Selusin Pesan dari Seseorang

Minggu, 4 September 2016

00:14

Ada 12 pesan baru dari seseorang masuk ke akun LINE-ku. Sayangnya, aku sudah terlelap jauh sebelum waktu tersebut, sehingga baru pada pagi harinya aku dapat membuka dan membaca selusin pesan tersebut.

“Hi, Zhinta.”

Sapa seseorang di seberang sana dengan nama Salsabiila Luqman. Ingat dengan Salsa? Salah seorang teman yang kukenal dari ask.fm, situs tanya jawab yang cukup mengubah hidupku, saat aku menempuh tahun terakhirku di SMA.

“2 jam sudah aku habiskan buat baca WordPress-mu.”

A-aku… mulai speechless di pesan kedua. Maksudku, tidak banyak orang yang sudi mampir (apalagi membaca) blogku yang berantakan nan usang, karena sudah dua bulan lebih tidak diperbaharui. Aku selalu kehilangan kata-kata dan tidak tahu respon apa yang bisa aku berikan saat mengetahui ada orang di luar sana yang membaca apa yang aku tuliskan, sampah-sampah yang bagiku berharga ini.

Sedikit out of topic dari ini, aku ingin menyisipkan sedikit ucapan terima kasih untuk Eu, salah seorang temanku (yang lagi-lagi) aku kenal dari ask.fm. Beberapa hari lalu ia memberitahu kalau ia baru saja stalking blogku lagi. Baca, lagi. Iya, lagi. Berarti ini untuk yang kesekian kalinya, aku terharu. Sungguh! Terima kasih, Eu. Dan tebak, mengenai apa obrolan kami selanjutnya? Ia bilang bahwa ia ingin menulis fiksi, yang diakhiri dengan pernyataan “Aku pengen punya mentor (?) menulis. Kayak Zhinta…” Ah. Aku tersanjung (seperti judul sinetron jaman baheula). Terima kasih lagi, Eu.

Kembali ke pembicaraan awal. Ini lanjutan pesan yang dikirimkan oleh Salsa,

Idk aku terharu, ketawa, senyum sendiri, nangis, campur aduk.”

“Aku bener2 mau bisa menulis selincah kamu, dan mengekspresikan apa yang mau kukeluarkan menggunakan media tulis menulis.”

“Setahun jadi anak Sasindo rasanya aku gagal.”

Terima kasih sudah ikut terbawa ke dalam suasana dan perasaan atas apa yang aku torehkan dalam kata-kata. Tetapi, percayalah bahwa aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku tidak menulis selincah itu, aku tidak terlalu lihai dalam mengekspresikan apa yang aku ingin utarakan dalam tulisanku. Bagaimana jika ini semua hanyalah pencitraan belaka? Hehe. Dan aku ingin Salsa tahu bahwa tidak ada orang yang sepenuhnya gagal. Sebenarnya pula, aku pun di sini masih merasa sebagai mahasiswa sastra yang kurang nyastra, bagaimana bisa begitu? Buku literatur bacaanku belum banyak, bahkan bisa dibilang aku masih belum terlalu membaca. Aku tidak terlalu terbuka mata dengan kasus-kasus terkait bidang sastra baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Banyak alasan lainnya lagi, aku di sini pun terkadang merasa gagal sebagai seorang anak sastra. Tapi, percaya padaku. Kita bukanlah seorang yang gagal, hanya belum berhasil saja. *kedip mata*

Lalu, aku dihujani dengan berbagai pertanyaan. Dari tentang bagaimana kabarku, sampai apakah aku jadi ikut teater.

“Ada banyak hal yang mau aku tanyakan sebenernya.”

Ada 18 pertanyaan yang Salsa utarakan kepadaku dalam pesan ketujuh. Dengan sengaja aku tidak membalasnya di LINE, karena akan kujawab semua di sini, dalam unggahanku di blog kali ini. Karena aku bingung bagaimana membalasnya tanpa terdistraksi dengan obrolan lainnya, dan sekaligus aku ingin memperbarui blogku yang sudah terhiasi sarang laba-laba akibat sudah lama tidak disentuh. Jadi, maaf ya, Salsa. Hehe.

Sekarang ini kamu apa kabar?

Kabarku di sini cukup baik, tetapi aku merasa cukup sedih. Baru kemarin aku mengetahui kabar bahwa seorang teman seangkatanku, salah satu yang sudah kusayangi, tidak melanjutkan kuliahnya di sini. Artinya, dia tidak akan ke Jatinangor lagi, dan hal tersebut mau tidak mau mempersulit kami untuk berjumpa. Entah kapan lagi kami akan dipertemukan semesta. Dan lagi, salah seorang teman terdekatku selama kuliah memutuskan untuk mengambil cuti. Lengkap sudah akhir mingguku, kelabu.

Masih suka nulis puisi?

Masih suka nulis cerpen?

Suka, masih sangat suka. Tetapi sudah sangat amat jarang. Aku tidak sibuk, hanya sok sibuk. Cepat lelah, dan hobi mengeluh. Hal tersebut membuatku belakangan ini tidak menulis apapun. Bahkan status LINE ataupun caption Instagram yang menurutku cukup untuk latihan menulis. Payah, bukan? Tapi aku senang, ada salah satu mata kuliah yang nantinya menuntutku untuk terus menuliskan puisi-puisi dan cerita pendek.

IPK kemarin berapa?

Ah, IPK. Indeks prestasi kumulatif, bukan sih kepanjangannya? Aku tidak terlalu suka dengan nilai. Bukan nilaiku, nilai pada umumnya. Seakan-akan kemampuan manusia hanya sebatas angka-angka yang tertera saja. IPK-ku kemarin cukup memuaskan bagiku, cukup untuk membuatku dapat mengambil 24 SKS lagi semester ini, dan cukup untuk membuat semakin banyak orang yang mengharapkan lebih padaku. Hal tersebut entah negatif entah positif, tapi cukup menekanku secara lahir batin. Intinya, IPK-ku di tahun pertama ini… sekian. Hahahaha.

Masih memendam rasa sama senior di UI?

Aku mengagumi seseorang yang seumuran denganku, bukan senior. Ya, dia anak UI. Aku masih, sampai detik aku menuliskan bagian ini, mengagumi dirinya. Kepintarannya, kebaikan hatinya, keramahannya, sosok dia seutuhnya. Tetapi… hehe, semenjak penerimaan mahasiswa baru fakultas kemarin, aku mulai jatuh hati pada salah seorang senior dari jurusan sebelah. Rahangnya yang tegas, dagunya yang bak terbelah dua di tengah, wibawanya dalam memimpin rapat, tatapan teduh matanya yang tetap tajam, senyumnya yang memabukkan, tawanya yang renyah, sikapnya yang sedikit pemalu, cara bicaranya yang menunjukan bahwa ia seorang yang intelek, tata bahasa dan penulisannya dalam pesan yang rapi, dan bahkan suaranya yang tidak seksi dan sering bergema sendiri. Ah, bagaimana aku (dan mungkin banyak gadis lainnya) bisa tidak jatuh hati padanya?

Udah baca berapa banyak buku bulan/tahun ini?

Ah, ini. Aku malu menjawabnya, saking tidak pernahnya aku membaca buku lagi belakangan ini aku sampai lupa sudah berapa judul buku yang aku selesaikan sejak 2016 dimulai. Zhinta payah, kan.

Apa saja hal yang kamu diskusikan sama Raffy, mengingat katamu di WordPress kamu satu nasib sama dia?

Banyak hal, hal-hal random terlebih tepatnya. Baru tadi pagi dia bilang begini, “…ini dari bahas skincare jadi kemana-mana…”, saking random-nya terkadang pembicaraan kami. Sedangkan kalau bahas hal-hal yang cukup berat, biasanya dia saja yang berbicara, aku berdiri sebagai seorang pendengar (yang kalaupun ingin bicara, lebih sering tidak tahu dan tidak mengerti). Bisa dibilang dia salah satu orang yang aku percaya dan bisa aku ajak untuk mendiskusikan tentang hal apapun itu, se-random­ apapun hal tersebut. Tetapi, yha.. dia cukup menyebalkan bagiku. Begitulah pertemanan kami, yang aku sendiri kadang tidak mengerti.

Bagaimana cara kamu bisa sebagus itu menulis dalam bahasa Inggris?

Berapa skor TOEFL-mu?

Aku yakin, bahasa Inggrisku tidak sebagus itu. Aku masih sangat sering bingung dengan gramatikanya. Hanya saja, aku cukup pede untuk menulis dengan bahasa asing walaupun aku tahu gramatikaku masih cukup berantakan. Tetapi, hal tersebut cukup membantu. Ingat kata pepatah, yang intinya mengatakan bahwa semakin sering kamu latihan maka akan semakin terbiasa dan bisa. Hehe. Percayalah, bahasa Inggrisku masih berantakan. Aku hanya baru bisa menulis dalam bahasa Inggris mengenai hal-hal sederhana, jika diminta untuk menulis esai atau paper atau apapun itu bentuknya mengenai hal-hal yang bagiku cukup berat seperti politik, aku masih belum mampu melakukannya. Dan untuk masalah TOEFL, dalam 19 tahun hidupku ini aku belum pernah sekalipun mengikuti les bahasa Inggris ataupun mengambil tes TOEFL atau IELTS. Jadi, ya. Aku tidak tahu berapa skor TOEFL-ku untuk bahasa Inggrisku yang aku asumsikan masih dalam level intermediate.

Secinta itukah kamu dengan bahasa Jerman sampai kudapati kamu sering mengutarakan sesuatu dengan bahasa Jerman di mana aku cuma tau, “Ich liebe dich” doang…?

Iya, secinta itu. Jerman pernah ada di saat aku patah hati sehancur-hancurnya, dan dia lah yang membuatku jatuh cinta lagi. Dan seperti yang telah aku ceritakan di atas, aku cukup sering (sok) mengutarakan sesuatu dengan bahasa Jerman karena aku ingin belajar dan berlatih. Di luar sana aku yakin ada yang menganggap aku sok atau sombong atau apapun itu, karena cukup sering berkoar menggunakan bahasa yang tidak dimengerti semua orang (walau dengan tata bahasa yang berantakan). Tetapi ya itu, aku menulis untuk belajar dan berlatih. Karena belajar bahasa jika tidak dipakai atau diaplikasikan ke dalam dunia (yang kejam ini, halah) menurutku masih kurang afdal. Hehe. Di Sastra Indonesia juga akan diajarkan beberapa bahasa asing di luar bahasa Inggris, kan? Nanti kamu bisa coba-coba menulis sedikit dengan bahasa tersebut. Atau dengan bahasa Korea yang sudah kamu pelajari sebelumnya? *kedip mata lagi*

Bagaimana Monbukagakusho-nya?

Wah. Kemarin papaku baru saja menanyakan hal yang sama. “Sinta sudah pengumuman tes beasiswa Jepangnya? Tanggal 5 Agustus sudah lewat lama.” Aku gagal, aku ditolak untuk melanjutkan ke tahap tes wawancara. Sebenarnya aku tidak terlalu berharap banyak, dan sudah malas. Jadinya untuk tes tulis kemarin aku hanya sekadar datang dan mengerjakan saja, tanpa persiapan sedikitpun. Dan iya, saat pengumuman kemarin aku tidak memberitahukan kedua orangtuaku, karena bagiku… untuk apa? Kegagalanku tidak perlu diumbar-umbar, bukan? Tak kusangka ternyata papaku masih ingat saja mengenai beasiswa yang menolakku dua kali. Hahahaha.

Bagaimana bisa kamu jadi begitu dekat dan nyaman dengan SEPENA padahal aku sendiri masih jadi silent reader?

Rasa nyaman itu datang dengan sendirinya, entah bagaimana juga aku tidak mengerti. Kalau bagaimana aku bisa begitu dekat dengan manusia-manusia di SEPENA, aku pun tidak paham. Mungkin… masih mungkin, karena selera humor kami sama-sama receh? Dan sekalinya aku dekat, aku langsung dekat dengan anak-anak yang aktif (sekali) di SEPENA seperti Abang, Irza, dan Kak Indri. Aku pun beberapa kali bertemu dengan anak-anak SEPENA, jadi ya begitulah, hehe. Aku sayang SEPENA, da pokoknya mah.

Apakah kamu menikmati Bandung dan Jatinangor?

Aku jatuh cinta dengan Bandung, tetapi belum dengan Jatinangor. Jatinangor itu bagaikan apa ya, entahlah. Tidak dapat kujelaskan dengan frasa. Tetapi aku memaksakan diri untuk betah di sini, dan menyamankan diri.

Bagaimana dengan semester 3?

Semester 3 baru berjalan satu minggu, maksudku masa perkuliahannya. Dan aku sudah lelah, belajar dengan efektif saja belum padahal. Semangatku sedang cukup turun beberapa hari ini, tetapi nanti kalau berjumpa dengan “Akang yang satu itu” juga berkobar lagi, kok. Soalnya dia tipe lelaki yang masuk kategori alpha male dalam kamusku, aku ingin setidaknya memantaskan diri walaupun hanya sekadar untuk mengaguminya. Paling tidak, hal tersebut membuatku termotivasi untuk menjadi lebih dari diriku yang sekarang. HAHAHAHAHA

Kamu pindah kosan atau nggak tahun ini?

Pindah! Aku kecewa dan tidak betah sedikitpun dengan kosanku yang kemarin. Sayangnya, kosanku yang sekarang punya jam malam. Aku masih sering kaget karena sebelumnya aku tidak pernah memiliki “jam malam” bahkan orang tuaku juga tidak pernah mempermasalahkan semalam apa aku pulang, asalkan mereka tahu aku kemana dan dengan siapa. Bayangkan, jam 10an gerbang sudah ditutup! Kan biasanya jam 10 itu baru keluar main, hehe.

Lagu Avril yang mana yang jadi favoritmu?

Judulnya I’m With You. Aku sempat menuliskannya dalam UAS menulis semester kemarin yang menuntut kami menuliskan tentang lagu favorit. Lagu tersebut sudah menjadi yang paling aku sukai sejak awal aku mendengarkan Avril, dan karena lagu itu pula aku bangkit dari jurang kegelapan yang sempat hampir membuatku putus asa akan hidup.

BLURadio apa kabar?

Ah, Salsa. Kamu bahkan menyadari bahwa penulisan radio yang aku ikuti itu BLUR dengan huruf kapital yang disambung dengan tulisan –adio. Hal kecil yang banyak orang terkadang tidak memperhatikan dengan sebegitunya. Aku tetap menjadi seorang announcer yang merangkap sebagai produser, sayangnya aku tetap memproduseri program yang kental akan dunia asmara (sedangkan aku di sini seorang fakir asmara). Gpp lah, katanya skripku cukup bagus sebagai seorang yang tidak profesional dalam dunia percintaan. Yang penting dengarkan terus Diorama, setiap Rabu pukul 20:00-22:00, ya. Dan, aku tidak lagi menjadi announcer di acara BLUR Belajar Budaya, kali ini aku ditempatkan di Ladies Parking. Sebuah program yang diperuntukkan bagi kaum hawa, setiap Kamis pukul 20:00-22:00 di www.bluradiojtr.com. Iya, ini sekalian promosi. Siapa tahu ada gitu yang mau mendengarkan kecerewetanku saat siaran, hahahahaha.

and here goes the last question

Kamu jadi ikut teater?

Jadi, dan sudah. Sayangnya belum pernah ikut tampil dalam pementasan karena aku belum sanggup membagi waktuku dengan kegiatan-kegiatan lainnya yang kuikuti. Sedih, dan tetap merasa payah. Padahal keinginanku yang ingin aku wujudkan tahun ini mencakup tampil dalam suatu pementasan teater. L

Wah, cukup panjang ya. Terima kasih atas 18 pertanyaannya, Salsa. Terima kasih telah menyediakan penyalur bagiku untuk sedikit berbagi kisah tentang apa yang terjadi denganku dan hidupku belakangan ini. Selama aku menghilang dari blog, walaupun yang mencari pun tidak ada, hahahaha.

“Ada banyak hal dalam dirimu yang bikin aku malu pada diriku sendiri, merasa termotivasi, merasa kecil, merasa tidak pantas kenal dan bertemu dengan Zhinta, semuanya.”

“Jangan pernah merasa kalau kamu nggak berguna atau nggak pinter, ya.

Kamu bener-bener membuka pikiran dan hatiku soalnya.

Soal menyayangi seseorang.

Soal mencoba dunia baru.

Soal menulis.

Soal menjadi diri sendiri.

Soal menikmati belajar bahasa.

Soal bersosialisasi dengan orang lain.

Dan banyak hal lainnya.”

Aku…. kehilangan kata-kata lagi. Aku sungguh tidak tahu bagaimana harus merespon pesan yang ini. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa sedikit memotivasi seseorang, tidak pernah sedikitpun menyangka. Kupikir hal tersebut hanyalah bisa terwujud dalam anganku semata. Tetapi, tadi pagi ada seseorang yang dengan frontalnya memberitahuku bahwa anganku tersebut telah menjadi suatu kenyataan. Walaupun aku merasa sebagai butiran debu, yang sekali tiup langsung hilang tidak meninggalkan bekas. Aku terharu, sungguh.

“Singkatnya, 2 jam aku ubek-ubek WordPress-mu, aku tanpa ragu mengetik kalau aku benar-benar mengagumi Zhinta.”

Peryataan ini satu lagi, baru pernah rasanya dalam hidupku ada seseorang yang menyatakan dengan gamblang bahwa ia mengagumiku. Aku, yang sekali lagi, merasa hanya sebagai butirang debu ini dikagumi seseorang. Ya Tuhan.

“Aku harap, kita bisa bertemu.”

Ada seseorang di luar sana yang berharap bisa bertemu denganku…

“Aku sayang banget sama Zhinta.

Sekali pun, sejak Juni tahun lalu, sampai detik ini aku nge-chat kamu, aku nggak pernah nyesel kenal sama kamu. Aku justru bangga. Dan aku harap, entah kapan, aku juga bisa bikin kamu senang karena pernah kenal sama aku.”

…juga sayang denganku, nggak pernah menyesal pernah kenal denganku, dan banggak denganku. Entah apa yang pernah aku lakukan padanya, sampai sebegitunya. Aku tidak tahu.

Dan teruntuk Salsa, yang mengirimkan selusin pesan padaku pagi ini, terima kasih telah menjadi temanku. Teman yang berharap bisa bertemu denganku, yang sayang denganku walaupun belum dipertemukan oleh semesta, yang nggak pernah menyesal untuk mengenalku, dan yang bangga akan aku yang hanya butiran debu ini. Terima kasih.  Aku, Zhinta Nareswari, senang (sekali) bisa mengenal dan menjadi teman dari Salsabiila Luqman!

Advertisements

2 thoughts on “Selusin Pesan dari Seseorang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s