Kamu. Mimpiku. (dan) Cintaku.

Jemari lentik itu dengan lincah melompat diantara tuts piano diiringi dengan senyuman sang pianis yang penuh arti. Tatapan mata itu bagaikan air mengalir yang dapat menyejukkan hati siapapun yang melihatnya. Lelaki itu menatapku. Menangkap basah aku yang sedari tadi memperhatikannya. Ia tersenyum lagi. Manis. Sangat manis. Dengan sedikit salah tingkah kupermainkan ujung pita di gaunku. Tanpa kusadari permainannya sudah usai, bahkan tepuk tangan dari segelintir orang pun tak kudengar. Dengan tetap tersenyum ia beranjak menuju ke arahku. Semakin dekat, dan…

Lelaki itu kini berdiri di hadapanku. Mengulurkan tangan sekejap setelah ia mengucapkan beberapa kata, yang sama sekali tak kudengar. Sambil tetap mengulurkan tangannya, lelaki itu mengernyitkan sebelah alisnya mengisyaratkan bahwa uluran tangannya belum mendapat balasan.

“Karenina Ross. Tapi kamu boleh panggil aku Abbey.”

“Davian Lukas. Panggil aku Vian aja.” Mata cokelat itu menatapku. Jantung ini seakan berlari, melompat, salto, jungkir balik.

Suasana semakin awkward. Aku diam seribu bahasa, bingung harus berkata apa. Masih dengan tatapan yang sama dari lima menit lalu semenjak perkenalan kami, lelaki pianis itu masih tetap menatapku. Membuatku seakan terperangkap dalam sejuk tatapannya.

“Kenapa kamu bisa dipanggil Abbey? Namamu kan nggak ada unsur Abbey-nya sama sekali.” Vian bertanya mencairkan suasana.

“Oh itu, ehm, tapi kalo aku cerita kamu jangan ketawa ya. Aku kan dari kecil itu chubby, nah orang di rumah itu biasa manggil aku chubby, berhubung aku belum lancar bicara jadi ngomongnya ‘Abi’ gitu.”

Muka Vian merah padam menahan tawa. Aku cemberut. Walaupun begitu, aku merasa nyaman berbicara dengan Vian.. Tampaknya aku mulai jatuh cinta.

Besoknya, aku bangun dengan mata hitam seperti mata panda. Ya, aku tidak tidur semalaman karena jantungku berdegup kencang ketika memikirkan Vian dan dengan bodohnya otakku terus mengulang semua kejadian malam itu bersama Vian.

Dan bodohnya tanpa kusadari lebih jauh, kisahku yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada Vian itu bagaikan si buruk yang mengharapkan rembulan. Mustahil. Atau dalam kata lain, sangat tidak mungkin ia akan membalas cintaku.

Aku menarik nafas panjang. Kupejamkan kedua mataku dan bayangan Vian kembali muncul. Betapa indahnya alunan melodi ketika jemari lentiknya beradu dengan tuts pianonya. Anggukan kecilnya ketika ia hanyut dalam permainan. Senyumnya… Ohhh… Vian.

~

Sebuah perasaan aneh nan nyata muncul ketika aku melihat gadis itu di malam pesta. Dia berbeda. Terdengar cheessy mungkin. Tapi ada alasan lain lagi. Aku merasa mengenalnya. Bukan sekadar mengenalnya. Tetapi memilikinya. Tidak. Tidak hanya memilikinya. Aku merasa dialah separuh jiwaku yang kurasa sempat hilang dulu. Ya. Dulu. Entah kapan itu. Mungkin semenjak mimpi yang terus menghantuiku. Mungkin itu kenapa aku merasa ketika menatap matanya aku merasakan seperti de javu.

Berada didekatnya membuatku merasa seperti mendekap masa lalu. Mendekap sebuah impian yang sempat menghilang dan terpendam. Tapi ketika kucoba untuk mereka kembali, ingatan itu seakan musnah tak berjejak. Aneh. Sangat aneh.

Denting melodi indah seperti mengalun dengan sendirinya. Bermain dibenakku. Mempermainkanku lebih tepatnya. Membuatku makin gelisah. Sungguh tak sabar aku ingin lekas berjumpa lagi dengannya, kusambar jaket kulit yang tergantung lesu di balik pintu dan berlari kecil menyusuri lorong. Entahlah, dimana keberadaannya sekarang akupun tidak mengetahuinya. Mungkin, cinta inilah yang akan menuntunku padanya.

~

Vian menatap mataku dalam – dalam. Membuatku hanyut dalam tatapan lembutnya yang amat mempesona. Kami diam tanpa kata. Hening. Bisu. Ya, kami secara tidak sengaja bertemu di suatu taman terpencil di sudut kota tepat satu minggu setelah perkenalan kami yang juga secara tidak sengaja. Dan, ia kembali menatapku dengan tatapan yang sama.

Angin semilir sore ini menyeruak diantara pilin rambutku yang tadinya terkepang rapi, membuat beberapa jatuh terurai dan terkesan sedikit berantakan. Vian yang hari ini tampak begitu berbeda penampilannya dari minggu lalu, bersandar pada tiang penyangga gazebo dan tetap menatapku. Memperhatikanku lebih detail. Entah apa yang dia lakukan, itu membuatku risih dan menjadi salah tingkah. Tampaknya ia memperhatikan hal itu juga. Sudut bibirnya tertarik, ia tersenyum. Senyum yang mampu membuat beribu gadis merasakan berjuta kupu-kupu di perut ketika menatapnya.

Aku menatap langit untuk menghilangkan rasa canggungku. Kutengadahkan kepala agar dapat melihat jelas perpaduan warna yang membentuk lukisan indah cakrawala senja. Kurasakan tatapan Vian masih menyertaiku. Tak kuasa kutahan rasa penasaran itu dan akhirnya ku mulai berkata.

“Ada apa? Aku merasa risih kamu perhatikan terus seperti itu. Apa aku sebegitu anehnya hari ini?”

Sebelum berkata seperti itu, aku sebenarnya telah meneliti pakaianku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Flat shoes biru muda, celana jeans ¾, oversized t-shirt bergambar Hello Kitty, dan rambut yang terkepang berantakan dengan pita biru muda yang senada dengan sepatuku. Tidak ada yang aneh menurutku.

Vian menggeleng. Lalu kembali tersenyum. Tidak mengatakan sepatah katapun, tetapi menarikku kedalam pelukannya. Entah apa yang salah dengan pemuda ini, kurasa ia salah sarapan. Jujur, berada dalam pelukan orang yang baru kau kenal satu minggu lalu adalah sesuatu yang tidak wajar, dan lebih tidak wajar lagi jika kau merasa nyaman dengan pelukan itu dan membiarkannya memelukmu tanpa melakukan perlawanan. Dan itulah yang Karenina Ross sekarang lakukan.

“Kenapa kamu membiarkan aku memelukmu?”

“Entahlah.” Oops. Apa yang kukatakan tadi? Itu seperti meluncur dengan sendirinya! Dan aku terdengar sangat bodoh.

Vian mengernyitkan alisnya. Lalu kembali tersenyum. Tetap memelukku erat seakan ia tak mau kehilangan aku. Meloloskan sang mentari untuk kabur ke peraduannya. Membiarkan rembulan mengintip dari balik awan. Biarlah. Tetapi aku merasa nyaman.

“Aku sayang kamu.” Desahnya pelan. Dapat kurasakan hangat nafasnya. Kudongakkan kepalaku agar dapat kutatap matanya.

“Tapi kita baru kenal minggu lalu secara tidak disengaja, dan ini adalah pertemuan kita yang kedua dan dengan tidak sengaja pula. Dan kamu sudah bilang kalau kamu sayang sama aku? Vian. Kamu gila.”

Pemuda itu kembali tersenyum. Kali ini ia memejamkan matanya untuk beberapa saat. Jantungku berdebar cepat. Entah kenapa benakku seakan dihantui oleh sesuatu. Seperti mimpi. Mimpi yang aneh, mimpi yang sama seperti yang telah kumimpikan akhir-akhir ini.

Gadis bergaun putih itu menari berputar-putar di suatu taman yang tidak mampu dilukiskan dengan kata keindahannya. Dari raut wajahnya dapat disimpulkan bahwa ia sedang merasa sangat bahagia. Dari kejauhan terlihat seorang pemuda memainkan piano megah berwarna putih. Ia baru saja selesai memainkan lagu yang tadi mengiringi gadis itu menari. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Tak lama ia beranjak dan menghampiri gadis yang sekarang tengah terduduk di hamparan hijau rumput yang seakan berwarna keemasan bermandikan cahaya. Ia duduk tepat di samping gadis itu, yang dengan tersipu memainkan ujung pitanya karena gugup. Pemuda itu menatap gadis itu dengan lekat, membuat pipi sang gadis bersemu merah. Ia tersenyum dan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke gadis itu. Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti. Hingga akhirnya bibir mereka saling bertemu.

Entah terlalu menghayati kilasan mimpi yang memenuhi benakku, aku dapat merasakan ciuman antara pemuda pemain piano dan gadis yang menari tadi. Ciuman itu terasa begitu nyata. Begitu lembut, menggambarkan lembutnya cinta kasih diantara kedua insan tersebut. Tetapi mengapa begitu nyata? Kubuka kelopak mataku dan kudapati Vian tengah menjawab pertanyaan yang muncul di benakku.

“Mungkin aku memang gila. Tapi ini yang terjadi. Mimpi itu, mimpi yang sama, mimpi yang muncul dalam tidurku dan telah menghantuiku selama beberapa tahun terakhir. Mimpi itu mungkin indah. Menggambarkan indahnya cinta kepada seorang yang sempat tak percaya cinta. Membuka hatinya, memberinya jalan untuk bertemu separuh hatinya. Mungkin kita baru bertemu dua kali. Tetapi aku dapat merasakannya. Merasakan cinta yang ada diantara kita. Kamu mungkin memungkiri. Tapi tidak dapat menolak. Kamu dapat merasakan butiran cinta kasih di hatimu semenjak menatap mataku untuk pertama kalinya kan? Kamu mungkin pikir aku sinting karena aku berpikir bahwa mimpi gila itulah yang telah mempertemukan aku dengan kamu, membuat aku jatuh cinta padamu. Tapi.. memang benar. Itu kamu. Gadis dimimpi itu kamu! Mungkin… di waktu yang dulu sebelum aku menjadi Vian dan kamu menjadi Abbey, kita adalah sepasang kekasih atau entahlah.”

“Vian…”

“Kalau kamu tidak percaya dengan Vian dan mimpi gilanya, apa kamu percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Atau tentang reinkarnasi?”

“Tidak.”

Vian terdiam mendengar jawabanku. Membeku seketika. Seakan jawaban tadi telah meluluhlantahkan harapannya. Seakan ia didiagnosa tidak bisa bermain piano lagi karena kehilangan tangannya. Tatapannya sudah seperti tidak memiliki harapan lagi.

“Dulu aku tidak percaya akan cinta pada pandangan pertama. Bahkan dulu aku sempat berpikiran bahwa cinta adalah sesuatu yang tak nyata. Tapi semua pandangan itu sirna. Ketika aku bertemu kamu. Aku.. aku rasa, aku telah merasakannya. Aku jatuh cinta seketika.”

Jemari lentik Vian, menyibak untaian rambut yang terjatuh di wajahku. Ia kembali menciumku lembut menutup malam dimana mimpi itu akan berhenti menghantui kami berdua.

~

Mungkin, merilis lagu “Persetan dengan Cinta” adalah suatu pilihan buruk bagiku. Karena hal itu menimbulkan mala petaka bagiku yang tak percaya akan cinta. Menurutku cinta itu tak nyata, tak waras dan tak masuk akal logika. Malam itu, malam setelah lagu “Persetan dengan Cinta” dirilis, mimpi itu mulai menghantuiku. Setiap malam. Bahkan sampai beberapa tahun kedepan.

2 tahun setelah lagu tersebut dirilis, dan aku tetap dihantui oleh mimpi sialan itu. Aku diminta oleh Kezia, sepupuku untuk mengisi acara di pesta temu kangennya dengan teman-teman lamanya. Di malam itu, aku memainkan lagu “Persetan dengan Cinta”. Tidak ada yang terlalu memerhatikanku karena hanyut dalam kesibukannya masing- masing. Tapi dapat kurasakan bahwa gadis itu telah terkagum-kagum semenjak jemariku mulai beradu dengan tuts piano.

Kurasakan ada magnet yang membawaku ingin terus ada didekatnya. Entah apa yang membuatnya begitu menarik di mataku. Segala cara kulakukan supaya bisa mengenalnya. Dan ia telah berhasil membuatku gelisah dan tak bisa tidur, membuatku seperti orang yang tengah jatuh cinta.

Dan inilah pertemuan keduaku dengan gadis itu, di sebuah taman di sudut kota. Aku tak mengajaknya berkencan. Sudah kubilang aku ini tidak percaya akan cinta. Percaya atau tidak ini adalah sebuah pertemuan secara tidak sengaja. Tapi, entah kenapa aku ingin sekali memeluknya. Aku ingin dia mengetahui apa yang tengah kurasakan. Dan tak kusangka ia benar benar merasakannya. Ia juga memimpikan mimpi yang sama sepertiku. Ini aneh, apa jangan jangan dia adalah gadis yang selama ini ada dimimpiku? Logika mengatakan itu mustahil, tetapi hatiku mengatakan ya. Untuk pertama kalinya aku mendengarkan kata hatiku, kenapa? Karena ini semua terasa begitu nyata. Nyata sekali. Aku merasa bahwa aku mencintainya. Dan semua terjadi begitu saja.

Mungkin benar bahwa ini adalah suatu karma yang kudapatkan karena telah tidak percaya dengan cinta. Tetapi karma ini jugalah yang telah membawaku pada cinta. Menyadarkanku bahwa cinta itu ada. Karena sekarang aku telah merasakannya.

~

Sore itu, Kezia menemaniku berjalan- jalan di mal.  Sebagai maniak musik, toko kaset adalah tempat yang tidak bisa dilewatkan oleh Kezia. Tetapi entah kenapa aku seakan terhipnotis untuk melihat ke koleksi CD klasik yang sama sekali bukan genre musikku. Dan mataku terpaku saat melihat wajahku terpampang sebagai cover CD pada deretan best-seller. Album yang memamerkan setengah wajahku sebagai cover itu berjudul Kamu. Mimpiku. (dan) Cintaku – Davian Lukas.

“Bey, aku udah dapet nih album barunya Avril Lavigne!” Kezia tersenyum sumringah sambil memamerkan CD yang baru dibelinya.

Ia menatapku curiga ketika aku hanya terdiam memandangi CD yang hanya kupegang saja daritadi. Ia bahkan agak terkejut ketika sadar bahwa aku berdiri di bagian musik klasik. Tetapi ia baru menyadari sesuatu, bahwa pipiku memerah.

Are you okay, darl?”

Aku menggeleng dan memperlihatkan CD yang daritadi kupegang.

“Davian Lukas. Kamu. Mimpiku. (dan) Cintaku.” Bacanya perlahan. Lalu memelukku erat.

“Cieeee… Selamat yah, yang dibikinin album oleh sang kekasih tercinta.”

Aku hanya tersenyum. Menahan air mata yang sudah bersiap untuk jatuh karena merasa bahagia dan terharu.

Ya, Vian. Kamu. Mimpiku. (dan) Cintaku.

04 November 2012

Edited : 18 May 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s