Amore

amore

Courtesy : google

“Kamu tahu Sayangku, aku terkadang tidak mengerti mengapa di luar sana banyak sekali yang mengagung-agungkan kecantikan fisik,” lelaki dengan sorot mata sayu dengan suara parau itu menyisir rambut kekasihnya dengan jemari, menghentikan ucapannya sejenak saat jemarinya tersangkut di bagian rambut yang kusut. “…kulit mulus bak porselen, rambut panjang nan lebat, hidung mancung, serta mata bulat dengan warna indah bak permata. Iya, itu maksudku kecantikan yang ada di luar itu.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, lelaki itu berhenti memainkan jemarinya. Menghela nafas untuk beberapa saat, lalu beranjak dan berputar mengitari ruangan. Ia mengeluarkan sebatang cerutu dari saku kanan celana kain berwarna cokelat yang ia kenakan, berpindah-pindah dengan anggun dari tangan kanan ke tangan kiri. Dipermainkan begitu saja oleh sang empunya. Setelah beberapa kali berpindah, cerutu tersebut akhirnya bertengger anggun di tangan kiri lelaki itu, yang dengan sigap menggenggam pemantik di tangan satunya. Nyala api merah kebiruan, sangat terang dan berbanding terbalik dengan keadaan ruangan tersebut yang temaram. Sehisap dua hisap jeda sebelum lelaki bersetelan rapi tersebut memulai celotehannya lagi.

“Kecantikan-kecantikan itu memang mampu menyihir banyak sekali manusia di luar sana rupanya, sayangnya hal tersebut fana adanya. Walaupun mereka sudah tahu begitu, tetap saja. Mau-maunya jatuh ke pelukan dan tenggelam dalam kefanaan tersebut.”

Ia telah berputar-putar sebanyak enam kali di ruangan kecil berukuran 4 x 4 m tersebut saat menyelesaikan kalimatnya. Asap cerutu memenuhi seluruh ruangan, karena ventilasi di ruangan tersebut dapat dikatakan kurang baik, dan hal tersebut membuatnya terbatuk-batuk sendiri. Namun tidak begitu dengan lawan bicaranya.

Gelas tinggi yang berdiri anggun di atas meja di sudut ruangan kini menjadi sasarannya, yang mana bentuk gelas itu indah seindah paras dan tubuh kekasih lelaki itu. Gelas itu terisi separuh penuh, cairan yang mengisinya berwarna merah menggoda, sama menggodanya seperti gincu yang terpoles di bibir ia yang dipanggil “Sayangku” oleh lelaki yang tenggah memeluk erat kaki gelas.

Seteguk, dua teguk, tiga teguk. Dalam sekejap mata cairan merah di gelas itu lenyap, masuk ke dalam saluran tenggorokan lelaki yang rupanya tersedak asap cerutunya sendiri.

“Mmh,” ia menggumam pelan. Mungkin berusaha menikmati tetes-tetes terakhir dari isi gelas itu. Yang telah kosong sekosong-kosongnya.

“Kamu itu, ya, cantik. Amat cantik. Luar dalam cantikmu, bisa buat seluruh kaum hawa di dunia ini iri padamu, Sayangku.”

“Kulitmu seputih salju, mulus tanpa cacat bagaikan porselen dengan harga miliaran. Rambut lurus panjangmu, hitam legam begitu pekat dan lebat. Bola matamu yang cokelat, bagaikan biji almond, tatapanmu dalam dan menyejukkan mampu buat siapapun merasa nyaman dalam sepersekian detik.”

Dalam jedanya, ia memainkan jemari menyusuri lekukan di pipi kekasihnya. Lesung pipi, begitu banyak yang menamakannya.

“Lesung pipimu ini, amat cekung dan terekspos malu-malu setiap dirimu tersenyum, melengkapinya menjadikannya semakin indah. Senyummu apalagi, menggambarkan keindahan dan kebahagiaan abadi. Tersungging dari bibirmu yang merah merona walau tanpa gincu mahal yang seharga sebuah sepeda gayung itu. Tomat segar juga kalah dengan rona pipimu tiap kali kukecup keningmu. Ah… Jangan lupakan tubuhmu yang bak gitar Spanyol. Kamu itu lebih dari cantik, Sayangku.”

Lawan bicaranya tetap diam seribu bahasa, mungkin sebegitu terpesonanya akan segala pujian dan rayu yang dilontarkan lelaki itu.

“Tetapi aku, kekasihmu ini, sejujurnya lebih menyukai kecantikan yang di dalam,”

Ia berjalan kembali menghampiri kekasihnya sebelum melanjutkan kata-katanya. Membungkuk, lalu tertawa dengan sangat amat lepas. Hingga ledakan tertawanya menggantikan keheningan yang menguasai ruangan sepersekian detik lalu.

“…dan kamu memang cantik luar dalam.” bisiknya sambil menggantungkan jantung kekasihnya pada lemari kaca.

“Amore” terpampang pada sehelai kertas putih yang tertempel pada lemari tersebut, berwarna merah entah dengan darah atau gincu ditulisnya.

Selamat hari Kasih Sayang, Kekasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s