Menuju Lembaran Petualangan Baru

5 Agustus 2015.

“Aku tidur sama Mama Papa, ya.”

Besok adalah hari keberangkatanku ke Bandung. Ya, aku akan memulai lembar petualangan baru dalam buku kehidupan. Untuk merantau melanjutkan pendidikan di kota seberang, yang aku tidak bayangkan sebelumnya. Entah ini merupakan sesuatu yang harusnya aku syukuri atau aku sesalkan.

Seperti biasa, aku memainkan handphone sesaat sebelum beristirahat, dan mempersiapkan diri untuk menyambut hari esok. Mama dan Papa masih berada di luar kamar, jelas karena sebenarnya jarum jam belum menunjukan waktu biasa kami terlelap. Aku menghela nafas. Akan ada banyak hal yang harus kuhadapi ke depannya, sendirian, dan aku pun harus mampu untuk menghadapinya. Tapi dalam hati, aku belum sepenuhnya siap.

Kamu yang milih untuk merantau ke kota orang untuk kuliah. Kemarin aku saranin kuliah di sini aja, kekeuh nggak mau. Sekarang udah dapat kuliah di luar Bali, bilang belum siap. Maumu apa?

Sore tadi, teman-teman dekatku menculikku ke pantai. Salah satu tempat favoritku. Kami menghabiskan waktu sampai matahari kembali ke singgasananya, digantikan sang rembulan. Langit senja yang tersenyum begitu manisnya, menemani kami, bercanda tawa dan bersenda gurau sebelum pertemuan kami selanjutnya, yang entah akan kapan.

Malam tadi, saudara-saudara sepupu dan tante serta om, datang mengunjungi rumah kami. Menengok yang akan pergi besok, katanya. Tak banyak cerita yang dapat aku sampaikan di sini, hanya kami duduk bercengkrama bersama di meja makan, dan anak-anak kecil yang bermain di ruang keluarga. Sebegitunya, rumah baru dirasakan seperti rumah saat itu.

Kling.

Denting pesan yang masuk membuyarkan lamunanku. Ah, aku merasa begitu disayangi dan dicintai, tetapi kenapa baru terasa ketika aku akan pergi, akan jauh.

Beberapa pesan, dari orang terdekatku, tentunya. Bukan dari ia yang spesial, jelas, siapalah aku dalam hidupnya. Aku menghela nafas lagi. Jari ini mengarah ke browser, bukannya membuka pesan-pesan yang baru saja masuk, aku spontan mengetikan website kedutaan besar Jepang. Iseng, setelah beberapa saat lalu membaca pesan dari seorang teman yang aku kenal di ask.fm, yang sekarang melanjutkan kuliahnya di Asia Pasific University atau Ritsumeikan, aku lupa. Aku teringat lagi dengan beasiswa Monbukagakusho 2016 yang aku ikuti.

Daftar Peserta Seleksi Ujian Wawancara Program S1 – 2016

Ah. Aku dapat merasakan jantungku berdetak jauh lebih kencang. Di satu sisi, aku masa bodo, di sisi lainnya, aku sedikit menaruh harap. Teringat apa yang aku jawab pada saat ujian tulis tanggal 9 Juli kemarin, aku tertawa. Berani sekali aku menaruh harapan walau sedikit, matematika saja cuma menjawab, yang kuyakin benar, tentang bilangan biner. Aku juga sudah lupa nomor ujianku berapa, di daftar itu hanya tertulis ujiannya saja, setelah melihat daftar nomor yang berjumlah 37, aku iseng mengecek kembali nomor ujianku di daftar peserta seleksi ujian tulis. A265. Ada. Di deretan paling akhir. Mengejutkan. Aku masih tidak percaya. 37 dari 269 orang sebelumnya, dan aku salah satunya. Gila. Ini pasti salah, bagian diriku yang begitu pesimis mulai mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang menyebabkan aku sedikit berpikiran terlalu jauh.

Aku menujukan halaman website kepada kedua orangtuaku. Meminta mereka untuk mengecek juga, jikalau mataku salah melihat yang tertera di sana.

“Pasti salah tulis, seharusnya A256 bukan A265.”

“Kamu kenapa selalu pesimis sih? Nggak pernah percaya sama diri sendiri. Nggak mungkin orang kedutaan besarnya sampai salah tulis begitu, kan fatal. Berarti benar itu nomor ujian kamu, sekarang siapin berkas-berkas yang dibutuhkan. Bukannya malah nggak percaya gitu. Besok berangkat, kan.” Mama, yang selama ini tidak terlalu banyak angkat bicara mengenai masalah akademik dan pendidikanku, mengeluarkan suaranya. Aku terdiam. Ya, benar. Aku terlalu tidak percaya diri.

 

7 Juni 2015

Aku mengambil tas dan koper yang akan aku bawa ke Bandung selama beberapa hari ke depan. Tidak, aku tidak berencana liburan. Dua hari menjelang, aku akan berperang dengan sesuatu yang disebut Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri, atau yang familiar dengan SBMPTN.

Nyaris kulupakan sesuatu yang aku persiapkan sejak beberapa minggu lalu, tergeletak di meja belajar di kamarku. Sesuatu dalam amplop cokelat, beralamatkan Kedutaan Besar Jepang. Ya, sejak ditolak mentah-mentah oleh universitas impianku di Depok saat SNMPTN, aku jadi sedikit gila mencari tahu tawaran beasiswa di dalam dan luar negeri, sebegitu inginnya aku untuk melanjutkan studiku setelah dinyatakan lulu Sekolah Menengah Atas. Dan satu dari sekian yang aku temukan, yang menurutku paling pas dan cocok denganku dari pelbagai segi adalah hanya yang ditawarkan oleh pemerintah Jepang.

Aku persiapkan segalanya sendiri, kedua orangtuaku mengetahuinya, dan apa yang mereka tahu adalah aku hanya iseng. Memang. Tapi dalam hati nurani yang paling dalam, seberapa besar rasa iseng itu, pastinya akan tetap ada suatu harapan yang dititipkan.

Aku tidak tahu apakah sudah ada kakak-kakak tingkat di atasku yang pernah mencoba untuk mendapatkan beasiswa ini, karena tampaknya beasiswa ini tidak terlalu familiar di telinga beberapa guru, yang saat aku meminta surat rekomendasi atau apa, aku lupa, agak sedikit sulit. Sampai aku harus mengulang jawabanku beberapa kali, sampai akhirnya aku mendapat surat dengan cap dan tanda tangan kepala sekolah.

Setelah semua berkas itu lengkap, nyaris saja aku lupa mengirimkannya karena sibuk mengejar pesawat.

“Mama, tolong bilang ke Indra, aku minta tolong kirimkan ini, via J*E aja. Alamatnya udah ditulis, paling bayar sekitar dua puluh ribu. Makasih.” Sebegitu terburu-burunya, dikejar oleh waktu. Salahku juga, bangun terlambat padahal pesawat pagi.

Tetapi sesuatu menggangguku, tidak yakin aku bahwa berkas itu akan sampai di alamat yang dituju sebelum tanggal batas akhir pengumpulan. Di satu sisi lagi, aku masih menaruh harapan.

 

2 Juli 2015

Tertulis di website bahwa pada hari inilah nama-nama peserta yang lolos seleksi berkas akan diumumkan. Tepat saat jam makan siang. Lalu aku menunggu, dan menunggu. Masih tetap menaruh harapan.

Aku lupa itu pukul berapa, dan akhirnya daftar itu terpampang di website. Deg-degan, saat membuka file pdf. Mencoba dengan teliti dan sabar mencari namaku, dengan tetap berharap akan menemukannya. Cukup banyak yang lolos di tahap seleksi berkas ini, 269 orang. Dan aku salah satunya.

Pengumuman selanjutnya adalah untuk mengikuti seleksi tulis. Aku bersyukur karena pada tahun ini tes tulis bisa dilakukan di kota Denpasar, jadi aku tidak perlu mengeluarkan biaya lebih atas “keisenganku” ini.

9 Juli 2015. Hari yang sama dengan pengumuman SBMPTN. Aku menghela nafas. Tekanan yang akan kurasakan menjadi bertambah dua kali lipat, pada sehari sebelum hari ulang tahunku. Aku mencari nama yang mungkin aku kenal di daftar peserta yang akan melakukan ujian tulis di Denpasar, ada seorang dua orang. Walaupun seharusnya tidak menjadi masalah kalaupun aku tidak mengenal seorangpun yang akan menjadi teman saat ujian tulis nanti.

Materi yang diujikan bagi peserta yang memilih jurusan IPS hanyalah dua, Bahasa Inggris dan Matematika. Dunia juga tahu akan kebodohanku di bidang matematika. Mengutuk kebodohanku adalah hal pertama dan terakhir yang bisa aku lakukan saat mengetahuinya. Persetan. Mengetahui aku hanya akan bisa bergantung pada nilai tes Bahasa Inggrisku, aku mencoba mencari contoh-contoh soal ujian tulis Monbu tahun sebelumnya. Astaga naga, apa ini, pikirku.

Bagi aku yang kemampuan Bahasa Inggrisnya biasa saja, menjawab soal-soal yang ada seperti, apa ya.. aku kehilangan kata-kata. Tiba-tiba muncul nama seseorang dalam pikiranku. Saat itu aku masih cukup aktif di situs ask.fm, iya, situs tanya jawab itu. Aku tahu seseorang yang mungkin dapat membantuku, walau awalnya aku tidak yakin ia akan mau membantu. Namanya Eu. Wow, that rhymes though.

 

9 Juli 2015

Benar saja, aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku tidak yakin sama sekali. Pusing. Apalagi dengan mengingat pengumuman SBMPTN nanti sore. Bodo amat, lah. Matematika tadi, mungkin mudah bagi sebagian orang. Tapi aku? Yang aku yakin jawabanku benar, itu pun setelah aku bertanya kepada seorang teman setelah ujian, tentang bilangan biner. Aku terbayang wajah guru TIK saat kelas XI lalu, yang mengajariku tentang bilangan biner.

Ya sudahlah.

Sorenya, detik-detik menjelang pengumuman SBMPTN, aku tetap menaruh harapan tinggi akan melanjutkan perjalanan pendidikanku di Depok. Apa daya, aku ditolak lagi untuk kedua kalinya oleh Sastra Jerman Universitas Indonesia. Tapi, aku diterima di Sastra Jerman Universitas Padjadjaran. Aku bingung. Sisi hati yang ini sedih karena ditolak, tapi sisi yang satu lagi bahagia karena diterima. Air mata jatuh. Aku masih belum bisa memutuskan itu air mata sedih atau bahagia.

Dua orang teman saja yang aku tahu akan menjadi teman seperjuanganku di Unpad nanti, Dita – seorang teman sekelas semasa SMA diterima di Ilmu Komunikasi, dan Raffy – seseorang yang aku kenal beberapa hari di akhir bulan Juni dari ask.fm diterima di Hubungan Internasional. Lucunya, reaksi Raffy pada saat itu adalah, “ANJ**NG SATU UNIVERSITAS”.

Sayangnya, tak lama kemudian. Mereka meninggalkanku sendiri, mengejar impian mereka di universitas impian mereka, ketika aku untuk ketiga kalinya ditolak oleh Universitas Indonesia.

Aku pun sibuk berkenalan dengan orang-orang baru, yang tak aku kenal sama sekali sebelumnya di grup LINE, di fakultas maupun di jurusan. Karena tak mengenal siapa-siapa pula, aku lebih banyak untuk diam, menjadi seorang silent reader karena aku merasa minder melihat mereka sudah tampak seperti teman yang mengenal satu sala lain cukup lama. Teman-teman pertamaku saat itu adalah mereka yang menjadi teman kelompok kecil, kami membuat tugas PKM (aku lupa itu singkatan apa) yang seperti karya tulis tentang penelitian berlima, kelimanya dari 5 kota berbeda.

Hilma, atau yang inginnya dipanggil Imeng, berasal dari Bekasi di jurusan Sastra Indonesia. Zeta, atau yang inginnya dipanggil Njet, berasal dari Bandung di jurusan Ilmu Komunikasi. Resva, berasal dari Jakarta di jurusan Sastra Rusia. Dan Surya, satu-satunya laki-laki di kelompok kami, berasal dari Tangerang entah di jurusan apa yang jelas dia di Fakultas Ilmu Perikanan dan Ilmu Kelautan. Lalu, ada aku, yang berasal dari seberang pulau, yang tidak mengetahui sedikitpun tentang Unpad, tentang Jatinangor, yang masih menunggu pengumuman SIMAK UI, yang masih menaruh harapan untuk melanjutkan di Depok.

Yang aku ingat, tentang teman pertama di jurusan, hanya Khalisha. Aku lupa entah kapan tepatnya kami berkenalan. Tapi, teman pertama di jurusan, dan aku bisa dekat dengannya bahkan sampai sekarang, ya, dia.

Menutup hari, menutup saat terakhir menjadi seseorang yang berumur 17 tahun, aku tutup dengan menjadi seorang calon mahasiswa baru Universitas Padjadjaran 2015.

 

10 Juli 2015

Tidak banyak yang ingin aku bahas sebenarnya di hari ini, tidak banyak yang spesial terjadi. Hanya aku yang menambah umur, mengubah angka 7 menjadi 8 di belakang angka 1.

 

5 Agustus 2015

Kling.

Suara pesan mengalihkan lamunanku untuk yang kedua kalinya.

Kali ini dengerin aku, ya. Please, jangan main hp sekarang. Tidur. Besok kamu perlu tenaga loh biar siap mental sama fisik, biar tetep fit, okay. Sampe Bandung jangan begadang. Apapun alasannya kecuali emang ada kepentingan untuk kuliahmu. Selain itu, please, online maksimal sampe jam 10. Maksimal! Inget, sayang, kamu merantau. Jauh dari orang tua. Kesehatan mesti dijaga bener-bener banget. Karena kalau sakit kamu bakal ribet sendiri. Ngapain gak enak, gak fit. Masa iya mau sakit? Mau nyusahin orang lain? Ibu kos?Temen? Engga kan? Jadilah orang mandiri. Mulai dari hal sepele aja dulu.

Inget, ya, fokus kuliah. Jangan begadang gara-gara nungguin *nama seseorang*. Please dengerin. Kesehatan itu penting banget karena kita merantau. Gak ada yang bakal ngurus ci kalau ci gelem. Trus inget berdoa. Minimal Tri Sadhya tiga kali sehari lah. Gak usah pake canang gak apa. Di sana gak ada pura. Kamu merantau. Minta restu dan minta perlindungan sama Tuhan dan leluhur itu penting banget supaya setiap aktivitas kamu dilancarkan. Gak sial. Diberikan kemudahan. Biar diberi kesehatan. Supaya di perjalanan kemanapun dilindungi. Dan inget jaga pola makan. Jangan sembarangan. Ubah hal-hal sepele yang aku sebut di atas dari sekarang, okay?

Safe flight besok, ya, sayang. Astungkara selamat dan lancar sampai tujuan. Inget berkabar. Night!

Jika kamu berpikir itu dari seorang lelaki spesial, bukan.

Lalu aku menjawabnya dengan menceritakan aku sedang sibuk mengurusi berkas untuk seleksi wawancara, yang mana dibalas dengan.

Wey, jangan ngurusin beasiswa Jepang. Fokusnya satu-satu aja. Unpad, ya, Unpad. Kamu udah ngurus semua, jangan bikin konsentrasimu pecah. Kalau udah tekad di Unpad, ya, Unpad aja, kalau kamu ngurus beasiswa Jepang lagi kamu bakal bingung milih yang mana. Ujung-ujungnya hilang konsenntrasi, hilang mood.

Aku menghela nafas lagi. Sama halnya dengan beberapa teman-teman terdekatku lainnya, mereka juga kurang mendukung aku dalam melanjutkan “keisenganku” ini. Aku menceritakan hal tersebut ke Papaku, seorang yang selalu mendukungku dalam mengejar impian akademisku.

“Kamu urus berkas yang bisa kamu urus malam ini, untuk berkas yang harus diurus di sekolah, nanti Papa yang urus. Mungkin besok atau lusa. Kamu nanti di Bandung, tinggal medical check up untuk cari sertificate of health aja. Jangan dibawa stres.”

Kututup layar laptop setelah mengklik icon save, kurapikan lagi ke dalam tas seperti sebelumnya. Aku mematikan hpku sejenak, menghemat baterainya, dan tidak ingin terganggu dalam terlelap karena waktu yang kumiliki untuk beristirahat hanya tersisa beberapa jam sebelum keberangkatanku. Dalam pelukan kedua orangtuaku, aku tertidur, begitu pulasnya. Mempersiapkan diri, walau seutuhnya belum siap, menyongsong hari esok. Membuka lembar petualangan baru dalam buku kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s