Senyum (se)Manis Vanilla

Gadis itu menggenggam tanganku begitu eratnya, tidak berkata sepatah katapun, bahkan ia menggigit bibirnya, dan tatapannya sendu, di ujung matanya dapat kulihat setitik air mata yang tertahankan. Ia berusaha untuk kuat dan tegar. Hal itulah yang membuatku semakin enggan untuk pergi, pergi meninggalkannya.

Sesaat aku memberanikan diri untuk menatap matanya, setelah sekian lama berhasil mengumpulkan kekuatan dan keberanian. Ia tersenyum, begitu semunya sampai senyuman itu tidak mencapai mata. Kuberanikan untuk bicara, tetapi ia sudah mendahuluiku.

It’s okay. I will be okay, I promise. I’m so excited when I heard that you get the scholarship to study in Germany. Dad said, it’s a really good place to study, and to live. Don’t mind me, we still can communicate enough. Oh please it’s 2014 and we have skype to keep in touch. I love you so much, don’t worry.” Suaranya terdengar serak, perlahan dinding ketegarannya hancur, ia terlihat begitu rapuh saat air mata meluncur jatuh dari ujung matanya. Mata coklat seperti biji kopi itu, kini menangis.

Aku tidak bergeming. Aku sudah terlalu sering menenangkannya saat menangis, tapi seakan aku lupa apa yang dulu sering aku lakukan, karena saat ini begitu berbeda. Akulah alasan kenapa ia begitu rapuh saat ini. Tanpa kusadari, tangannya menyusup ke belakang tubuhku. Ia memelukku erat, seerat saat ia menggengam tanganku tadi. Dan ia membenamkan kepalanya ke dadaku. Sekejap tangisannya mereda. Beberapa waktu kemudian ia mendongak, dengan masih memelukku erat.

“You know what? It seems like your hug is the safest place on the earth for me. Your warmth comforts me and your smell is a home. But I don’t mind, really, if I have to stay thousand miles away from you, as long as I still can have your heart to be my place to lay on.”

Aku tergerak untuk mengacak rambutnya, yang sedari tadi terpilin rapi, ia membalasnya dengan memamerkan deretan giginya yang putih. Ia beranjak dan mengambil ponselnya, membuatku bertanya – tanya apa yang ada di pikirannya. Aku mengintip sedikit untuk mengetahui apa yang akan dilakukannya, ia memilih fitur kamera, lalu ia duduk di sampingku, aku yang kaget hanya melongo sesaat sebelum ia mengambil foto selfie kami berdua.

Hey, how dare you!” Aku berusaha merebut ponselnya dengan cara menggelitiki perutnya, dan ia hanya tertawa – tawa sambil tetap tidak memberiku celah untuk mengambil ponsel dari genggamannya.

“Mom said, you’ll be leaving in two days, early in the morning. Since it’s already in the evening today, it means we only have a day to spend together. I’ll stay over in your house, okay? And oh! We’re gonna take tons of silly selfies of us, as a reminder of our infinity love!”

“That sounds cheesy.”

“No! It’s lovely. Don’t you agree with me just once this time, like please?” Ia memelas, dan memainkan wajah memohon seperti seekor anak anjing. Yang tak kuasa membuatku tak sanggup untuk mengangguk dan berkata iya.

“Good! We’re now heading to the carnival near your house, okay? And we’ll be having so much fun, tonight, tomorrow night you have to sleep and be ready for your very long flight.” Ia menarik lenganku, menuntunku untuk masuk ke dalam mobil, untuk menuju ke suatu pasar malam di dekat rumahku, tempat yang sudah ia pilih untuk kami habiskan bersama malam ini, dan melakukan hal – hal gila yang menyenangkan seperti biasanya.

Sesampainya kami berdua di pasar malam, ia sudah mengajakku untuk berhenti di stand penjual kembang gula. Ia memesan kembang gula berwarna merah muda, yang tampak senada dengan rambutnya yang kemerahan. Kini kami berjalan berdampingan, ia masih menggengam erat lengan kiriku dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggengam kembang gula merah muda tersebut. Ia tampak begitu ceria dan bahagia, seperti biasanya, seakan tidak terjadi apa – apa. Hal ini membuatku merasa campur aduk, bahagia sekaligus sedih.

Kami mengelilingi stand – stand makanan, boneka, souvenir dan berbagai macam wahana permainan yang ada disini. Tidak terlalu ramai pengunjung yang datang kemari, sebagian masyarakat lebih memilih untuk pergi ke mall karena dianggap lebih bergengsi. Aku menatap gadis itu lagi, yang masih disibukkan dengan kembang gulanya. Ini pertama kalinya ia pergi ke pasar malam, pantas saja ia tampak begitu bersemangat dan bahagia.

Aku ingat bagaimana dulu pertama kali aku bisa mengenal lebih dekat sosok Vanilla, nama gadis itu. Sebagai murid pindahan, yang memiliki wajah campuran eksotisme Italia dan Bali, ia begitu mencuri perhatian banyak lelaki di kelas, bahkan di seantero sekolah. Semua seperti berlomba – lomba untuk mendekatinya, tetapi ia menutup diri, tidak bersosialisa dengan siapapun dan bersikap tidak peduli. Walaupun begitu, hampir seluruh siswi di sekolah tetap menjauhinya. Dan lama kelamaan lelaki yang mengejarnya menyerah, dan ikut menjauhinya. Melupakannya. Ia sering duduk bangku di pojok belakang, dan menjadi terasing bahkan diantara yang terasingkan. Aku pun dulu acuh tak acuh akan dirinya, karena aku tidak terlalu tertarik dengan apapun yang tidak ada sangkut pautnya dengan belajar.

Semua berubah saat teman sebangkuku pindah ke luar negeri, dan wali kelas kami meminta Vanilla duduk bersamaku. Dengan alasan agar aku, sebagai siswa terpandai di kelas, mampu membantunya dalam pelajaran, karena ia dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran. Saat pertama kali ia duduk di sampingku, hal pertama yang kuperhatikan bukanlah wajahnya yang tampak berkali – kali lebih cantik jika dilihat dari dekat, tetapi luka sayatan di sekitar pergelangan tangannya saat lengan oversized sweaternya terangkat, bukan cuma satu atau dua tetapi banyak. Hal tersebut mengingatkanku pada kakakku yang bunuh diri beberapa tahun silam, karena dia di bully oleh teman – teman sekolahnya, ia tidak sanggup menghadapinya tetapi tidak mau menceritakannya kepada aku dan keluarga, dan akhirnya ia memilih satu jalan, yaitu untuk pergi meninggalkan kami. Aku hanya terkesiap, tidak berkata apapun, tetapi aku dapat merasakan hatiku perih. Setelah beberapa saat menghabiskan waktu dalam meja yang sama, ia mulai membuka diri dan bicara sedikit lebih banyak kepadaku, dan hal tersebut terus berlanjut. Sampai sekarang. Tanpa status, karena kami sudah tahu bahwa kami saling menyayangi. Mungkin saling mencintai.

“Mario, look!” Ia berseru sambil menunjuk ke arah kincir angin yang berputar perlahan, mengitari gelapnya malam. Aku mendongak sejenak dan mengangguk, menyetujui jikalau ia ingin kami untuk naik kesana.

Seusai menaiki kincir angin itu (dan mengambil begitu banyak selfie), ia tampak semakin bahagia, dan matanya tampak begitu lelah. Ia menggengam tanganku dan menuntunku ke mobil. Tampaknya hari ini aku hanya berjalan ke mana ia pergi, dan menuruti segala kemauannya. Tapi selama ia bahagia, aku tidak masalah dengan hal itu.

Selama perjalanan pulang, ia memasang lagu – lagu dari All Time Low, grup band kesukaannya, dan berteriak – teriak bernyanyi bersamanya. Aku hanya bisa tersenyum, puas melihat ia sanggup melupakan aku yang akan segera pergi meninggalkannya.

Sesampainya di rumah pun ia masih tetap menggengam tanganku erat. Setelah bercengkrama sesaat dengan orang tuaku, kami pamit untuk istirahat karena esok kami akan kembali berpetualang. Ia mengikutiku masuk ke kamarku, walau aku sudah menunjukkannya kamar tamu di sebelah. Tetapi ia bersikeras untuk tidur bersamaku, dengan alasan yang begitu klise, takut. Ya, akui saja, engkau takut kehilanganku, bisikku pada diriku sendiri.

“I don’t want you to sleep on the couch, I want us to sleep together. I want  you to hug me tight tonight, till tomorrow when I wake up. And I will do the same for you tomorrow.” Serunya saat aku sudah merebahkan diri di sofa. Aku bangkit dan menuju ke tempat tidur, menghempaskan diri ke salah satu sisinya. Ia kini berada di salah satu sisi, ia sudah melepas sweaternya, yang menampakkan bekas luka goresan di pergelangan tangannya yang sudah semakin memudar.

“I’ve stopped cutting since I have you.

Bisiknya pelan hampir tak terdengar. Aku merasakan kesejukkan dalam hatiku saat ia mengatakannya. Ia mendekat dan aku mendekapnya erat ke dalam pelukanku, dapat kurasakan nafasnya di telingaku dan detak jantungnya yang berirama sesaat setelah ia tertidur begitu cepatnya. Lalu aku berusaha untuk terlelap dengan memejamkan mataku, dan memanjatkan doa kepada Tuhan untuk selalu menjaganya saat aku tak berada di sisinya, dan memberinya kebahagiaan selamanya.

“Oh, Mario! Wake up! Wake up! It’s already late. We have to go soon. Come on, wake up!” Ia menepuk pundakku perlahan. Lalu mencubiti lenganku karena aku masih terlelap. Dan yang terakhir ia melempariku dengan bantal karena aku masih terlalu malas untuk membuka mata. Aku menggeliat sambil mengusap mataku.

“We’re going to see the sunrise! Come on, wake up. Or we’re gonna be late. Now pack your clothes and some food! Oh! And extra clothes and sweater for me.”

Deburan ombak yang berirama memecah keheningan pagi ini. Kami datang tepat beberapa menit sebelum matahari terbit sesuai jadwalnya. Aku merebahkan tubuhku diatas pasir, tepat di samping Vanilla yang tengah sibuk dengan sehelai kertas dan pena, menulis sesuatu yang aku tak boleh lihat, sampai nanti waktunya katanya. Tak lama, panorama matahari yang terbit begitu mempesona kami.

“Promise me, you’ll never forget me as you’ll never forget the beauty of seeing the sunrise at one of the prettiest beach in Bali.” Ia mengulurkan jari kelingking kanannya, memintaku untuk berjanji untuk tidak melupakanku, aku menyambut ulurannya. Dan saat itulah janji kami terucap.

Setelah itu dia mengajakku untuk pergi berpindah – pindah dari satu pantai ke pantai lainnya. Sampai pada malam harinya, kami berada di salah satu pantai di kawasan Jimbaran, di pantai Dreamland.

“The name of this place is so cute. It makes me think that I’m in a dreamland, where everything in my dream happened here. Being happy with someone I love and love me with all his heart too. And oh the beauty of this beach is infinity, I wonder if heaven looks like this.” Lalu ia tertawa pelan, aku juga. Dan kami menghabiskan malam hanya dengan menatap bintang bersama, tanpa banyak bicara, sama seperti biasanya. Walau malam ini adalah malam terakhir kami saat ini. Tetapi hal ini terasa begitu indah, dan nyaman. Seakan tidak ada lagi yang membatasi dunia kami.

Hari yang tak pernah ku tunggu tiba. Hari untuk pergi meninggalkan Vanilla, keluargaku, dan Bali. Aku merasa sangat sedih sampai kesedihan tersebut tidak dapat lagi kurasakan. Saat aku membuka mata, kudapati Vanilla sudah bersiap dan tampil sangat manis. Semanis namanya.

“Guten Morgen, Mario! Now get up and prepare yourself for the long journey in Germany. Wohooo!” Ia berteriak begitu bersemangat, dan tersenyum. Senyum yang tak henti terpoles di wajahnya, mengantarku sampai panggilan boarding pesawatku terdengar. Tetapi walau begitu, senyuman itu masih belum pudar. Dan aku merasa ada sesuatu yang janggal karena ia tak biasanya tersenyum seperti ini. Senyuman itu terlalu indah, dan berbeda dari senyum biasanya. Apakah kesedihan yang begitu mendalam dapat membuatnya menjadi begitu ahli dalam memanipulasi senyumannya?

Setelah berpamitan cukup lama dengan kedua orang tuaku, dan memeluk erat keduanya. Aku menghampirinya. Ia menunjukkan sekotak kado yang terbungkus indah, dan memberikannya kepadaku.

“I don’t care how you’re going to bring this gift from me to the plane. But I’m sure it will pass the security check because I didn’t put any bomb in it, I swear. So, there’s a special gift from me for you. And 365 letters, for you to read each day without me. But the pink one, open it when you’re on the flight, it’s a kind of ‘goodbye’ letter, I guess. Okay? I love you to the moon and back. Ich liebe dich sehr. Bitte, vergiss mich nicht.*”

“Okay.” Aku mengangguk. Ia memelukku, tak lama tetapi sambil terus mengucapkan bahwa ia sayang kepadaku, dan untuk tetap kuat menjalani hari tanpanya. Dan akhirnya, ia melepaskannya, saat panggilan kedua untuk pesawatku berkumandang. Ia mencium pipiku dan melambaikan tangannya, begitu juga kedua orangtuaku. Aku berjalan dengan berat hati, dengan membawa sekotak hadiah darinya. Dan saat aku menengok ke belakang, ia sudah berada dalam pelukan mama. Menangis terisak.

Saat pesawat sudah berada di ketinggian yang stabil, aku meraih kotak yang sedari duduk kupeluk erat. Penasaran kubuka surat yang ia minta untuk kubaca saat di pesawat.

Dear Mario,

I was so shocked but happy when I first heard the great news from your mother. I was totally sad but then I manage the sadness to see what you’ve always wanted to achieve in your life. So I pretend like I am strong enough to be left by you. But well, don’t worry, I will try to stand strong, wie ein Stein.**

I just wanted to tell you that you are my very first true friend. And I think I also love you too much for us to be friends only. But love is so complicated. Let’s just be super friends! More than friends but less than lovers. Haha 😉

Oh! Not enough space to tell about everything you’ve done to me. You’ve done too much, I couldn’t write them all here.

I hope you’ll do great with your life and your study in Germany. I hope you’ll never ever forget me. I hope you can stand strong without me, but I know you can do it anyway! I’ll put your name on every single time I pray, all for your happiness. Because your happiness is my happiness.

Last but not least, I love you. Aku cinta kamu. Ich liebe dich. Ti amo. I’ll whisper to the stars to send all of my love to you when it comes the day I won’t be able to tell you so.

Yours,

Vanilla Cielo.

Isi suratnya sederhana, tetapi aku seakan dapat membaca segala yang ingin ia katakan, segala yang ia rasakan. Lalu aku menemukan sweater abu – abu yang ia kenakan saat pertama kali duduk bersamaku dan saat terakhir kali kami bertemu tadi, dengan wangi cologne yang biasa ia gunakan, dan sebuah scrapbook, yang aku yakin berisi banyak sekali foto – foto selfie kami, dengan sampul bertuliskan “Open this, when you’re…”.

Lalu aku tertidur pulas, lama sekali, sampai seorang pramugari membangunkanku saat aku telah sampai di Frankfurt. Aku menonaktifkan mode flight di ponsel sesegera mungkin setelah meninggalkan pesawat. Jam menunjukkan pukul 4 subuh di Bali, dan pukul 10 malam di Frankfurt. Seseorang yang ditugaskan untuk menjemputku datang menghampiriku, dan kami bersama berjalan menuju bus yang akan membawa kami ke tempatku akan tinggal selama beberapa tahun ke depan. Baru aku menginjakkan kaki di dalam bus, ponselku berdering, nama yang tertera disana Mama. Ah, beliau memang selalu sebegitunya menghawatirkanku.

”Halo..” Suara beliau terdengar begitu panik, serak, terisak, dan tidak jelas.

“Iya, ada apa, Ma? Aku baru saja sampai di Jerman.”

“Vanilla.. Tadi seberangkat kamu, dia mendadak terkena serangan jantung. Dan ketika perjalanan menuju rumah sakit, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia sudah pergi, Mario.”

Begitu mendengar kalimat terakhir mama, ponsel terlepas dari genggamanku. Duniaku serasa runtuh. Kini bukan aku yang pergi meninggalkannya, melainkan ia yang pergi meninggalkanku. Untuk selamanya. Tiba – tiba bayang akan Vanilla dan kakakku dengan pakaian serba putih dengan senyuman terindahnya saling bergandengan tangan. Dan itu terjadi di benakku sebelum semuanya mendadak menjadi begitu gelap dan aku tak tersadar.

*kumohon, jangan lupakan aku

**seperti sebuah batu

an entry for Bulan Bahasa UGM 2014

05 November 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s