Tulisan Ini Tidak Membutuhkan Judul, Lebih Membutuhkan Dirimu

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” – Pramoedya Ananta Toer

Aku jatuh cinta sejak pertama kali aku membaca tulisan di atas. Sampai detik ini aku menuliskannya kembali sebagai kalimat pembuka pada tulisanku kali ini. Rasa yang sama seperti saat pertama kalinya aku jatuh cinta pada dunia tulis menulis saat itu, entah kelas berapa saat aku duduk di bangku sekolah dasar.

Aku mudah jatuh cinta pada tulisan. Aku akui itu. Begitu pula pada tulisan-tulisanmu. Pilihan diksimu, serta rangkaian kata yang dengan elok kau torehkan begitu saja, dimanapun itu. Sesimpel dan sesederhana emosi yang terungkap dari tulisan yang kubaca dari profil salah satu akun media sosial dirimu. Dan begitu juga atas kisah yang kau ceritakan pada setiap caption momen abadi yang tertangkap oleh lensa kamera.

Dari tulisan-tulisan itulah tersebut aku mulai sedikit mengenalmu. Bahkan mengagumimu. Namun belum berani aku katakan jika aku sudah jatuh hati padamu, tetapi aku rasa aku telah terjatuh ke dalam alunan kata-katamu yang elok.

Alangkah indah pasti isi dari pikiran tersebut, yang telah tertuang manis dalam selembar kertas, maupun hanya terpampang dalam halaman di dunia maya. Aku tidak sanggup membayangkannya. Karena aku takut jika aku berani membayangkannya, aku akan semakin terjatuh dan terjatuh lagi. Aku belum sanggup akan itu. Tetapi aku tetap berharap untuk bisa masuk dan mengobrol cantik mengenainya. Bolehkah aku?

Pangeran Pena, diperkenankah jika kusebut dirimu dengan julukan baru? Yang mungkin hanya aku yang akan mengetahuinya, dan segelintir manusia yang menghabiskan waktunya untuk membaca sedikit curahan hati seorang pemuja rahasia. Aku yakin, interpretasimu akan julukan tersebut sedikit tidaknya tepat dengan maksudku.

Teruntuk dirimu. Terima kasih sudah menulis. Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta pada rangkaian diksimu. Terima kasih sudah berbagi emosi melalui aksara dan kata. Terima kasih pula sudah memberiku kesempatan untuk mengenalmu, sedikit.

Aku berharap kamu akan tetap menulis. Teruslah. Karena kamu takkan lalu, layaknya tulisanmu. Abadilah. Tulisanmu merupakan salah satu jatuh hatiku yang terindah.

Sekian dariku, yang dari kejauhan dan penuh harapan mengagumimu dengan (mungkin sudah tidak) rahasia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s