Cinta Maya

Perkenalan ini terasa begitu singkat. Amat singkat mungkin. Belum berjalan lebih lama untuk jauh mengenalmu. Lebih dalam. Tetapi siapa yang peduli dengan berapa lama aku mengenalmu? Jika memang ini terlalu singkat, mengapa tidak kita perpanjang saja waktu untukku mengenalmu, lebih dalam lagi, nanti.

Kata mereka mungkin aku hanya mengada-ada akan kehadiranmu, biarlah, tetapi tetap aku rasakan kehadiranmu menghangatkanku jauh dalam lubuk hatiku. Sesekali mereka bersenda gurau tentang bayanganku yang terlalu tinggi akan parasmu, jadi aku hanya bisa menghela nafas saja, jujur aku tidak, eh belum, pernah membayangkan bagaimana tampilan fisikmu. Ya mungkin, kau dulu pernah mengirim foto, tapi ingat tidak bahwa kau salah kirim yang ternyata adalah foto anjingmu. Entah bagaimana mereka mengetahuinya, foto anjingmu itu disalah persepsikan sebagai kamu dan aku diangap sinting. Gila. Kadang aku ingin sekali menggali lubang di tanah dan lompat ke dalamnya dan tidak pernah kembali lagi kalau mereka sudah memulai.

Tapi mereka tidak saja berhenti disana, bak kuali bocor tak henti bibirnya berucap kata kata mencela. Siapa lagi yang dicela mereka? Tak lain dan tak bukan adalah kita. Selalu saja kita. Lagi dan lagi kita. Mereka anggap kita ini aneh. Aku terlebih. Hubungan kita janggal. Dan parahnya, tak patut untuk diperlanjutkan. Aku heran. Mengapa mereka terlalu mempermasalahkan? Sedangkan kita sebagai yang menjalani sama sekali tidak mempermasalahkan. Andai kau tahu bagaimana muaknya aku mendengar ocehan mereka tentang kita. Di sekitarku. Selalu. Coba bayangkan?

Lagi – lagi ketika pernah suatu saat aku tak sengaja berkicau bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu. Berbahagia. Sekali lagi coba kau bayangkan bagaimana reaksi mereka? Tertawa? Tentu saja. Dan mereka membahasnya lebih lanjut. Bukan saja di sekitarku kali ini, bahkan ketika aku tidak beredar pun mereka tak lelahnya membahasnya.

Ah sudahlah. Mungkin kau lelah mendengarku terus menerus membawa mereka dalam surat kita. Tapi jangan salah tafsir, oke? Aku tetap tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Tidak pernah sekalipun. Hanya saja, ya, aku cukup muak selalu mendengarnya setiap detik mereka bebas melakukannya. Sekarang coba kau beritahu aku bagaimana pendapat orang sekitarmu disana? Apa mereka selalu berpikiran negatif atau bahkan mereka tidak peduli sama sekali dengan ini?

Ku kira aku sudah menulis terlalu banyak dan panjang dan membosankan. Ya sudah, aku tutup sesi curhatku kali ini.

Maya

Alih – alih mengklik tombol send di layar laptopnya, ia malah mengarahkan kursor mousenya ke save as draft. Menarik nafas panjang dan menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, ia bangkit seraya mematikan laptopnya. Lagi, diperhatikannya layar yang perlahan menghitam. Untuk kesekian kalinya e-mail itu tak terkirim, gumamnya. Lalu ia memalingkan wajah ke arah ponselnya yang sedari tadi tergeletak diatas meja rias, layarnya berkedip menyatakan ada pesan masuk.

Hai. Bagaimana harimu hari ini? Menyenangkan? 🙂

Alex. Begitu yang tertera diatas text tersebut. Sang pengirim, adalah tujuan dimana surat yang sedari tadi ia tulis seharusnya berlabuh. Sayang tapi sayang, e-mail itu bahkan sama sekali tidak pernah berlayar untuk mencapai pelabuhan terakhirnya. Seseorang yang ia kenal secara tak sengaja saat perselancarannya di dunia maya hanya beberapa waktu lalu. Yang bahkan sekarang tak pernah absen untuk menemani hari – harinya. Menghantui hatinya. Dan tak pelik membuat sahabat – sahabatnya heboh karena ia menjalin hubungan dengan seseorang yang dikenalnya di dunia maya.

Belum sempat jemarinya mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan tersebut, sebuah pesan baru seketika masuk, membuat tangannya agak bergetar mengikuti irama dering ponselnya.

May, lagi nggak sibuk sama pangeranmu kan? Jalan yuk. – Lexa nih, hpku nggak ada pulsanya.

Setengah hati ia membaca ketika mengetahui yang mengirim pesan bukanlah yang diharapkannya. Ditatapnya sekali lagi pesan sebelumnya, sebelum akhirnya ia melempar asal ponselnya ke ranjang. Pandangannya tidak kosong. Tetapi jauh sekali. Menghadap langit senja yang temaram, bermandikan cahaya matahari oranye lembut. Masih dengan memandang jauh ke langit ia bergumam pelan, “Mungkin kita sedang menatap langit yang sama sekarang. Entah kamu sedang berada di ujung dunia sebelah mana aku nggak tahu. Semoga langit biru mau menjadi saksi bisu abadi yang sanggup mempertemukan, mempersatukan kita. Yang menjadi bukti bahwa cinta kita tidaklah maya, tidaklah semu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s