What I Did, What I Got, What I Achieved on 2015

Sudah akan berganti saja tahunnya. Waktu terasa mengejar semakin cepat, ya. Walaupun mungkin bukan hanya aku yang merasakannya, jujur, 2015 berlalu seperti baru kemarin. Cepat, sekali. Aku sudah kembali menulis “What to do, what to get, what to achieve” untuk tahun 2016, tetapi seperti biasanya aku baru akan mempublikasikannya nanti, setahun kemudian menuju akhir tahun. Lagipula aku juga meninggalkan notes tempat aku menulisnya di Jatinangor, syukur aku menemukan yang tahun ini juga di notes tempat aku menulisnya tahun lalu, di notes yang terpisah dan ada di laci kamar. Kalau tahun lalu aku mempublikasikannya di Path, walau pada saat itu aku hanya berteman dengan segelintir orang yang aku percaya untuk mengakses tulisan-tulisan sampahku di Path, tampaknya tahun ini akan bisa lebih luas dibaca karena aku akan menuliskannya di blog.

Ah, daripada aku kebablasan menulis prolog, lebih baik langsung saja agar lebih singkat, karena aku yakin ini akan menjadi sedikit panjang.

What I Did, What I Got, What I Achieved on 2015 – Zhinta Nareswari

  1. Diterima di Universitas Indonesia jurusan Sastra Jerman (tapi Sastra Rusia juga nggak apa-apa, hehe).

Gagal. Tiga kali ditolak. Tiga kali ditolak Sastra Jerman Universitas Indonesia, via SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dua kali ditolak Sastra Rusia Universitas Indonesia via SNMPTN dan SIMAK UI. Syukurnya, diterima di Sastra Jerman Universitas Padjadjaran, heu. Obsesi pribadi mungkin, ingin menjadi bagian dari Jas Kuning dengan Makara Putih, sejak awal kenaikan kelas XI. Dan kalau saja kalian tahu sakitnya ditolak universitas impian itu jauh lebih menyakitkan daripada ditolak cinta. Serius. Seakan impian kalian hancur saja berkeping-keping. Sakit. Yha, walau sudah diterima di Sastra Jerman, tetap saja bukan di Universitas Indonesia. Jadi, bersyukurlah kalian yang diterima di Universitas Indonesia walaupun “tersasar” di Sastra. 🙂

Kalau ditanya apakah tahun depan aku akan tetap mencoba peruntunganku di Sastra Jerman Universitas Indonesia lagi, mungkin tidak, delapan puluh persen tidak. Membuang-buang waktu saja, dan juga uang, pastinya. Kemarin kesempatan untuk ikut kelas akselerasi langsung ke semester 3 aku tolak, dengan alasan belum siap dan lupa dengan materi. Sungguh lucu jika tahun berikutnya aku ikut SBMPTN, dan jikalau diterima, akan mengulang LAGI dari awal.

Aku lebih memilih untuk mencoba peruntunganku di Monbukagakusho lagi saja. Walaupun bertolak belakang jauh dari impianku, tapi toh kuliah di luar negeri tetap merupakan salah satu impian terbesarku sejak lama. Yang saat ini tidak mungkin karena masalah biaya. Tahun ini aku hanya sampai di tahap interview dan gagal di seleksi internasional, mungkin saja tahun depan aku merupakan salah satu dari delegasi terpilih untuk melanjutkan studi di Negeri Sakura. Tidak ada yang tahu bukan?

Ini mengingatkanku lagi pada salah satu jawabanku saat interview untuk Monbukagakusho di Kedutaan Besar Jepang pada Agustus tahun lalu, tidak masalah di mana tempat nanti aku kuliah jika terpilih, yang terpenting tetap ada pada diriku sendiri karena bagaimanapun aku lah yang menentukan masa depanku, bukan universitas tempat aku menimba ilmu walau itu bisa menjadi satu dari sekian banyak faktor yang mendukung.

Walau sampai saat ini masih mencoba melepas cinta akan kampus orang lain,

Universitas Padjadjaran, aku padamu.

 

  1. Kalau bisa diterima di Universitas Indonesia-nya via SNMPTN.

Aku ingat hanya memilih dua dari tiga kesempatan yang diberikan, pilihan pertama Sastra Jerman UI, dan pilihan kedua Sastra Rusia UI. Sebegitu optimisnya aku, sampai tidak mengisi pilihan pada kolom ketiga. Dengan melampirkan sertifikat dan piagam yang berkaitan dengan jurusan yang aku impikan, aku merasa seperti di atas angin, salahku. Dan juga aku tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang terburuk, yaitu ditolak. Karena sebegitu merasa di atas anginnya aku. Salahku, lagi. Lalu penolakan yang terjadi. Bukan hanya sekali, tetapi tiga kali. Lupakan, mungkin bukan jalanku.

  1. Rata-rata nilai Ujian Nasional di atas 90,0.

Yha, ternyata nilai rata-rata tidak mencapai 90,0. Sedikit lagi. 89,4. Gagal juga, huft.

 

  1. Ujian B1 Bahasa Jerman sebelum tengah tahun, dan lulus.

Setelah selesai dengan UN, aku pikir aku akan bebas. Ternyata harus belajar untuk SBMPTN, dan aku tidak sempat untuk melanjutkan belajar bahasa Jerman. Lebih tepatnya, sok tidak sempat, karena sebenarnya banyak waktu luang yang aku miliki tapi karena ke-sok-sibukan yang selalu menyertai, bagaimana lagi? Menyedihkan, aku harus mengulang lagi belajar A1 untuk kesekian kalinya saat kuliah karena sudah lupa dengan apa yang aku pelajari selama ini. Lebih jatuh ke memalukan, sih.

 

  1. Belajar Bahasa Prancis minimal sampai A1 sebelum akhir tahun.

Yang ini apalagi. Ujian B1 saja tidak kesampaian, bagaimana belajar bahasa baru. Mungkin impianku untuk menjadi seorang poliglot ini terlalu mengada-ada.

 

  1. Belajar Bahasa Rusia minimal hafal aksara Cyrillic dan percakapan sehari-hari.

Kemarin sempat ikut kegiatan belajar bahasa-bahasa asing yang diusulkan oleh seorang teman dari jurusan sebelah, tapi seingatku baru berjalan satu kali kegiatan belajar mengajarnya. Dan aku? Masih saja meraba-raba dalam membaca dan menulis menggunakan aksara Cyrillic. Sedangkan bahasa Rusianya, masih nol besar. Ah, aku ingin sekali menguasai bahasa Rusia padahal. Karena menurutku bahasa Rusia merupakan suatu bahasa yang begitu menantang, dan menjanjikan. Selain itu juga, dapat menjadi salah satu daya dukung untuk mengenal (ehem, baca pdkt) lelaki di negara pecahan Uni Soviet yang emesh-emesh, yha.

 

  1. Baca buku tentang filsafat minimal 5 buku.

Masih ingat tentang aku yang kehilangan minat membacaku sejak kenaikan kelas XII? Ya, itu masih menerpaku sampai detik aku menulis ini.

 

  1. Be more comfortable with my own skin.

I think this year I’m much more comfortable with myself, though I still am lack of confidence but still. I need to be more comfortable in and with my own skin.

 

  1. Dye my hair.

I did it! I dyed half of my hair pink, and red, and pink. Whatever. I love it! But it did damage my hair a lot. It’s much damaged now that I think I have to cut it short and take care of it again from the very beginning. But it’s so addicting! I’m planning to dye half of my hair turquoise and rainbow next year! Couldn’t be more excited, yeay! Today I just re-dyed my hair red, whoa.

  1. Get a pair of fabulous shoes.

I always get what I want, is the title of one of Avril’s song. I did get such a fabulous boots that I really really really wanted. And another boots, oh how much I love boots I’m planning to get another very soon too.

 

  1. Donate blood.

On the beginning of the year I tried to donate blood, but I failed. Because the blood didn’t come out it’s so weird. On one of the event held by German Literature’s 50th Anniversary, I tried to donate blood, again. And guess what happened after that? I fainted. It’s so silly, I couldn’t be more embarassed.

 

  1. Ke Dunia Fantasi atau Trans Studio Bandung.

Saat kemarin SBMPTN, aku tes di Bandung, bisa dibilang sekalian jalan-jalan. Berhubung terakhir kali aku pergi ke amusement park itu tahun 2014 saat di Jerman, yaitu ke Heide Park, aku ingin sekali pergi ke taman hiburan di Indonesia untuk merasakan lagi sensasinya, haha. Dan setelah SBMPTN atau SIMAK UI, aku lupa, akhirnya aku pergi ke Trans Studio Bandung bersama seorang sahabatku.

  1. Jalan-jalan ke Bandung atau Jogja.

Tampaknya yang ini berkaitan dengan yang di atas. Walau tidak sempat berkunjung ke Jogja tahun ini, tapi aku berkesempatan liburan di Bandung. Bahkan, melanjutkan studi di (pinggiran) Bandung. Sejauh ini, seingatku, aku sudah mengunjungi Museum Asia Afrika, Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, Trans Studio Bandung, Trans Studio Mall, Paris Van Java, Cihampelas Walk, Kawah Putih, Kebuh Teh Rancabali, Farm House Lembang, Alun-alun Dago, Istana Plaza, Alun-alun Bandung, Jalan Braga, dan entahlah aku lupa haha.

Aku juga berkesempatan untuk pergi ke Jakarta beberapa kali. Dua atau tiga kali, aku lupa lagi haha. Tapi tidak untuk jalan-jalan, ada beberapa keperluan dan urusan yang harus diselesaikan. Yang pertama, pada 18 Agustus lalu untuk tes interview Monbukagakusho 2016. Yang kedua, pada 21 November kemarin untuk mengikuti kegiatan live class Seniman Pengolah Kata.

Semoga saja, tahun depan bisa lanjut jalan-jalan entah ke Jogja atau ke Malang!

  1. Ikut ekskul teater di kuliah dan perform.

Kalau dibilang sudah ikut, bisa dibilang seperti itu. Karena aku sendiri sudah mendaftarkan diri di teater jurusan yang bernama Mata Mawar. Tetapi, karena belum resmi diterima, yha. Mungkin tahun depan baru bisa berkontribusi lebih. Tahun ini aku menjadi panitia divisi acara di Theatron 2015, acara tahunan yang merupakan program kerja HIMASAD, himpunan mahasiswa sastra (d)jerman. Lebih tepatnya menjadi seorang LO untuk teater dari Sastra Rusia. Asik, walaupun yha, cukup melelahkan.

Membicarakan masalah ekskul atau yang lebih populer disebut UKM saat masa kuliah ini, aku pada awalnya ingin hanya jadi mahasiswa ambisius yang kupu-kupu, kuliah-pulang-kuliah pulang. Tetapi ternyata apa, pada semester pertamaku di kuliah, aku malah sok sibuk dengan nongkrong di kampus sampai sore walau tidak ada kegiatan, ikut kepanitiaan-kepanitiaan, skip kelas dengan alasan malas, ikut UKM sampai dua biji jumlahnya. Iya, aku juga mendaftarkan diri di UKM radio fakultas, dan diterima menjadi announcer. Sesuatu yang sangat baru bagiku yang tidak pernah mencicipi dunia broadcasting. Aku yang pemalu, tidak pandai berbicara apalagi di depan umum, menjadi seorang penyiar? Apa bisa? Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan? Lagipula memang tujuanku mengikuti kegiatan ini untuk mengasah kemampuan public speaking-ku yang memang masih nol besar.

Yha. Asik sih, sok sibuk sana sini, dan aku yakin akan berpengaruh kepada akademisku kelak, tetapi soft skills-ku menjadi terasah dengan ini. Aku harus semakin pintar membagi waktu tahun depan, atau aku akan lelah sendiri dengan keadaan. Apalagi dengan aku yang tetap harus memiliki me time untuk mengembalikan energiku yang telah terpakai bertemu dengan sekian banyak orang dalam satu hari.

Semester depan aku berencana untuk mengikuti kegiatan UKM di tingkat universitas, yang menarik perhatianku adalah AIESEC, ESU (English Speaking Union) dan Taekwondo. Entah apa jadi atau tidaknya aku menambah mengikuti satu kegiatan atau bahkan lebih di tahun depan, lihat saja nanti.

  1. Do jogging sometimes.

If only you know how much I hate running, but I’m trying to, you know, lose weights and do sport to stay healthy. But it’s goddamn hard like why.

 

  1. Find Senpai if he came back to Jakarta (which means harus masuk UI).

Which means harus masuk UI” ah. Nggak juga. Buktinya aku nggak di UI tapi tahun ini bertemu dengan Senpai. Bahkan ngopi cantique bareng. Ada seribu jalan menuju Roma, kan. Walau Jatinangor-Jakarta sekitar 3 jam naik kereta api, dan aku yang terus diledek karena tinggal di pinggiran Bandung.

Oh, ya. Yang berkesan, yaitu, “Teman-teman perempuanku yang asli Bali semuanya anggun, tapi kok kamu nggak, ya?”. Hm. Dibilang tidak anggun oleh Senpai. Pencitraan Zhinta hancur seketika saat itu, haha.

 

  1. Get new friends and get along with them.

Tahun ini, berhubung aku baru memulai petualanganku di dunia perkuliahan dan merantau di kota orang, aku menemukan mungkin seribu lebih wajah baru dan berkenalan dengan mereka, tetapi aku hanya akan membahas beberapa saja di sini karena kalau tidak, bisa habis beberapa lembar hanya untuk menjabarkan bagian ini saja, haha.

Awal Januari, aku berkenalan dengan seseorang di Instagram, namanya Paulina. Dia seorang gadis seumuranku yang berasal dari Astana, ibukota Kazachstan, yang hanya memiliki satu common interest yang akhirnya mempertemukan kita, yaitu Bahasa Jerman. Paulina kenal dengan Viktoriya, salah seorang temanku di kursus musim panas 2014 lalu dari Kazachstan, di Instagram dan di sanalah dia menemukan profilku. Aku lupa alasannya untuk mengikuti profilku apa, tapi aku ingat pernah bertanya padanya kenapa. Kami sempat mengobrol beberapa topik via kolom komentar di Instagram yang berlanjut sebentar di Whatsapp. Sekarang pembicaraan itu tidak berlanjut tetapi kami tetap masih saling berhubungan walau hanya sekadar memberi komentar di foto yang diunggah di Instagram.

Pertengahan Maret, percaya atau tidak aku mulai “berteman” dengan Senpai di LINE, kami sempat membicarakan beberapa topik yang menurutku sangat anti mainstream, dan unik. Lalu tepat saat aku berpindah ke Jatinangor, ia berkesempatan untuk mengunjungi Bali, dan menghubungiku. “Hai. 5 jam dari sekarang, aku akan ada di Ngurah Rai. Berhubung teman yang dulu lost contact, aku jadi tidak ada transportasi tetap.” Sontak aku kaget, dan sedih. Haha, tapi kemarin sudah berkesempatan untuk bertemu, kok.

Awal Juni, di ask.fm ada seorang gadis seumuranku yang pertanyaannya muncul di timeline-ku, dan menarik perhatianku. Pertanyaan sederhana tersebutlah yang mengarahkanku menuju profilnya, lalu aku memulai pembicaraan, yang tidak kuduga disambutnya dengan ramah dan sangat friendly. Namanya Salsabiila, iya, dengan “i” dua. Sekarang ia melanjutkan studinya di Sastra Indonesia Universitas Diponegoro. Dalam berbagai hal, aku merasa seperti long lost twins dengannya, entah bagaimana.

Pertengahan Juni, saat SBMPTN lalu, selain pergi jalan-jalan dengan sahabatku, aku juga ditemani oleh seorang teman baru yang merupakan teman sekelas sekaligus teman les sahabatku. Seorang pejuang SBMPTN dan SIMAK UI juga, sama seperti kami berdua. Perawakannya mirip dengan salah seorang teman dekat kami di NyaSinTeLa, dan mereka berkesempatan untuk saling bertemu di suatu hari di bulan Juni. Namanya Raysha, bagus ya namanya, lebih sering dipanggil Caca, sayangnya. Sekarang kami sama-sama melanjutkan studi di daerah yang tidak begitu jauh jaraknya, tapi sulit sekali rasanya untuk berjumpa.

Akhir Juni, ini seseorang yang paling unik caranya kami berkenalan. Aku menuliskannya sekarang sambil senyum-senyum sendiri, karena sungguh, ini kocak bagiku. Berawal dari questions dari anon yang muncul di kotak inbox ask.fm-ku yang menanyakan tentang sesuatu dalam Bahasa Jerman, entah kenapa aku berpikir kalau seseorang ini adalah teman di Deutsch Klub-4. Ternyata bukan, dia mengaku mendaftar juga di Sastra Rusia Unpad sebagai pilihan ketiganya dalam SBMPTN, dan memintaku untuk berbicara dalam Bahasa Jerman dengannya, yang aku balas dengan “Jika kamu ingin aku berbicara Bahasa Jerman denganmu, maka tunjukanlah siapa kamu.  I will only trade a yes with a yes.” Lalu dia muncul, mengaku. Namanya Raffy, seorang pejuang SBMPTN juga, sepertiku. Kami masih cukup sering berbincang-bincang dan berdiskusi sampai sekarang. Iya, berdiskusi. Sejujurnya entah kenapa aku hanya baru bisa merasa nyaman dan bebas mendiskusikan hal-hal yang masih cukup mengundang kontroversi di sini dengan dia saja, kami merasa seperti, senasib. Terjebak dalam cerita yang sama, hanya berbeda judul. Pada pengumuman SBMPTN, kami berdua diterima di universitas yang sama, di fakultas yang tinggal ngesot sampai alias sebelahan, Raffy diterima di Hubungan Internasional. Tetapi saat pengumuman Ujian Mandiri, dia diterima di kampus impiannya di Jogja, sedangkan aku ditolak. Hal tersebut berujung pada kami belum pernah bertemu sampai sekarang.

Pertengahan Juli, diterima di Unpad, aku sama sekali tidak mengenal siapapun. Hanya satu, seorang senior satu jurusan yang kebetulan sekali datang saat sosialisasi universitas pada awal tahun dan aku berkesempatan untuk menyimpan kontaknya, suatu kebetulan jika namanya sangat mirip denganku. Aku diundang untuk mengikuti grup Mahasiswa Baru Unpad Bali 2015, yang saat itu isinya baru segelintir orang saja. Di sanalah aku mulai berkenalan dengan Diana, kakak tingkat di FIKOM, Kak Regina ketua KMH Unpad,  Abhi, Panji dan Nana yang juga anak FIKOM, Anin dari Fapet, Anjani dan Berlian dari FH, Ayu Eka dari FMIPA, Widi dan Ratih dari FISIP, Santi dari FKep, Ganis yang satu fakultas denganku, dan yang lainnya. Aku juga mulai bergabung dengan grup FIB Unpad 2015, di sana aku berkenalan untuk mendapatkan teman satu grup PKM dengan Hilma, atau yang biasa kupanggil Imeng, dari Sastra Indonesia. Kami membentuk grup PKM yang nantinya menjadi kelompok kecil kami saat ospek tingkat universitas, dengan Resva dari Sastra Rusia, Zeta alias Njet dari Ilmu Komunikasi, dan Surya dari Perikanan. Aku bahkan meminta tolong pada Imeng untuk mencarikan kos-kosan untukku, yang mana sekarang kos-kosan kami saling berseberangan. Sebegitu cukup dekatnya kami, suatu ketika waktu mempertemukan kami di Jatinangor Town Square (Jatos), walau setelah itu bahkan sampai sekarang kami belum sempat berkumpul lagi. Aku, Imeng, dan Resva cukup sering bertemu karena kami satu fakultas, dan pada FORSI SOUL MAX 2015 kemarin kami pergi bertiga ke sana. Sayangnya, dengan Njet dan Surya paling aku hanya sesekali berpapasan di daerah Jatinangor, heu. Dan ada satu lagi, namanya Vira, dari jurusan sebelah yaitu Sastra Perancis. Awalnya kami berkenalan karena masalah kos-kosan, yang kemudian berlanjut karena kami berdua memiliki beberapa kesamaan yang tidak sama tapi sedikit mirip. Lucu, memang. Teman pertamaku di jurusan, yaitu Khalisha. Anak Bandung, yang juga seorang nomaden sama sepertiku. Kami pertama kali mengenal sejak entah kapan aku lupa, dan pertama kali bertemu tanggal 16 Agustus, kalau tidak salah. Semenjak itu kami menjadi cukup dekat.

Awal September, mulai sudah perjuanganku di Jatinangor. Aku menemui banyak sekali wajah-wajah baru, yang bahkan sampai sekarang sulit untuk aku ingat sebegitu banyaknya. Hal ini pula yang menyebabkan jumlah teman di LINE-ku bertambah drastis, tetapi terkadang aku bahkan tidak ingat ini siapa itu siapa ketika melihat sebuah nama terpampang di timeline-ku. Saat ospek universitas atau PRABUnpad, aku mendapat kelompok 49, di mana teman-teman yang aku cukup dekat hanya para gadis-gadis berpita medik merah, dan mereka yang satu kelompok denganku saat kunjungan ke desa. Oh ya, dan akang ramah yang cerdas nan tampan senior pembimbing kelompokku di kunjungan desa dari fakultas sebelah. Saat ospek fakultas atau Opera Budaya, aku mendapat kelompok Margapati atau kelompok 2, dan saat akan pentas budaya kelompok kami masuk dalam kelompok 1 besar. Di sana kami membawakan entah termasuk drama musikal atau apa lah yang kami pentaskan saat itu, tentang Bali. Hm. Aku tidak terlalu dekat dengan siapapun saat itu, tapi cukup mengenal beberapa orang yang cukup sering duduk di sampingku ketika ospek berlangsung. Ah, ada seorang yang aku cukup ingat sejak awal pra-opbud sudah kukenal, tetapi dia memintaku dan kami semua untuk memanggilnya Ilse karena dia berasal dari prodi Ilmu Sejarah. Kalau membahas tentang ospek jurusan, ini, yang membuatku semakin mengenal keluarga baruku di sini, Sastra Jerman. Aku mulai berteman dengan anak-anak seangkatan, maupun kakak-kakak tingkat. Dan aku mendapatkan beberapa teman dekat, yakni Khalisha, Triani dari Medan, Senda dari Garut dan April dari Tasikmalaya.

Awal Oktober, aku mulai mengikuti kepanitiaan pertamaku, sebuah acara pagelaran teater yang diusung oleh ukm teater dari Sastra Jerman dan merupakan program kerja tahunan dari HIMASAD, Theatron 2015. Di sini aku berperan di divisi acara, sebagai LO dari teater Sastra Rusia. Aku belajar untuk bekerja sama dengan Teh Omah, sebagai koor divisi acara, Kang Krisna, bagian humas teater Sastra Rusia, teman-teman di divisi acara, Teh Alexa, Bena, Dano, April, Arum, Ayu, Irep, Putri, Hanny, Inez, Syifa, dan Viona, juga panitia-panitia dari divisi lainnya. Di kepanitiaan ini aku menjadi cukup mengenal beberapa senior dari angkatan 2013. Kepanitiaanku selanjutnya, yaitu Volksfest, yang merupakan bagian dari rangkaian acara ulang tahun Sastra Jerman. Di Volksfest aku masuk di divisi dekorasi. Koor dekorasi, Teh Mus, dan rekan-rekan di kepanitiaan ini lebih banyak dari angkatan 2012, dan di sinilah aku mulai berkenalan dengan kakak-kakak 2012 selain mantan ketua HIMASAD, kak Opik.

Pertengahan Oktober, mendaftarkan diri di ukm radio sendiri merupakan suatu ternekat yang pernah aku lakukan, karena tidak memiliki basic apapun di bidang broadcasting. Tanpa disangka, aku lolos tahap wawancara dan diterima untuk training di pilihan pertamaku, announcer. Saat masa training divisi on air ini aku berkenalan dengan kakak-kakak di BLURadio, dan teman-teman seperjuangan yang ingin menjadi bagian di BLURadio. Mereka semua hebat-hebat dan aku tidak melebih-lebihkannya, aku seringkali tercengang dan terpaku saat mendengar mereka mencontohkan serta mempraktikan bagaimana cara menjadi seorang announcer dan produser yang baik dan benar. Menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagiku untuk menjadi bagian dari mereka.

Yha, cukup banyak wajah-wajah baru yang aku temui dalam setahun ini, yang mungkin tidak semua dapat aku tuliskan dan ceritakan di sini, tapi paling tidak ini sedikit dari new friends on 2015 versiku.

 

  1. Dress like Avril on Prom Night.

Can’t afford an Abbey Dawn dress, too fat to be like Avril. Ended up looking like golden goddess, whatever you name it, but I’m kinda ashamed of my make up because it’s too much and I looked like wearing a mask. Btw, still regretting not saying “hi” to him, though.

 

  1. Be pretty on the Graduation Day.

I did! At least I think I looked pretty on graduation day, omg. That’s the best part when you finally think you’re pretty, ne? And I took pictures with him, as I have guessed he must be looking more charming and adorable in suits, for God’s sake I really really really wanted to hug him tight. Yes, I did tell him he looked gorgeous in suits, and he replied with thank you, well yeah what do you expect?

 

  1. IP semester 1 minimal 3,50.

Sejauh ini, nilai yang baru aku terima ada tiga, Etika dan Agama Hindu, Mündlicher Ausdruck dan Hörverstehen. Ketiganya A, dan aku berharap banyak pada nilai Strukturen und Wortsatz agar IP pertamaku tidak jeblok. Tapi, harap-harap cemas pada Interkulturelle Landeskunde karena saat UTS dan UAS kemarin, aku mengarang bebas, haha.

update : IP semester 1-ku > 3.70 h e h e

  1. Jadi anak kesayangan at least salah satu dosen.

Yang ini terdengar agak bagaimana, yha. Tapi mendengar cerita senior kalau dosen-dosen itu sering menilai secara subyektif, ya jadi aku menuliskan poin ini dalam list, sejujurnya aku tidak tahu.

  1. Keep in touch with BGC, VS Angels Buang, Lala, and Varenholz mates.

I still write them like each day, unless I’m being too busy or not in a mood. But with the Varenholz mates, I don’t think so, but with Bibi, Sasa, and Dea. I met Bibi again just a couple days ago, btw. And planning to meet Katja, as she’s visiting Indonesia for holiday, next January!

 

  1. Had a proper plan to have a trip to Singapore or Thailand on 2016.

I still can’t even have a proper plan to visit Jogja or Malang or what on 2016, how am I supposed to have a proper plan to visit another country, meh.

 

  1. Write more poems.

I write poetic shits on social medias’ statuses, though. Those shits I think are poetics, are most likely thought to be more shits than poetics.

 

  1. Read more books.
  2. Baca novel-novel yang tahun ini cuma bisa dilihat di Gramedia.

I still haven’t recall my mood to start reading again how am I supposed to read more books than on 2014, God what the hell is going on with me I have no idea, I need to start reading again and that’s what I’ve been telling myself since like years ago, yet still can not. Like, why. But yes, I did buy some books those I only saw back then on 2014, and I only bought it. Not read it.

 

  1. Have more comfortable room.
  2. Save up 2000k.

No. For real I still waste a lot of money for nothing especially since I lived by myself in Jatinangor. This also happens to my room, it becomes more chaotisch than it was. You can’t even imagine how messy my room and my bank account are.

 

 

Yes, finished writing this shit. It took me three fucking days to finish, you know. I wrote 11 pages only for this but I’m proud, though. *cough*

This will be my 31st post and the last on 2015. Thank you for those who take a peek on the blog and thank you so much I love you to you guys who even read the content! I honestly am so proud of myself that I keep writing and updating the blog since the beginning of the year till right now. I made it, yeay! I hope in 2016 I will be able to write and post more and be more productive et cetera.

Happy, happy new year to you all! Good year ahead! Loves.

Advertisements

3 thoughts on “What I Did, What I Got, What I Achieved on 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s