Mimpi? Mimpi.

Mimpi.

Pergi ke luar negeri selalu menjadi impian saya sejak masih kecil. Saat mulai mengenal internet pada kelas 4 SD, Inggris menjadi negara yang amat saya kagumi. Negara dengan bendera berjuluk “The Union Jack” berhasil membuat saya jatuh hati, entah bagaimana caranya, terlebih kepada ibukota negara tersebut, London.

Beranjak dewasa, obsesi saya terhadap negara Inggris kian memudar, tetapi saya memiliki obsesi baru kepada seorang rocker cantik asal Kanada, Avril Lavigne. Hal ini menyebabkan saya memiliki keinginan untuk mempelajari Bahasa Inggris lebih lanjut secara mandiri, yang hasilnya cukup memuaskan hingga saat ini saya mampu berkomunikasi dan mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, kedua hal tersebut mendorong saya untuk mewujudkan sebuah mimpi masa kecil yang mungkin terdengar tidak masuk akal bagi seorang bocah yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, yaitu untuk dapat pergi ke luar negeri. Bagi sebagian orang, impian tersebut merupakan suatu hal yang mudah untuk diwujudkan, dengan sejumlah uang yang dimiliki.

Memasuki Sekolah Menengah Atas berbagai cara telah saya coba demi mewujudkan mimpi saya tersebut, entah itu seleksi beasiswa, tes untuk student exchange maupun summit, dan lain sebagainya. Seleksi beasiswa pertama yang saya ikuti adalah program AFS-YES 2013, saya hanya mampu sampai di seleksi provinsi dan tidak dapat melanjutkan lagi untuk ke seleksi nasional. Dan beasiswa tersebut hanya bisa diikuti sekali seumur hidup, pada saat duduk di bangku kelas 10. Tes-tes untuk student exchange dan summit tidak pernah berlanjut setelah saya menyelesaikan esai, ya, saya tidak mengumpulkannya. Karena saya tahu dan sadar, bahwa jikapun saya terpilih biaya ini dan itu tetap tidak bisa saya bayarkan, kecuali jika mendapatkan sponsor. Badai keputusasaan sempat melanda saya yang terus gagal dan gagal, tapi semangat dan motivasi yang datang dari keluarga dan teman-teman saya kembali membangkitkan kobaran api semangat yang sempat meredup.

Pada bulan Oktober 2013, saya bertekad untuk mengikuti sebuah lomba, yang pada saat itu saya pikir dapat menjadi jalan alternatif untuk mencapai mimpi tersebut. Saya yang tidak menonjol dalam bidang akademik ini nekat untuk mengikuti sebuah lomba bertaraf nasional, olimpiade Bahasa Jerman atau Nationale Deutsche Olympiade. Bermodalkan dua hal, nekat dan tekad, saya yang pada saat itu masih tidak menguasai Bahasa Jerman sama sekali memaksakan diri untuk belajar, dengan waktu yang terbatas. Waktu saya hanya tiga bulan, materi yang akan diujikan sampai A2-B1, kalau tidak salah B1 awal. Persiapan tiga bulan dan melahap habis 24++ bab dalam dua buku, saya yang saat itu sedang merasakan sedikit patah hati, jatuh cinta lagi. Benar adanya ketika orang berkata, cinta datang karena terbiasa.

Tidak, kembali menjadi jawaban atas usaha saya kali ini. Kecewa. Saya kecewa dengan diri saya sendiri. Seharusnya saya ingat untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi, dan sadar akan keadaan saya saat itu, bahwa saya hanyalah seorang nekat yang baru mempelajari Bahasa Jerman secara ‘gila-gilaan’ tanpa sebelumnya memiliki sertifikat A1. Tetapi yang seharusnya saya lebih ingat bahwa dengan persiapan dan segalanya yang mendadak ini, saya tetap berhasil, walaupun hanya berada di peringkat 12 dari sekian peserta. Tampaknya kekecewaan terlalu mendominasi sehingga saya melupakan hal tersebut. Beruntung guru Bahasa Jerman yang mendampingi saya saat itu, terus memberi saya semangat dan motivasi untuk tidak terpuruk pada kekalahan dan kekecewaan karena bisa saja saya melewatkan kesempatan lainnya di depan sana. Beliau mengingatkan bahwa nanti ke depannya masih ada seribu bahkan lebih jalan untuk menuju Köln, bukan Roma karena itu kota impian saya di Jerman. Masih ada beasiswa sommerkurs PASCH..

Tidak mau kecewa lagi, menuju Ujian A2 demi beasiswa kursus musim panas di Jerman tersebut saya kembali memacu semangat dan belajar. Dalam perjalanan tersebut saya kembali mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa, lagi. Partisipan yang gagal di seleksi provinsi menuju nasional AFS-YES 2013 mendapatkan free pass untuk mengikuti interview beasiswa student exchange selama sebulan di Amerika Serikat oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Januari 2014. Bodohnya saya yang terlalu berfokus dan sedikit ambisius mendapatkan beasiswa kursus musim panas ke Jerman tersebut, saya menyepelekan kesempatan ini. Bukan dengan cara melewatkannya, tapi hanya mengikutinya bagai angin lalu, yang berdampak pada penolakan. Lagi. Dan saya membuktikan bahwa benar katanya dengan belajar bahasa asing, sedikit tidaknya akan mempengaruhi kemampuan Bahasa Inggris yang dimiliki, ah atau mungkin hanya saya saja.

Hasil tidak akan menghianati prosesnya. Kali ini bukan penolakan yang saya dapatkan, sebuah ‘iya’ yang selama ini saya tunggu-tunggu, dan badai kekecewaan telah berlalu. Mimpi saya akan segera menjadi kenyataan, saya mendapatkan beasiswa untuk kursus musim panas selama tiga minggu di Jerman, di sebuah kota kecil nan indah bernama Varenholz. Berumur 17 tahun lewat beberapa hari, saya terbang ke negeri elang hitam, dan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui saya juga berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Istanbul, ibukota Turki dan di Singapura walau hanya untuk sekadar transit.

Tiga minggu dapat dikatakan singkat, sangat singkat malah, untuk jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Saya jatuh cinta dengan negara, suasana, alam, bahasa, aksen, seni, budaya, orang-orang, semuanya. Selama mengikuti program di sana, saya berkesempatan juga untuk mengenal orang-orang serta budaya dari sembilan negara lainnya. Dengan caranya sendiri, Jerman telah mencuri hati saya.

Selama sejauh ini mempelajari bahasa Jerman, dan jatuh cinta pada segala hal ke-Jerman-an, banyak sekali hal-hal positif yang saya terima. Sebagai contohnya, yang saya ingat, akan saya tuliskan secara singkat.

  1. Saya bisa mewujudkan mimpi masa kecil saya untuk pergi ke luar negeri melalui beasiswa yang ditawarkan oleh pusat kebudayaan Jerman, Goethe Institut, dalam program PASCH atau sekolah mitra masa depan.
  2. Saat saya mengikuti lomba nasional tersebut, saya berkesempatan untuk mengenal teman-teman dari Sabang sampai Merauke.
  3. Jumlah teman dari luar negeri yang saya miliki saat ini sekitar 75%-nya berasal dari Jerman, dan atau yang berbicara Bahasa Jerman.
  4. Berkat kalimat Ich spreche ein bisschen Deutsch… yang saya tulis di Instagram, saya berkenalan dengan seorang gadis Jerman yang sekarang menjadi salah seorang teman terbaik yang pernah saya miliki.
  5. Sekarang saya tengah menempuh studi di jenjang perguruan tinggi, dimana program studi yang saya pilih merupakan suatu bidang yang saya sangat sukai, yaitu Sastra Jerman. Tidak peduli pandangan dan stereotip negatif mengenai jurusan yang saya pilih, saya selalu memiliki pemikiran bahwa sesuatu yang dilakukan dengan penuh cinta hasilnya akan jauh lebih baik daripada yang dilakukan dengan penuh paksaan.

Dan list tersebut akan terus bertambah semakin saya memperdalam ilmu saya, dan belajar.

Sebenarnya jikalau bukan dikarenakan masalah finansial, ingin rasanya untuk menempuh jenjang sarjana di negara berbendera hitam, merah dan emas tersebut. Belum saatnya, tapi nanti saya akan mewujudkannya, untuk menimba ilmu di sana pada saat mengambil program master dan atau doktor.

Akan saya persiapkan lagi dengan matang demi menyongsong masa depan yang cemerlang, dan kembali mewujudkan mimpi-mimpi. Karena semuanya tidak pernah semudah membalikkan telapak tangan. Dan semoga saja asam garam jungkir balik penolakan serta kekecewaan yang pernah saya rasakan tersebut akan semakin membuat saya kuat dan tegar, jika memang suatu saat nanti bertemu dengannya lagi.

Deutschland, wo ich Liebe finde.

 

(Dengan sebegitu banyaknya penambahan, dan perombakan, dari sebuah esai yang merupakan tugas akhir SMA, “Mimpi dan Keterkaitannya dengan Negara Elang Hitam” pada 9 Maret 2015.)

 

PS : I’m turning 19. Happy birthday, hey you.

Advertisements

2 thoughts on “Mimpi? Mimpi.

  1. opikwayne says:

    Happy birthday, girl!
    Since you ain’t replying on Line. I wanna say this again. Right here as a fellow blogger. But this one is with more serious tone.
    Uh the thing is I find your writing so damn good. I kinda copy your style, though I am more on a ‘reflection-based’ and you are ‘literature-based’. So, yeah.
    Hope you be good with your life. Hope you don’t take things too much. Oh, you know what I mean. Hope you be more grateful with what you have. Hope you be more confident with your skin. Hope you will have a boyfriend soon. Promise me you will always still be happy in your ups and downs. Lastly, Stay gothic and love Avril.
    It’s still 11:49 on my clock, so it’s still count.
    Again, happy birthday, Jinten!
    sorry, Shinta.
    I’m kidding.
    Zhinta

    your damn stupid senior,
    Opik Wayne.

    p.s. where will it be? ramen or fried rice? Either way, I’ll be coming.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s