Sedikit Cerita di Hari Pertama Bulan Ketiga

Hari pertama di bulan ketiga tahun masehi ini jurusanku mengadakan sebuah kuliah umum yang memiliki tagline (atau apalah itu, aku kurang yakin dengan kata yang kupilih sebelumnya) cukup menarik bagiku yaitu Die Qualität deiner Kommunikation bestimmt die Qualität deines Leben. Masalah yang akan dibahas di sini oleh narasumber yang bergelar Sarjana Hukum, Bapak Muhd. Firman Hidayat, adalah “Krisis Kesantunan dalam Interaksi Akademis di Perguruan Tinggi”. Tapi, sejujurnya bukan hal tersebutlah yang menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

1 Maret, juga merupakan hari ulang tahun salah satu dosen prodi Sastra Jerman. Itulah mengapa di saat acara baru saja dipindah alihkan dari MC ke moderator, nyanyian Zum Geburtstag viel Glück memenuhi ruangan aula Pusat Studi Bahasa Jepang, tempat kuliah umum diadakan. Bahkan saat acara telah selesai dan plakat sudah berada di tangan narasumber dan moderator, sebuah selebrasi kecil-kecilan kembali diadakan. Kali ini oleh beberapa mahasiswa angkatan 2016 yang merupakan mahasiswa wali dari Dr. phil. N. Rinaju Purnomowulan. Dan, untuk yang kedua kalinya lagu Selamat Ulang Tahun versi bahasa Jerman kembali berkumandang. Dapat dirasakan bahwa Bu Wulan sangat bahagia karena hal tersebut terpancar dari air muka beliau dan juga ucapan terima kasih yang terucap cukup terbata, bahkan cenderung tidak mampu berkata-kata. Tapi (lagi), sejujurnya bukan hal tersebutlah yang sepenuhnya menggelitik jemariku untuk menuliskan kisahku hari ini.

Menginjak semester keempat aku menimba ilmu di sini, aku ingat betul bahwa pertama kali aku mengenal sosok Bu Wulan pada saat aku masih berstatus mahasiswa baru. Semester pertamaku di mata kuliah Interkulturelle Landeskunde lah aku bertemu dengan beliau. Aku ingat, tugas pertama yang diberikan beliau adalah mempresentasikan provinsi-provinsi di Indonesia dengan Bundesländer di Jerman. Hamburg, adalah Bundesland yang kebetulan menjadi bagian yang harus aku presentasikan (dan proud to say that I once have been there eventhough only for a day). Pada masa itu, aku masih sangat membenci kegiatan presentasi. Untuk berdiri di depan banyak orang dan berbicara atau membawakan materi merupakan suatu hal yang sangat aku hindari. Sebagai seorang yang penakut (dan tidak percaya diri), aku gugup. Sebegitu gugupnya aku hingga aku melakukan suatu kebodohan konyol yang hingga saat ini masih aku ingat dengan jelasn bagaimana aku mengatakan bahwa Hamburger berasal dari Hamburg (atau apa, aku lupa sejujurnya, tapi kurang lebih seperti itu). Sebuah fun fact asal ceplos yang kusebutkan, karena saking gugupnya aku. Di tengah presentasi, sebelum aku semakin ngaco dengan omonganku, beliau memberitahu kepada kelas fakta yang benarnya. Saat itu, aku hanya bisa berdiri setengah gemetar dan nyengir kuda karena “ngide”.

Hmh.

Suka ingin throwback sendiri kalau begini. Apalagi bahas jaman masih berstatus sebagai mahasiswa baru alias maba.

Lupakan.

Kembali lagi ke pembicaraan awal.

Setelah beberapa kali kuliah dengan Bu Wulan, beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa mengajar selama kurang lebih satu bulan ke depan dan akan digantikan oleh dosen lainnya. Alasannya adalah beliau diundang ke Frankfurt Book Fair 2015 atas buku cerita anak karya beliau yang baru saja diterbitkan. Melati im Land des Fußballweltmeisters, begitu judulnya. Aku, yang saat itu tengah tidak produktif menulis, seketika kembali terbakar lagi semangatnya. Apalagi setelah mengetahui bahwa salah seorang pendidikku sebegitu kerennya.

Semenjak itu aku tidak lagi merinding yang disebabkan oleh teringat akan mata kuliah yang diampu saat mendengarkan nama beliau, tetapi akan “kekerenan” beliau.

Tulisan ini sejujurnya stuck sampai di sini. Dikarenakan aku hanya sedikit mengenal beliau. Hanya satu mata kuliah yang kuambil sejauh 4 semester ini yang diampu oleh beliau, dan yang entah bagaimana bisa aku mendapatkan nilai sempurna di Ujian Akhir Semester. Tetapi, aku masih sebegitu kagumnya dengan beliau. Karena aku menyukai orang-orang yang pintar dan gemar menulis, secara general. Sebegitunya.

Dan, hari ini aku senang (walaupun banyak esai-esai untuk lamaran beasiswa yang menunggu untuk diselesaikan) dan butuh untuk “memuntahkan” segala perasaan dan pikiran. Mengingat-ingat kembali lembaran lalu, dan menyatukannya dengan lembaran baru. #ea

Jadi, begitulah. Aku kehabisan kata-kata. Akhir dari cerita ini aku ingin mengatakan bahwa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Bahwa sebelum aku menyandang gelar Sarjana Humaniora di belakang nama Nareswari, aku akan menyelesaikan sebuah buku karyaku dalam bahasa Jerman. Entah itu kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel, komik, atau kompilasi dari semua itu.

Untuk semua yang menyempatkan diri membaca kisahku hari ini, tolong ingatkan dan tagihlah janjiku yang tertulis hari ini. Terima kasih.

14883502308851488350228780

Sekali lagi, herzlichen Glückwunsch zum Geburtstag, liebe Frau Purnomowulan dosen panutanq”.

PS : ini bahagia parah bisa selfie bareng dengan beliau *inserts crying in happiness emoji here*

1488380235510

Advertisements

One thought on “Sedikit Cerita di Hari Pertama Bulan Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s