Permainan Hujan

Aku dipermainkan hujan
Malam ini sendu sedan
Hati ini perih tercampakan
Dan, hujan bersenandung keriangan
Kilat petir menyambar gemetaran
Bukan kisah tapi suatu persoalan
Yang senantiasa terhapus oleh hujan
Tapi, aku yang masih dipermainkan hujan
Akan rintik yang mewakili perasaan
Akan harum yang memancing kegalauan
Yang badan sungguh membutuhkan pelukan
Tega nian hujan mempermainkan
Kasih kini hanyut dalam kegundahan
Tenggelam dalam balada lautan kesedihan
Tanpa cinta beritahu jalan
Kini cukup ia masih bertahan
Di malam dan dipenjarakan perasaan
Dan, masih terbelenggu di permainan hujan

Desember. Bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh mahasiswa baru yang merantau. Aku, salah satunya. Walaupun hujan semakin sering mempermainkanku, api semangat yang berkobar dalam hati ini akan sulit untuk padam. Sebentar lagi aku pulang. Ke Bali. Ke rumah. Rumah. Ya, rumah. Alangkah menyenangkannya untuk kembali lagi ke rumah. Mungkin, ini yang orang sering katakan, homesick. Kerinduan yang membuncah tak terelakan, tapi aku bisa apa? Selain tetap berjuang dan bertahan di sini. Jauh. Jauh dari segalanya. Dalam dunia baru yang masih kucoba untuk mengerti. Air mata tak mewakilkan semuanya, terisak sudah biasa. Tapi, sungguh. Aku sebegitu bahagianya menyambut bulan terakhir dalam setahun ini. Sudah begitu jelasnya mengapa. Ujian Akhir Semester mungkin menunggu, dalam hitungan hari. Aku teringat perbincangan aku dengan Papa di telepon, sehari sebelum acara Theatron 2015 pada 30 November kemarin, ya, aku cukup sibuk sebagai LO dari salah satu teater yang tampil. Coba tebak apa kata beliau?  “Jangan pikirin pulang dulu, pikirin UASnya gimana. Belajar yang baik di sana, ya.” Yha. Aku sejujurnya berharap tidak akan mengulang di mata kuliah umum, itu saja. Dan, tidak mendapat nilai di bawah B pada mata kuliah jurusan. “Kebelet pulang” ini memabukan, membuat lupa kalau UAS sudah di depan mata. Seharusnya aku belajar, bukannya merengek dan mengeluh ingin pulang. Tapi bagaimana, namanya juga sudah kebelet? Oh ya, Desember. Ingat pada bulan Agustus lalu aku ikut interview Monbukagakusho 2016 di Kedutaan Besar Jepang? Ah, aku lupa. Aku belum menuliskannya, tapi aku janji, setelah aku mendapat pengumumannya aku akan segera menuliskannya di blog! Lumayan, pengalaman. Tentang pengumumannya itu.. nah itu. Katanya akan diumumkan sekitar Desember atau Januari. Waduh. Jadi semenjak tadi pagi setiap aku mengecek e-mail, jantungku berdegup menjadi jauh lebih kencang. Jujur, walau hopeless aku belum sanggup saja mendapat pengumuman penolakan, huft. Tapi, ya sudahlah. Ditunggu saja bagaimana. Maafkan aku juga selama sebulan kemarin tidak muncul atau paling tidak menuliskan sesuatu di blog. Aku masih berusaha untuk tetap menulis dan mengisi blog ini walaupun, yha, hanya puisi dan cerpen jadul yang kuunggah.

HERZLICH WILLKOMEN, DEZEMBER! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s