Selamat Ulang Tahun, SEPENA!

Hari ini nilai mata kuliah Bahasa Indonesia sudah keluar, dan berhubung ini adalah mata kuliah yang nilainya terakhir muncul di PAUS aku mengeceknya dengan sedikit dag-dig-dug. Nilai-nilaiku semester ini cukup memuaskan bagiku, dan aku pun berharap begitu pada nilai yang satu ini. Tidak butuh waktu lama untuk mengakses transkrip nilai, dan ketika melihat hasil akhir dari perjuanganku (baca : untuk tidak membolos) selama kelas Bahasa Indonesia satu semester ini, aku puas akan itu.

Semester ini cukup membuatku sedikit payah, aku kewalahan dan beberapa saat sempat menjadi berantakan. Jika kamu belum mengetahuinya, aku baru saja menyelesaikan tahun pertamaku di kuliah. Tetapi syukurlah, Tuhan memberkati pepatah yang mengatakan, “Hasil tidak akan menghianati prosesnya”. Hasil yang aku dapatkan setelah jungkir balik terseok-seok sampai terjun bebas (kembali ke jurang depresi) menempuh 24 SKS yang kuambil semester 2 ini cukup memuaskan, seperti yang telah aku katakan lagi. Aku berhasil mempertahankan IPK, dan IP semester ini naik walau hanya berhasil naik 0,01 dari semester sebelumnya.

Yang membuatku amat senang adalah nilai Schriftlicher Ausdruck-ku pada semester 2 ini membaik, dari B pada semester lalu menjadi A. Nilai B sendiri sebenarnya tidaklah buruk, tetapi yang membuatku kecewa aku mendapatkannya pada semester lalu ialah, aku suka menulis dan aku cukup yakin tulisanku bisa lebih baik dari nilai B yang aku dapat saat itu, apalagi bagiku yang sudah mempelajari bahasa Jerman selama beberapa tahun lamanya dan mengulang di level dasar yang sama untuk ke sekian kalinya. Aku cukup merasa gagal pada saat itu, dan apalah daya aku yang terkadang cenderung melebihkan diri sendiri dan banyak menggantungkan harapan. Payah.

Hari ini selain seluruh nilaiku pada semester 2 telah keluar, juga merupakan hari tepat satu tahun berdirinya SEPENA. Nama SEPENA mungkin sudah cukup sering kalian dengar dariku, bila kita memang berteman dan kamu peduli dengan hal-hal kecil yang sering aku ceritakan. Dan ya, SEPENA adalah komunitas yang aku ikuti dan bisa kukatakan bahwa aku cukup aktif di sana.

 

sepena anniv

Dari kiri ke kanan (baris 1) : lambang SEPENA Kapitol, live class 21 November 2015 di Jakarta bersama Mario, video call dengan bapak founder dari Jatinangor, lambang SEPENA Batagor. Baris 2 : ngopi cantik setelah wisudaan Kak Indri, kumpul di Bandung bersama bapak founder. Baris 3 : kumpul di BSD dalam rangka ulang tahun Irza, buka bersama SEPENA Batagor. Baris 4 : lambang SEPENA Ubay, ngopi cantik setelah live class, wisudaan Kak Indri, lambang SEPENA Yoga. Tengah : lambang SEPENA.

Nah, agar kalian lebih mengenal lagi tentang SEPENA sebelum aku bercerita lebih lanjut mengenainya, aku akan memberitahu sejarah komunitas SEPENA berdasarkan yang ditulis oleh sang bapak founder, Kyle Nasution, di official account LINE SEPENA pada 24 Juni 2016.

Komunitas SEPENA didirikan pada tanggal 12 Juli 2015 dengan nama awal Seniman Kata. Komunitas SEPENA merupakan sebuah komunitas penulis yang dibuat atas dasar iseng-iseng belaka karena pendirinya lagi bosan. Tujuan awal pendirian komunitas ini hanya sekedar untuk menambah koneksi atau network, menambah teman dengan passion atau hobi sejenis, memperluas wawasan dengan jenis-jenis tulisan yang digeluti oleh para member-nya, dan menjadi wadah untuk berbagi tulisan dan berkembang.

Karena berawal dari keisengan, nama komunitas ini pun sempat berubah-ubah sebelum akhirnya memiliki nama tetap, yaitu Seniman Pengolah Kata dengan singkatan yang bermain-main pula, yaitu SEMPAK. Sebelum menjadi komunitas, SEPENA sempat berwujud sekolah menulis online yang berbasis di LINE. Tapi, karena dirasa kurang efektif dan terlalu santai untuk menjadi sebuah sekolah, akhirnya SEPENA berubah bentuk menjadi komunitas.

Menjelang akhir 2015, pendiri banyak mendapat kritik dan dorongan membangun karena Seniman Pengolah Kata memiliki banyak potensi untuk menjadi besar dan membawa visi-visinya. Sehingga pada Desember 2015, pendiri menyerahkan kepemimpinannya kepada Imaduddin Irza M. Dengan syarat mengganti singkatan SEMPAK yang main-main menjadi SEPENA yang terdengar lebih serius. Sejak awal 2016 lah, SEPENA mulai bergerak di bawah kepemimpinan Irza.

Tetapi, sekitar bulan Maret dan April 2016, Irza terpaksa membagi waktunya untuk menangani urusan akademis (ujian nasional), sehingga pendiri kembali mengambil alih kepemimpinan agar SEPENA tidak terbengkalai. Dengan mengacu kepada kritik dan dorongan membangun yang diberikan oleh orang-orang sebelumnya, pergerakan SEPENA kini diusahakan agar lebih serius lagi dengan perbekalan struktur organisasi yang memadai, sukarelawan yang berpengalaman dan berdedikasi sebagai tim pengurus, serta perombakan sistem besar-besaran agar lebih teratur.

Sudah mengenal sedikit tentang apa itu SEPENA dan kilas balik sejarah terbentuknya SEPENA, belum pas rasanya kalau belum membicarakan tentang visi dan misinya. Sebagai komunitas Seniman Pengolah Kata yang bergerak dalam bidang tulis-menulis, visi serta misi yang dimiliki oleh SEPENA adalah sebagai berikut:

Visi

  1. Menjadi komunitas penulis nomor satu di Indonesia.
  2. Meningkatkan kualitas karya tulisan (buku, artikel, dll) di Indonesia.
  3. Mengubah sistem penerbitan buku yang didasarkan kepada keinginan pasar daripada kebutuhan pasar.
  4. Menciptakan penulis Indonesia yang berkualitas.

Misi

  1. Menjadi wadah informasi dan koneksi seputar dunia tulis-menulis dan penciptaan karya dan kemudahan publikasi karya penulis muda.
  2. Memotivasi penulis-penulis muda untuk mendalami dan mengembangkan bakat atau passion mereka dalam menulis.
  3. Memfasilitasi para penulis muda dalam mengibarkan namanya di dunia sastra Indonesia dan tulis-menulis.

Di usianya yang baru menginjak umur satu tahun, uh kalau diibaratkan seorang bayi pasti SEPENA lagi lucu-lucunya #apasihzhin, komunitas ini menurutku pribadi cukup mengalami perkembangan untuk mencapai apa yang telah tercantum dalam visi dan misinya. Selain memiliki grup utama yang biasanya digunakan untuk diskusi umum antar anggota, terdapat pula beberapa grup SEPENA region. SEPENA Kapitol, adalah grup region Jabodetabek dan sekitarnya, grup ini merupakan grup region dengan jumlah anggota paling banyak dan yang paling sering melakukan meet up atau sekadar kongkow-kongkow cantik. SEPENA Yoga, bukan, yang ini bukan grup yang berisikan anggota penghobi yoga, tapi anggota yang berdomisili di Yogyakarta. Mengapa namanya menjadi Yoga? Konon katanya, hal ini disebabkan oleh typo sang pembuat grup pada saat mengetik nama grup tersebut. Sama seperti SEPENA Kapitol, SEPENA Yoga juga suka kongkow-kongkow bareng di burjo, entah mendiskusikan hal berat sampai hanya untuk temu kangen sesama anggota. Ada juga SEPENA Ubay, hm kalau yang satu ini namanya malah seperti nama salah seorang temanku, tapi bukan bernama seperti itu karena grup ini beranggotakan anggota SEPENA yang bernama Ubay saja lho ya (bahkan di SEPENA nggak ada yang namanya Ubay haha). Ubay sendiri berasal dari kata Surabaya. Anggota grup region Ubay ini yang cukup aktif ada tiga bidadari, yaitu Mbak Limas yang make up junkie, Mbak Tiara yang hobi buat sketsa, dan Mbak Venus cantique yang beneran bidadari subhanallah.

Lalu ada *drum rolls* SEPENA Batagor, iya namanya persis seperti cemilan yang merupakan singkatan dari “bakso tahu goreng”, tapi Batagor di sini merupakan singkatan dari Bandung-Tasik-Jatinangor. Bagian deskripsi mengenai grup region ini mungkin akan menjadi cukup panjang dibanding yang lainnya karena aku masuk di grup ini, jadi aku bisa menceritakannya sendiri dari sudut pandang orang pertama bukan orang ketiga, ehe. SEPENA Batagor beranggotakan 12 orang personil yang didominasi oleh domisili Bandung, yakni Acci, Ari, Mas Gulang, Mas Shivan, Galih, dan Shivan. Sedangkan yang berdomisili di Jatinangor, semuanya merupakan anak Unpad, yaitu…. aku *awkward menyebut nama sendiri entah kenapa*, Kak Indri, Kak Fikri, Kak Daras, dan akan ada satu anggota baru tapi doi belum sah jadi anggota Batagor yaitu Irza. Ehe. Fyi aja sih, kalau SEPENA bagian Nangor itu hobinya kumpul sambil menggabut bersama, dan menggibah itu adalah wajib hukumnya hahaha. Dan yang terakhir, satu-satunya anggota yang berdomisili di Ta-nya Batagor adalah mas Alif, sang bidadara SEPENA yang wajahnya unch adem pisan dan sulit sekali untuk bertemu dengan anak-anak Batagor karena beliau amat sibuk, huft.

Setelah menceritakan SEPENA secara umum, aku ingin menceritakan pengalaman pribadiku yang bersangkutan dengan SEPENA, dimulai dari awal mula aku masuk di sekolah SEMPAK sampai sekarang aku merasa nyaman dan sayang pada SEPENA. Kisah ini bermula saat aku masih aktif di ask.fm, aktif yang kumaksud di sini adalah cukup mengikuti perkembangan tanpa ikut menjadi seseorang yang turut serta meramaikan ask.fm #apasihzhin. Ya intinya begitu lah, hobi scrolling down timeline gitu deh, tapi nggak hobi bertanya dan menjawab sebagaimana seharusnya ask.fm itu. Di sana aku menemukan seorang yang bisa aku katakan menginspirasiku, sebut saja namanya Mario aka Kala Sanggurdi. Nah dari sanalah, mungkin aku menemukan suatu pengumuman dari laman ask.fm Abang Kyle mengenai open recruitment sekolah SEMPAK. Alasanku tertarik untuk bergabung sangat simpel dan hanya ada satu, aku ingin mendapat ilmu dari Mario dan mengenalnya sedikit. Sudah, itu saja. Dan aku tidak pernah menyesali keputusanku untuk bergabung dengan SEPENA sampai saat ini.

Karena pada saat itu sistem yang diberlakukan masih berupa sekolah online, jadi para anggota atau siswa diwajibkan untuk masuk dan mengikuti kelas. Aku ingat dulu ada 4 kelas yang tersedia, tetapi aku hanya ingat kelas pertama yang aku ikuti, yaitu kelas A dengan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Dasar dengan Mario sebagai gurunya. Kesanku selama mengikuti pembelajaran secara online adalah ilmu yang diberikan olehnya sangat bermanfaat, walaupun kami belajar dengan cara tidak bertatap muka. Selama mengikuti masa sekolah dan berada di kelas A, aku merasa diriku cukup aktif sebagai seorang siswa di kelas, namun sayangnya aku tidak bisa berbaur di sekolah alias di grup besar. Aku ingat aku hanya pernah muncul saat perkenalan pertama kali masuk di grup, dan setelah itu aku tidak bisa mengikuti pembicaraan yang mengalir begitu cepatnya di antara anggota-anggota lain, dan aku juga saat itu bukan tipe orang yang bisa asal ikut ceplas-ceplos obrolan di grup. Jadilah aku pada saat itu hanya seorang silent reader, yang jika diibaratkan dengan sekolah yang sesungguhnya di dunia nyata bisa dibilang sebagai seorang yang tidak terlihat di lingkungannya, tidak bisa bergaul dan hanya datang ke sekolah untuk menimba ilmu saja.

Lalu semuanya berubah saat negara api menyerang…. nggak deng. Semuanya berubah ketika sekolah SEMPAK akan mengadakan live class di Jakarta pada 21 November 2015. Kak Indri bertanya di grup apakah ada yang berdomisili di Bandung dan sekitarnya, dan aku memberanikan diri untuk muncul dan menjawab pertanyaannya. Sebuah hal yang jarang sekali aku lakukan, nyaris tidak pernah bahkan. Lalu akhirnya kami mengobrol secara personal, dan coba tebak apa? Kami sudah saling mengenal sebelumnya, sebelum bergabung di sekolah SEMPAK. Bagaimana bisa? Jadi, pada saat itu Kak Indri menyebar kuisioner untuk skripsinya di ask.fm, entah bagaimana caranya link kuisioner tersebut bisa muncul di timeline ask.fm-ku, dan aku tertarik untuk mengisinya. Aku lupa bagaimana ceritanya tapi pada akhirnya kami sempat berbincang sejenak di LINE pada saat itu. Karena aku pikir kami tidak akan berhubungan lagi, aku mengeblok akun LINE Kak Indri, dan tanpa kuduga ternyata Kak Indri yang aku temui di sekolah SEMPAK adalah orang yang sama dengan yang waktu itu. Lucunya lagi, tanpa kami sadari kampus kami bersebelahan. Kak Indri yang sekarang sudah lulus, dulunya kuliah di Keperawatan, yang lokasinya tinggal ngesot saja dari FIB.

Akhirnya setelah proses diskusi yang cukup lama, dan pertemuan pertama membahas mengenai perjalanan ke Jakarta yang cukup awkward, kami pergi ke ibukota untuk mengikuti kegiatan live class perdana yang diadakan oleh sekolah SEMPAK. Di sana aku bertemu dengan Mario, yang ternyata sama mengagumkannya dengan dia yang aku kenal dan lihat di dunia maya, dan yang menjadi guruku di kelas Bahasa dan Sastra Indonesia Dasar di sekolah SEMPAK. Selain itu aku juga berkesempatan untuk berjumpa (serta nongkrong cantique nan mahal di Kopikina) dengan bapak founder untuk pertama kalinya, juga dengan Irza, Kak Sherly, dan Gebi. Saat itu pula aku yakin selera humorku terjun bebas konversinya menjadi sangat amat receh. Kalau kamu anggota SEPENA, silahkan bayangkan aku yang tadinya polos dipertemukan dengan duet humor receh ala Abang dan Irza.

Semenjak kepulanganku dari kegiatan live class itulah aku mulai menjadi cukup aktif dan nyaman di grup sampai detik ini. Rasa nyaman tersebut mengantarkanku pada rasa sayang dan rasa memiliki, sehingga aku terdorong untuk ikut mengembangkan komunitas kesayanganku ini. Aku tidak menemukan banyak teman di dalam keikutsertaanku pada SEPENA ini, tetapi aku mendapatkan satu keluarga baru yang tidak memiliki keterikatan darah, namun terikat oleh suatu hobi yang sama yaitu menulis.

Seperti sebagaimana ucapan selamat ulang tahun pada umumnya, biasanya akan diikuti dengan harapan-harapan untuk ke depannya. Harapanku tidak banyak yang bisa kutuliskan, bukan berarti aku tidak memiliki banyak harapan untuk SEPENA di masa mendatang, karena untuk apa berharap banyak lebih baik aku berusaha untuk mewujudkannya bersama yang lainnya. Namun, aku harap SEPENA dapat terus berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya, menjadi lebih dekat dengan visi dan misinya, menjadi tetap satu seperti keluarga, dan agar semua anggota pada suatu saat nanti dapat berjumpa bersama. Yang terakhir itu, aku sedih karena pada tanggal 17 mendatang akan ada potluck party dalam rangka ulang tahun pertama SEPENA dan aku tidak bisa datang karena masih berada di Bali. Tapi aku percaya kalau akan ada waktunya bagi kami semua untuk berjumpa.

Selamat mengulang tahun untuk pertama kalinya, komunitasku tersayang, SEPENA!

Aku padamu.

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Ulang Tahun, SEPENA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s