Surat (Cinta) Terbuka?

Teruntukmu yang mungkin sudah kukagumi sepanjang setengah dekade,

hai. Sudah lama kita tidak bersua, bahkan mungkin untuk sekadar berbincang sejenak. Ah, sebelumnya maafkan salam pembuka surat ini yang biasa saja, karena sesungguhnya aku amat bingung bagaimana untuk memulainya, kuputuskan untuk memilih satu kata sederhana yang biasa diucapkan seseorang saat berjumpa dengan kawannya. Kawan, iya. Bukankah memang itu seharusnya kita?

Tanpa basa-basi lagi, aku merindukanmu. Sudah jelas, bukan begitu? Tunggu, biarkan aku menghitung dulu seberapa lama sudah kita tidak bertemu. Terakhir aku mengingatnya sudah puluhan purnama berlalu, sejak terakhir kali sudut mataku berpapasan dengan ujung senyummu itu, yang kau simpulkan entah kepada siapa.

Sekarang biarkan aku untuk menanyakan bagaimana kabarmu di sana? Baik saja? Aku harap begitu. Jangan lupa untuk bahagia, ya. Itu satu pesanku. Ah, tapi aku yakin kamu tidak akan pernah lupa untuk berbahagia. Dan, aku, entah bagaimana caranya, yakin dengan hal itu.

Dan agar kamu ketahui, sedikit canggung menuliskan surat padamu dengan bahasa ibu kita, mengingat sebegitu seringnya dirimu menggunakan bahasa asing pertamaku, dan yang membuatku (memaksaku) memberanikan diri untuk menuliskan rangkaian panjang kata dalam rangka mengungkapkan perasaanku padamu dalam sebuah surat. Maafkan bahasaku yang terdengar kaku ini, yang sebenarnya akupun begitu.

Sebelum jauh kita mereka-reka tentang masa depan yang tidak kita ketahui sama sekali, ingin rasanya aku menelusuri ke belakang, waktu yang telah lampau, hal-hal yang telah sedikit banyaknya dilewati. Bukan oleh kita, tapi oleh diri kita masing-masing.

Aku masih ingat jelas, bagaimana semesta mempertemukan kita dalam satu kelas di tahun pertama sekolah menengah atas. Samar-samar jauh sebelum kujumpai sosokmu, sudah kudengar sebuah berita yang ramai dibicarakan oleh seantero penjuru kelas, bahwa akan ada seorang anak yang amat pandai berbahasa asing, yang dulunya sempat menuntut ilmu di negeri para kangguru. Oh, betapa hebatnya, pikirku dalam hati saat itu. Aku tidak berbohong, itulah hal yang pertama kali aku pikirkan ketika aku mengetahui keberadaanmu dalam kehidupanku.

Hal itu tidak berubah sama sekali saat pertama kali kita berjumpa, aku tidak ingat bagaimana, karena asal kamu tahu saja bahwa ingatanku ini payah, kurang lebihnya seperti ikan mas. Ya, sepayah itu, aku bahkan sulit untuk mengingat santap malamku dua hari lalu. Dia keren sekali, pikirku, saat kudengar dirimu mulai berceloteh ria menggunakan bahasa yang secara otodidak aku pelajari dan aku masih payah hingga saat ini. Sejak saat itu, lelaki yang pandai berbahasa asing selalu terlihat menarik di mataku.

Di suatu kesempatan, kau diminta untuk mempresentasikan sesuatu, mengenai kepemimpinan kalau aku tidak salah. Dalam mata pelajaran Agama. Dengan penuh percaya diri, dan tanpa rasa tertekan (berbanding terbalik denganku saat itu, aku benci untuk berbicara di depan umum) kau melangkahkan kakimu dengan mantap ke depan kelas. Menatap seluruh pasang mata yang ada, termasuk milik Bapak Guru yang tersenyum mempersilakanmu untuk memulai aksi. Tidak ada yang mengucap sepatah katapun saat itu, mirip seperti sebuah tagline acara televisi, semua mata tertuju padamu. Kaupun berbicara, mengenai topik yang sedang dibahas. Kepemimpinan. Ah, iya, di saat itu juga kau kan seorang wakil ketua kelas, ya? Cocok sekali. Jika ada yang memperhatikan, mataku tidak berpaling darimu. Aku kaget, aku kagum, aku terpesona, aku… aku…

Sebegitu berapi-apinya kau saat itu, aku sendiri dapat merasakan semangat yang mengalir dari setiap patah kata yang kau lontarkan. Aku ingat, hampir saja aku impulsif menuliskan sesuatu tentangmu, yang berdiri di depan sana, berbicara dengan percaya diri dan semangat yang membara. Tapi sayang boleh sayang, puisi tersebut tidak pernah terselesaikan. Aku seakan lupa, bahwa beberapa waktu sebelum itu, sudah terdengar kabar bahwa kau begitu lihai dalam berpidato. Tak salah lagi, kuakui hal itu.

Cukup waktu mengenalmu, dan keberadaanmu yang seringkali menghilang dari presensi kelas, aku sadar aku mulai mengagumimu. Dan di saat yang bersamaan, aku mulai merasakan bahwa aku juga sedikitnya memiliki perasaan pada salah seorang teman terdekatmu. Perasaan yang amat membingungkan bagi seorang gadis yang belum pernah merasakan perasaan yang begitu kompleks sebelumnya. Tanpa sadar aku melakukan pergerakan, yang harus kuakui, kepada temanmu itulah. Bahkan pada saat aku mengakui perasaanku, kepada seorang sahabat karibku, namanya lah yang kusebutkan. Walau untuk kesekian kalinya ia menanyakan, apakah aku yakin dengan perkataanku itu, dengan membawa namamu di belakangnya. Sejujurnya aku ragu, yang aku tahu saat itu adalah aku setengah mati mengagumimu.

Ditambah lagi, dengan sosokmu yang seringkali mengingatkanku dengan Papaku. Saat itu, aku sedang kehilangan sosok beliau yang ditugaskan di luar kota, tetapi aku menemukannya dalam bentuk lain, di dalam sosokmu aku menemukannya. Sifatmu, sikapmu, pembawaanmu, kamu. Aku lemah. Di saat teman-temanku sengaja membuatku meneteskan air mata karena mengingatkanku dengan sosok beliau nan jauh di sana, melalui lagu milik Ada Band, di sisi lain ada dirimu di sekitarku. Mungkin, mungkin sejak saat itulah aku telah memiliki khayalan konyol nan menyeramkan ini, yaitu untuk menikahimu.

Lupakan kata terakhir di paragraf sebelumnya yang sempat aku bicarakan.

Penutup kilas balik yang amat buruk.

Payah.

Ayo, kita balik lagi saja ke masa sekarang kalau begitu.

Kagum. Satu kata itu yang mungkin akan menjadi favoritku untuk mendeskripsikan perasaan kompleks yang menggerogotiku selama setidaknya lima tahun belakangan ini. Aku tidak mengerti, sampai detik ini. Aku belum mengenalmu sebegitunya untuk jatuh cinta padamu, tapi apakah untuk jatuh cinta padamu aku harus mengenalmu sebegitunya?

Sebut saja aku jatuh kagum, yang mungkin terlalu dalam sampai imajinasiku terkadang menjadi sebegitu liarnya aku bahkan malu pada diriku sendiri. Ah, iya, 6 kata sebelum ini, mendeskripsikan aku dan cara pandangku padamu. Aku, mungkin aku terlalu rendah diri atau bagaimana, selalu menganggap diriku tidak pantas, bahkan untuk mengagumimu. Aku seringkali mengambil analogi bahwa kita ini bagaikan seorang pungguk (aku) yang merindukan rembulan (dirimu). Seringkali aku merasa malu dengan diriku, yang bukan siapa-siapa ini, yang menyedihkan ini.

Aku hanya berbekal rasa nekat, dan rasa kagumku yang membuncah, dan rasa rinduku padamu saat ini yang membuatku setengah mati (ini hiperbola, iya) untuk menyampaikan segala yang ada di dalam sini.

Ingat bagaimana aku mengungkapkan dan mengakui bahwa aku yang telah mengirimimu tiga helai surat pernyataan (perasaan) di tahun terakhir kita duduk di SMA? Sejujurnya aku begitu takut dengan balasanmu, dengan responmu, denganmu yang bisa saja memilih untuk memutuskan tali pertemanan kita karena malu dengan kebodohanku tersebut. Aku berguling-guling di kamar salah seorang teman dekat yang sedang aku singgahi, menanti balasanmu. Saat kuterima balasan dari curahan perasaanku dan pengakuanku tersebut, aku nyaris berteriak di peron, saat menunggu kereta yang akan membawaku pulang ke rumah datang. Aku tidak bisa menahan perasaan bahagia, hormon endorfin yang mendadak muncul di sekujur tubuh, saat mengetahui bahwa reaksimu atas aksi konyolku tersebut tidaklah buruk. Terima kasih. Sayang pada saat itu semesta belum mempertemukan kita lagi setelah sekian lama.

Ingat bagaimana aku melupakan hari kelahiranmu yang keduapuluh kalinya karena aku sok sibuk dengan segala aktivitasku di kampus yang menunjang perkembanganku agar mampu menjadi lebih baik lagi ke depannya? Aku baru sadar di subuh keesokan harinya, bodoh memang. Payah memang. Seorang pengagum macam apakah yang sebegini payahnya? Saat itu juga, aku menuliskan sepucuk surat digital, karena hanya itulah yang bisa dan sanggup aku berikan kepadamu. Aku hanya cukup pandai merangkai kata, itu saja. Aku mengabaikan kelas pagiku, demi mengurangi rasa bersalahku tersebut, aku rela tidak tidur dan terlihat menyedihkan di perkuliahan di pagi harinya. Dan, aku masih sebegitu takutnya dengan responmu atas ucapan selamat ulang tahun dariku yang menurutku sendiri sedikit berlebihan (dan menyedihkan).

Ingat beberapa waktu yang lalu, aku membuang segala gengsi tersisa yang masih aku miliki, untuk sedikitnya mengutarakan bahwa aku merindukanmu, sebegitunya, sehingga sebagai seorang kawan yang jauh (sekali) aku berani meminta waktu liburanmu, untuk setidaknya bersua sejenak denganku? Aku sudah tidak sanggup lagi saat itu, puluhan purnama terlalu lama bagiku, terlebih lagi sulitnya mendapatkan kabar darimu yang tidak begitu suka mengunggah kegiatan dan keseharianmu di media sosial, tidak sepertiku. Tidak sekali dua kali aku membiarkan air mata mengalir di pipi, suatu hal yang kerap kali kuanggap konyol, hanya karena aku merindukanmu entah bagaimana ceritanya. Konyol, sekonyol-konyolnya konyol.

Tadinya aku pikir setidaknya satu butir air mata akan menetes saat aku mencurahkan semua ini, di malam bersuhu mungkin tiga puluh derajat lebih panas daripada di tempatmu berada saat ini, tetapi ternyata aku masih kuat. Masih cukup kuat untuk menunggu kepulanganmu di tanah air, di tanah dewata, yang katamu mungkin akan bertanggal di awal bulan kelahiranku. Aku yang seringnya pesimis ini, berusaha sebisa mungkin untuk berpikiran positif, bahwa apa yang telah kau ucapkan itu bukan hanya sekadar basa-basi sopan santun atas permintaanku, tetapi murni karena pertemanan lama kita (yang sudah lama sekali, mungkin kau lupa haha). Iya, jika suatu saat kau bertanya-tanya. Aku berharap, harapan itu masih ada, atas segala kejadian yang membuatku berhenti percaya akan adanya harapan dan membuatku berhenti berharap.

Jika suatu saat nanti, setelah tulisan ini aku selesaikan, dan kenyataan membawa kita pada suatu pertemuan, entah yang disengaja ataupun tidak disengaja, ataupun tidak. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku (akan tetap) bahagia, akan hal itu, akan perasaan kagum selama setengah dekade ini yang membawaku untuk berada di titik dan sisi terbaik pada diriku, akan kehadiranmu yang seadanya dalam kehidupanku, akan dirimu.

Aku akan terus mengejarmu, agar aku tidak tertinggal jauh jauh jauh…

Tidak, jangan anggap aku seorang yang mengerikan atas pernyataanku di atas, mungkin kita butuh tanda petik dua atas di beberapa kata agar tidak menjadi rancu.

Tetapi, aku tetap serius dengan hal itu.

Sekali lagi, terima kasih.

Terima kasih sayangmu, dan aku merindukanmu.

Dari aku, yang setengah mati merindukanmu

dan menyerah untuk tidak merintikan air mata.

Kuta Utara

28 Juni 2017

23:24

25°C

Heimweh, es tut weh.

Jede Sekunde habe ich Sehnsucht nach dem Heim.
Jede Minute denke ich nur an meiner liebevollen Familie.
Jede Stunde bete ich an den Gott,

dass ich mit meiner Familie bin,

dass ich zu Hause bin,

dass ich nicht hier zu sein.
Jeden Tag, am Morgen stehe ich wie Zombie auf,

in der Nacht weine ich wie ein Schlosshund

zum Schlafen

bis ich morgen erwache.
Jede Woche warte ich auf Wochenende,

die Zeit, Mama oder Papa wird mich mal anrufen.

Aber ich hasse das lange Wochenende,

alle meine Freunde gehen wieder nach Hause,

und ich muss noch hier bleiben.
Jeden Monat fühle ich mich mal nicht gut,

niemand kennt,

gleichfalls versteht niemand.

Leer,

das Gefühl habe ich am meisten.

Sofort komm’ die Einsamkeit,

zusammen mit dem Leiden.

Von nun an bin ich immer mutterseelenallein.
Das Ende des Semesters kann ich nicht mehr warten.

Keine Geduld mehr,

um wieder Heim zu sein,

Papa zu herzen,

um Speisen meiner Mama zu essen,

mich mit Brüdern etwas Sinnloses unterhalten,

und mit meinen Hunden nichts zu machen.
Ich kann nicht mehr drauf warten!

Ich kann nicht mehr diese Gefühle behalten!
Strenges Heimweh, tut allerdings weh.

Zhinta mau pulang saja, ke rumah. Lelah. Tapi, tidak ingin menyerah.

Goethe : Zwischen Die Leiden des jungen Werthers und The Werther Effect

Luh Manik Sinta Nareswari (Padjadjaran Universität)

Goethe_(Stieler_1828)Goethe_1774

“Ach, was ich weiß, kann jeder wissen – mein Herz habe ich allein.” – Die Leiden des jungen Werthers – Am 9. Mai 1772

Jika membahas tentang literatur Jerman, siapa yang tidak pernah mendengar nama Johann Wolfgang von Goethe? Sebegitu berpengaruhnya beliau di literatur Jerman, sehingga namanya bahkan diabadikan sebagai nama dari pusat kebudayaan Jerman dan nama salah satu universitas ternama di Frankfurt am Main.

Sastrawan yang lahir pada 28 Agustus 1749 ini telah menghasilkan banyak karya semasa hidupnya hingga tahun 1832, salah satu yang paling dikenal adalah novelnya yang berjudul Die Leiden des jungen Werthers. Novel ini dituliskannya terinspirasi dari kisahnya sendiri ketika cintanya tidak terbalaskan oleh Charlotte Buff, seorang tunangan dari temannya (Christian Kestner), yang mana nama Lotte sendiri juga dijadikan sebagai tokoh di dalam novel tersebut.

Dari judulnya sendiri dapat dibayangkan bagaimana plot kisah dari novel ini berakhir, ya, tragis. Kisah cinta segitiga antara Werther, Lotte, dan tunangan dari Lotte (Albert) ini berakhir dengan ketidaksanggupan Werther menjalani hidup akan cintanya yang tidak dibalas oleh Lotte, maka ia mengambil nyawanya sendiri dengan menembakkan pistol di kepalanya.

Selain membawa kesuksesan yang teramat besar bagi Goethe di umurnya yang ke-25 dan menjadi salah satu karya yang berpengaruh di masa Sturm und Drang, novel ini juga mempengaruhi para pembacanya yang kebanyakan merupakan para remaja dan dewasa muda di seluruh dunia. Di Tiongkok porselen dihias dengan siluet-siluet dari novel tersebut, parfum dibuat dengan nama tokoh utama di novel (eau de Werther), dan banyak pemuda mengikuti gaya berpakaian Werther sebagaimana dideskripsikan di dalam novel (memakai tailcoat biru, waistcoat kuning, celana panjang, dan boots tinggi).

Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada salah satu fenomena yang muncul akibat pengaruh dari novel Die Leiden des jungen Werthers, yaitu maraknya tingkat bunuh diri akibat keputusasaan dalam percintaan sebagaimana tokoh Werther di dalam novel. Salah satu yang diberitakan yaitu pada 16 Januari 1778, beberapa tahun setelah novel tersebut diterbitkan, seorang pemudi bernama Christel von Lassberg menenggelamkan dirinya di sungai Ilm, Weimar, dengan novel tersebut berada di dalam sakunya. Banyak kasus-kasus lainnya yang terjadi akibat pengaruh kuat dari tulisan autobiografi Goethe tersebut, sehingga di beberapa tempat seperti Koppenhagen, Leipzig, dan Italia novel tersebut dilarang keras.

Kasus bunuh diri yang muncul akibat pengaruh dari novel Goethe ini dinamakan The Werther Effect oleh David Phillips pada tahun 1974, dua abad setelah novel ini dipublikasikan.

Bagaimana sebuah tulisan bisa sebegitu mempengaruhi pembacanya, hingga melakukan sebuah tindakan yang berujung kematian?

Menurut salah satu artikel jurnal psikologis yang membahas tentang the Werther effect ini, bahwa novel Die Leiden des jungen Werthers dibuat berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di kisah cinta Goethe yang dua kali tak terbalaskan oleh dua orang yang berbeda juga. Yaitu antara Goethe, Charlotte, dan Kestner, yang mana pada akhirnya Charlotte menikah dengan Kestner dan namanya diabadikan sebagai tokoh di novel Goethe; dan antara Goethe, Brentano, Maximilianne dan Jerusalem. Jerusalem membunuh dirinya sendiri pada 1772 dengan menggunakan pistol, sama seperti tokoh Werther dalam novel.

Ditulis terinspirasi dari kisahnya yang dialaminya sendiri, membuat apa yang dituliskan oleh Goethe dalam novelnya tersebut menjadi seperti sebuah kisah yang nyata, sehingga menjadikan para pembaca yang memiliki kisah hidup yang mirip atau sama seperti tokoh di dalam novel menjadi terdorong untuk melakukan hal yang sama seperti Werther, yakni mengakhiri hidupnya. Hal tersebut juga diutarakan oleh Goethe sendiri, “My friends… thought that they must transfrom poetry into reality, imitate a novel like this in real life and, in any case, shoot themselves; and what occured at first among a few took place later among the general public.” (Goethe, quoted in Rose, 1929: XXIV).

Padahal, Goethe menuliskan novel tersebut untuk membebaskan dirinya dari perasaan yang membelenggu dirinya pasca kisah pahit dalam percintaannya, tidak disangka hal tersebut malah membawa pengaruh besar bagi para pembaca dari “pelariannya” tersebut.

 

Quelle:

Artikel Jurnal David P. Phillips American Sociological Review Vol. 39, No. 3 (Jun., 1974), The Influence of Suggestion on Suicide: Substantive and Theoretical Implications of the Werther Effect, halaman 340.

http://www.susannealbers.de/03philosophie-goethe-werther.html

http://www.ub.uni-bielefeld.de/diglib/seiler/werther/werther/tools/htmpool/komplett/wirkung.htm

http://middleeast.thelancet.com/journals/lanpsy/article/PIIS2215-0366(14)70229-9/fulltext

http://www.online-literature.com/goethe/

http://www.klassiker-der-weltliteratur.de/die_leiden_des_jungen_werther.htm

Gambar dari Wikipedia

Artikel ditulis untuk IMBSJI (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jerman Indonesia)

 

Anapher

Der Tod ist meine größte Angst,

der Tod wird zu meinem wahrsten Freund.

 

The death is my greatest fear,

the death will become my truest friend.

 

Kematian adalah ketakutan terbesarku,

kematian akan menjadi temanku yang paling sejati.

Epipher

Um dich zu lieben brauche ich keinen Grund,

um mich zu betrügen brauchst du doch einen Grund.

 

To love you I don’t need any reason,

to betray me you indeed need a reason.

 

Untuk mencintaimu aku tidak membutuhkan alasan,

untuk menghianatiku kamu jelas membutuhkan suatu alasan.

Refleksi Diri 2 SKS

Hai.

Di umurku yang hampir kepala dua ini, ada satu hal yang paling sering kulakukan sepanjang hidupku ini. Mengeluh. Percaya atau tidak, dalam satu hari aku bisa lebih dari sepuluh kali mengeluh mengenai hidupku, dan apapun itu.

Terdengar seperti seseorang yang tidak bersyukur memang, tapi bukankah itu wajar sebagai seorang manusia yang pada dasarnya selalu merasa kurang? Ah, itu hanyalah pembelaanku saja.

Jadi, hari ini aku tidak ada UTS. Aku selalu suka hari Jumat, karena artinya besok dan lusa adalah akhir minggu, yang mana aku bisa setidaknya rehat sejenak dari kegiatanku. Selain itu, satu hal di semester ini yang menjadi bagian favoritku adalah, hanya ada satu kelas di hari ini. Walaupun memang kelasnya di pagi-pagi buta, yaitu pukul setengah 8. Tak apa, selama mata kuliahnya adalah salah satu favoritku, Sastra.

Rasanya aku sudah terlalu sering berkeluh kesah dalam tulisanku, dalam keluhan tersebut aku merasa tidak menularkan energi positif pada orang yang membacanya (jika ada). Maka, sepanjang perjalanan seusai latihan teater beberapa saat tadi, aku sedikit merenung sendiri, mengapa sih aku hobi sekali mengeluh?

Terkadang aku melakukan kilas balik terhadap kehidupanku yang sekarang. Tidak terlalu indah, memang. Tetapi aku cukup bahagia.

Aku sekarang tengah menempuh semester keempat. Aku seringkali mengeluh setiap membuka mata di pagi hari, “Kuliah lagi?”. Rasanya tidurku kurang, badanku sakit semua, pikiranku keruh, emosiku berantakan, dan aku masih harus ke kampus dan menimba ilmu lagi. Semesta memaksaku bangun pagi tiga hari dalam seminggu, dari Rabu sampai Jumat, untuk kelas 07:30. Patutkah aku mengeluh? Jika apa yang aku kerjakan sekarang adalah sesuatu hal yang sudah kudambakan sejak lama, dan demi mendapatkannya aku rela mengorbankan banyak hal. Sungguh keterlaluan jika sekarang aku masih lebih sering mengeluh daripada teman-temanku yang “terdampar” di sini. Ya, memang, ini pilihan keduaku. Aku sampai detik ini masih menginginkan menjadi bagian dari Sastra Jerman UI, tetapi tidak terlalu buruk juga terlempar jauh ke Jatinangor ini. Setidaknya, aku tetap belajar di Sastra Jerman, kan? Mempelajari bahasa yang telah membuatku jatuh cinta lagi, dan mempelajari sastra yang kusuka sejak satu dekade lalu.

Linguistik itu sulit, mengapa di Sastra aku harus tetap mempelajari Linguistik juga? Pernah aku berpikiran seperti itu, dan nyaris memberanikan diri untuk menghadap dosen waliku, ingin melepas mata kuliah Linguistik yang bobotnya 4 sks. Sebegitu lelah dan mudah menyerahnya aku, syukurlah itu tidak sampai hati kulakukan. Walau sulit dan terkadang aku ingin berteriak sekencang-kencangnya saat terpaksa menghadapinya, beberapa saat lalu ketika aku “benar-benar” belajar, aku menyadari bahwa sebenarnya Linguistik pun menyenangkan. Dan memiliki kaitan erat dengan Sastra, tentunya. Aku menjadi kurang setuju dengan pendapat orang-orang yang berkata bahwa Linguistik adalah pelarian dari Sastra yang sulit, well walaupun memang begitu kenyataannya jika ilmu Sastra sendiri lebih abstrak sehingga menjadikannya lebih sulit untuk diterka sedangkan Linguistik lebih eksakta. Dengan “terpaksa” mempelajari Linguistik, aku jadi tahu bagaimana suatu kata bisa tercetuskan, dan memilahnya menjadi bagian-bagian tertentu. Aku bisa semakin lihai merangkai kalimat dengan mempelajari bagaimana cara membangun struktur kalimat yang tepat. Aku bisa merasakan pusingnya menganalisa dan membangun kata, hingga menjadi kalimat, yang akhirnya terpadu menjadi paragraf dalam artikel yang sering kubuat demi menunaikan tugas baik dalam akademik maupun organisasi. Aku juga menjadi semakin paham, bagaimana bahasa dan kata-kata itu memiliki kekuatan yang sangat kuat. Lalu mengutip salah seorang dosen Linguistik yang mengajariku Linguistik Dasar di semester lalu, bahwa dengan mempelajari Sastra (dan Linguistik, pastinya) kami-kami ini para calon Sarjana Humaniora, akan menjadi manusia yang lebih humanis di kemudian hari. Dan, hal tersebutlah yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Ah, lihat kan. Aku terlalu sering mengeluh mengenai kehidupanku di kampus, padahal jika aku tuliskan lagi, hidupku saat ini merupakan hidup yang aku dambakan sejak beberapa tahun silam.

Sering setelah selesai kelas, aku mengeluh, lagi. “Kenapa harus tetap stay di kampus, sih?” atau ketika ada jeda waktu beberapa saat, dan aku sempat kembali ke kosan, maka aku akan kembali mengeluh “Kenapa aku harus balik lagi ke kampus, sih?”. Memang, ya. Payah.

Jika dipikir-pikir, memang waktu terlalu banyak aku habiskan di kampus belakangan ini. Hingga membuat keadaan kamarku bagaikan kapal pecah yang porak poranda, aku hanya sanggup segera beristirahat ketika menginjakkan kaki di kosan. Sudah terlalu lelah secara fisik dan mental setelah berkegiatan seharian penuh di kampus. Dan sedihnya lagi, aku belum menjadi apa-apa. H a h a.

Tetapi walaupun begitu, harusnya aku ingat, bahwa hal-hal yang aku lakukan tersebut adalah atas kemauanku sendiri. Dari dua kegiatan dan satu organisasi yang aku ikuti (iya, aku sedang jenuh dengan kepanitiaan sehingga memilih untuk tidak ikut), ketiganya adalah semua yang aku senangi.

Aku ingin menyebutkan di tempat pertama, UKM yang paling awal aku ikuti dan masih aku ikuti hingga detik ini. BLURadio. Iya, radio kampus yang punya nama cukup besar di Jatinangor ini. Aku dulu mengikutinya memang hanya sekadar coba-coba, dan ingin belajar tentunya. Hingga detik ini aku menuliskannya, aku tidak pernah menyesal bergabung (walau masih tetap sering mengeluh). Karena, terlalu banyak hal telah aku pelajari selama aku di sana. Aku kini berani berbicara di depan umum, hingga memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi saat ini. Bahkan bisa dibilang aku mulai jatuh cinta dengan dunia broadcasting. Teman-teman seantero kampus, lintas jurusan, darimana lagi awal aku mengenal mereka kalau bukan dari sini. Seharusnya aku tidak mengeluh, ketika ada jadwal rapat, atau siaran. Dapat dikatakan bahwa, BLUR telah mengubah hidupku ke arah yang lebih baik, dan semampunya aku harus membalas kebaikannya.

Dulu saat SMA aku pernah mengikuti Teater juga, tapi rasanya jauh berbeda. Karena sejujurnya aku belum bisa merasakan kepemilikan, hanya sekadar nama saja. Aku tidak pernah menyesal mendaftarkan diri di teater jurusanku yang kecil (namun jumawa) ini. Awalnya memang sebal, karena terlalu banyak ketidakjelasan. Benar adanya, jika perubahan tidak dimulai dari diri sendiri, dari siapa lagi? Dan, itu terjadi. Lambat laun Mata Mawar kembali menjadi apa yang seharusnya telah ia gapai sebelumnya. Di sini, aku bisa melepaskan penatku. Menjadi rileks. Memainkan tokoh, yang sebelumnya hanya bisa aku rasakan dengan menuliskannya. Aku bisa berteriak-teriak dengan puas setelah Kelas Linguistik. Aku bisa menjadi gila, tanpa harus menjadi benar-benar gila. Aku bisa menjadi apa saja. Dan, di luar itu, aku juga menemukan kembali keluarga. Tapi, aku masih terlalu sering mengeluh. Padahal aku sudah cukup banyak mendapatkan pengalaman berharga sejauh ini, mulai dari tampil dari satu museum ke museum lain, hingga menjadi penjaga kampus yang berteriak-teriak di tengah keheningan malam. Seharusnya aku sadar, untuk mendapatkan sesuatu tentunya aku harus berkorban. Mengorbankan waktu untuk latihan terus dan terus, demi menjadi seorang aktris. Karena tidak ada seorang aktor atau aktris yang terlatih, namun adanya seorang aktor dan aktris yang sering berlatih, mengutip kata salah seorang senior tersayangku. Seharusnya aku paham akan hal itu, bukannya malah tetap mengeluh walaupun aku melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya aku keluhkan.

Terakhir, bukan kegiatan, tetapi organisasi. Badan Eksekutif Mahasiswa. Organisasi tingkat fakultas yang anggotanya mencapai ratusan, terdiri dari 10 jurusan yang ada di FIB. Walaupun terkadang aku merasa sangat “kecil” di sini, tetapi aku sampai detik ini (lagi) tidak menyesal. Dan ketika aku sanggup mengatakan hal tersebut, sekali lagi seharusnya aku tidak mengeluh terlalu banyak mengenai banyak hal terkait. Maksudku, ketika aku tergabung dengan Departemen yang tidak pernah berhenti membuatku merasa bahagia, kenapa aku masih tega-teganya mengeluh kepada semesta? Di sini aku masuk di Departemen yang menjadi representasi dari lembaga itu sendiri, dan aku menjadi presenter dalam program yang memberikan informasi mengenai kegiatan dari BEM Gama FIB Unpad. Seperti yang telah aku katakan tadi bahwa aku mulai menyukai dunia broadcasting, dan entah mengapa aku menjadi suka berpose di depan kamera yang bahkan seringkali diperhatikan oleh orang banyak. Bukankah ini menjadi salah satu wadahku untuk belajar dan berkembang? Di sisi lain, keluarga baruku ini, mereka yang aku ajak kerjasama selama satu tahun kepengurusan, adalah orang-orang hebat yang tidak sombong, baik hati, mau berbagi ilmu, dan tidak menusuk dari belakang. Apalagi bosku (yang ada dua, di departemen dan divisi – dan kepala organisasinya juga sih, but yaudahlahya), adalah orang-orang yang ah… aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa, sebegitu baiknya mereka padaku, sebegitu pengertian. Sejauh ini aku merasa nyaman dan bahagia bersama mereka, bahkan sampai aku terlalu bacot di grup, dan tidak tahu malu untuk sekadar joget-joget di hadapan mereka dan memenuhi memori kamera dengan tampangku yang seadanya ini. Mereka mampu membuatku tidak tertekan dengan pekerjaan yang ada, apapun itu kami tanggung bersama. Dan, setahuku, mereka masih mau menerimaku apa adanya (walaupun tida ada apa-apanya), lalu mengapa aku masih mengeluh juga?

Sepantasnya aku tidak boleh mengeluh, aku telah melakukan segala yang aku sukai, dan aku telah memilih untuk melakukannya.

Aku suka sastra, aku masuk sastra. Aku suka Jerman, aku belajar bahasa dan tentang Jerman. Aku suka menulis, aku menulis. Aku suka berbicara, aku jadi announcer dan jadi presenter. Aku suka mendengar, aku mendengarkan curahan hati orang terdekatku. Aku suka berteater, aku berteater. Aku suka bersosialisasi, aku berkenalan dan berteman dengan banyak orang. Aku suka bermain sosial media, aku masuk Departemen Media dan Informasi. Aku suka jalan-jalan, aku menyiapkan rencana untuk jalan-jalan. Aku bahagia. Seharusnya aku menyadari itu.

Dengan menuliskan semua ini, aku berharap aku akan menjadi lebih positif lagi. Mengurangi mengeluh yang tidak berguna, dan melakukan hal-hal yang aku sukai dan membuatku bahagia. Meninggalkan orang-orang yang hanya membawa energi negatif ke dalam hidupku, dan berteman dengan orang-orang baik. Tentunya, menjadi manusia yang lebih memanusiakan manusia lainnya dengan cara berdamai terlebih dahulu dengan dirinya sendiri.

Hai.

Namaku Zhinta, dan di awal bulan Maret ini aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih positif. Di akhir bulan Maret ini, aku menuliskannya, agar kelak janji ini menjadi abadi, dan akan kutepati.

 

Jatinangor, 31 Maret 2017 11:55.

The Smell of the Blood

 

Masih Tentang Si Pungguk yang Merindukan Sang Rembulan

Kali ini rindu itu membuncah sebegitunya, akibat tak jumpa lebih dari sekali revolusi bumi. Semesta belum merestui, memaksa air mata tuk mengucur menemui ibu pertiwi. Tidak, tidak semudah itu untuk mengucap rindu pada seseorang yang bukan “miliknya”. Kuharap para Rembulan dapat pahami itu.
Pungguk pernah mendengar bahwa jika kau tidak dapat terlelap ketika larut tanpa alasan yang jelas, bisa jadi itu karena seseorang memimpikanmu. Mitos atau fakta, Si Pungguk tak mengetahuinya.

Ingin rasa bertanya pada Rembulan, karena semesta rupanya berbaik hati sedikit pada Pungguk yang buruk rupa, malam kemarin Sang Rembulan bertandang walau hanya sekadar di bunga tidur. Kehadirannya begitu nyata terasa, bahkan saat diizinkannya Pungguk untuk masuk ke dekapannya dan hanyut di pelukannya, juga sejuta kecupan sisanya.

Mimpi apakah Pungguk malam sebelumnya? Tak ingat ia meminta semesta untuk dipertemukan pada Rembulan saat itu juga. Jutaan kupu-kupu berterbangan menggelitik jiwa, tak usah ditanya seberapa bahagianya ia. Dipertemukan dengan sang pujaan hatinya, walau dalam mimpi semata.

Pun di saat yang sama Pungguk (masih) memimpikan Sang Rembulan, Sang Rembulan sedang meraih mimpi-mimpinya. Menyedihkan, bukan.

Dan cerita masih berlanjut tentang Si Pungguk yang terus mengagumi keindahan Sang Rembulan.

Jauh. Jauh. Jauh.

Untuk 30 Hari Bercerita #28