Kematian

Aku selalu takut dengan kematian. Entah kenapa di umurku yang telah sampai di kepala dua ini aku masih belum bisa berteman dengan kematian. Ia selalu sanggup membuatku takut. Tidak, ia belum pernah mengajak seseorang terdekatku untuk ikut pergi bersamanya, yang sebegitunya hingga membuatku sangat ketakutan. Aku hanya… takut.

Sering aku membayangkan bagaimana jadinya aku setelah kematian. Akankah aku pergi ke suatu tempat yang bernama surga dan neraka, mungkin pula aku akan bertemu dengan Ia yang disebut sebagai pencipta kita semua dan berkesempatan untuk bercengkrama dengan mereka pendahulu yang telah tiada. Aku tidak terlalu suka dan percaya pada semua konsep yang tadi itu. Dalam bayanganku setelah kematian aku akan berada di suatu ruang kosong, yang hitam dan gelap, sendirian. Begitu saja. Terlalu banyak kemungkinan yang muncul di benakku ketika memikirkan tentang kematian. Tetap saja tak satupun mampu membuatku berani untuk berteman dengan kematian.

Pernah mendengar keluhan mereka yang lelah dengan kehidupan? Atau beberapa yang pada akhirnya tak kuasa dan menyerah saja pada kematian, yang mungkin lebih kusebut dengan menyerahkan diri. Aku tidak mengenal satupun, sebegitu enggannya aku berurusan dengan kematian sampai tak mau aku mendekatkan diri dengan mereka yang sudah berbau kematian.

Suatu ketika aku punya kesayangan, seekor anjing yang sudah menemaniku dan keluargaku sejak dahulu. Umurnya sudah tua untuk spesiesnya, tapi ia masih lincah, segar dan bugar, jauh dari penyakit. Di malam itu, baru saja kuselesaikan sebuah rapat membahas suatu acara yang cukup besar di sekolah. Lelah, sudah pasti, jarum pendek di jam dinding ruang tamu sudah menunjuk ke angka 2. Sudah larut, terlalu larut bagi seluruh penghuni rumah, yang kudengar hanya suara dengkuran lembut dari kamar asisten rumah tangga kami. Tapi selarut apapun aku kembali, tidak akan menjadi suatu alasan bagi kesayanganku itu, dia masih tetap akan menyambutku dengan kibasan ekornya yang gembira, seakan menghapus segala lelah dan emosi yang membalutku sejak tadi. Sungguh aneh kali ini, aku merasakan sesuatu yang ganjil terjadi, ia tampak lesu dan kibasan ekornya tidak seriang biasanya. Ia kembali ke sudut dapur, tertidur dengan lemas. Kuambil segelas susu dan kutuang di mangkuk tepat di samping kakinya, dan ia tidak bereaksi. Kupikir dengan membelai tubuhnya yang lemas akan sedikit menyembuhkan, paling tidak menaikkan semangatnya, tapi ia tetap terdiam di posisi yang sama, tertunduk. Jemariku masih menyusuri bulu-bulu emas kecoklatan yang tiada berubah sejak awal kami dipertemukan. Semenit, dua menit, lima menit, beberapa menit, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkannya dan beristirahat. Kutepuk pelan kepalanya sebelum beranjak, dan masih tidak ada respon sama sekali. Aku curiga. Dan kecurigaan itu benar, nafasnya tiada. Kesayanganku pergi, sekarang hanya jasadnya di sampingku tidak bernyawa. Aku kaget. Aku tidak terima. Kematian mengambilnya dariku begitu saja, seenaknya. Aku berteriak, di malam yang larut itu, membenci seraya semakin takut akan kematian.

Tidak sanggup aku membenci kematian, sampai sudah cukup aku tidak berani-berani lagi untuk membencinya. Aku hanya masih takut. Aku belum siap dan belum sanggup untuk bertemu dengannya, pun memberinya jalan untuk bertemu dan mengajak orang-orang terkasihku pergi. Kata orang-orang kematian bisa menjemputmu kapan saja, entah saat masih muda maupun nanti jika sudah tua. Hal tersebut seakan makin menakuti aku yang sudah takut pada awalnya.

Lalu beginilah hidupku yang dihantui oleh ketakutan akan kematian. Aku tidak pernah berjalan di jalan yang akan membahayakanku, yang mungkin nanti akan mempertemukanku dengan kematian. Aku tidak mau mencoba hal-hal ekstrim yang menaikkan adrenalin, karena mungkin saja itu yang akan membawaku pada kematian. Tidak, tidak mau. Tidak, tidak akan. Jadilah hidupku hanya begini saja, aman dan terkendali, di satu sisi aku berharap hal itu akan menjauhkanku dari kematian.

Pertemuan terdekatku dengan kematian sejauh ini adalah saat ia membawa pergi anjing kesayanganku. Hanya itu, dan baru itu. Belakangan ini aku tidak bisa berhenti untuk memikirkannya, bahkan ketika aku akan beristirahat dan memejamkan mata sejenak. Kenangan akan kematian begitu membayangiku, menghantuiku, dan kehidupanku. Tiba-tiba saja. Apakah ini merupakan suatu pertanda? Jika ia dalam waktu dekat secara tiba-tiba akan mendatangiku, memintaku untuk mengikutinya, pergi meninggalkan dunia bahkan saat aku belum mengucap iya. Aku ragu akan hal itu. Tetapi rasa takut begitu memelukku, sehingga akal sehatku tidak mampu berpikir secara rasional, aku bisa gila.

Sekarang, setiap malam saat aku akan beristirahat sebelum menjalani hari di kemudian pagi, sesaat sebelum aku memejamkan mata dan terlelap, bayangan akan kematian itu tidak pernah absen untuk mendatangiku. Bagai menyanyikan lagu pengantar tidur yang seakan bisa membawaku tertidur, tertidur untuk selamanya. Membuatku takut untuk menutup mata lebih dari sekian detik, aku takut ketika aku membuka mataku lagi, aku akan berada di suatu tempat yang berbeda dari tempat aku berbaring sebelumnya, atau lebih buruk lagi aku terbangun di tempat yang sama tetapi di luar dari jasadku. Tak bernyawa. Aku takut.

Ketakutanku semakin menjadi-jadi, beberapa hari ini aku tidak tertidur, kurang lebih selama tiga hari. Terima kasih akan ketakutanku itu, sekarang kantung di bawah mataku semakin menghitam, menjadikanku sebelas dua belas dengan hewan khas dari Cina, panda. Penampilanku yang selama ini selalu kuusahakan untuk rapi, dan setidaknya terjaga, tak terelakan menjadi bulan-bulanan ketakutanku ini. Aku berantakan. Tak bisa kuhitung dengan jari sudah berapa orang yang menyarankanku untuk memperbanyak jam tidurku, yang hanya dapat kubalas dengan seulas senyum simpul dengan alasan demi kesopanan. Ah, andai saja mereka mengerti. Jangankan mereka, aku saja sampai sekarang masih belum mengerti.

Tidak kuat lagi aku menahan kantuk, aku butuh tidur, badanku butuh istirahat, terlebih kedua mataku. Tetapi ketakutan ini masih menguasai seluruh pikiranku, aku sampai sekarang belum sanggup mengalahkannya, dan aku sudah lelah. Ingin rasanya aku meminta seseorang untuk menjagaku saat tertidur, tapi untuk apa? Untuk menjagaku tetap hidup kah? Untuk menemaniku jika kematian tiba-tiba datang menjemput? Konyol. Aku akan ditertawakan habis-habisan. Tidak, tidak. Akal sehatku masih sedikit berfungsi untuk menahanku melakukan hal tersebut.

Ini hari ketiga aku sudah tidak tertidur secara sadar, maksudku tertidur dengan keadaan bahwa aku sadar aku menginginkannya. Mungkin beberapa kali kantuk berhasil mencuri waktu dan menyebabkan aku tertidur tanpa sadar selama beberapa menit, tetap saja hal tersebut masih tidak membantu memulihkan kelelahan akan terjaga selama lebih dari sekali rotasi bumi. Kafein menjadi pelarianku belakangan ini, tidak sehat aku tahu, tapi mau bagaimana lagi?

Aku memesan segelas kopi lagi di kantin, iya, lagi. Ini adalah yang kesekian sejak pagi tadi, dan jarum jam belum menunjukan pukul 15.00. Dalam waktu 30 menit aku ada rapat, tidak ada seorangpun di kalangan teman-temanku yang tahu kalau aku seperti ini bukan karena sibuk dan stres menghadapi segudang kegiatan yang aku ikuti, tetapi karena ketakutanku akan satu, kematian. Sembari berjalan mengejar waktu aku menghirup dalam-dalam aroma kopi hitam yang dulu tidak pernah menjadi favoritku sebelumnya, rasanya yang pahit dan pekat mengingatkanku akan kehidupan. Membuatku berpikir kenapa aku sebegitu takutnya dengan kematian, tetapi tidak dengan kehidupan.

Tunggu. Seingatku aroma terakhir yang aku cium adalah aroma kopi hitam, yang khas dan pekat. Mengapa sekarang tergantikan oleh aroma darah yang masih segar? Ah, otakku sudah semakin kacau, mungkin sedikit terkontaminasi jumlah kafein yang cukup banyak. Tapi, hei bukannya itu aku terbaring tepat di tengah jalan sana? Kalau aku sedang melewati cermin mengapa sosokku di cermin tidak bergerak? Bahkan sedikitpun tidak. Apa yang terjadi? Mengapa aku mendadak menjadi bodoh? Dan di mana kopi hitamku tadi? Itu kah? Yang wadahnya remuk dengan hiasan bekas lindasan roda mobil di salah satu sisinya?  Yang isinya berhamburan menyatu dengan hitamnya aspal? Aroma darah bahkan menyelimuti jauh lebih pekat dari kopi hitamku kini. Ada apa?

Berjuta pertanyaan mengalir di benakku saat ini, membuatku ingin menangis saja. Tidak, aku tidak boleh menangis. Aku kuat. Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini, siapa yang akan menjawabnya? Karena aku tidak memiliki jawaban dari satupun itu. Seseorang muncul entah dari mana, atau mungkin aku saja yang terlalu sibuk dengan diriku sendiri hingga tidak menyadari kehadirannya. Ia tidak tersenyum, hanya memandangku. Tatapannya begitu lembut, dan ketika aku menatapnya balik, aku menemukan kenyamanan di sana. Tangan kanannya mengulur kepadaku, aku yang terduduk di sebelah aku yang tergeletak begitu saja di tengah jalan, di antara hamburan aroma kopi dan darah serta aspal yang menyatu, menciptakan aroma yang mampu membuatku bergidik ngeri.

“Apakah aku sudah mati?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku, entah sudah disaring terlebih dahulu atau belum oleh otakku. Itu pertanyaan terakhir yang ingin aku tanyakan, entah kepada diriku sendiri, kepada orang lain, atau bahkan kepada Sang Kematian. Seseorang tersebut mengangguk pelan, masih tetap tidak tersenyum. Sosoknya begitu… ah, tidak dapat kujelaskan. Indah. Cantik. Jelita. Kata apa lagi yang bisa aku gunakan untuk mendeskripsikan seorang wanita yang parasnya luar biasa, yang mampu membuat lelaki manapun di dunia tidak sanggup berpaling darinya, itu. Dia.

Tangannya masih terjulur menunggu uluran tanganku untuk menyambutnya. Waktuku tidak lama lagi untuk memutuskan. Tunggu… apakah ini adalah sebuah keputusan? Aku berkata seakan aku masih mempunyai pilihan. Saat aku merasa sudah siap menyambut uluran tangannya itulah, dengan refleks. Tangan kami bertautan, dan ia tersenyum. Alangkah indahnya, oh Tuhan.

“Akulah Kematian.”

Pernyataannya mengagetkanku. Aku pikir ia adalah bidadari atau malaikat yang akan membawaku ke Surga, tapi aku hanyalah manusia biasa yang mampu menerka saja. Dialah Sang Kematian, yang selama ini begitu aku takutkan, berdiri di hadapanku. Menyambutku dengan kehangatan, memberiku kenyamanan bahkan hanya dengan beberapa saat bersamanya. Ah, bodohnya aku, seharusnya aku tidak takut padanya sejak dahulu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s