Happy Halloween!

Here I have something for you all to celebrate this year’s Halloween. Trick or threat? Whatever. Enjoy!

Selamat perayaan ke-13 pernikahan, Cintaku.
Tertulis pada secarik kertas merah muda di atas meja riasku, di sampingnya tergeletak setangkai mawar kuning, yang kutemukan saat aku tadi sedang mencari lipstick-ku. Aku tersipu, dia tidak pernah bersikap romantis seperti ini sebelumnya, bahkan sejak awal kami menjalin kasih.

Malam ini dia mengajakku untuk makan malam berdua saja, maka kutitipkan anak-anak kami di rumah orangtuaku. Aku tersenyum saat melangkah kaki ke luar, Helen dan Satria melambaikan tangan mereka. Bapak berpesan padaku untuk berhati-hati di jalan sebelum aku masuk ke mobil, seandainya saja suamiku seperti bapakku ini yang begitu perhatian. Ah.

Alamat yang diberikan oleh suamiku membawaku ke suatu vila, yang terletak cukup jauh dari kota. Rasa penasaran ini semakin menggila, apa yang telah direncanakannya selama ini? Belum aku sempat mengetuk pintu, suamiku muncul dengan setangkai mawar kuning di tangan kanannya.

“Selamat malam, Cintaku. Masuklah,” ia menuntunku menuju meja makan di ruang tengah.

“Sudah kupersiapkan semua ini hanya untuk dirimu, Cintaku. Aku pula yang memasak hidangan ini.” Hatiku terenyuh saat ia meletakan hidangan semacam steak di hadapanku.

“Enak, ini resep rahasia, ya?” tanyaku sambil menyantap potongan terakhir.

Ia tersenyum, beranjak dan menggandeng tanganku menuju salah satu kamar. Ah, sudah sekian lama semenjak ia meminta melakukan ini. Semakin dekat dengan pintu, semakin erat pula genggaman tangannya, tetapi kubiarkan saja.

Kejanggalan mulai kurasakan saat pintu kamar dibuka olehnya, aroma menyengat menusuk indera penciumanku. Merah. Ini darah. Suamiku masih tersenyum saat aku menatapnya meminta penjelasan, seringai menyeramkan adalah jawaban. Berdiri di tepi tempat tidur, dapat kulihat jelas rupa yang tertidur untuk selamanya dan bercak merah yang menemaninya. Lelaki ini, mantan kekasihku.

“Telah kuberikan kau hati milikku, tetapi masih pula kau meminta jantung, Cintaku. Maka kuberikan punyanya, atas nama cinta yang terkhianati ini.”

Kata-katanya yang terucap penuh kebencian seperti pemantik yang membakar ulang kisah dahulu, tepat tiga belas tahun yang lalu, ketika bahtera rumah tangga kami mulai kami bangun, dan aku masih menitipkan hatiku pada orang lain bukan dia. Dia yang sekarang ini cemburu berdiri di hadapanku, dengan pelatuk yang bercumbu dengan jari telunjuk kanannya, dan peluru yang bersarang di hatiku selamanya.

“Ini bukan kesalahanku, kesalahanmu, atau kesalahannya. Sama sekali bukan kesalahan kita ataupun kesalahan kalian berdua, tapi cinta.” Ia berbisik, mengeluarkan setangkai mawar kuning lagi dari dalam saku jas hitamnya. Yang dilemparkannya dan terjatuh tepat di samping aku yang sudah tak berdaya.

Aku teringat sesuatu, mawar kuning ini memiliki arti untukku tersendiri. Benci.

“Akan kuselesaikan semua ini sekarang.”

Dor…

Pelatuk tadi kembali bercumbu dengan telunjuknya. Lelaki yang kupanggil suami sekarang pun ambruk, di sampingku. Dan ia tersenyum, lagi. Pada saat yang bersamaan, mata kami bertemu, bibir kami saling mengucap sesuatu.

“Aku mencintaimu.”

“Maaf.”

 

I wrote this on July 22 for an online writing school project I joined, the mentor was my ask.fm senpai, Mario. The first task was to write less than 500 words fiction containing some words. And it was also my very first time writing something ‘thrill’ like this, idk, and I started loving it. Yet, all I wrote till now was shits I posted on LINE or Path, instead of something like this. Yeah, I still am a proscratinator, you name it. Recent days I have my mid term tests, and I’m like fucked up, whatever. And it’s just my very first semester.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s