

Bagaimana sebuah tulisan bisa sebegitu mempengaruhi pembacanya, hingga melakukan sebuah tindakan yang berujung kematian?

Menurut salah satu artikel jurnal psikologis yang membahas tentang the Werther effect ini, bahwa novel Die Leiden des jungen Werthers dibuat berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di kisah cinta Goethe yang dua kali tak terbalaskan oleh dua orang yang berbeda juga. Yaitu antara Goethe, Charlotte, dan Kestner, yang mana pada akhirnya Charlotte menikah dengan Kestner dan namanya diabadikan sebagai tokoh di novel Goethe; dan antara Goethe, Brentano, Maximilianne dan Jerusalem. Jerusalem membunuh dirinya sendiri pada 1772 dengan menggunakan pistol, sama seperti tokoh Werther dalam novel.

Ditulis terinspirasi dari kisahnya yang dialaminya sendiri, membuat apa yang dituliskan oleh Goethe dalam novelnya tersebut menjadi seperti sebuah kisah yang nyata, sehingga menjadikan para pembaca yang memiliki kisah hidup yang mirip atau sama seperti tokoh di dalam novel menjadi terdorong untuk melakukan hal yang sama seperti Werther, yakni mengakhiri hidupnya. Hal tersebut juga diutarakan oleh Goethe sendiri, “My friends… thought that they must transfrom poetry into reality, imitate a novel like this in real life and, in any case, shoot themselves; and what occured at first among a few took place later among the general public.” (Goethe, quoted in Rose, 1929: XXIV).

Padahal, Goethe menuliskan novel tersebut untuk membebaskan dirinya dari perasaan yang membelenggu dirinya pasca kisah pahit dalam percintaannya, tidak disangka hal tersebut malah membawa pengaruh besar bagi para pembaca dari “pelariannya” tersebut.

 

Quelle:

Artikel Jurnal David P. Phillips American Sociological Review Vol. 39, No. 3 (Jun., 1974), The Influence of Suggestion on Suicide: Substantive and Theoretical Implications of the Werther Effect, halaman 340.

http://www.susannealbers.de/03philosophie-goethe-werther.html

http://www.ub.uni-bielefeld.de/diglib/seiler/werther/werther/tools/htmpool/komplett/wirkung.htm

http://middleeast.thelancet.com/journals/lanpsy/article/PIIS2215-0366(14)70229-9/fulltext

http://www.online-literature.com/goethe/

http://www.klassiker-der-weltliteratur.de/die_leiden_des_jungen_werther.htm

Gambar dari Wikipedia

Artikel ditulis untuk IMBSJI (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jerman Indonesia)

 

Advertisements

One thought on “Goethe : Zwischen Die Leiden des jungen Werthers und The Werther Effect

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s