Lembaran Petualangan Baru (1)

4 bulan sudah petualangan baru di buku kehidupanku dimulai, aku menulisnya di sini, untuk berbagi, dan untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi selama ini agar abadi. – Jatinangor, 6 Desember 2015. 11:18pm.

6 Agustus 2015

06:08 am at Ngurah Rai International Airport (DPS) with Mama and Papa.

Thank you for the wonderful six years, Bali! Bandung? Here I come, again, ehe. – from Kuta

Pesawatku dijadwalkan berangkat pukul 08.10 WITA. Di bandara aku tak sengaja berjumpa dengan seorang teman, yang akan berangkat ke Jogja, kami tak berbincang hanya sekadar menukar sapa.

Sesampainya di Bandung, aku dijemput oleh sahabatku, Adani, seperti biasanya. Setelah menitipkan koper di rumahnya, kami meluncur ke entah kemana aku lupa, untuk menjemput seorang teman yang diterima di ITB, di sekitaran Dago, kalau aku tidak salah.

12:57pm at Bandung Indah Plaza with Dewa and Adani.

Tidak, hari ini petualanganku belum dimulai. Sama sekali belum.

 

7 Agustus 2015

Hari ini jadwal untuk cek kesehatan, pertama kalinya aku menginjakan kaki di sesuatu yang berkaitan dengan calon kampusku.

10:30am at UPT Kesehatan Unpad Dipati Ukur with Adani.

Oh, ternyata. Sehat? Sehat, kok. – from Bandung

Selama menunggu tadi, aku sangat berusaha untuk menjadi friendly, you name it. Aku berkenalan dengan beberapa orang yang duduk di sampingku, dengan susah payah. Dari beberapa orang tersebut, banyak di antara mereka berasal dari Bekasi dan Medan, what a coincidence.

11:46am at Cisangkuy Yoghurt with Dewa, Adani and Reza.

Yoghurt time. – from Bandung

 

02:47pm at Museum Asia Afrika with Dewa, Adani and Reza.

 Menambah ilmu? Ntap. – from Bandung

 Pertama kalinya aku menginjakan kaki di Jalan Asia Afrika, aku agak sedikit kaget. Jalanannya sangat rapi, di saat itulah aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda, yakni aku akan jatuh cinta dengan kota ini. Bandung.

 

8 Agustus 2015

05:00pm at Cihampelas Walk (CiWalk) with Adani.

Nggak kok, nggak jalan-jalan mulu di sini. Ketemu sodaranya Lala, ehe. – from Bandung

Ya, sudah beberapa kali teman-teman dekatku di Bali mengomentari check in-ku di Path, mereka bilang aku terlalu banyak jalan-jalan selama di Bandung. Lalu bagaimana? Aku belum mengenal Bandung. Bisa dibilang aku baru dua kali berkesempatan berkunjung ke sana. Pertama saat study tour kelas X, itu pun hanya ke ITB saja dan tidak menginap. Yang terakhir saat SBMPTN dan SIMAK, sepuluh hari di sana mana cukup untuk menjelajah.

 

9 Agustus 2015

12:16pm at Universitas Padjadjaran

I’m not exaggerating, but…

Ini, pertama kalinya aku menginjakan kaki di Unpad. Di Jatinangor. Tempat di mana akan menjadi rumahku selama, amin, 3,5 tahun. Yha, 4 tahun lah. Saat memasuki Jatinangor, hm.. biasa saja. Seperti kota kecil pada umumnya. Ada satu mall, yang sama sekali tidak bisa dibilang besar, Jatinangor Town Square atau Jatos. Mungkin yang aku suka dari mall itu hanyalah tiket bioskopnya yang setengah harga dari di Bali, itu saja.

Kenapa aku tidak bilang aku melebih-lebihkan, saat berada di Unpad, aku takjub. Suasananya begitu terasa seperti suasana perkuliahan. Memasuki fakultas pun, begitu. Gedung kelasnya tidak mewah, tetapi berdiri dengan megahnya. Aku terpesona.

Lalu, kami menuju ke suatu kos-kosan yang sudah direkomendasi oleh Imeng, tepat di seberang kosannya. Di suatu jalan kecil yang memiliki nama Ciseke Besar. Daerah ini sebenarnya kurang direkomendasi oleh kakak tingkat Sastra Jerman dari Denpasar yang memiliki nama sangat mirip denganku, karena ramai dan agak rawan. Kamar kosanku kecil, mungkin hanya 2,5x2m, entahlah. Tetapi, akhirnya aku memilih untuk mengekos di sini selama satu tahun, menjadikannya tempat ternyamanku, tempatku berpulang selama setahun di Jatinangor nantinya. Di tahun pertamaku kuliah, di tahun yang mungkin akan menjadi tahun terberatku karena aku harus bertransisi, dan itu tidaklah mudah.

 

10 Agustus 2015

02:49pm at Bumi Medika Ganesha ITB with Adani.

 Akan di Unpad, datang ke UPT Kesehatan ITB demi Monbukagakusho. Habis cukup banyak, yha. Perjuangan. Maaf sudah merepotkan, heu. – from Bandung

Aku cek kesehatan. Sudah kuduga akan habis setidaknya lima ratus ribu karena banyak yang diminta untuk diperiksa. Yang aku ingat, aku cek urin dan darah, serta rontgen paru-paru. Sebenarnya semuanya tidaklah lama dan menyakitkan, hanya saja it takes me a while to get enough urine, because I pee-d just like minutes ago after lunch. Diambil darahnya pun ternyata tidak sakit! Hanya seperti err… digigit semut? Jarum yang digunakan pun tidak sebesar saat ingin mendonorkan darah, haha.

 

11 Agustus 2015

11:04am at Toserba Griya with Adani and Raysha.

Duh terharu deh sama dua bocah ini heheh. – from Bandung

Hari ini aku pindah ke kos-kosan, tidak lagi menginap di rumah Adani, dan aku belum membeli perlengkapan dan peralatan yang aku butuhkan. Maka ditemanilah aku oleh mereka berdua untuk berbelanja, so much fun. Serius. Asik banget berbelanja bareng sama temen-temen gitu, walaupun pastinya rempong sih ya. Ah iya, aku ingat kami sempat mampir untuk membeli Es Goyobod dan Mie Yamin.

Hari ini juga aku akan mengambil hasil cek kesehatan, setelah makan siang. Menunggu waktu tersebut, kami menjelajah kota Bandung. Ya, kami mampir ke beberapa museum.

12:10pm at Museum Geologi with Adani and Raysha.

02:08pm at Museum Pos Indonesia with Adani and Raysha.

Aku tidak ingat kenapa tidak ada check in di UPT Kesehatan ITB lagi, padahal seingatku hari itulah aku mengambil hasil cek kesehatan yang menyatakan kalau aku ada masalah dengan fungsi hatiku yang terlalu tinggi, yang dokternya bahkan tidak mau mengisi  certificate of health sebagai persyaratan untuk mengikuti tes wawancara pada 18 Agustus nanti.

Yang jelas, aku langsung sedikit stres karena hal tersebut.

Satu hal yang lucu, selama 18 tahun aku mengira golongan darahku adalah O. Tetapi hasil tes darah menyatakan bahwa golongan darahku adalah B, dengan rhesus +. Astaga naga, aku harus secepatnya mengganti KTP, SIM, dkk. Haha.

Kami bertiga sampai di Jatinangor saat matahari sudah terbenam, macet parah. Setelah membantuku membereskan dan merapikan barang-barang, mereka berdua pulang. Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan kalau Imeng tidak mengekos di seberang, karena sudah seperti yang aku bilang tadi, aku masih belum mengenal siapapun. Bertemulah kami berdua untuk pertama kalinya, tidak aku duga kami bisa bercengkrama seperti teman lama, aku pikir kami akan sangat canggung satu sama lain. Syukurlah.

 

12 Agustus 2015

*posts my KTM picture* Itu muka apa pie susu?

With Hilma at Bale Santika Universitas Padjadjaran. 09:33am

Hari ini pendaftaran ulang. Tentu saja aku pergi dengan Hilma karena aku masih tidak mengenal siapapun. Ada, seorang dari Bekasi yang aku cukup kenal bernama Vira, dia di jurusan Sastra Perancis. Seorang teman pertama di luar kelompok PKM, di luar jurusan, yang aku kenal. Tapi sayangnya saat itu kami belum berjodoh untuk bertemu.

10:33am at Fakultas Ilmu Budaya with Hilma.

Ini kedua kalinya aku berkunjung ke FIB, tapi kali ini aku menginjakan kaki lebih tepatnya. Menyusuri kantin sastra, bangku biru, blue stage, dekanat, sampai ke taman sastra. Tentu saja aku saat itu belum mengetahui nama-nama tempat yang aku lewati tadi. Yang aku tahu, aku merasa senang berada di sini.

*posts picture with Imeng and Njet* Kurang dua personil lagi, langsung bikin tugas PKM ini mah.

With Fatimah and Hilma. 06:49pm

Di hari yang sama, aku bertemu salah seorang teman di kelompok PKM lagi, Njet. Dan, ya. Kami pun bisa bercengkrama sebagaiman teman lama yang baru berjumpa. Sayang, kami tidak berkumpul juga dengan Resva dan Surya, pikirku.

 

14 Agustus 2015

11:50pm at Jatinangor Town Square

Sendiri banget?          

Sesuai dengan caption di Path, iya, aku menjelajah di Jatos sendirian. Bukan, bukan segabut itu, kok. Aku menunggu Dayu Ayas, iya, salah seorang teman dekatku di SMA itu. Dia akan melanjutkan studinya di Institut Koperasi Indonesia atau IKOPIN. Aku senang akhirnya ada seorang dari Foursma yang menemaniku di Jatinangor. Hari ini kami janjian di Jatos, aku akan ikut dengan dia dan ayahnya ke Bandung. Nebeng, lah.

06:18pm at Cihampelas Walk (CiWalk) with Dayu

Melali malu neh, pang gawl. – from Bandung

Nah, kalau yang ini tidak sesuai dengan caption, kenapa? Karena tujuanku ke Bandung sebenarnya bukan untuk jalan-jalan.

 

15 Agustus 2015

11:25am at Bumi Medika Ganesha ITB with Dayu

Seminggu segala tes darah dan urin sampai dua kali. Hatinya dijaga makanya. PS : Sudah habis berapa hanya untuk yang tidak pasti, Sin? – from Bandung

Dokter masih tidak merekomendasikanku untuk beasiswa itu. Beliau mau mengisi certificate of health yang aku ajukan, tetapi tidak merekomendasikannya. Aku diberi 6 macam obat. Banyak, bukan?

Aku hampir saja menyerah. Karena surat rekomendasi kesehatan yang tadinya belum keluar inilah, Papa belum bisa membeli tiket. Ya, beliau berencana mengantarku ke Kedutaan Besar Jepang untuk interview sekaligus datang pada saat Open House Fakultas Ilmu Budaya.

 

16 Agustus 2015

Sejak pagi, Dayas dan Ayahnya sudah berangkat kembali pulang ke Bali. Jadi, aku sendirian di hotel. Sarapan sendiri, mana sambil membawa berbagai macam obat-obatan lagi. Karena baru sore janjian dengan Khalisha di BIP, aku berencana untuk bertemu dengan Kak Iqy di CiWalk. Tapi ternyata Kak Iqy sibuk, ya sudah, aku berkelana sendirian mengelilingi CiWalk sambil menyesap Bubble Tea. Ini mall kedua setelah Jatos yang kutelusuri sendirian, sampai sekarang sudah beberapa kali, bahkan. Di Bali saja sejujurnya aku tidak pernah menyelusuri mall sendirian, ternyata asik!

02:23pm at GiggleBox Cafe BIP with Khalisha

Sama orang Korea yang tersasar di Jerman. – from Bandung

Menuju BIP, untuk pertama kalinya aku mencoba aplikasi GoJek! Padahal selama di Bali belum pernah, ya sudah. Nekat.

Bertemu dengan Khalisha aku pikir akan canggung, lagi, ternyata tidak. Dia yang easy going dan sangat supel, membuat suasana menjadi cair. Aku pun ikut menyesuaikan dengan situasi. Yang aku ingat adalah, kami memiliki satu kesamaan, yakni sering berpindah-pindah. Dan lagi kami berdua berjanji untuk ngambis selama kuliah nanti, haha, lalu lihatlah sekarang apa yang kami lakukan.

Pulang dari BIP aku memesan GoJek! lagi menuju rumah Adani, tetapi dia belum membalas pesanku apakah ada orang di rumah. Ya sudah, aku ikut main ke rumah Khalisha walaupun cuma sebentar, tidak sampai satu jam. Awalnya Adani melarangku naik GoJek! karena tidak percaya, dia juga belum pernah menggunakan aplikasi tersebut. Tapi aku bilang tidak apa-apa, daripada aku harus tersasar kalau naik angkot sendirian, seperti saat itu pulang dari PVJ, haha.

 

17 Agustus 2015

Ternyata Papa belum membeli tiket pesawat juga, ya bagaimana, surat keterangan sehat baru aku dapatkan pada tanggal 15 kemarin, dan harga tiket pesawat sudah tidak masuk akal. Apalagi saat itu long weekend libur hari kemerdekaan dan pada saat itu sedang ada festival musik EDM di Bali. Sudah, harga tiket meroket jauh.

Seusai melaksanakan upacara bendera di kantor, Papa langsung ke bandara, beli tiket di sana. Tebak dapat tiket yang berapa? Satu juta delapan ratus ribu rupiah. Gila. Tiga kali lipat. Tetapi tetapi beliau beli, demi aku. Rasanya aku ingin menangis saja di situ.

Lalu, setelah itu aku bingung akan menjemput Papa naik apa, mobil yang biasa Adani pakai sedang dibawa Ayahnya ke kantor. Jeng jeng. Pusing. Jujur, kepalaku pusing sekali saat itu. Soalnya di saat yang bersamaan aku pun sedang mencari travel yang masih ada dua kursi lagi dari Bandung ke Jakarta keesokan harinya. Entah sudah berapa banyak travel yang aku hubungi, semuanya penuh untuk perjalanan hari ini. Aku menghela nafas.

Dering handphoneku berbunyi. Siapa sih, keluhku.

Tante Ir Irian

Nama yang terpampang di layar handphoneku, senyumku terkembang, membuat sahabatku menatapku dengan bingung.

Tante Ir adalah sahabat lama kedua orangtuaku saat di Irian Jaya bertahun-tahun yang lalu. Mama sempat menceritakan tentang aku yang melanjutkan kuliah di Unpad, karena Tante Ir sekarang berdomisili di Bandung. Dan beliau sudah sempat menghubungiku beberapa saat lalu ketika aku di Jatinangor. Beliau menanyakan aku sedang berada di mana, dan sedang apa. Langsung saja aku ceritakan duduk ceritanya kalau  Papa sedang di pesawat perjalanan menuju ke sini, dan aku sedang akan menjemput Papa tapi bingung mau naik apa. Ya sudah, tentu saja langsung ditawarkan untuk jemput Papa bareng sekalian jalan-jalan.

Aku lupa pukul berapa, kami sampai di bandara, akhirnya. Setelah tersesat beberapa kali, entah seberapa jauh. Wajah Papa terlihat begitu lelah dan letih, air mataku nyaris terjatuh melihatnya, untung tanganku dengan cepat menyeka pelupuk mataku sebelum aku mulai menangis. Untung saja, ketika di dalam mobil, bertemu dengan Tante Ir dan Kak Fany (anaknya) dan bercengkrama tentang masa lalu sedikit menghapus rasa lelah beliau dari wajahnya.

Sebelum sampai di bandara tadi aku sudah mengecek jadwal kereta api, dan memutuskan akan naik kereta api malam ini ke Jakarta, lalu saat aku mengecek untuk membeli tiketnya, aku sadar sesuatu. Aku salah pasang tanggal. Jadwal yang aku lihat adalah jadwal untuk besok, bukan hari ini. Aku nyaris menangis lagi. Bagaimana kalau kami tidak bisa ke Jakarta besok pagi? Tidakkah semua ini sia-sia?

Di jalan, aku tidak sengaja melihat spanduk salah satu travel yang belum aku hubungi, langsung aku bergegas menelpon. Sayang, jawabannya sama. Untuk perjalanan hari ini full booked. Entah dapat pikiran darimana, muncul sebuah pertanyaan yang sedari tadi tersebunyi, perjalanan besok paling pagi jam berapa. Jam 02.00 subuh, katanya. Dan masih ada kursi kosong untuk dua orang. Ya Tuhan, akhirnya. Rasanya aku ingin sekali memeluk Papa saat itu, tapi, canggung.

Kak Fany membawa kami ke salah satu Rumah Makan Padang yang cukup terkenal di Bandung, di belakang Stasiun Bandung.

04:11pm at RM Padang Malah Dicubo with Papa, Tante Ir and Kak Fany.

TERIMA KASIH, TUHAN! – from Bandung

Malamnya, aku lupa kalau aku belum mencetak pas foto. Berputar-putarlah kami sepanjang kota Bandung mencari tukang cetak foto yang buka, aku heran kenapa lebih menjamur tukang cetak foto di Denpasar daripada di Bandung, yang lebih banyak studio fotonya. Hm. Alhasil kena omelan lah aku ini, ya memang salahku juga sih.

Hanya sedikit waktu yang aku miliki untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk wawancara besok, karena subuh aku harus sudah berada di pool travel.

 

18 Agustus 2015

02:32am at Cipaganti Baltos Bandung with Papa

When everyone is preparing well for the interview, here I am still struggling to reach Jakarta. Tons of luck! – from Bandung

Selama di perjalanan, aku dan Papa tertidur pulas. Kami berdua terlalu lelah untuk tetap terjaga, belum lagi, aku seharusnya sudah siap menghadapi interview ini. Tapi, tidak sama sekali.

Di Jakarta Pusat, kami turun entah di mana. Dekat Bundaran HI tapi entah di mana. Aku bahkan tidak tahu di mana Kedutaan Besar Jepang berada. Berbekal panduan dari Waze, kami hampir saja tersasar, yha. Kami mampir sebentar ke Indoma**t, membeli roti, sayangnya aku bahkan tidak ingin makan apapun itu saking deg-degannya diriku.

07:36am at Embassy of Japan

Through all of the struggles, I finally am here. Do your best, Sin. Okay? Okay. – from Central Jakarta

Tampak luar gedung Kedubes Jepang tampak seperti penjara atau apa ya, benteng? Ini adalah gedung Kedutaan Besar kedua yang aku masuki setelah Kedutaan Besar Jerman pada Juli 2014. Aku senang, haha. Walaupun masuknya bukan untuk mengurus Visa, tetapi tes beasiswa.

Aku berkenalan dengan seorang gadis entah darimana berperawakan sipit, yang mana lalu aku berkenalan dengan temannya, dan aku menjadi jauh lebih dekat dengan temannya. Namanya Shafira dan Tama. Tama jurusan Psikologi di Universitas Sanata Darma, dan Shafira jurusan Sastra Perancis di UNS, kalau tidak salah.

Tes pertama, tes bahasa Jepang. Menurut kalian saja, selama di SMA aku hanya mengerti satu dari dua bahasa asing yang diajarkan. Bahasa Jerman. Bahasa Jepang? Boro-boro. Jadi, lima menit setelah soal ujian dibagikan, aku mengangkat tanganku, menyerah. Aksara-aksara yang ditampilkan sedikit membuatku pusing. Tapi, percaya atau tidak, aku menuliskan Sastra dan Bahasa Jepang sebagai pilihan keduaku di beasiswa ini, hehe. Bingung, ya, pasti.

Setelah selesai mengerjakan tes Bahasa Jepang, kami akan diwawancara lima orang satu kloter. Sambil menunggu nama dipanggil, kami harus mengisi ulang formulir sebanyak beberapa rangkap. Jangan anggap enteng, itu melelahkan dan memakan waktu cukup lama!

Pukul 12 tepat kami dipersilakan untuk makan siang selama satu setengah jam, kalau tidak salah. Aku dan teman-temanku tidak tahu akan makan di mana, sedangkan beberapa lainnya membawa bekalnya sendiri. Karena Kedubes Jepang tinggal ngesot saja ke Grand Indonesia, jadilah kami makan di sana. Astaga naga, tahulah sendiri bagaimana. Akhirnya kami ikut salah seorang teman bernama Sarah, jurusan Psikologi di Universitas Udayana alumni Smansa, untuk makan di Shabu Nobu. Wow, so japanese kan. It costs us like around 100k per person, hm. Itu makan terhedon yang pernah aku bayar sendiri.

12:58pm at Shabu Nobu with Sarah, Samba, Shafira and Tama.

Makan hedon ngerayain kita sampai Jekardah yak. – from Central Jakarta

Selesai makan siang, wawancara dilanjutkan lagi, pengisian formulir bagi yang belum selesai juga. Menunggu giliran, aku mengajak seorang yang teman sebangkunya tidak datang berkenalan, sedari awal dia sudah mencuri perhatianku sih. Sipit, berkacamata dan bertampang pintar. Uh. Bodohnya, aku sekarang lupa namanya siapa, dan lupa minta ID LINE-nya #eh. Yha, dia anak NTU, teknik informatika atau apa aku lupa. Yang jelas, NTU. Nanyang Technic University, atau apa kepanjangannya. Seketika semangatku jatuh.

Namaku ada di kloter terakhir yang diwawancara. Pertanyaannya simple, dan dengan bahasa Inggris. Syukurlah, kalau pakai bahasa Jepang aku langsung angkat kaki frustasi mungkin. Lalu, ditanyakanlah sudah kuliah kah di sini, ya jawabanku sudah. Diminta untuk menceritakan alasan memilih jurusan yang dipilih, dll. Typical interview questions sih, mungkin ini tes interview beasiswa pertamaku, eh nggak ding, waktu itu sempat untuk AFS, lalu untuk yang ke US itu, aku lupa.

Dan, kejadian yang sama terjadi lagi.

Oops, I did it again. Talking about German and Germany during Japanese Scholarship Interview. Alamat ditolak lagi, eta. 06:05pm – from Central Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s